Mas Wakil Idamanku

Mas Wakil Idamanku
Mereka Bertiga Bertemu


__ADS_3

Jelas saja rombongan Zidane dan Felix mendapatkan penolakan dari Mbah Miyah.


Mbah Miyah adalah nenek-nenek paling pelit dan keras kepala seNgobaran.


"Aku akan mencoba membujuknya nanti!" kata Zidane.


"Tidak bisa begini!" Felix masih sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Aku lapar!" lanjut Felix.


"Kau masih bisa lapar, saat begini?" tanya Zidane pada Sutradara aneh itu.


"Aku harus makan!" kata Felix, teinganya jadi budek seketika.


Dia tak mau mendengar apa kata orang lain.


Zidane hanya bisa memandang dengan penuh tanya pada Alexza, dan Penulis itu hanya bisa menaikkan kedua bahunya. Tanda dia juga merasa aneh dengan kelakuan Felix.


.


.


.


.


Hari sudah semakin siang, aku dan Gisna juga sangat lelah karena harus mengurus beberapa ibu yang mau melahirkan. Untung semua sudah beres, tanpa kendala yang berarti.


"Gimana kalau kita makan siang di luar, bosen makan di ruangan ini terus!" kata Gisna.


"Kau benar, sebaiknya kita keluar. Aku tak akan bisa menelan apa pun, jika terus di sini!" ujarku.


Karena klinikku yang lumayan luas itu sudah penuh sesak dengan keluarga pasien.


"Aku seperti baru saja menolong Desa yang tertimpa bencana alam!" kata Gisna.


Karena kami kedatangan penjenguk dengan satu truk penuh dengan manusia. Yaaaa mereka kesini dengan truk bak terbuka, dan truk itu membawa semua orang di Desanya pindah kemari.


"Kau benar, kenapa semua menjenguk keklinik?


"Padahal nanti sore pasien sudah boleh pulang!" ujarku sedikit kesal.


Klinikku memang cukup terkenal dan ramai. Mungkin karena aku memasang tarif yang standar dan pelayanan yang kuberikan memuaskan membuat klinik bersalin Intan menjadi rujukan bidan-bidan di Desa yang lebih pelosok.


Sambil menikmati udara siang yang panas tapi menyenangkan ini kami berjalan menuju lestoran bakar-bakaran milik Ibu Tari.


Meski belum lama buka, tapi restoran itu sudah cukup terkenal. Karena Ibu Tari mengunakan nama restoran keluarganya dulu.


Kupikir tak hanya nama, tapi memang makanan di sana enak dan berfariasi. Banyak wisatawan yang sering makan di sana.


Aku bahkan juga ketagihan untuk makan di tempat itu.


Restoran dengan hanya beratap daun rumbia dan berdinding terbuka itu amat enak dipandang dari luar.


Mengusung tema lesehan pedesaan, membuat tempat itu tak ada duanya. Udara yang bersih dan sejuk, pemandangan pantai yang indah, makanannya yang enak, yaaa semua itu paket komplit.


Saat kami berdua masuk ke dalam pondokan utama, seseorang sudah menyapa kami.


"Nesa!" panggilnya.


Aku pun segera menoleh ke arah asal suara.

__ADS_1


"Kak Felix!" aku juga kaget, tak ku sangka aku akan bertemu dia di sini.


Lelaki tinggi nan tampan itu segera berdiri dan menyambutku. Dia antusias sekali saat memandangku, masih sama seperti saat kuliah dulu.


"Bukankah ini Sutradara Felix Alessio dari TVKu itu?" tanya Gisna, dia bahkan lebih kaget dari aku.


"Iyaaa, saya Felix!" kata Felix, menyambut uluran tangan Gisna.


"Wowww, kok kamu nggak pernah cerita kalau kenal orang sehebat dan setampan ini, Nes?!" Gisna mulai lagi.


"Bisa aja Mbakkk...?"


"Saya Gisna!"


"Mbak Gisna, Nessa Gabung aja yukk sama kami!" pinta Felix.


"Kayaknya kalian juga udah mau selesai, nggak usah--lah Kak!" kataku.


"Yaaa Fel, kita harus cari rumah lain--kan. Untuk kalian tinggal!" Zidane sudah berdiri di dekat Felix.


Dari mana si songong itu muncul.


"Mas Wakil ikut rombongan Sutradara Felix juga?" kata Gisna, dia sepertinya menyangka jika Zidane bagian dari Kru Felix.


"Aku hanya jadi pemandu saja, kok!" ujar Gisna.


"Kakak bisa percaya sama lelaki itu, dia bisa segala hal!" kataku jujur.


"Benarkah?" Kak Felix pasti belum tau.


"Dia Supermennya Desa Ngobaran!" ujar Gisna.


"Julukanmu untuknya boleh juga! Supermen Desa Ngobaran, tapi dia lebih mirip Spidermen. Kalau menurutku!" celoteh Kak Felix.


"Ayo, kita harus melihat banyak tempat, soalnya!" Zidane menarik tangan Felix, seperti menarik mainannya saja.


"Sampai ketemu lagi yaaa, Nesa! Aku akan segera menghubungimu!" katanya sembari diseret oleh Zidane.


Aku hanya mengangguk pelan. Apa Zidane selalu seperti itu, langsung bisa akrab dengan semua orang yang baru dia temui.


"Yaaaa ampun mereka lucu sekali!" komentar Gisna.


"Siapa?" tanyaku.


"Felix!"


"Kak Felix emang selalu lucu dari dulu!" ujarku.


Masa-masa itu, masa-masa yang paling menguncang di hidupku. Masa-masa aku harus berjuang untuk cita-cita dan masa depanku. Aku beruntung ada Kak Felix yang selalu ada untukku.


Dia selalu memberiku semangat dengan kata-kata sederhana tapi lucu, dan membuatku selalu berpikir tentang hal-hal yang positif saja.


"Mau makan nggak?" tanyaku pada Gisna yang masih memandang rombongan Kak Felix yang berjalan meninggalkan restoran itu.


.


.


.


.

__ADS_1


"Kamu kenal sama sama Dokter Nesa?" tanya Zidane pada Felix yang masih di tariknya.


"Dia junior kesayanganku di kampus, kenapa?" ujar Felix.


"Wahhhhh, jadi dia cinta pertamamu Fel? Cantik sih!" kata Rudi.


"Yaaa cantik!" ujar Alexza.


"Cinta pertamamu???" Zidane, tiba-tiba merendahkan suaranya dan melepas tangan Felix.


"Kenapa?"tanya Felix pada Zidane yang sikapnya langsung berubah.


"Nggak papa, hanya bingung saja. Tapi kalian cocok, kok! Sama-sama aneh!" ujar Zidane.


Tapi siapa pun pasti bisa melihat sesuatu yang tersirat di wajah Zidane. Lelaki itu mencoba menyangkal perasaannya sendiri.


"Aneh gimana?" tanya Felix.


"Dokter Nesa itu sifatnya berubah-ubah. Persis sama kayak kamu!" kata Zidane.


"Dia sudah cukup lama tinggal di sini kan?" tanya Felix.


"Sekitar empat, hampir lima bulan. Kenapa?" Zidane masih mencoba menyembunyikan gejolak aneh di dalam dadanya.


"Dia tak punya pacar--kan?" tanya Felix pada Zidane.


Wajah Zidane langsung tak ada raut bahagia sama sekali. Pertanyaan Felix itu seperti sebuah belati yang menusuk jantungnya.


"Kenapa tak tanya dia sendiri?" kata Zidane.


"Goblok banget kamu, mana mungkin aku langsung tanya padanya?


"Udah belum?" Felix masih memaksa Zidane untuk bicara padanya.


"Kayaknya belum!" ujar Zidane.


Lelaki itu hanya terus berjalan, dan mencoba menenangkan debaran aneh di dadanya.


"Jangan coba-coba mangkir dari tugasmu! Dengan alasan mengejar cinta!" tegur Alexza.


"Siap, penulis Alexza Kim. Saya akan menjalankan tugas saya dengan benar, sambil mengejar cinta!" kata Felix dengan nada patriotisme.


Alexza hanya bisa geleng-geleng mendengar ucapan Felix barusan.


"Kau tau usiaku--kan, setiap pulang ibuku selalu tanya calon mantu!


"Tahun ini aku akan membawakannya untuknya!" kata Felix dengan nada bahagia.


Bayangannya sudah melalang buana ke angkasa dekat planet Jupiter. Membawa Nesa ke pelaminan, mempunyai anak-anak yang lucu dan hidup bahagia dengan cinta pertamanya. Itu indah.


Sementara di wajah Zidane sedang terjadi kemurungan yang hakiki. Dia ingin menyangkal tapi perasaannya sudah terikat cukup lama.


Meski Nesa aneh, tapi Dokter Kandungan itu membuatnya tak bisa melupakan senyum manis Nesa. Perkataan pedas gadis itu, meski sudah berkali-kali dihina oleh Dokter itu. Zidane masih bisa berlapang dada untuk menerimanya.


《Itu hanya sisi kemanusian, buka cinta.


Itu hanya hal yang wajar, banyak orang yang menghinaku dan kumaafkan.


Lalu kenapa gadis itu tiba-tiba menajadi istimewa. Sejak kapan???》


~ZIDANE~

__ADS_1


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2