Mas Wakil Idamanku

Mas Wakil Idamanku
Takdir Yang Ajaib


__ADS_3

FLASHBACK 12 TAHUN YANG LALU


Siang itu aku melihat sepatu ayah dan sepatu wanita di luar rumah kami.


Dadaku langsung tersentak dan sakit, aku tak bisa menahan gejolak dan air mataku yang tiba-tiba keluar tanpa kusadari.


"Kau sudah pulang, Nes!" sapa ayahku.


Aku segera masuk ke dalam dan mendapati seorang wanita duduk di salah satu sofa di ruang tamu rumah kami.


"Siapa kamu?" tanyaku tanpa sopan santun.


"Nesa, jangan begitu. Dia calon ibumu!" Ayahku mencoba menenangkanku.


Tapi entah kenapa emosiku sudah memuncak tak terkendali.


"Ibuku sudah mati, bagaimana aku punya ibu lagi?!" aku semakin kesal.


Calon ibuku itu masih saja tersenyum ke arahku, dia seperti menertawakanku. Dia seperti sedang bahagia di atas penderitaanku.


Ibuku tak bisa digantikan oleh siapa pun.


"Nesa, kau sudah besar nakkk. Harusnya kau mengerti!" bentak ayahku.


"Mengerti apa? Aku harus selalu mengerti ayah.


"Tapi apa ayah mau mengerti aku?" air mataku tak bisa kubendung lagi.


"Sebaiknya saya pulang saja" kata wanita itu.


"Aku tak akan kembali lagi ke sini!" lanjutnya.


Wanita itu pergi dari rumahku, dan ayahku mengikutinya tanpa peduli padaku.


Apa dia pikir aku tak sakit, kenapa semua orang dengan mudah melupakan ibuku. Apa karena dia sudah mati, jadi dia pantas dilupakan.


Ibuku adalah orang paling baik di dunia, tapi kenapa ayahku malah mencari wanita lain.


Aku sangat sedih dan tak bisa bertahan, jadi aku kekamarku dan memecahkan celengan ayamku. Aku mengambil semua uang tabunganku, aku harus pergi dari sini. hanya itu yang bisa kupikirkan.


Aku masih mengenakan seragam SMU--ku. Karena aku tak sekolah di sekolahan Negri jadi seragamku tak terlalu mencolok.


Sore itu juga aku pergi sendirian, aku mengunjungi pantai Ngobaran sendirian. Pagi harinya aku sampai di pantai disambut oleh mentari pagi yang indah.


Aku hanya duduk di tepi pantai hari itu, yang kuingat hanya bayangan ibuku. Aku merasa perutku mulai sakit karena kelaparan. Aku baru ingat terakhir kali aku makan adalah makan siang kemarin.


Jadi aku memutuskan untuk mencari warung nasi, aku makan dengan lahap di warung itu. Sambil melihat tebing tinggi yang menjulang ke pantai.


Yaaaa aku berfikir untuk mati saja hari itu, jika ayah ingin menyingkirkanku dan ibuku. Maka aku akan ikut ibuku.


Setelah selesai makan dan merasa kenyang aku mencari jalan untuk ke tebing. Saat hampir sampai tiba-tiba hujan turun, aku sama sekali tak peduli pada hujan itu. Padahal aku punya payung di dalam tasku sekolahku.


Aku terus berjalan ke arah tebing, tanpa peduli pada siapa pun.


Aku terdiam dibawah hujan tepat di bibir tebing itu.


"Apa kau ingin mati di sini?" tanya suara anak lelaki dengan nada medok.


"Kau pasti bukan orang sini!" tanyanya lagi.


Aku masih tak menjawab, aku hanya memperhatikan lelaki itu berdiri di bawah payung hitam. Wajahnya datar tapi tampan dan pandangan matanya tampak kosong.


"Pulanglah, jangan sampai kau menyesal. Orang tua itu cepat mati!" kata anak lelaki itu.


Dia menyodorkan sebuah payung hitam padaku, dan aku menerimanya. Aku tak langsung mengenakan payung itu, karena aku memikirkan kata-kata anak lelaki yang mungkin seusia denganku. Karena dia berseragam SMU Negri 1 Ngobaran.


Aku tak melihat nametagnya karena dia mengunakan jaket sama seperti ku. Dan aku tau dimana dia sekolah karena jaket yang dia kenakan.

__ADS_1


Akhirnya aku tak jadi bunuh diri, aku pulang malam itu juga dan sampai di Jakarta paginya. Ternyata ayahku sudah menungguku di terminal.


.


.


.


.


BACK


"Benarkah?" tanyaku kaget, aku bahkan lupa payung model apa yang dia kenakan waktu itu. Aku hanya ingat payung itu berwarna hitam.


"Aku bohong!" ujarnya.


"Aku tau," desahku kesal.


"Tapi...kita belum bisa mulai pacaran!" kataku.


"Kenapa?" tanya Zidane.


Dia tampak bingung, aku yakin dia merasa kupermainkan.


"Beberapa hari yang lalu, Kak Felix menyatakan cinta padaku. Dan aku belum menjawabnya!" kataku.


"Kenapa, kau berubah pikiran. Lalu ingin menerima cintanya?" tanya Zidane.


"Nggak!" ujarku.


"Lalu?"


"Aku harus menolaknya terlebih dahulu, baru kita bisa pacaran!" kataku.


"Kau yakin mau nolak lelaki sehebat Felix!" tanyanya.


Aku sama sekali tak bisa berhenti tersenyum, entah kenapa ini sangat bahagia bagiku. Kurasa Zidane juga merasakan hal yang sama, dia juga tersenyum terus dari tadi.


"Aku tak mau punya hubungan yang tumpang tindih!


"Apa kau bisa menungguku sampai aku menolak Kak Felix?" tanyaku padanya.


"Ok...Aku akan menunggumu!" katanya.


"Ternyata kau benar-benar mencintaiku ya?" godaku.


"Iya!" jawabnya singkat tapi senyum di bibirnya tak pernah surut.


"Sedalam apa cintamu padaku?" tanyaku lagi.


"Cukup dalam!" katanya.


"Akhhhhh! Orang-orang menjawab hal itu dengan lebih romantis!" aku kesal tapi aku masih bisa tersenyum.


"Kalau begitu, rasa cintaku padamu sedalam Danau Baikal!" katanya.


"Danau Baikal, apa itu dalam. Letaknya di mana?" tanyaku binggung.


Karena aku tak pernah mendengar nama danau itu.


"Pokoknya danau yang cukup dalam!" ujar Zidane.


"Kau menggenggam, tanganku terus. Katanya kita belum pacaran?" tanyanya.


"Kau juga menciumku, di kamarku dan di saat aku tak sadar!" dalihku.


"Kau juga pernah menciumku, di rumahku saat kau tidak sadar, itu lebih mengerikan!" ujar Zidane.

__ADS_1


"Malam ini aku tak ingin bertengkar denganmu!" kataku.


"Aku juga!" katanya.


"Kita sudah sampai!" kataku.


Kami sudah sampai di depan rumahku, aku melepas genggaman tanganku. Tapi Zidane malah mengenggam tanganku lebih erat.


"Jangan berubah pikiran!" katanya.


"Tidak!" kataku.


"Selamat tidur!" katanya.


"Lepaskan!" ujarku.


Perlahan-lahan dia melepaskan genggamannya.


"Jangan hubungi aku dulu sampai aku menolak Kak Felix, dan jangan mengangkat panggilanku jika aku menghubungimu!" perintahku.


"Kenapa ribet banget saratnya?" tanya Zidane.


"Ingat!" kataku.


"Iyaaa aku ingat!" jawabnya.


Aku pun segera masuk ke dalam rumahku, tentu saja sudah di sambut oleh titisan Nyai Winda. Si rempong Gisna.


"Wowwwww Nesa pacaran!" kata Gisna.


Aku yakin dia sudah mengintip dari jendela dari tadi.


"Belum!" ujarku, tapi dengan senyuman yang merekah indah di wajahku.


"Kenapa?" tanyanya.


"Aku harus menolak Kak Felix dulu!" kataku.


"Benar, kau harus menolak dia. Langkahmu tepat!" puji Gisna. "Kapan kau mau menyelesaikan urusanmu dengan Felix?" tanya Gisna.


"Besok aku akan menelfonnya, akan kutanya kapan dia punya waktu luang!" ujarku.


"Kau harus bergerak cepat, umpan yang terlalu lama terapung akan mengembang dan lama-lama hancur.


"Jangan biarkan dia hancur, jika kau tak mau memakan umpannya!" tiba-tiba Gisna bernarasi.


"Kau benar, dia sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri. Aku tak akan membiarkanya terlalu hancur!" kataku.


"Kau harus mandi, baumu mirip Mas Wakil sekarang!" ejek Gisna.


"Emang apa yang salah baunya Zidane. Dia wangi!" tentu saja aku marah. Calon pacarku sedang di ejek.


"Cium dia kalau baru balik dari melaut!" Gisna langsung tertawa.


"Tak kuijinkan lagi dia melaut!" kataku kekeh.


"Padahal dia hobi melaut, kau mau memacarinya apa mau membunuhnya secara perlahan-lahan?!" tanya Gisna, dia masih saja tertawa terbahak-bahak.


"Nggak ada yang lucu kali!" ujarku.


"Reaksimu, mendengar kau membela lelaki. Ini langka, sangat langka!" Gisna masih saja mengoceh tanpa peduli dengan tatapan kesalku.


Tapi di balik itu aku amat senang, akhirnya setelah 28 tahun aku menemukan dan merasakan perasan ajaib. Yaitu perasaan CINTA.


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2