Mas Wakil Idamanku

Mas Wakil Idamanku
Romansa erotis


__ADS_3

Acara sukuran itu belum selesai, tapi Zidane sudah keluar. Dia merasa dadanya sesak setiap melihat Felix.


Bagaimana tidak, Nesa membahas pria itu kemarin dengan nada sangat cemas. Tentu saja Zidane masih merasa kesal.


Pria yang amat tampan dan juga serba bisa itu duduk mojok di pelataran restoran Pia Palen.


"Kenapa kamu?" tanya Felix pada Zidane.


Zidane pun menoleh pada sosok Felix yang saat ini sudah duduk di sebelahnya.


"Enggak papa!" ujar Zidnae.


Tapi raut kesal di wajahnya, sudah membuat Felix bisa menebak jika Zidane sedang ada masalah.


"Apa kau bertengkar dengan Nesa?" tanya Felix.


"Iya!" jawab Zidane dengan nada kesal dia membuang mukanya, karena tak ingin melihat wajah Felix.


"Kenapa kau bertengkar dengan Nesa?! Apa alasannya?


"Harusnya kau mengalah saja!" nasehat Felix.


Lelaki itu benar-benar berperan sebagai kakak kandung Nesa. Memarahi pacar adiknya yang sedang marah pada adik wanitanya.


"Kau!" bentak Zidane.


"Aku?" tanya Felix.


Sutradara itu tersenyum, entah karena GR apa karena merasa itu lucu.


"Apa kau sakit! Apa kau telat makan! Kau membuat pacarku khawatir padamu!" akui Zidane.


"Yaaaa Tuhan, kau kekanakan sekali?!


"Tapi aku merasa istimewa, Nesa masih peduli padaku!


"Dia benar-benar menganggapku kakaknya, itu tak hanya alasan untuk menolakku. Aku jadi lega!" ujar Felix.


"Makanya jangan terlihat kurus, kau harus gemuk seperti babi. Agar Nesa tak menkhawatirkanmu!" ujar Zidane dia masih saja kesal.


"Tapi aku iri padamu!


"Aku juga ingin merasa cemburu sepertimu!" kata Felix.


Zidane segera melirik ke arah Felix lagi.


"Apa gunanya dikhawatirkan, dia bahkan harus menjaga jarak denganku. Karena takut menyakiti perasaanmu!" ujar Felix.


"Minta maaf lah padanya!


"Dan bilang padanya aku baik-baik saja, aku sudah dewasa.


"Meski rasanya aku hampir mati karena ditusuk dua kali di tempat yang sama.


"Aku harus bertahan hidup demi stafku!" kata Felix.


Zidane pun tertawa kecil mendengar ucapan Felix.


"Ditusuk di tempat yang sama, kau anggap pacarku kriminal?!" Zidane sudah mulai mau bergurau.


"Aku ditolak dua kali oleh orang yang sama!


"Apa lagi yang pertama, aku bahkan tak bisa bernafas nyaman.


"Hampir setiap hari Nesa menolak cowok-cowok yang nembak dia. Rasanya itu seperti kau ditolak setiap hari!" kata Felix.


"Kau bodoh, kenapa masih di dekatnya jika seperti itu?!" ejek Zidane.


"Karena aku ingin menjadi sosok yang tak bisa dia lupakan.


"Karena aku ingin menjadi sandarannya saat dia butuh.


"Tapi usaha sekeras itu pun tetap tak berhasil, Nesa malah memilihmu!


"Kau membuat usahaku selama bertahun-tahun tak berarti sama sekali!" ujar Felix kesal.


"Kau hanya kalah tampan dari aku!" kata Zidane.


"Aku tau, jangan jadi pria brengsek karena kau tampan!" ujar Felix.

__ADS_1


Tapi Zidane tak menjawab nesehat sutradara itu. Wajahnya yang sudah santai itu kembali menegang, Zidane tak bisa mengatakan iya atau baiklah. Karena masa lalu yang kini malah dia ingat kembali.


"Aku harus menemui Nesa sebelum larut!" kata Zidane.


Pria itu sama sekali tak bisa menyembunyikan perasaanya pada Nesa. Rasanya dia merasakan rasa sakitnya, saat dia membentak Nesa tadi.


.


.


.


.


Tok-tok-tok


Zidane mengetuk pintu rumah Nesa, Zidane melihat ke jendela rumah Nesa. Lampunya menyala, bisa dipastikan sang pemilik rumah pasti sedang ada di tempat.


Tak lama Nesa keluar, dia melihat Zidane duduk di tepian teras rumahnya.


"Zidane!" Nesa tampak terkejut dan dia keluar dari dalam rumahnya.


"Ada yang ingin kukatakan, sini!" kata Zidane, dia menyuruh Nesa duduk di dekatnya.


Mata tajam Zidane memandang wajah Nesa dengan begitu penuh perasaan.


"Maafkan aku, karena marah padamu kemarin! Maaf juga karena aku cemburu tanpa alasan," kata Zidane.


Nesa hanya bisa tersenyum mendengar permintaan maaf Zidane.


"Aku juga minta maaf, karena baru minta maaf sekarang!" lanjut Zidane.


Permintaan maafnya sangat komplit dan mendetail, bagaimana Nesa mau mengabaikannya.


"Aku maafkan!" kata Nesa dengan senyum yang mengembang di wajah masing-masing sepasang kekasih itu.


"Kenapa aku kekanakan sekali? usiaku saja yang sudah tua. Tapi sikapku tak berubah!" ujar Zidane.


"Aku bahkan merebut semua paha ayam ingkung bagian Sutradara Felix, itu benar-benar kekanakan kan?" tanya Zidane pada Nesa.


"Wahhhhhh, ternyata kau lebih aneh saat cemburu!" ejek Nesa.


Zidane hanya menunduk malu, dia tak percaya sudah melakukan hal memalukan itu hanya karena cemburu. Harusnya dia menahanya, tapi itu sangat berat dan menyakitkan.


"Apa kau bisa cemburu, karena hal sekecil itu?" tanya Zidane pada kekasihnya itu.


Telapak tangan yang lebar dan hangat itu menggenggam jemari tangan Nesa.


"Mungkin bisa!" kata Nesa.


"Aku tak akan membiarkan kau merasakan perasaan kacau itu, aku tak akan membuatmu merasa cemburu!" kata Zidane.


Nesa hanya selalu bisa tersenyum dengan kata-kata Zidane. Pacarnya itu tak jago ngegombal, apa lagi bersyair. Tapi perkataan yang sederhana tapi tulus itu dapat membuatnya merasa tenang dan damai.


"Kau kacau saat cemburu?" tanya Nesa.


"Sakit, dadaku sakit sekali. Tapi aku tak bisa apa-apa selain minta maaf padamu!" kata Zidane dengan wajah yang sayu.


"Rasa sakitnya pasti sangat menguras energimu, kau baik-baik saja?" tanya Nesa.


"Sekarang aku baik-baik saja!


"Karena kau tersenyum padaku, dan menggenggam tanganku," kata Zidane.


"Aku yang tak baik-baik saja!" kata Nesa.


"Apa kau sakit?" tanya Zidane.


"Aku ngantuk, tapi aku juga ingin berada di dekatmu!" kata Nesa dengan manja.


"Ayo masuk, aku akan disampingmu sampai kau tidur!" kata Zidane.


"Janji," Nesa begitu bahagia.


Mereka berdua segera masuk dan pergi menuju kamar Nesa. Nesa segera berbaring di ranjangnya.


"Sini!" pinta Nesa, pada Zidane.


"Kamu bilang ngantuk, aku akan duduk di sini saja!" Zidane malah duduk di kursi meja rias Nesa.

__ADS_1


"Kubilang kesini!" bentak Nesa.


Zidane pun mendekati ranjang Nesa dan dia duduk di pinggiran ranjang empuk pacarnya itu.


"Sini lebih dekat!" pinta Nesa lagi.


"Nesa bukankah kau bilang kamu belum siap menikah?" tanya Zidane.


"Emang kenapa?" tanya Nesa bingung.


"Kita tak boleh tidur seranjang berdua!" kata Zidane.


"Hanya tidur, emang kenapa?" tanya Nesa.


Zidane langsung berbalik ke arah Nesa yang berbaring. Karena tarikan tangan Nesa di ujung kaus Zidane membuat lelaki itu seakan kehilangan akal sehatnya.


"Gimana kalau aku kilaf?" tanya Zidane.


"Kau mau mati?" bentak Nesa.


"Bacakan aku buku ini!" suruh Nesa pada Zidane.


"Cinta dan rindu," Zidane membaca judul di covernya.


"Kau ternyata suka novel romantis begini?" tanya Zidane pada Nesa.


"Nggak suka, aku paling benci dengan novel romansa. Jadi saat aku membacanya aku akan cepat mengantuk dan tidur!" kata Nesa.


"Baiklah akan kubacakan!" kata Zidane.


Zidane membuka sembarang halaman dan mulai membaca.


"Malam yang dingin, malam terdingin itu. Dia datang kepadaku, memberiku kehangatan yang luar biasa!" kata Zidane.


Lelaki itu mencoba menahan gejolak di dalam dirinya.


Bagaimana bisa Nesa menyuruhnya membaca novel romansa erotis saat berada di dekat gadis pujaan hatinya itu.


"Jangan bagian ini!" kata Zidane.


Zidane membalik beberapa halaman lagi, dia pun fokus lagi ke dalam tulisan rapi itu.


"Getaran hebat itu merasuk memenuhi sukmaku, lenguhannya menusuk sanubariku. Kepuasan yang indah baru saja menyerangku,"


Zidane kembali membalik halaman buku itu lagi.


"Kenapa isinya beginian semua!" desah Zidane kesal.


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


NOVEL BARU


HUJAN TELUH


Horor-Aktion-Romansa Misteri



Situasi yang tak pernah terbayangkan. Kutukan akan dosa para leluhur, menjadi teror mematikan.


Mahluk yang dipercaya telah lenyap, akhirnya muncul lagi.


Ketika bocah yang ditumbalkan bangkit lagi dari kuburnya, membalaskan dendam mereka.


Tanpa ampun...


Tanpa pandang bulu...


Tanpa peringatan...


Desa Kali Keruh yang terletak di perbatasan Sumatra Selatan dan Bengkulu.


Terletak di antara gunung dan lautan. Dua budaya yang bercampur, melahirkan sebuah tragedi berdarah.


Tragedi yang dimulai dari jaman Belanda itu ternyata tak kunjung berhenti. Tumbal dan korban balas dendam para roh semakin banyak berjatuhan.


Orang-orang Jawa sebagai pendatang yang mencoba bertahan dari kekuasaan. Mereka menyebar Teluh dan banyak iblis untuk melindungi wilayah mereka dari Suku asli yang terkenal buas dan suka membunuh.

__ADS_1


Para iblis yang semakin kuat, meminta tumbal-tumbal manusia yang tak berdosa.


Hingga sebuah teagedi berdarah HUJAN TELUH menjadi kutukan teror yang amat mematikan bagi warga Desa Air Keruh.


__ADS_2