Mas Wakil Idamanku

Mas Wakil Idamanku
Pernyataan Cinta


__ADS_3

Kami mengobrol di rumah Ibu Winda cukup lama, kita juga memasak beberapa makanan. Mengundang Pia Palen dan Ibu Nia untuk datang dan makan bersama.


Ibu Winda ditinggal mati suaminya saat anaknya masih berusia lima tahun. Dan anaknya meninggalkan nya tiga tahun silam, dengan penyakit yang sama.


Wanita itu cukup kuat menahan deritanya, dia masih bisa tersenyum di tengah badai yang begitu deras itu. Ibu Winda dibalik sikap nyinyirmu itu, kau menyimpan luka hidup yang amat parah.


"Seberapa pun anda berusaha untuk menutup luka itu rapat-rapat, luka itu akan terbuka lagi nantinya.


"Sebaiknya anda mengobatinya!" kataku pada Ibu Winda.


Semua orang sudah pada balik, aku dan Gisna memutuskan untuk tinggal lebih lama. Membantu Ibu Winda membereskan kekacauan di rumahnya.


"Anda benar Bu Dokter, tapi aku sudah baik-baik saja.


"Saya sering datang ke rumah sakit, dan bertemu dengan banyak anak di sana.


"Saya juga punya tetangga yang peduli padaku. Seperti anda...


"Trimalasih Bu Dokter!" Ibu Winda mengatakannya dengan sangat tulus, dan itu membuatku tak bisa berkata-kata lagi.


"Tapi apa benar, anda dan Mas Wakil enggak ada apa-apa?" tanya Ibu Winda.


Belum juga aku selesai memujinya dalam hati, jiwa keponya keluar lagi.


"Aku nggak akan cerita ke orang, kita--kan teman!" Ibu Winda benar-benar niat merayuku.


Tapi karena Ibu Winda mengungkit tentang itu aku jadi ingat tentang janjiku pada Zidnae.


"Kayaknya kami harus pulang Bu Winda, sudah malam juga!" pamitku.


"Akhhhh kalian, nggak ngasih tau aku," Ibu Winda tampak kecewa.


"Kami pulang dulu yaaa Bu!" Gisna pun juga ikut pamit.


"Hati-hati dijalan yaaaa!" teriak Ibu Winda.


Kami hanya mengangguk dan langsung pergi dari rumah Ibu Winda.


"Aku ada janji dengan Zidnae, kau pulang duluan!" pintaku pada Gisna.


"Jangan menginap lagi!" ujarnya.


"Kenapa sudah dua kali juga, satu kali lagi tak masalah!" candaku.


"Serah kamu, semoga diterima!" Gisna memberiku semangat.


"Ditolak malam ini, aku akan datang lagi besok.


"Kau tak tak tau seberapa gigihnya aku, saat menginginkan sesuatu?!" ujarku.


"Akhhhhh... Iya kau tak punya malu, kau akan melakukan apa pun," deliknya.


"Dahhhhhh!"


Kami berpisah di gang masuk rumahku, aku berjalan lurus dan pergi ke arah rumah Zidane. Aku sampai berlari karena sudah tak sabar untuk melihat wajahnya.


Tapi sesampainya di rumah Zidane dia tak tampak berada di dalam rumah.


"Kemana dia?" tanyaku pada angin malam, karena tak ada manusia satu pun yang berada di sekitarku.


Aku pun menghubunginya, dan dia mengangkat panggilan udaraku.


"Kamu di mana?" tanyaku.

__ADS_1


"Di pantai," jawabnya.


Zidane tak bohong aku bisa mendengar deru ombak, di balik ponselku.


"Jangan pergi, aku akan ke sana!" kataku.


Aku segera berjalan lagi ke arah pantai. Senyumku sudah mengembang indah di bibirku, aku sudah tak sabar untuk mengatakan isi hatiku pada Zidane.


Ini pertama kali bagiku, tapi aku tak punya rasa ragu atau pun gugup. Aku hanya merasa bahagia, cinta apa selalu seindah ini.


"Memang kau di mana?" tanya Zidane padaku, karena aku tak memutus panggilan kami.


"Diam di sana, aku sedang berjalan mencarimu!" kataku.


"Ada apa?" tanyanya.


"Sabarlah sedikit, aku hampir sampai!" kataku.


Jarak pantai dan rumah Zidane tak begitu jauh, mungkin hanya lima menit berjalan kaki.


"Apa yang kau lakukan hari ini?" tanyaku sembari berjalan cepat ke arah pantai.


"Makan dan tidur!" katanya.


"Kau tak tau ada keributan di Balai Desa?" tanyaku.


"Bu Tari memberitahuku!


"Tapi kau dan Gisna sudah berkunjung ke rumah Nyai Winda.


"Kau punya perkembangan yang baik Bu Dokter!" kata Zidane.


"Aku memang baik, aku tak baik hanya padamu saja!" aku berusaha melucu.


"Kenapa?" tanyanya.


Kumatikan panggilan di ponselku dan aku pun berlari ke arah Zidane, dia sedang berdiri di tepi pantai.


"Oyyyy jangan lari!" teriaknya.


Tapi aku terus berlari ke arahnya, akhirnya kami bertemu dan saling bertatapan dengan senyuman.


"Bagaimana kalau kau jatuh?" tanyanya.


"Mas Wakil, aku menyukaimu!" kataku.


Zidane tampak terdiam, dia tertegun mendengar ungkapan cintaku yang tiba-tiba.


"Aku mencintaimu!


"Selama ini aku tak sadar jika aku menyukaimu, dan aku tak bisa diam dan menunggu kau mencintaiku juga.


"Jadi aku memutuskan untuk mengungkapkannya secepatnya! Maaf jika membuatmu kaget.


"Zidane aku cinta padamu!" kataku.


Aku tak menyangka akan selancar itu saat membicarakan ini, tapi aku lega.


Aku bisa menerima keputusan apa pun yang dipilih oleh Zidnae. Aku mengatakannya agar hatiku merasa lega, karena selama ini. Saat aku menyangkal perasaan cintaku padanya, hatiku terasa sesak dan aneh.


"Aku sudah mengatakannya, jadi aku akan pergi!" kataku.


"Kau, mau kemana?" tanyanya.

__ADS_1


"Pulang!" kataku.


"Sebentar, karena kau sudah mengatakannya. Aku juga akan jujur padamu!" ujarnya.


Aku sudah mempersiapkan diriku, apa pun keputusannya akan kuterima dengan lapang dada.


Dia tak kunjung berkata apa pun, tapi Zidane malah meraih tengkukku dengan telapak tangan kanannya. Dia menarik wajahku perlahan ke arah wajahnya.


Hembusan napasnya yang melewati bibirku, seolah menguncang jiwa dan ragaku. Membuatku memejamkan mataku, menikmati setiap detik momen ini.


Suara deru ombak sebagai musik pengiring kami malam ini.


Kecupan bibirnya akhirnya mendarat di bibirku, ciuman pertamaku saat jiwa dan ragaku berada di kondisi sadar. Dia mengecup lagi, tubuhku seakan bergetar menikmati setiap sentuhan itu.


Aku mencoba membalas kecupannya, kecupan kami saling beradu dan tubuhnya semakin dekat dengan tubuhku. Dia mendekap tubuhku dan menghangatkannya.


Aku menumpahkan seluruh perasanku dalam ciuman ini, aku berusaha mengimbangi seluruh kecupannya yang semakin memabukkan bagiku.


Hasrat yang sama, rasa yang sama, dan frekuansi yang sama. Bersatu menjadi sebuah makna, meski hanya kecupan-kecupan hangat yang memabukkan. Tapi ini adalah bentuk jawaban Zidane untuk pernyataan cintaku.


Perlahan-lahan dia melepaskan bibir manisnya dari bibirku.


Matanya memandang mataku lekat-lekat dan dia berucap.  "Nesa, aku juga mencintaimu. Maaf membuatku mengatakan duluan. Karena aku menahan perasaanku seperti orang bodoh!"


Malam penuh bintang menjadi saksi bagi kami, mencintai dan dicintai adalah harapan semua mahluk di Bumi ini. Trimakasih Zidnane kau telah hadir dihidupku yang singkat ini. Semoga kau mau menemaniku sampai akhir hayatku.


.


.


Kami berjalan beriringan sambil bergandengan tangan, Zidane memgantarku pulang.


Langkah-demi langkah santai kami kunikmati, remasan tangannya pada tanganku membuatku terus tersenyum.


"Sejak kapan kau mencintaiku?" tanyaku pada Zidane.


"Entahlah, aku tak tau. Itu terjadi tiba-tiba sekali!" jawabnya.


"Kalau di ingat-ingat aku sudah terpana padamu, saat kita pertama kali bertemu di pantai!" kataku.


"Kau yakin itu pertama kalinya kita bertemu!" tanyanya.


"Iya, emang kapan kita pernah bertemu sebelumnya?" tanyaku.


"Pulanglah, jangan sampai kau menyesal. Karena orang tua itu cepat mati!" kata Zidane.


"Hahhhhh, kamu???


"Kamu anak kasar itu, wahhhh kau tumbuh dengan baik!" aku kaget setengah mati. Bagaimana mungkin Zidane adalah anak yang kutemui 12 tahun yang lalu.


"Maaf waktu itu aku terlalu kasar padamu!" kata Zidnae.


"Aku malah mau bertrimakasih karena berkata kasar padaku.


"Jika tidak, aku mungkin akan bunuh diri. Kau tak tau bagaimana putus asanya aku pada hari itu.


"Dan kata-kata kasarmu membuatku sadar, aku harus tetap bertahan untuk ayahku!" kataku.


"Apa payung itu masih ada?" tanya Zidane.


"Memang kau memberiku payung dari besi, kenapa masih tanya bagus atau tidak?" bentakku.


"Punyaku masih bagus!" katanya.

__ADS_1


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2