
Cekrek cekrek cekrek
Suara kamera Felix membidik obyek yang sangat indah di setiap sudut pantai Ngobaran yang indah. Lelaki yang berasal dari Ibu Kota itu terlihat sangat menikmati setiap apa pun yang ia lihat di desa ini.
"Wahhhhhh ini sih surga!" ujar Felix dengan nada terkagum-kagum.
Jepretan demi jepretan dibidikkan oleh kamera tua klasik milik sutradara reality show ternama di Negara ini. Berbagai program Reality show yang diproduksi oleh Felix sudah mengalami kesuksesan besar dan menjadi program TV favorit di Negara ini.
Lelaki dengan tubuh tinggi, tegap serta berotot itu mulai menyusuri pasar setelah puas memotret di pantai. Felix tak lupa juga menyusuri pelabuhan yang saat ini sudah banyak kapal nelayan yang bersandar.
"Mas, saya mau tanya?" tanya Felix ke pada orang.
Orang itu adalah Zidane yang baru saja menyandarkan kapalnya di pelabuhan.
"Kalau mau naik ke sana, lewat mana yaaaa?" tanya Felix.
Felix menunjuk area tebing yang menjulang ke pantai. Tebing yang dipenuhi dengan bagunan arca-arca bersejarah.
"Kamu jalan aja lurus, nahhhh kan ada pantai.
"Lalu kamu lihat ke arah kiri ada cafe Island, nahhh kamu naik lewat gang itu.
"Lurus aja terus jangan belok-belok!" arahan Zidane.
"Makasih ya Mas!" kata Felix dengan senyum yang mengembang.
Dengan suasana hati yang amat riang gembira Felix yang sudah berusia 30 tahun itu berjalan seperti anak kecil yang disuruh emaknya jajan ke warung. Felix memang terkenal sebagai sutradara pria yang unik dan nyentrik dalam hal kelakuan.
Bahkan dia dijuluki anak TK oleh rekan-rekan setimnya. Tapi untuk soal pekerjaan Felix adalah orang yang berdedikasi dan bijaksana.
Karena cara jalan Felix yang amat sangat aneh bagi Zidane, membuat pria yang juga aneh itu memperhatikan arah berjalannya Felix.
"Terus Massssss, jalan terus!" teriak Zidane. Karena melihat Felix berdiri diam di gang yang mengarah ke klinik bersalin milik Nesa.
"Aku nggak lihat, aku nggak lihat!" ujar Zidane biar dia bisa mengabaikan pria yang tadi bertanya ke padanya.
"Tapi jika dia belok ke sana dia akan tersesat, gimana?!" kata Zidane yang saat ini sudah melepas sepatu butsnya.
"Aisttttt!" desah Zidane kesal.
Segera dia pake sendal jepit andalannya dan langkah kaki beralas sehelai bantalan karet itu berlari mengikuti arah Felix yang berbelok ke arah yang salah.
.
.
__ADS_1
"Klinik bersalin INTAN!" guman Felix yang segera mengarahkan mata lensanya ke arah papan nama di depan klinik milik Nesa yang masih tutup itu.
Karena saat ini masih jam 07:30 pagi, dan klinik Nesa buka jam 08:00 pagi jadi sang pemilik belum datang ke bangunan dua lantai itu.
Nama Intan di papan nama klinik itu membuat Felix ingat akan akan cita-cita cinta pertamanya yang yang seorang mahasiswa di jurusan Dokter Kandungan.
"Aku ingin membuka klinik bersalin sendiri dengan nama pemberian ibuku yaitu Intan!" kata cinta pertama Felix.
Cinta pertama Felix yang bahkan tak dia ungkap, karena pria aneh itu dulu sangat pemalu.
Felix segera merampungkan lamunan tentang masa lalunya dan kembali berjalan ke arah gang sempit di samping klinik Nesa. Seperti arahan yang Zidane berikan Felix jalan lurus terus tanpa berbelok. Tapi dia malah berada di depan rumah Joglo yang masih sangat terawat dan asli.
"Akhirnya aku menemukannya!" kata Felix yang langsung masuk ke dalam pelataran halaman rumah itu tanpa permisi.
.
.
"Apa kau pencuri, kenapa masuk ke rumah orang tanpa permisi!" teriak Mbah Miyah yang sudah memukuli tubuh Felix dengan sebilah kayu berukuran sedang.
"Ada apa Yank Miyahhh?!" tanya Zidane yang baru saja sampai dengan napas kalang kabut karena berlari.
"Ini ada maling,!" ungkapan Mbah Miyah itu segera membuat Zidane melakukan gerakan penyerangan terhadap Felix.
Gubrakkkkkkkkk
"Kamu!!!" Felix juga tertawa, karena lega ada pria yang tadi bertemu dengannya tadi
Meski posis kedua lelaki ini sedang tumpang tindih di depan seorang nenek-nenek, tapi tampaknya rasa bahagia yang mereka miliki tak dapat dipudarkan.
Hanya karena bertemu sekali saja membuat keduanya, seperti memendam perasaan rindu yang mendalam.
"Kalian saling kenal?" tanya Mbah Miyah pada Zidane.
Padahal kedua insan yang sama-sama punya pedang yang tajam itu, masih saling tindih dan berpandangan dengan raut wajah yang sama-sama aneh.
"Tidak, kami baru saja ketemu di pelabuhan!" kata Zidane yang ternyata sudah merampungkan adegan konyol itu.
Lelaki yang masih berbau laut itu pun segera berdiri dari posis tak nyamannya.
"Emang ada apa ni Miah? Kau enggak kerja?!" tanya Zidane dengan nada yang khawatir.
Sementara Felix yang baru saja bangun tampak bingung karena ternyata celana bagian belakangnya bolong karena dia terjatuh tadi.
"Aku ini sudah tua, dan perutku gampang sakit!" kata Mbah Miyah.
__ADS_1
"Lhaaa ini siapa terusan?" tanya Mbah miyah lagi ke arah Felix yang berusaha menyembunyikan sobekan dibagian pantat celananya.
"Kamu kenapa, sembelit?" Zidane pun curiga dengan tingkah, gerak-gerik Felix yang makin aneh.
"Celanaku robek!" ujar Felix lirih, lebih ke berbisik kepada Zidane.
"Ohhhh celana kamu bolong!" Zidane malah berbicara dengan lantang.
Wajah Felix yang sudah menahan malu itu akhirnya hanya bisa lunglai lemas.
"Nggak usah khawatir kita pinjam celana kolor Ayang Miyah!" ujar Zidane yang disambut dengan senyuman ramah Mbah Miyah.
"Dimana rumahnya Ayang Miyah mu?" tanya Felix antusias.
.
.
Mungkin ini yang dinamakan udah jatuh tertimpa monas. Felix baru saja digebukin nenek-nenek, celananya robek dan kini dia memakai celana kolor bunga-bunga warna merah yang ngegantung.
Lelaki tampan dan terkenal itu keluar dari salah satu kamar di kediaman Mbah Miyah, senyum sumringah sudah terpampang dari dua wajah. Yang satu dari wajah tampan Zidane dan yang satunya dari wajah ketiput Mbah Miyah.
"Kalian tunggu di sini yaaa, akan kusiapkan makan siang!" kata Mbah Miyah.
"Nggak usah Nek, jadi ngerepotin!" kata Felix.
"Yang banyak yaaa Ayang Miyah, aku lapar sekali!" teriak Zidane.
"Baikkk tampan!" Mbah Miyah yang tadinya sudah berjalan ke arah dapur pun berbalik hanya untuk tersenyum pada Zidane.
"Maaf yaaa Mas sebelumnya," kata Felix hati-hati.
"Kenapa?"
"Nenek-nenek tadi istrinya Mas?" tanya Felix, Zidane hanya bisa melihat ke arah Felix dengan tatapan tak enak.
"Bukan!" jawab Zidane, dengan nada horor.
"Tentu saja bukan, kupikir Mas yang tampan ini punya kelainan!" ujar Felix.
"Apa Ayang Miyah tapi memukul kepalamu?" tanya Zidane.
"Nggak!"
"Jadi kau sinting dari lahir!" bentak Zidane.
__ADS_1
___________BERSAMBUNG_________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤