
Banyak hal yang telah kulewati dalam jangka waktu setengah tahun ini.
Aku tak menyangka jika aku akan sampai di titik ini, berhasil dalam karir dan cinta.
Menghadapi kekisruhan dalam pekerjaan, berbaur dengan lingkungan yang amat sangat baru. Aku menghadapinya tanpa persiapan tapi membuahkan hasil yang lebih dari dugaanku.
Bertengkar setiap hari dengan Zidane di awal pertemuan kami. Sampai tersenyum setiap hari bersamanya setelah melewati masa-masa ambigu yang melelahkan.
Tapi itu tak terasa nembosankan, kisah cintaku dengan Mas Wakil yang asam manis.
Perjalanan kami memang masih panjang, dan kuharap kalian semua mendukang kami sampai 3 seasonπ€£π€£π€£.
Autor: Ogahhhh Nesssss, udah cape gue πππ. Jatah elu 60 eps, tapi jadi molor begini...
Ok fokus lagi...
Hari ini, hari yang amat cerah. Semua orang di Desa Ngobaran berdandan secantik dan setampan mungkin. Karena hari ini adalah hari perayaan atau sukuran.
Pesta kecil-kecilan diadakan du balai desa, acara ini dibuat oleh pihak Sutradara Felix. Para staf produksi reality show--nya ingin bertrimakasih atas dukungan warga sekitar.
Syuting sebelumnya yang dilakukan di Desa indah ini sudah selesai. Ternyata mereka mendulang reting penayangan yang tinggi di episode minggu pertama. Mereka berharap di episode Minggu kedua dan terakhir ini, mereka juga mendulang kesuksesan yang sama atau bahkan lebih.
Sementara aku juga sudah menyiapkan hadiah untuk Zidane pacar tercintaku. Aku tau dia sangat sibuk dan tak punya waktu santai, jadi aku membeli cincin pasangan untuk kami.
Karena semenjak pacaran, kami tidak punya barang yang dibeli berdua. Aku tau Zidane orang yang pengertian masalah hati, tapi dia mungkin tak mengerti dengan hal kecil seperti ini.
Tapi aku tak keberatan, aku tak keberatan mencintainya dan lebih dulu berinisiatif. Semua juga demi kelanggengan hubugan kita, ampe tiga season--kanπ π π .
Saat aku dan Gisna sampai di balai desa, hampir semua warga Desa Ngobaran sudah ada di sana.
Kak Felix langsung melambaikan tanganya ke arahku, dia mengajakku duduk di mejanya. Meja khusus untuk para petinggi Desa dan rekan-rekannya.
Aku tak bermaksut duduk di sana, tapi aku menghampirinya untuk memberi ucapan selamat.
"Selamat Kak!" kataku.
"Semua berkat pacarmu, yang bekerja keras siang dan malam!" kata Kak Felix.
Entah kenapa dia malah memuji Zidane. Tapi aku juga mengerti, Zidane adalah tipe orang yang teliti dan sangat cakap saat mengerjakan apa pun. Wajar Kak Felix merasa terbantu dengan cara kerja Mas Wakil.
"Kubilang juga apa, dia bisa diandalkan!" kataku.
"Kau benar, pilihanmu selalu tepat!
"Aku jadi merasa lega meninggalkanmu di sini, karena kau bersama dengan orang sebaik Mas Wakil!" kata Kak Felix.
Aku hanya tersenyum tertahan, bagaimana Kak Felix bisa mengatakan itu di depan semua orang di sini. Dia benar-benar mengambil peran jadi kakakku sungguhan.
"Kamu harus duduk di sini!" kata Kak Felix.
"Tidak usah Kak! Aku akan duduk di sana saja!" aku menunjuk sebuah meja yang sudah ada Gisna dan Irwan.
Aku yakin Zidane akan ikut duduk di meja khusus bareng Kak Felix. Selain Zidane bagian dari staf produksi, lelaki yang kucintai itu juga adalah salah satu orang penting di Desa Ngobaran ini.
Semua orang tampak menikmati pesta yang bisa dibilang sederhana, ala pedesaan. Tapi suasana riuh ini membuatku merasa berada di rumah, yaaa rumahku Desa Ngobaran.
__ADS_1
Aku juga dapat melihat, wajah ganteng pacarku yang sibuk. lelaki itu sedang asik di bagian konsumsi bersama ibu-ibu dan embah-embah. Dia tak malu sama sekali berkumpul dengan para wanita di dapur outdoor itu.
Yaaa pekerjaan membuat makanan itu sangat berat, dan Zidane pasti bisa merasakan kesulitan itu. Dia pasti membantu menyiapkan, mana mungkin dia bisa berpangku tangan saat semua sedang sibuk.
Tapi aku tak mau melewatkan hal penting, aku ingin segera memberikan hadiah yang sudah kusiapkan untuknya.
Aku pun mendekati sosok tampan yang sedang membagikan sup dari panci ke mangkuk-mangkuk kecil di dapur dadakan itu.
"Zidane, aku ingin bicara sebentar!" kataku.
"Apa?" dia masih sibuk melakukan pekerjaannya.
"Ayo ikut aku sebentar!" kataku.
"Penting?" tanyanya lagi.
"Penting banget, menyangkut hidup dan matimu!" ujarku.
"Kenapa aku langsung perinding!" dia masih sempat bergurau.
"Ayooo ahhhh!" desakku.
"Udahhhh pergi sana, biar kami yang mengurus ini!" ujar Mbah Miyah yang sudah sehat paska oprasi.
Zidane pun keluar dari dapur berasap itu dan mengikutiku ke arah belakang gedung balai desa itu.
Aku menghentikan langkahku dan kulihat wajahnya lekat-lekat.
"Jangan bilang, kau menyeretku kesini hanya untuk menikmati ketampananku!" ujar Zidane dengan senyuman diwajah manisnya.
Aku mengeluarkan kotak cincin pasangan dari dalam tas jinjingku.
Dia menatapku dengan penuh keharuan, sementara aku memasang cincin yang polos dan berdiameter besar ke jari manis tangan kiri Zidane.
"Harusnya aku yang...,"
"Sama saja! Aku atau kamu yang beli, ini tetap sebuah tanda cinta!" kataku dengan senyuman yang mengembang.
Zidane pun memakaikan satunya di jari manisku juga.
"Trimakasih Nesa, sudah melengkapi hidupku!" katanya.
Aku hanya mengangguk pelan. "Trimakasih juga sudah menjadi matahari keduaku!" kataku.
"Yang pertama siapa?" tanyanya.
Aku mengacungkan jari telunjukku ke arah sang surya.
"Boleh aku menciummu?" tanyanya.
"Cie-cie yang lagi asik pacaran!" suara gadis kecil yang tak asing bagiku.
Aku segera menoleh ke arah suara itu. Zidane yang ketahuan kemesumannya hanya bisa berdehem menahan malu.
"Gaya pacaran kalian, membuatku takut!" ujar Susi.
__ADS_1
Kenapa gadis remaja itu ada di tempat ini.
"Sedang apa kau di sini Sus?" tanya Zidane dengan wajah menahan malu.
"Udah cium-ciuman sono! Astaga, kalian!" gerutu Susi.
Gadis SMU itu segera pergi dari tempat mojok kami berdua.
"Jangan bilang pada siapa-siapa!" teriak Zidane.
Aku hanya bisa tertawa melihat tingkah Zidane yang sedang menahan malu.
"Asal, Paman mau mengerjakan PR--ku selama sebulan!" ujar Susi.
Yang malah kembali ke arah kami.
"Seminggu!" tawar Zidane.
"Sebulan, no tawar-tawar! Emang paman kira ini pasar Malioboro?" kata Susi.
Bocil ini ternyata pandai bicara juga ternyata.
"Awas kau bicara macem-macem ke orang-orang?!" ancam Zidane.
Susi yang merasa syaratnya akan dipenuhi Zidane malah pura-pura tidur sambil berdiri, dia menguap dan melihat ke arah kami.
"Ohhhh ternyata aku cuma mimpi! Kalian ngapain di sini?" tanya Susi yang pura-pura hilang ingatan.
Aku tak bisa tak tertawa melihat tingkah absurd bocah SMU labil itu.
Susi segera pergi, karena takut pada Zidane yang sudah memasang wajah marahnya.
"Aku harus kembali ke dapur, kambingmu ini harus membantu para nenek-nenek!" katanya dengan nada manja dan wajahnya sudah lucu lagi.
"Kau harus berubah jadi manusia jika di dapur. Aku nggak mau kamu di gule sama Ayang Miyahmu!" nasehatku.
"Siap!"
Kami pun kembali ke perkumpulan, tapi mataku seketika terpaku dengan sosok yang baru saja masuk ke dalam area Balai Desa.
Kenapa pria itu bisa ada di sini, di waktu seperti ini.
Apa yang membawanya ke sini.
Manik mata kami bertemu, dan aku tak bisa menatap arah lain. Aku terlalu penasaran dengan tujuannya, lelaki itu berjalan cepat ke arahku.
Tapi langkah kaki cepat dan tegas itu melewatiku dan sebuah suara pukulan, terdengar di telingaku.
Buakkkkkkkkkk
Aku pun segera berbalik, dan wajah oriental dengan mata sipit Dokter Kenma sudah berubah penuh emosi. Sementara tubuh tegap Zidane tersungkur di tanah, pucuk bibir bagian kirinya lebam dan berdarah.
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE β€β€β€
__ADS_1