Mas Wakil Idamanku

Mas Wakil Idamanku
Rencana Warga Desa


__ADS_3

Di pertemuan semua warga tampak sangat serius dan bersemangat. Bukannya berdiskusi mereka malah merencanakan sesuatu.


Setelah mencapai kesepakatan akhirnya mereka berjalan bersama. Berbondong-bondong, entah apa yang akan mereka lakukan. Tapi wajah mereka yang sangat serius dan tampak begitu emosi.


"Ayo kita tangkap mereka, jangan biarkan mereka lolos!!!" teriak Bu Tari.


.


.


.


.


"Lebih dalam lagi, semakin hari semakin dalam. Karena kau mengeruk dasarnya dengan cepat!" ujar Zidane.


"Itu tak masuk akal, tapi aku maklum--lah!" ujarku.


Entah Zidane itu terlalu pintar atau bagaimana, filosofi hidupnya sangat aneh menurutku. Dia membuat pepatah sendiri dan mengunakannya dikehidupan sehari-harinya.


"Dulu kau selalu mengerutu, soal filosofi hidupku? Apa kau bisa menerimanya sekarang?" tanya Zidane.


"Aku harus menerima semuanya, semua yang ada pada dirimu.


"Gantengmu, lucumu, manismu, jorokmu, nakalmu, ngeselinmu, semuanya harus kuterima!" kataku dengan nada yang manja.


Kami masih berpelukan tapi kami saling berpandangan di pelukan mesra kami.


"Kau tak mau melepas pelukan ini?" tanya Zidane.


Wajahnya memerah, semerah tomat yang matang. Apa aku terlalu merayunya, tapi aku suka dengan reaksinya yang menurutku amat sangat manis itu.


"Cium dulu!" pintaku.


Zidane menunduk dan melihat wajahku.


"Mau kucium dibagian mana?" tanyanya.


"Semuanya!" kataku.


"Wahhhhh kau serakah sekali!


"Bersiaplah!" katanya.


Yaaaa dunia serasa milik kami berdua, yang lain sedang hibernasi.


Aku mendongak dan melihat ke arah wajah Zidane. Manik mata kami yang berbinar sedang saling melempar tatapan cinta.


Aku bisa merasakan rasa geli yang mengelitik renung jiwaku. Getaran itu semakin kuat saat Zidane menyusupkan kedua telapak tangannya di balik rambut teruraiku. Dia mencengkeram tengkukku dengan lembut.


Bibir pria yang kucintai itu mengecup keningku dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang.


Aku tak bisa menjelaskan apa pun, tapi rasanya ini benar-benar seperti gempa bumi. Pikiranku seakan melayang layang di angkasa bersama awan-awan.


Aku tersentak sebentah, karena Zidane mengecup daguku. Mata kami kembali bertemu setelah kecupan manis itu, kami juga saling melempar senyum.


Zidane menyibakkan rambutku di belakang telingaku, dan tanpa aba-aba dia mengecup leherku.


Hal itu tentu saja membuatku meremas lengannya dan berteriak kecil tertahan. Getaran itu hebat sekali, membuatku seakan jatuh dari angkasa dan mendarat di tebing terjal.


Kecupannya tak hanya sekali tapi berkali-kali ke seluruh area leher sebelah kiriku.


Dan aku hanya bisa menikmati guncangan demi guncangan aneh itu.


Setelah puas mempermainkanku dia mendongak lagi dan tertawa di depanku.


"Kau mau mati?" tanyaku setelah sadar dari guncangan yang baru pertama kali kudapatkan itu.


"Jadi disitu kelemahanmu!" ujar Zidane.


"Aku tak akan membiarkan kau menyentuhku lagi!" bentakku.


Aku malu sekali, kenapa hanya sentuhan seperti itu membuat diriku melayang dan lupa akan kewarasanku.

__ADS_1


"Aku akan selalu menyentuhmu, itu asik!" ujar Zidane.


Aku pun memukul kedua lengannya dengan kedua tanganku. Aku kesal tapi tak bisa marah, cara dia mempermainkanku sederhana. Tapi langsung membuatku terbang ke puncak Himalaya.


"Sakit,akkkkk!


"Hulk marah!" pekiknya.


Dia pun menjauh dariku dan aku mengejarnya, ingin kupukuli dia sampai babak belur.


Alhasil kami malah seperti anak kecil yang main kejar-kejaran di pinggir pantai.


"Sini kamu!" teriakku.


"Enggak, kau akan memukulku lagi kan?" tanya Zidane.


"Enggak, masa aku memukul pacarku?" kataku dengan nada manja.


Aku harus memancing pria itu mendekat padaku, jika aku mengejarnya saat dia berlari begitu mana mungkin aku bisa menangkapnya.


"Janji?" dia mulai minta negosiasi.


"Janji!" kataku.


"Aku tau kau bohong!" dia memang bukan pria yang mudah ditipu.


Aku hanya bisa mengunakan jurus terakhir.


"Akkkkkkkkkk, aduhhhh kakiku!" rengekku.


"Kenapa," benar dia mendekat padaku dengan wajahnya yang khawatir.


"Sakit, kau terkilir?" tanyanya saat berada di dekatku.


"Nggak!" kataku.


Aku segera naik ke punggungnya dan dia mau tak mau mengendongku di punggungnya.


"Punggungmu nyaman sekali!" kataku.


"Kapan?" tanyaku.


"Apa kau melupakan semua hal ketika kau mabuk?" tanya Zidnae.


"Enggak, aku akan ingat kalau aku pacarmu jika mabuk sekarang!" kataku.


Dia menurunkan tubuhku dan berbalik ke arahku.


Senyumnya sangat manis, mana mungkin aku bisa berpaling dari orang ini. Bagaimana bisa aku melupakan orang ini, dan bagaimana bisa aku meninggalkan orang ini.


Aku yakin aku tak akan bisa hidup jauh dari sosok pria di depanku ini. Apa pun akan aku pertaruhkan, aku yakin aku berani menantang apa pun. Asal aku berdiri berdampingan dengan orang ini.


"Kau harus ingat itu, jangan sampai lupa!" kata Zidane.


"Kau juga jangan lupakan aku!" kataku.


"Tidak akan!" katanya.


Sederhana tapi perkataan Zidane itu mampu membuatku tenang dan bebas. Aku akan tenang dan bebas mencintainya, tak perlu ada yang kutakutkan. Dia akan selalu ada untuk kucintai dan dia suka menerima rasa cintaku ini.


"Zidane, aku mencintaimu!" kataku.


Dia segera tertawa terkekeh karena mungkin dia terharu, atau jijik.


"Kau ingin mengatakan hal itu berapa kali?" tanya Zidane.


"100 kali sehari," kataku.


"Kau romantis sekali," ujarnya.


"Benarkah? Kupikir biasa saja!


"Bukankah semua orang pacaran memang begini?" tanyaku.

__ADS_1


"Entahlah, ini pertama kalinya aku pacaran!" jawabnya.


"Pembohong," ujarku.


"Kuharap kau percaya!" katanya.


"Aku tak akan percaya!" kataku.


Kucubit kedua pipinya, tapi dia malah merangkul pinggangku dan memeluk tubuhku. Dia tersenyum sepanjang waktu saat bersamaku saat ini.


"Ehemmmmmm!"


"Kalian ngapain?!"


Seluruh warga Desa ngobaran semua sudah berdiri di jalan masuk pantai. Semua orang itu berdiri menghadap kami.


Zidane segera melepas pelukannya padaku, dan dia menjaga jarak dariku.


"Kami..." Zidane mau bicara tapi segera kusahut.


"Kami pacaran!" kataku.


Zidane tampak menatapku dengan pandangan kaget dan juga bingung.


"Kami sudah tau kok, sudah 10 hari--kan kalian pacaran?" tanya Ibu Nia yang masih megendong bayinya dengan jarik.


"Bu Nia sudah tau?" tanyaku.


"Tentu saja!" kata Suami Bu Nia.


"Ini ponselmu--kan Mas Wakil!" tanya Suami Bu Nia sambil mengacungkan ponsel berwarna biru milik Zidane.


"Kalian benar-benar?!" kata Zidane kesal.


Tapi aku segera meraih tengannya dan kugenggam dengan erat jemarinya.


"Tolong ristui hubungan pacaran kami, doakan kami langeng!" kataku.


"Bu Dokter, harusnya yang bilang begitu. Bajingan tengik itu!


"Heistttty kamu nggak gantle Mas Wakil. Dia selalu berkilah jika tak menyukai wanita seperti....," perkataan Mas Fahmi segera di sergap oleh Zidane.


Seperti aku, dia pasti mengolok-olokku. Aku tau dia dulu sangat tak menyukaiku.


"Mau kusobek mulutmu!" ujar Zidane.


Tapi yang penting, sekarang dia mencintaiku. Dia mau menerima dan menemaniku yang penuh dengan kekurangan ini.


Tapi mataku malah tertuju pada Gisna yang curi-curi pandang dengan Pak Polisi Irwan.


"Apa kau membocorkan hubungan kami pada mereka?" tanyaku pada Gisna.


"Buat apa, mereka bahkan lebih jeli dari pada aku. Aku hanya mengikuti arahan mereka!" kata Gisna.


"Kalian semua!" pekikku tak percaya.


"Selamat, akhirnya Mas Wakil jatuh cinta juga!" ujar Ibu Tari.


"Semoga kalian saling mencintai selama-lamanya!"


"Kalian serasi, cepat menikah yaaa!"


"Aku suka kalian bersama,"


Kami baru pacaran tapi semua dukungan sudah kami ambil dari semua orang di Desa.


Ketika aku khawatir akan ada gosip aneh lagi, tapi kekhawatiranku ternyata salah. Mereka suka kami pacaran dan mendukung hubungan kami.


Pilihanku tak salah untuk pindah ke sini, menjadi Dokter di Desa, bertemu belahan jiwaku. Dan mendapatkan kehangatan keluarga kembali.


Trimakasih telah menjadi kehidupan yang indah. Trimakansih Zidane telah menyeretku dengan pesonamu, sehingga aku terdampar di lautan cinta ini.


___________BERSAMBUNG_____________

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2