
VISUAL FELIX RANS
"Jadi apa pekerjaanmu?" tanya Zidane pada Felix.
Mereka berdua sedang makan berdua di rumah Mbah Miyah.
"Pekerjaanku... Aku seseorang yang mendapatkan uang dari rating!" kata Felix.
"Kamu, punya konten YouTube?
"Akhhhhhhh....Food Vlogger!!!" ujar Zidane.
"Bisa dibilang begitu," Felix sedikit bingung dengan tanggapan Zidane tentang dirinya.
"Tapi aku sering lihat vidio begituan di YouTube, tapi wajahmu itu terasa asing.
"Apa kau baru mulai???
"Aistttttt tentu saja...! Vidiomu nggak ada yang nonton yaaaa?!
"Yang sabar, kesuksesan itu butuh waktu yang tepat!" celoteh Zidane.
Ocehan panjang pria tampan yang paling menikmati hidupnya itu, sampai membuat Felix tak bisa berkata-kata untuk menjawab.
"Benar, waktu yang tepat," Felix mencoba tak tersinggung.
Karena apa pun yang dikatakan oleh Zidane adalah hal yang benar, acara Felix di TV memeng populer tapi saat pria itu membuat vidio di YouTube tak ada yang nonton. Bahkan teman-temannya bilang vidio yang dibuat oleh Felix di YouTube sangat kuno.
"Jadi kamu keliling cari makan, terus merekamnya begitu!" ucap Mbah Miyah yang baru saja keluar dari dapurnya.
Wanita tua itu membawa dua piring makanan lagi, padahal di meja seluas 1×1 meter itu sudah penuh dengan makanan.
"Bener, perkerjaan Food Vlogger memang begitu!" jawab Felix.
"Apa lagi nihhh Yank?" tanya Zidane pada Mbah Miyah.
"Bubur sumsum, karena cuaca lagi panas. Pasti enak makan bubur sumsum!" ujar Mbah Miyah.
"Bener banget kamu Sayang Miyah, tapi perut kami sudah hampit meledak karena makan nasi jagung buatanmu se tumbu penuh!" kata Zidane.
Memang perut datarnya saat ini terlihat membuncit karena kekenyangan. Nasi jagung, sambal korek, tempe bakar dan ikan laut bakar serta tumisan daun kangkung di atas meja itu sudah raib tak tersisa. Di lahap oleh dua pria rakus Zidane dan Felix.
"Perutku masih muat kok Mbah Miyah, untuk dua piring bubur sunsum itu!" kata Felix.
Yang sudah mau hampir ngiler karena melihat penampakan, bubur sumsum buatan Mbah Miyah yang amat mengiurkan.
__ADS_1
"Apa kau memelihara pengemis di dalam perutmu???
"Makanmu banyak sekali!!!" ujar Zidane.
Felix hanya tertawa bodoh karena pikirannya sudah dikuasai oleh dua piring bubur sumsum yang masih ditangan tua Mbah Miyah.
Mbah Miyah yang melihat betapa antusiasnya Felix dengan senang hati menyodorkan dua piring bubur sumsum ke arah Felix semua.
"Akan kubunuh kau, jika makan bagianku!" ancam Zidane.
Pria tampan itu berdiri, untuk pergi ke kamar mandi. Dia harus membuang makanan semalamnya yang pasti sudah dicerna oleh perutnya.
"Akhhhhhh ini enak sekali Mbahhhh!
"Bukan karena gratis, tapi ini benar-benar enakkkkk!" ucap Felix dengan ekspresi seperti orang lagi mukbang.
"Siapa bilang gratis?" kata Mbah Miyah.
"Hehhhhh!" Felix bertanya, karena merasa tak percaya dengan ucapan Mbah Miyah barusan.
.
.
"Oyyyy kau ini cowok-kan?!
"Cepat sedikit donk!" perintah Zidane dengan nada seperti tentara kompeni.
"Jalannya licin, aku takut jatuh!" keluh Felix.
Dua lelaki itu sudah membawa beberapa tikar dan selimut tebal milik Mbah Miyah. Bayaran untuk makan siang mereka berdua adalah mencuci semua itu di sungai belakang rumah Mbah Miyah.
"Tempat ini benar-benar seperti surga!" kata Felix, saat dia baru saja sampai di tepi sungai yang amat jernih itu.
"Apa kau tak pernah melihat sungai sebelumnya?" tanya Zidane pada Felix.
"Sungai di tempatku terlalu besar dan selalu saja keruh!" jawab Felix.
"Emang tempat asalmu mana?"
"Palembang, kota empek-empek!" ujar Felix bangga.
"Wahhhhh, etssssss
"Name hal nga kak, cepek dikik!" ucap Zidane dengan dialek khas orang Palembang.
"Apa kau juga dari Palembang, dalekmu bagus!
"Tapi sayang aku tak bisa bahasa Palembang, karena aku besar di Jakarta!" kata Felix.
"Parah banget kamu?!"
__ADS_1
"Aku tau!"
"Kita harus mencuci selimutnya terlebih dahulu!" ujar Zidane.
"Harus gitu?" tanya Felix.
"Nggak juga, tapi aku suka mencuci selimut duluan!" kata Zidane.
"Bagaimana cara mencuci selimut di sungai?" tanya Felix bingung.
"Bawa ke sini, biar aku tunjukkan!" kata Zidane pada Felix
Zidane melipat celananya sampai ke dengkulnya dan dia terjun ke dalam sungai yang jernih itu.
"Ternyata dangkal!" kata Felix.
"Lihat baik-baik, ini tutorial mencuci selimut di sungai!
"Pertama kau basahi dulu selimutnya dengan air!"
Zidane mengambil satu selimut tebal berwarna pink dan menegelamkan selimut itu ke dalam air selurunya.
"Jangan kau lepas, jika kau lepas dia akan hanyut!" ucap Zidane.
"Ok, lalu?!" tanya Felix dengan antusiasme yang tinggi.
"Kau lumuri sabun seperti ini!" Zidane menaburkan deterjen bubuk ke atas selimut itu.
"Kau bisa membunuh seluruh ikan di sungai ini!" tegur Felix.
"Tidak akan! Deterjen tak cukup kuat untuk membunuh hewan di air!" jelas Zidane.
"Perairan sungai atau rawa yang tercemar limbah detergen dapat memicu timbulnya eutrofikasi. Eutrofikasi adalah suatu kondisi pesatnya pertumbuhan tanaman enceng gondok dan ganggang. Jika kondisi ini dibiarkan maka permukaan sungai atau rawa akan tertutup tanaman ini.
"Dampak negatif akan dirasakan oleh biota air dibawahnya karena eutrofikasi menghambat sirkulasi oksigen dan sinar matahari. Lalu tumbuhnya ganggang yang pesat dapat meningkatkan unsur hara di dalamnya. Lama kelamaan bukan tidak mungkin kondisi ini dapat menyebabkan biota di dalamnya mati atau bahkan mengalami kepunahan." ucap Felix.
"Apa kau Wikipedia, kenapa bisa apal banget?" tanya Zidane.
"Kondisi limbah detergen yang tak terkendali akan menyebabkan pencemaran air di got-got yang mengalir ke sungai lalu bermuara di laut. Apabila debit limbah detergen semakin besar maka sangat memungkinkan terjadinya pencemaran terhadap air tanah. Padahal air tanah digunakan sebagai sumber air minum masyarakat, sehingga zat kimia berbahaya penyusun detergen secara tidak langsung akan ikut terminum.
"Selain itu, adanya busa sabun di permukaan perairan juga akan menghalangi cahaya matahari dan sirkulasi oksigen sehingga dapat menyebabkan kematian biota air di bawahnya." Felix masih melanjutkan ceramahnya.
"Aku tau itu, cepat ke sini dan cuci semua ini!" bentak Zidane yanh sudah mulai emosi.
"Baik!" ucap Felix.
"Salah satu zat penyusun detergen adalah alkyl benzene sulfonate. Alkyl benzene sulfonate bersifat sulit terurai di alam sehingga banyak Negara yang sudah melarang penggunaan zat ini. Apabila jumlah limbah detergen terus bertambah maka kandungan alkyl benzene sulfonate juga akan semakin banyak mencemari lingkungan." Felix mengikuti intruksi Zidane tapi masih melanjutkan hafalannya.
"Bisa diam enggak kamu, disini banyak batu besar yang dapat melayang sendiri!" ujar Zidane yang sudah dikuasai oleh emosi.
__________BERSAMBUNG_________
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤