Mas Wakil Idamanku

Mas Wakil Idamanku
Melepaskan


__ADS_3

Laut lepas terhampar di depan Zidane dan Felix, kedua pasang mata lelaki itu memandang lurus kedepan. Arah pandangan yang sama.


Laut biru dengan ombak-ombak yang riuh. Burung-burung camar laut dan berbagai jenis burung lain terbang di atas air biru itu.


Mereka juga memikirkan seseorang di dalam kepala mereka. Dan yang mereka pikirkan adalah orang yang sama. Vanesa Intan.


"Aku tau Nesa suka ke pantai ini!" kata Felix.


Lelaki itu berkata tanpa melihat lawan bicaranya,pandanganya masih tertuju pada laut yang biru.


"Dia suka kesini, kenapa?" tanya Zidane.


Sama dengan halnya Felix, pandangan Zidane seakan tak mau lepas dari gemuruh ombak di tengah laut itu.


"Entahlah, dia selalu ke sini saat ulang tahun ibunya.


"Dia bilang tempat ini adalah kenangan indah terakhirnya dengan ibu kandungnya!" kata Felix.


Wajah bahagia sutradara itu masih saja tersenyum ceria ke arah lepas pantai.


"Kau sangat mengenal, Bu Dokter?" tanya Zidane.


Kini wajah tanpa semangat hidupnya menoleh ke arah Felix.


"Begitulah, aku lebih mengenal dia dari pada diriku sendiri!" ujar Felix dengan nada yang amat bangga.


Wajah yang penuh senyum Zidane kini hanya terlihat siram dan tersenyum penuh paksaan. Dia merasa kehilangan sesuatu, tapi dia tak tau apa yang hilang dari dirinya.


Sesuatu terlempar, tapi dia merasa tak pernah melempar apa pun. Sesuatu terbuang tapi tak pernah dia buang. Sesuatu itu hilang sebelum kau sempat menggenggamnya. Sesuatu itu adalah cinta.


Sesuatu yang tak bisa kau prediksi, kapan datang, kapan pergi. Bagaimana terjadinya, apakah akan bertahan atau akan berakhir.


Yang Zidane tau, kini hatinya bergemuruh. Cuaca di dalam dirinya sedang diterjang badai yang amat besar.


"Apa kau bisa selancar?" tanya Felix.


"Lumayan!" jawab Zidane, wajahnya masih saja terlihat tak enak.


"Bagaiaman jika kau mengajariku?" pinta Felix.


Zidane langsung memandang Felix, manik matanya bergerak dari ujung rambut Sutradara itu hingga ke ujung kakinya. Berkali-kali, lalu Zidane mengeleng pelan.


"Kau terlihat tak bisa berenang!" ejek Zidane.


"Kok kamu tau?" tanya Felix, dia langsung memandang ke manik mata Zidane.


"Apa kau bisa meramal juga?!" tantang Felix.


"Kuramalkan, kau akan berhasil dengan usaha yang kau jalani dengan sungguh-sungguh di sini!" kata Zidane ngawur.


Apa dia mau melepas, sebelum menggenggam. Itu lebih baik, lepaskan sebelum kau sempat memiliki.


Karena rasa sakitnya tak akan terasa. Karena bagi Zidane hidup dengan orang lain adalah sebuah kesengsaraan.


Banyak hal telah dia lalui, orang yang menganggap dia keluarga pasti akan berakhir tragis.


Dan Zidane tak mau ada orang lagi yang menjadi korban kesialan, yang dia bawa dalam kelahirannya.


Zidane yakin dia hanya anak pembawa sial.

__ADS_1


"Ayolah Mas Wakil, ajari aku selancar!"pinta Felix, dia adalah manusia yang tak kenal kata menyerah.


"Kalau kau tak bisa berenang, bagaimana kau mau selancar?


"Yang ada kau akan diseret ombak sampai Istana Nyai Roro Kidul!" ujar Zidane.


"Kau benar-benar kejam!" ujar Felix.


"Yaaa aku memang kejam!" kata Zidane, lelaki itu berbalik dan meninggalkan Felix sendiri di sana.


Felix yang tak mau ditinggal segera mengejar Zidane. Dia sepertinya masih ingin merayu Zidane untuk mengajarinya belajar selancar.


"Bagaimana kalau kita makan dulu!" kata Felix, setelah berhasil merangkul bahu Zidane.


"Aku lagi nggak selera makan!" kata Zidane. Dia memang masih merasa kenyang.


Manik mata Zidane menemukan sebuah pemandangan yang mengempur pertahanan hatinya.


Nesa dan Gisna sedang berjalan pelan, mereka pasti pulang dari klinik karena hari memang sudah sore.


"Nesaa!" teriak Felix kencang, hingga membuat telinga Zidane berdengung.


"Bikin budek tau!" ujar Zidane.


"Maaf-maaf!" Felix segera berlari menghampir Nesa.


Zidane malah berhenti di tempatnya, di sadar biasanya dia juga akan berlari sekencang itu saat melihat Nesa.


Helaan napas panjang membuat Zidane mendapatkan akal sehatnya kembali. Dia dan Nesa hanya tetangga satu Desa, bukan teman, bukan sahabat. Apa lagi...


"Zidane jangan berharap apa pun!" dia kembali mengingatkan dirinya sendiri lagi.


.


.


"Iya, kita bisa ngopi dan ngobrol di sana!" kata Nesa.


"Itu ide bagus, kita sudah lama tidak ngobrol--kan?" Felix sangat senang karena akhirnya dia bisa berduaan dengan Nesa.


Karena Gisna baru saja palit, sahabat Nesa itu tau dia harus memberi waktu pada Nesa untuk dekat dengan lelaki. Gisna enggak mau jika Nesa menjadi jomblo seumur hidupnya.


"Aku juga akan kerja ke sana, kita jalan kaki--kan?" ujar Zidane.


Lelaki yang dulunya penuh senyum itu berjalan duluan ke arah Kafe dan diikuti oleh Nesa yang ngobrol asik dengan Felix.


Suara tawa Nesa dan Felix terdengar sangat jelas di telinga Zidane. Tapi lelaki itu cukup tanguh, dia belum melakukan hal gila apa pun sampai sekarang.


.


.


Ibu Winda dan Pia Palen serta si Lallana banci sedang berjalan ke arah berlawannan dengan mereka bertiga.


"Kayaknya di Ngobaran ini lagi tren cinta segitiga!" ujar Ibu Winda.


"Ngetern?" tanya Pia Palen.


"Ibu Tari, suaminya dan guru SD. Dan itu tadi Mas Wakil, Bu Dokter dan Pak Sutradara!" jelas Ibu Winda.

__ADS_1


"Apa sih istimewanya Bu Dokter? Kenapa banyak lelaki suka sama dia?" tanya Pia Palen.


"Bu Dokter itu kalem, keles. Nggak kayak kamyu lementel!" ujar si banci.


"Ngajak gelut kamu Lan?" Pia Palen mulai naik darah.


"Ayokkk, siapa takut!" jawab Lallana, banci itu akhirnya mengeluarkan suara aslinya yang keras dan berat.


Tentu saja Pia Palen kaget dan menjadi ketakutan . Sebanci-bancinya Lallana masih cowok yang punya batang pisang, bagaimana jika banci itu khilaf...


Pikiran Pia Palen sudah melalang buana ke dareah timur.


.


.


.


.


Gisna berjalan pelan, dia sudah berada di area pasar. Perutnya sudah meraung-raung minta diisi. Dia sedang memilih akan makan di restoran yang mana.


Gadis itu tak punya janji pada siapa pun, dan dia sedang lapar. Saat dia sudah memutuskan untuk makan di sebuah restoran masakan cina.


Pandangan matanya malah tersita pada sosok tampan di sebrang jalan. Lelaki dengan seragam polisi lengkap dengan mobil patrolinya.


Lahkah Gisna tentu saja tak jadi masuk ke dalam restoran. Rasa laparnya langsung hilang seketika, perutnya terasa penuh hanya dengan melihat ketampanan Pak Polisi Irwan.


Tanpa ia sadari Gisna sudah berada di sebrang jalan dan menyapa Irwan.


"Mas Irwan?" sapa Gisna dengan penuh senyuman yang mengembang.


"Ohhh Mbak Gisna, ada apa ya?" tanya Irwan dengan cara bicara formalnya yang kaku.


"Mas Irwan sudah makan malam?" tanya Gisna.


"Belummm!" Irwan tampak bingung, dengan arah pertanyaan Gisna.


"Bagaimana jika saya traktir Mas Irwan?


"Sebagai tanda trimakasih saya apa Mas Irwan, karena kemarin sudah mengantarku pulang!" Gisna pintar sekali mencari alasan.


"Tapi saya masih ada tugas Mbak, saya harus mengantar bantuan sembako pada para lansia!" kata Irwan.


"Saya bisa membantu Mas Irwan!" ujar Gisna, dia memaksakan kehendaknya.


"Tapi itu tidak perlu Mbak!" kata Irwan.


"Saya mau bantu Mas, anggap saja hari ini saya kerja sukarela untuk masyarakat.


"Yapppp kerjabakti, sejenis itu!" Gisna masih saja ngotot.


"Kalau Mbak tidak keberatan, dan tidak repot..."


Seperti biasa Gisna langsung membuka pintu mobil yang di bawa Irwan.


Ternyata di jok penumpang depan sudah terisi penuh dengan sembako-sembako.


"Saya bisa duduk di belakang kok!" kata Gisna.

__ADS_1


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2