
Satu minggu yang amat sibuk, aku sibuk untuk mendekati Zidnae yang sibuk di lokasi syuting. Sementara Gisna sibuk menghindari Irwan, karena dia masih merasa malu.
"Pokoknya hari ini aku akan membuatnya bicara!" tekatku.
"Aku juga akan bicara pada Irwan!" kata Gisna.
"Bicara apa?" tanyaku ke Gisna.
"Aku akan bicarakan apa yang kurasakan terhadapnya,
"Dan aku aku akan menerima penolakannya dengan lapang dada.
"Lalu memintanya untuk menjauh dariku.
"Aku tak tau ternyata aku benar-benar mencintainya, kupikir aku hanya suka karena dia tampan.
"Jadi aku gegabah dan menyatakan rasa sukaku dengan sembarangan!" ujar Gisna.
Dia tidak terlihat sedih atau pun marah seperti biasanya, dia terlihat cukup lapang dada hari ini.
"Kalau kau apa yang akan kau lakukan?" tanya Gisna padaku.
"Entahlah, aku bahkan bingung karena sebuah mimpi!" gumamku kesal.
"Apa kau mimpi dicium Mas Wakil?" tanya Gisna.
"Aku pasti sudah gila!" ujarku lebih kesal lagi.
"Sebenarnya aku berbohong padamu!" kata Gisna.
"Berbohong???"
"Malam itu Mas Wakil mengantarkanmu sampai ke kamarmu!" kata Gisna tanpa perasaan bersalah sedikit pun.
"Jadi dia benar-benar menciumku, saat aku mabuk?" tanyaku lebih kesal.
"Aku juga melihatnya!" kata Gisna.
"Kenapa kau tak bilang dari dulu!!!" teriakku.
"Kupikir itu hanya salah faham, tapi kelihatannya kalian saling suka!" ujar Gisna.
"Kau mau mati?" ancamku pada Gisna.
"Aku harus meluruskan dulu urusanku dengan Pak Polisi, aku pulang duluan!" kata Gisna.
Hari memang sudah sore, dan sudah waktunya bagi kami untuk pulang.
Tapi saat aku keluar dari klinikku, Kak Felix sudah ada di depan klinikku. Sepertinya dia sedang menungguku.
"Kak Felix!" sapaku.
"Kau mau pulang?" tanyanya.
"Iya!" jawabku.
"Bagaimana kalau kita makan bersama, ada yang ingin kukatakan padamu!" ujar Kak Felix.
"Baiklah!" aku sama sekali tak keberatan.
Kami makan di restoran pinggir pantai milik teman Zidane.
"Bukankah kakak bilang hari ini adalah syuting terakhir?!" tanyaku.
Aku melahap steak ayam yang kupesan dengan lahap, dan Kak Felix hanya mengoyang-goyangkan alat bantu makannya di atas potongan daging itu.
"Kakak kenapa?" tanyaku.
Aku heran saja, nggak seperti biasnya. Lelaki yang bernama Felix yang sangat kukenal adalah orang yang suka makan apa pun.
Meski dirundung masalah, atau di terpa badai. Kak Felix tak pernah melupakan jam makannya.
Tapi hari ini dia sama sekali tak melahap steak ayam yang sudah dihidangkan di depan mukanya. Ini aneh.
"Kak!" tegurku lagi.
__ADS_1
"Ehhhh, apaaaa?" dia tanpak kaget dan mengaruk-garuk lehernya yang pasti nggak gatal.
"Kakak ada masalah?" tanyaku.
Kupandang wajahnya lekat-lekat, tapi dia malah menghindari pandanganku. Wajahnya memerah dan sepertinya dia merasa malu padaku.
Dia kenapa, kenapa Kak Felix mencurigakan sekali.
"Nggak, aku hannyaaa...," kata-katanya terputus lagi.
"Kenapa?"
"Akuuuuuu..., aku bingung mengatakannya dari mana!" dia malah tertawa terkekeh.
Tapi aku bisa menebak raut tak nyaman diwajah tegasnya.
"Apa kakak sedang punya masalah keuangan?" tanyaku langsung.
Orang selalu gugup saat mau ngutang--kan.
"Nggakkk, aku tak punya masalah seperti itu!" kata Kak Felix tapi dia masih gugup.
"Kukira masalah uang.
"Mungkin kelihatannya aku punya klinik dan rumah di sini.
"Tapi semua itu adalah sewaan!" kataku jujur.
"Bukan itu masalahku, benar-benar bukan uang!" tekannya. Dan itu membuatku percaya.
"Lalu apa?" tapi aku masih tak percaya Kak Felix tak punya masalah.
Dia duduk sangat gelisah dan ekspresi wajahnya sama sekali tak pernah santai.
"Padahal aku sudah berlatih selama seminggu ini, aku jadi tau bagaimana beratnya pekerjaan aktor!
"Ini susah untuk dikatakan, padahal aku sudah hafal setiap katanya!" jelas Kak Felix.
Aku hanya bisa memandanginya dengan tatapan binggung, aku tak bisa menebak apa yang ingin dia katakan padaku.
"Biar aku cepat mengatakannya?!" kata Kak Felix aku menjadi semakin bingung dengan tingkahnya.
"Baiklah...MULAI!" kataku.
"Nesa, kita sudah lama saling mengenal dan kita sudah faham dengan sifat masing-masing.
"Perasaan yang kumiliki ini, bukan karena kita sudah lama kenal.
"Tapi aku sudah menyukaimu sejak pertama kita bertemu di kampus dulu.
"Tapi dulu aku tak punya keberanian untuk mengetakannya," kata Kak Felix.
Pengakuan mendadak itu membuatku sedikit kaget dan bingung.
"Kau tak perlu terbebani dengan perasaanku ini. Aku hanya ingin mengatakannya
"Aku tak mau menjadi pecundang seperti dulu itu saja!" katanya.
Tidak terbebani, tapi aku terbebani sekarang.
"Emmmmm...," tapi aku tak tau harus berkata apa.
"Kau tak perlu menjawabnya sekarang. Kau bisa menjawabnya kapan pun kau siap.
"Aku akan menunggu!" kata Kak Felix.
Aku benar jadi bisu, tak ada kata yang bisa kupikirkan saat ini.
Kuterima atau tidak. Aku benar-benar bingung, untung Kak Felix orang yang penyabar. Meski aku memikirkan pernyataan cintanya, aku tak begitu terbebani akan hal itu.
.
.
.
__ADS_1
.
Hari masih terang, dan Gisna keluar dari klinik terlebih dulu sebelum Nesa. Dia terdiam sejenak saat melihat Irwan dengan baju santai, dia tampak menunggu sesuatu.
Lelaki itu berdiri bersandar di sisi samping mobilnya, dan dia menatap layar ponselnya dengan tatapan yang tajam.
Gisna pun memberanikan diri untuk menyapa Irwan, yang masih sibuk dengan layar ponselnya.
"Mas Irwan, sedang apa di sini?" tanya Gisna.
"Akhhhhhh!" pria itu tampak kaget sampai menjatuhkan ponselnya.
"Maaf, anda tidak papa?" tanya Gisna.
"Nggak papa, Mbak Gisna saya...,"
"Mas, bisa bicara sebentar?" tanya Gisna pada Irwan.
Lelaki berwajah tampan tapi kaku itu pun mengangguk setuju dengan ajakan Gisna.
Akhirnya mereka duduk berdua di salah satu meja di cafe Davey. Dua gelas ice americano sudah disanding masing-masing.
Wajah Irwan tampak tegang, lelaki itu duduk dengan posisi tegap. Seakan di depannya duduk atasannya yang sangat pemarah.
"Mas Irwan!" kata Gisna.
"Iya," Irwan tampak antusias dengan suara Gisna.
"Tidak perlu terbebani dengan penolakan anda tempo hari.
"Anda benar, kita tak saling mengenal dan belum tau sifat masing-masing.
"Anda pasti berfikir saya main-main.
"Awalnya iya, saya menyukai anda karena anda tampan.
"Tapi semakin kupikir-pikir lagi! Saya benar-benar suka anda. Bukan hanya karena anda tampan.
"Tapi saya tau anda tak tertarik dengan saya, jadi bisakah anda menjaga jarak dari saya?!
"Saya benar-benar tak nyaman dengan kehadiran anda, saat suasana hatiku masih seperti ini," ungkap Gisna.
Irwan tampak diam saja, dia tak mengatakan apa pun. Dia masih mencoba mencerna perkataan Gisna.
"Saya ingin melupakan perasaan saya pada anda, jadi tolong bantu saya!" pungkas Gisna.
Wanita itu langsung berdiri dan pergi dari tempat itu. Meinggalkan Irwan yang masih terbengong bego. Lelaki itu masih berfikir, tapi sekeras apa pun dia berfikir dia tak mengerti.
"Kenapa Mbak Gisna ingin melupakan perasaannya padaku?" tanyanya pada dirinya sendiri.
"Apa aku menyinggungnya lagi, aku bahkan tak mengatakan apa pun.
"Bagaimana ini, dia marah lagi!" Irwan masih berusaha menebak.
Wajahnya yang putih bening seketika memerah, matanya yang jernih juga ikut memerah. Tampaknya dia tak ingin Gisna melupakan perasaan suka itu.
.
.
.
.
Cinta itu memang misterius, dia datang dan pergi. Menjajaki setiap hati, mengores renung jiwa dan membakar perasaan setiap insan.
Gejolak terindah yang tak dapat didiaknosa, tak ada obatnya, dan tak bisa dibendung.
Sebuah gumpalan perasaan yang bisa meledak kapan saja. Sebuah hasrat yang menyakitkan namun indah.
Bersatu atau tidak gejolak itu, tapi setiap perasaan punya radar dan frekuensi. Gejolak itu akan menemukan penyebabnya, membuat mereka menyatu dalam api cinta yang membara.
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
__ADS_1