Mas Wakil Idamanku

Mas Wakil Idamanku
Backstreet Menyakitkan


__ADS_3

Sore itu Felix kembali terbang ke Jakarta, sementara Zidane dan Nesa berjalan bersama.


Karena Nesa ada pasien sampai malam, Zidnae menjemputnya dan akhirnya mereka berjalan kaki sambil bergandengan tangan malam ini.


"Zidane, kita resmi pacaran malam ini!" kata Nesa.


"Benarkah!"


"Tanggal berapa ini?" tanya Nesa, Dokter yang lagi kasmaran itu melihat ponselnya. "27 Mei 2020!" kata Nesa.


"Yaaaa kita mulai pacaran hari ini, kau boleh melingkari tanggalan dindingmu dengan sepedol merah!" ujar Zidane.


"Kau pikir aku anak SMU?" tanya Nesa.


Zidnae hanya tersenyum, beberapa hari ini dia merasa tak bisa merasakan kesedihan. Zidane hanya bisa bahagia dan tersenyum karena Nesa.


Zidane tak mengira jika gadis kota yang sombong dan picik seperti Nesa bisa melakukan banyak hal manis yang membuatnya tertawa sepanjang hari.


Cinta memang bisa merubah orang, dan Zidane merasakan betapa dia berubah. Dia bahkan tak mengenal dirinya sendiri sekarang.


Dia bahkan meninggalkan Mbah Miyah yang baru saja pulang dari rumah sakit. Dia berlari ke klinik saat tau Nesa belum pulang.


Dia sangat khawatir jika gadis yang dicintainya akan kecapekan dan pulang sendirian, karena Gisna harus tinggal di klinik dengan beberapa perawat lain untuk menjaga pasien yang harus dirawat inap.


Zidane tak menyangka jika hatinya bisa diikat secepat itu, dan yang mengikat hatinya adalah Nesa.


"Zidane! Kita rahasiakan dulu, tentang kita pacaran!" kata Nesa.


Tentu saja hal itu menbuat Zidane kaget, kenapa Nesa seolah mau mempermainkannya.


"Apa lagi sekarang?" Zidane protes.


"Aku takut gosip aneh akan beredar lagi! Kau tau--kan, bahkan gosip aneh sudah menyebar saat kita nggak ada hubungan apa-apa?!


"Kalau sekarang semua orang tau kita pacaran, bisa-bisa....


"Ouhhhh aku tak bisa membayangkan gosip apa yang akan timbul!" ujar Nesa udah panik duluan.


"Terserah kamu--lah!" kata Zidane.


Dia hanya mengatakan itu, karena dia tau kalau apa yang dikatakan Nesa barusan emang benar.


"Kita harus pura-pura biasa aja di depan umum!" kata Nesa.


"Emang kamu bisa? Dalam sehari, aku yakin kita akan ketahuan!"ujar Zidane.


"Kau harus berusaha agar tak ketahuan!" kata Nesa. Dia kekeh sekali.


"Ok, aku akan berusaha. Meski nggak yakin!" Zidane mau tak mau menyetujui apa pun yang diinginkan oleh Nesa.


Apa--sih yang enggak, kalau lagi jatuh cinta.


.


.


.


.


HARI PERTAMA BACKSTREET


Pagi yang cerah, selalu menghiasai setiap pagi di bulan Mei ini. Hati yang berbunga dan bermekaran itu bagaikan musim semi.


Senyum yang merekah indah, menghiasi wajah kedua insan yang tengah dimabuk asmara. Itu adalah wajah Zidnae dan Nesa.


Kafe Davey menjadi seting kemesraan mereka di pagi hari ini. Rutinitas yang awalnya biasa saja, kini menjadi sangat istimewa bagi keduanya.


"Kau datang!" sapa Zidane, yang sudah berdiri di balik meja barista.


"Aku pesan seperti biasanya!" kata Nesa dengan tatapan manja dan nada yang pasti dimanis-manisin.

__ADS_1


"Setiap hari kau terlihat manis banget, aku jadi bisa hemat. Karena nggak usah beli gula lagi!" rayu Zidane dengan tatapan berbinar dan senyum manisnya.


"Gombalanmu, jelek sekali!" protes Nesa.


"Maaf, aku tak sepuitis Pak Duda Huda di Novel Bukan Tulang Rusuk, karangan Penulis Jelata," ujar Zidane.


"Nggak papa, aku tetap cinta kok!" kata Nesa blak-blakan.


Dan hal itu sukses membuat Zidane tertawa ngakak.


"Kenapa?" Nesa merasa ditertawakan.


"Nggak papa, hanya kaget!" Zidane hanya tersenyum sepanjang dia melihati Nesa.


"Kau masuk dan lihat bagaimana aku menyiapkan pesananmu!" kata Zidane.


"Apa boleh?" tanya Nesa.


"Kesini!" Zidane membukakan pintu masuk ke dalam ruang baristanya.


Nesa segera masuk dan melihat-lihat semua barang-barang di sana.


"Wahhhhh aku tak pernah melihat semua ini!" ujar Nesa kaget.


"Mari kita buat espresso penuh krimer yang kau suka!" kata Zidane.


Nesa bukannya memperhatikan gelas kopi yang berada di tangan Zidane. Tapi manik mata Bu Dokter itu malah fokus pada wajah Zidane.


"Fokus ke cangkirnya, Nesa!" kata Zidane.


"Nesa?!" Nesa tertegun saat Zidane meangginya begitu.


"Kenapa, apa aku harus memanggil pacarku 'Bu Dokter' selamanya?" tanya Zidane.


"Aku sering mendengar panggilan itu, tapi rasanya beda jika kamu yang panggil aku.


"Nesa, Nesaaa, Neeesaaaa!" ujar Nesa, dia mengikuti cara memanggil Zidane dengan logat yang biasa Zidane pake.


"Beneran!" Nesa malah membenarkan arah poni belah Zidane yang agak berantakan.


"Mendung tanpo udan.


Ketemu lan kelangan.


Kabeh kuwi sek diaran perjalanan.


"Awak dewe tau ndue bayangan.


Mbesok yen wes wayah omah-omahan.


Aku moco koran sarungan.


Kowe blonjo dasteran," senandung Mas Fahmi pemilik Kafe ini.


Nesa dan Zidane berada diposisi yang amat sangat dekat saat ini, dan karena panik....


Plakkkkkk


Nesa malah menampar pipi kiri Zidane dengan keras sekali.


"Apa?" tanya Zidane bingung.


Rasa sakitnya terasa tak ada apa-apanya dibanding rasa kagetnya.


"Zidane, jangan kurang ajar. Kau pikir aku wanita apaan!" Nesa sudah di mode marah tingkat perovinsi.


Sementara Zidane masih bengong.


"Yaaaa ampun Zidane, apa yang kamu katakan ke Bu Dokter!" Mas Fahmi segera mendekati mereka.


Nesa berjalan buru-buru dari dalam ruang barista itu.

__ADS_1


"Lain kali, jangan begitu!!! Antar kopinya ke Klinik, aku sedang buru-buru!" ujar Nesa, gelagatnya aneh.


Zidane jadi ingat syarat Nesa untuk merahasiakan hubungan pacaran mereka dari warga Desa.


"Dia benar-benar, membuatku gila!" ujar Zidane.


"Ya Allah Dhan, pipimu sampe merah begitu!!! Sakit?" pemilik kafe terlihat sangat khawatir pada kondisi Zidane.


"Lumayan!" kata Zidane. "Akkkkkkkkkk!" tapi lelaki tampan itu berteriak kesakitan, karena ternyata rasa tamparan pacarnya itu sangat sakit sekarang.


.


.


.


.


HARI KEDUA BACKSTREET


"Mas Wakil, cobalah kerja di restoran yang lebih berfariasi!


"Aku bisa diare jika setiap hari makan pedas terus!" keluh Gisna.


Zidane selalu kerja di restoran Pia Palen, yang bertajuk Makan Sampe Jontor. Bukan karena elu--nya dijorokin, jatoh terus jontor yaaaa. Tapi karena menu di sana semua super pedas.


"Maaf Gisna!" ujar Zidane.


"Nanti sore kau kerja di Kafe pinggir pantai?" tanya Nesa pada kekasihnya itu.


"Iya!" kata Zidane dengan senyuman.


Tamparan Nesa kemarin ternyata tak bisa menurunkan kadar cinta Zidane pada Nesa.


"Kenapa apa kau mau nongkrong disana sampe aku selesai bekerja?" tanya Zidane.


"Enggak, jika sudah pulang telfon aku ya. Kita ke pantai!" kata Nesa.


"Apa nggak masuk angin kalian, hanya kencan di malam hari. Mana di pantai pula!" komentar Gisna.


"Enggak--lah, aku belom siap jadi bahan gunjingan se--Ngobaran!" kata Nesa.


"Baiklah, nanti aku hubungi. Aku harus kembali sekarang!" kata Zidane.


Tapi Nesa membuntuti Zidane keluar dari dalam kliniknya.


"Janji, nanti malam kau harus menghubungiku!" ujar Nesa dengan nada yang amat manja.


Keimutan dan kemanjaaan Nesa itu membuat Zidane tak bisa berpaling dari wajah gadis pujaannya itu.


"Iya aku janji!" ujar Zidane.


"Sebentar!" kata Nesa.


Membuat Zidane menghentikan langkahnya di depan klinik Nesa. Nesa melihat sekeliling dengan teliti, saat di rasa tak ada yang melihatnya.


Sebuah kecupan mendarat mesra di pipi Zidane. Wajah pria itu langsung merona merah, dan dia langsung tersenyum.


"Senyummu manis!" puji Nesa pada Zidane.


Pria itu semakin tak bisa berhenti tersenyum, karena kedua tangan Nesa sedang mengelus pipinya.


Apa surga seindah ini???


"Dokter Nesa, ini ada pesanan yang ketinggalan!" suara cempreng bak kaleng di seret tiba-tiba muncul.


Gubrakkkkkkk


Dengan sekuat tenaga, Nesa menendang salah satu kaki Zidane. Pria itu sampai jatuh tersungkur di teras klinik Nesa.


___________BERSAMBUNG_____________

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2