Mas Wakil Idamanku

Mas Wakil Idamanku
Rahasia Dokter Kenma


__ADS_3

"Apa kabar, Dokter Kenma!" sapa Nesa pada Kenma.


Lelaki itu sedang menikmati indahnya ombak di pantai, pria Jepang itu tampak sangat tenang dan terlihat seperti manusia.


"Aku baik-baik saja! Kau juga tampak bahagia," kata Dokter Kenma.


Lelaki itu tersenyum ke arah Nesa, Nesa juga membalas senyuman Dokter Kenma.


"Kenapa kau tak menerima tawaran jadi Dosen di ITB? Apa karena pacarmu tak memperbolehkanmu pergi?" tanya Dokter Kenma.


"Zidane bukan orang yang egois!" kata Nesa.


Meski Dokter Kenma sudah tampak berubah, tapi gaya bicaranya masih saja ketus.


"Aku tau! Zidane bukan lelaki yang egois.


"Karena itu aku juga menyerah padamu!" kata Dokter Kenma.


"Maksut anda?" Nesa sama sekali tak faham dengan perkataan Dokter berwajah Jepang yang khas itu.


"Masih ingat tentang pesta Sutradara Felix di balai desa?" tanya Dokter Kenma pada Nesa.


Nesa mengganguk pelan, karena dia masih ingat betul kejadian saat itu.


"Hari itu aku ingin melamarmu, di pesta sukuran itu!


"Tapi saat aku melihat wajah Zidane, aku jadi lupa akan tujuanku yang sebenarnya.


"Aku sudah lama menyukaimu Nesa, Felix tak mengatakan rasa cintanya padamu sewaktu kuliah.


"Itu karena aku juga menyukaimu!" akui Dokter Kenma.


"Sebentar...!" Nesa mencoba mencerna peryataan cinta yang aneh Dokter Kenma.


"Tak perlu kejelaskan, karena tampaknya aku sudah tak punya kesempatan.


"Tapi aku ingin bertrimakasih padamu!


"Trimakasih sudah hadir di hari-hari terburukku dan terus tersenyum padaku!" kata Dokter Kenma denga tulus.


"Aku harus pergi, jaga dirimu baik-baik!" kata Dokter Kenma.


Sebenarnya ada banyak hal yang ingin ditanyakan oleh Nesa pada Dokter Kenma. Tapi Nesa tau pertanyaannya itu tak penting, meski dia cukup penasaran.


"Dia sekarang mendirikan Rumah Sakit di sebuah Desa terpencil di Sumatra.


"Dia hidup bahagia juga!" ujar Felix.


Sutradara itu menghampiri Nesa di pinggir pantai. Melihat bagaimana Nesa dan Kenma berintraksi, Felix merasa harus datang dan menjernihkan suasana.


Tapi tampaknya Nesa tak mau membahas hal lain lagi, karena baginya hidup bahagia dengan Zidane adalah hal yang sangat dia inginkan.


"Kau tak ingin mendengar bagaimana Kenma bisa mengenalmu?" tanya Felix.


"Aku tau, Dokter Kenma mengenalku, saat aku mengajar private seorang anak!" kata Nesa.


.


.


.


.


Saat kita menuju hal yang besar, maka akan ada hal-hal kecil yang jadi pengganggu. Aku tak mau hal-hal kecil itu memghancurkan hal besar di hidupku.

__ADS_1


Aku hanya akan fokus pada hidupku dan kekasihku, aku tak ingin hal-hal semacam itu menguncang cinta kami. Cinta kami yang amat manis, dan membahagiakan. Aku tak ingin merubahnya menjadi cinta yang menyakitkan.


Karena cinta adalah hal yang menyenangkan, dan cintaku pada Zidane akan selalu kupertahankan. Agar tetap menyenangkan sampai kapan pun.


Karena kami punya alasan yang kuat untuk tetap saling mendukung dan mencintai. Karena kami adalah orang yang punya takdir hampir sama dan saling mencintai.


Vanesa Intan


.


.


Lima bulan yang lalu


Mereka berdua sampai di Ngobaran sudah cukup malam. Meski begitu Zidane dan Nesa masih sempat nongkrong di pinggir pantai. Melihat bintang dan saling berpelukan untuk menghangatkan diri dari terpaan angin malam.


"Aku dulu sempat akan bunuh diri!" kata Zidane.


Nesa mengangkat kepalanya yang tadinya bersandar dibahu Zidane, Bu Dokter itu melihat ke arah wajah sedih pacarnya.


"Saat aku sadar, dan mendengar bahwa Kak Danu meninggal. Dengan masih mengunakan seragam pasien, aku kabur dari rumah sakit.


"Aku sudah berdiri di atas sebuah jembatan.


"Aku hanya berpikir. 'Sungai ini akan membawaku kelautkan, aku bisa bergabung dengan keluargaku jika aku melompat di sini'. "Tapi saat aku akan melompat. Ponselku jatuh, dan aku melihat pesan dari Mbah Miyah masuk!" jelas Zidane.


[Zidane aku sedang di Jakarta bisakah kau menemuimu aku bawa sambel cumi kesukaanmu]


"Pesan itu tak ada titik komanya, bahkan banyak salah ketik!


"Tapi pesan itu membuatku teringat dengan Ngobaran, Desa kelahiranku.


"Aku bahkan sudah lupa wajah tua Mbah Miyah, tapi dia masih ingat aku.


"Saat aku berpikir aku tak punya siapa pun lagi, ingatanku tentang Ngobaran membuatku sadar. Aku masih punya rumah untuk pulang!" mata Zidane mulai berkaca-laca.


"Saat aku kembali ke sini, aku hanya mengurung diri di dalam rumah.


"Tapi tanpa kuundang, satu persatu warga datang. Mereka membawa makanan dan terus mengajakku ngobrol.


"Lama-lama mereka meminta bantuanku.


"Bisa bantu aku, mesin cuciku rusak?!


"Bisa bantu aku, kipas anginku ngadat!


"Keranku bocor, listrikku boros.


"Aku yakin mereka sengaja melakukan itu agar aku semangat hidup lagi!" kata Zidane.


Lelaki itu tertawa dalam haru, dia tentu saja mengingat bayangan masa-masa itu.


"Jadi itu alasannya kamu menjadi Mas Wakil dan nggak bisa meninggalkan Ngobaran?" tanya Nesa.


Zidane hanya bisa mengangguk pelan.


Dia tau dia cukup egois pada Nesa pacarnya, karena tak ingin pergi ikut dengan Nesa ke Bandung. Tapi Zidane juga tak bisa egois pada Desa yang telah membuatnya hidup.


Nesa mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan.


"Aku sudah menolak untuk mengajar di ITB!" kata Nesa.


"Oyyyy, kenapa ditolak?" tanya Zidane bingung.


Kini mereka saling melepaskan pelukan hangat mereka.

__ADS_1


"Aku harus menolaknya!" kata Nesa kekeh.


"Apa karena aku?" tanya Zidane.


"Ihhhhhh GR banget dahhh!" ujar Nesa jijik.


"Aku tak boleh egois juga.


"Ngobaran juga memberiku tempat bernaung, saat aku terpuruk dan terjatuh.


"Tempat ini sudah membantuku berdiri kembali!" jelas Nesa.


Zidane masih tersenyum ke arah Nesa dengan gemasnya.


"Lagian banyak yang harus kulakukan di sini.


"Aku harus Kerja bakti setiap hari minggu.


"Main TikTok sama Susi.


"Gibah sama Ibu Wenda," kata Nesa.


Mereka tertawa bersama.


"Dan juga aku satu-satunya Dokter Kandungan yang dimiliki Ngobaran, aku banyak tugas di sini. Mas Wakil!" kata Nesa.


Mereka kembali berpelukan dan melihat ke langit menikmati milyaran bintang yang berkedip ceria ke arah mereka.


'Di sini juga rumahku, karena kau ada di sini' batin Nesa.


Rumah yang bisa kukunjungi kapan saja. Rumah yang akan menyambutku kapan saja. Rumah yang selalu ada untukku. Kau adalah rumahku dan aku adalah rumahmu.


.


.


.


.


Aku bertahan disini bukan karena alasan yang sepele, dan aku tak akan goyah hanya karena pernyataan cinta dari pria yang pernah kusukai.


Meski memyenangkan, karena perasaanku dulu pada Dokter Kenma bukan cinta sepihak. Tapi aku juga senang dia terlambat mengatakan dan mengungkapkannya. Karena jika tidak aku tak akan menemukan kebahagiaanku yaitu Zidane.


Hanya dia kebahagiaanku, yaaa karena sedang jatuh cinta maka dia segalanya bagiku. Tidak begitu, aku bukan wanita yang berpikir sesempit itu.


Aku mengagumi Zidane bukan karena aku jatuh cinta padanya saja.


Zidane benar-benar sosok yang tak bisa kalian anggap remeh. Di pintar, dia serba bisa, dia manis, dan penuh cinta. Dia juga pria yang bertanggung jawab dan penyabar. Dia orang berpikiran terbuka dan tak suka menghakimmi.


Dia juga mencintaiku sedalam danau Baikal--kan, danau purba yang terletak di Siberia Selatan itu adalah danau terdalam di dunia.


Bagiku Zidane tak punya kekurangan, kuharap baginya aku juga tak punya kekurangan.


Cinta kami mungkin tak punya banyak rintangan, karena kami malas membuatnya. Kalau ada cinta yang manis dan indah, kenapa harus ada cinta yang rumit dan membingungkan.


Cinta yang manis juga menyenangkan untuk dibaca bukan. Konflik yang sederhana dan tak begitu membuat berpikir.


Bagaimana perjalanan cinta berjalan, itu tergantung pada kita sendiri.


Ketika kita berpikir tentang kesederhanaan maka cinta yang kita dapat, juga sederhana dan indah.


Tapi ketika kita berambis besar, maka cinta yang kita dapat akan penuh dengan perang.


Inilah hidup yang harus kita pilih. Semua tergantung pilihan kalian.

__ADS_1


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2