
"Apa ponselmu sudah ketemu?" tanyaku.
"Belum, ini aku pinjam ponsel Pak Kades!" kata Zidane.
"Belilah yang baru!" bentakku.
"Yang itu aja masih nyicil belom lunas!
"Aku akan mencarinya dulu, kau jangan marah begitu!" ujar Zidane.
"Apa kau tak rindu aku? Apa kau tak ingin menelfonku? Apa kau tak ingin melihatku lagi?" tanyaku kesal.
"Bukan begitu, malam jumat. Semua orang akan pergi ke perkumpulan.
"Jadi akan kutunggu kau di pantai jam 08:00 malam!" kata Zidane.
"Masih tiga hari lagi!" keluhku.
"Sudah yaaa, aku harus mulai pelelangannya!" ijin Zidane.
Tanpa persetujuanku dia sudah mematikan panggilannya padaku.
"Aaaaaaaaaa, nyebelinnnnnn!" teriakku kesal.
Tok Tok Tok
Jegrekkkkkkk
Aku kaget setengah mati, hati dan pikiranku sedang fokus pada Zidane dan Gisna tiba-tiba mengetuk pintu ruangan kantorku.
"Silahkan masuk Bu Zara!" Gisna membawa seorang pasien masuk untuk kuperiksa.
Dan tentu saja aku tak bisa membayangkan Zidane lagi, aku harus fokus pada pasienku.
.
.
Hari ini begitu panjang, matahari seolah tak mau bergerak. Ini adalah malam jumat yang sakral, karena malam ini aku baru bisa bertemu Zidane.
Setelah sekian lama aku menahan rindu akhirnya aku bisa bertemu dengan pujaan hatiku itu. Senangnya...
Meski aku banyak pasien dan sibuk, rasanya waktu masih tak mau cepat sore dan petang.
Penantian yang tinggal beberapa jam lagi, membuatku tak sabaran.
.
.
.
.
Zidane sedang bekerja di restoran Pia Palen siang itu, dia tampak melihati jam dinding setiap waktu.
"Kenapa jarum jamnya nggak berputar yaaa. Apa habis batrenya?" tanya Zidane.
Lelaki itu baru saja membereskan salah satu meja di restoran itu.
"Batrenya baru kamu ganti kemarin Mas Wakil!" ujar Pia Palen.
Wanita berdandanan menor itu juga tampak membereskan meja yang lain.
Zidane sama menantinya dengan Nesa, mereka sama-sama menanti agar cepat petang. Agar mereka bisa bertemu dan menyalurkan rasa rindu mereka.
Baru pacaran tapi mereka harus menjalani backstreet gila ini. Ide Nesa mana pernah berhasil.
"Bener, baru kuganti kemarin!" ujar Zidane.
Pria bermata indah itu melanjutkan pandangannya ke arah langit yang tampak cerah.
"Panas banget yaaaa, kapan sorenya!" lagi-lagi Zidane mengerutu.
__ADS_1
"Kamu ini kenapa sih Mas Wakil, dari tadi mengerutu soal waktu?!" ujar Pia Palen.
"Enggak papa, hanya merasa kok hari ini. Panjangggggg bangettttt!" jawab Zidane dengan tertawa terkekeh.
Dia tak mungkin bilang, dia ada kencan dengan Nesa nanti sore.
Rasanya dia ingin sekali kabur dan berlari ke klinik Nesa. Tapi Zidane juga takut jika Nesa malah marah.
Backstreet ini menyakitkan bagi Zidane. Sakit secara fisik, mental, rohani, hati dan semuanya, dia sakit tapi lelaki tampan tak mungkin mengeluh.
Dia lelaki yang bertugas menopang segalanya untuk pacarnya, dia tak boleh mengeluh apa lagi merengek. Itu yang dia pikirkan.
Tapi rindu ini juga terlalu berat untuk dia tanggung sendiri. Benar kata Dilan, rindu itu emang berat. Jadi jangan menahannya.
.
.
.
.
Meski lama dan melelahkan hari yang menjelang sore. Matahari yang semakin condong dan menyembunyikan sinarnya, pastilah terjadi.
Nesa yang sudah selesai dengan pekerjaannya segera pulang, dia ingin berdandan secantik mungkin.
Sedangkan Zidane masih harus di restoran Pia Palen sampai jam enam. Di harus membantu banyak hal di restoran itu, meski kini waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Tapi pekerjaan Zidane masih banyak.
"Bukankah hari ini cafe pinggir pantai nggak buka?" tanya Pia Palen pada Zidane.
"Nggak, kenapa?" Zidane malah balik tanya ke Pia Palen.
"Mas Wakil kerja di sini aja ampe malem!" pinta Pia Palen.
Uhukkkk....uhukkkkk....uhukkkkk.
Zidane malah menjawab pertanyaan Pia Palen dengan batuk tiba-tiba.
"Enggak tau nihhhh kepalaku agak pusing!" ujar Zidane.
"Yaaaa ampun, yaaaa udah Mas Wakil pulang aja!
"Biar sisanya Agus yang beresin!" Pia Palen menarik Zidane dari tempat cuci piring.
"Bener nihhhh enggak papa?" tanya Zidane pada Pia Palen.
"Iya...nggak papa!" kata Pia Palen.
Pia Palen bahkan mengantarkan Zidane yang pura-pura lemes dan pilek itu ke luar dari restoran.
"Di rumah yaaa! Jangan ke mana-mana!
"Makan dan minum obat! Tidur yang nyenyak!" ujar Pia Palen.
"Makasih yaaa Pia!" kata Zidane sebelum pergi.
Lelaki itu berjalan pulang, tapi saat di tengah jalan. Wajahnya yang lemas tadi seketika langsung bahagia. Dia jadi punya waktu untuk bersiap untuk menemui Nesa.
Senyum indah Zidane dan Nesa sama sekali tak pernah menghilang dari wajah mereka berdua. Membayangkan pertemuan mereka, mereka sudah amat sangat senang.
Setelah Adzan Isya semua warga berbondong-bondong untuk pergi ke Balai Desa. Pertemuan warga sebulan sekali itu di adakan di sana.
Sebuah berkah, karena perkumpulan warga itu juga menjadi sebuah kesempatan bagi Nesa dan Zidane untuk bertemu.
.
.
.
.
"Mbak Gisna di sini?" sapa Irwan pada Gisna yang baru datang.
__ADS_1
"Iya Mas, soalnya Nesa ada urusan!" jawab Gisna.
"Begitu yaaa?!" ujar Irwan.
Wajah tampan tapi dengan gimik kaku dan pemalu itu sontak membuat Gisna tertawa
"Ada apa Mbak?" Irwan bingung kenapa gadis itu malah tertawa receh saat tak ada yang lucu.
"Mas Irwan lucu sekali!" kata Gisna.
"Benarkah?" Irwan pun juga tersenyum, tapi dia berbalik dari arah Gisna.
"Kenapa Mas Irwan menyembunyikan senyum Mas dariku?" tanya Gisna.
Akhirnya Irwan berbalik lagi ke arah Gisna dan kembali tersenyum kikuk.
"Sini semua kumpulllll!" teriak Ibu Winda.
Gisna juga bengong, apa yang akan terjadi. Kenapa ricuh sekali di sini.
"Jadi hari ini kita nggak akan membahas Desa dulu, kita harus melakukan sesuatu yang lain!" ujar Ibu Tari.
"Jadi kita akan...!"
.
.
.
.
Suasana Desa sepi sekali, karena aku yakin semua warga pergi ke balai Desa. Aku berjalan cepat menbelah kegelapan malam yang indah ini.
Lampu-lampu jalan seolah menyemangatiku untuk datang pada kekasih hatiku.
Dari jauh aku sudah melihat Zidane, postur tubuhnya yang di balut kemeja kotak-kotak biru yang femiliar. Celana hitam gunungnya, sendal slop andalnnya dan rambutnya yang berantakan ditiup angin.
Sejak kapan pria itu semempesona itu. Pria yang berpenampilan bak gelandangan itu, adalah pujaan hatiku.
Yang sangat kucintai dan yang paling kucintai. Pria biasa dengan milyaran pesonanya, yang tak pernah bisa luntur diterkam waktu. Karena semakin hari aku semakin sadar, Zidane semakin membuatku terpesona padanya. Bukan membuatku bosan.
Aku segera meneriakkan namanya. "Zidane!" teriakkku.
Lelaki yang amat kurindukan itu berbalik dan senyumnya langsung bisa kutangkap.
Lagi-lagi hal itu membuatku berlari ke arahnya, meraih dekapannya dan merenguh rasa yang indah ini.
"Aku kangen banget!" ujarku.
"Aku juga!" kata Zidane.
Aku bisa merasakan getaran ditubuhnya saat memelukku. Dia juga merindukanku, dia juga mencintaiku. Tapi mungkin dia hanya tak seekspresif aku.
"Rasanya aku mau mati karena merindukanmu!" ujarku.
"Benarkah, kalau begitu aku akan lari ke padamu setiap hari!" ujar Zidane.
"Kau yakin bisa berlari ke arahku?" tanyaku.
Aku masih didekapannya, rasanya aku tak ingin melepaskan tubuhnya meski hanya sedetik.
"Aku yakin!" kata Zidane.
"Wahhhhhhh, cintamu padaku benar-benar sedalam Danau Baikal ya?" ledekku.
Setahuku, selama ini. Yang berlari mengejarnya hanya aku, yang menghubunginya duluan adalah aku. Tapi kau tak keberatan, karena aku mencintainya.
Karena bagiku mencintai dengan hatiku adalah sebuah hal yang menyenangkan. Aku tak mau menyesal nantinya, jadi aku akan mencurahkan seluruh cintaku pada Zidane selagi sempat.
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
__ADS_1