
"Tentu...Aku bisa!" kataku yakin.
Kami pun tertawa bersama.
Apakah semua akan seindah ini sampai akhir.
Apakah harapan kami untuk mengarungi kehidupan bahagia selamanya bisa terkabul.
Apakah aku bisa menepati janjiku, untuk mengocehinya seumur hidupnya???
Apakah dia juga akan menepati janjinya, untuk mendengar ocehanku seumur hidupnya???
Hanya Tuhan yang tau...
.
.
.
.
"Mas beli!" Gisna sedang memesan semangkuk bakso kuah di pasar.
Karena malam itu Nesa ke rumah Zidane dan Gisna sedirian dirumah. Wanita itu memutuskan jalan-jalan di pasar untuk melepas penat. Seminggu ini dia bekerja keras di klinik, tanpa henti.
"Mbak Gisna!"
Entah kenapa akhir-akhir ini Gisna selalu melihat Irwan dimana pun dia berada.
"Ehhhh Mas Irwan!" Gisna membalas sapaan Pak Polisi yang kini tanpa seragam itu.
Hanya kaus hitam dan celana jins biru yang menutupi ke sempurnaan tubuh Irwan. Meski begitu postur tubuh tegap dan kekar Irwan masih bisa dinikmati oleh semua mata yang memandang.
"Mbak Gisna Sediri?" tanya Irwan.
"Iya!" kata Gisna.
"Bang, saya juga mau satu!" kata Irwan ke pedagang bakso itu.
Gisna yang sekarang sudah duduk di salah satu kursi imitasi. Di dalam tenda sedehana itu pun mulai curiga dengan gerak-gerik Irwan yang aneh.
"Kok kebetulan banget ya, Mas Irwan juga ada di sini?" tanya Gisna, nada bicaranya sedikit menyindir.
Irwan tak menjawab, lelaki itu hanya diam saja. Tapi Pak Polisi itu jadi makin salah tingkah. Bisa dipastikan jika Polisi yang masih muda itu datang ke pasar bukan karena kebetulan.
Gisna yang merasa canggung pun berdiri dia mau pindah tempat duduk. Karena dia tak nyaman duduk bersebelahan dengan Irwan. Cintanya ditolak dan kini lelaki itu malah menempel padanya tanpa kepastian. Itu adalah hal yang benar-benar tak nyaman bagi Gisna.
Tapi saat Gisna mau berdiri dan pindah, pergelangan tangannya malah di genggam oleh Irwan.
"Apa Mbak Gisna marah pada saya?" tanya Irwan.
"Enggak, kenapa saya harus marah pada anda?" Gisna malah balik nanya.
Raut muka Polisi muda itu tampak sedih dan menahan emosinya. Setelah Irwan sadar dia sedang mengenggam tangan Gisna, polisi muda itu pun melepas pergelangan Gisna.
Kikuk, aneh dan tak tau harus bagaimana. Gisna bingung mau gimana, tapi bidan itu pun memutuskan untuk pindah tempat duduk saja.
Tak ada angin tak ada hujan, Irwan malah berdiri dan kemabali menghampiri tempat duduk baru Gisna. Pria muda itu jongkok di depan Gisna, tanpa rasa malu atau cangung.
'Pose apa ini?' pikir Gisna.
'Kenapa aneh begini, kenapa dia jongkok dengan kaki model melamar begitu' Gisna makin bingung dengan tingkah Irwan.
"Mbak Gisna, apa anda mau jadi pacar saya?!" kata Irwan.
__ADS_1
Gisna pun tertegun mendengar tembakan Irwan yang mendadak itu, rasanya dia seperti bermimpi disambar petir di siang bolong.
Dia tengah ditembak di warung bakso sederhana oleh pria idamannnya.
'Aku mimpi--kah, atau ngigau, atau ketindihan?' pikir Gisna.
Gisna segera menoleh ke kanan-kiri, benar saja semua mata sudah tertuju pada tingkah absrut Irwan.
Gisna segera menarik kaus yang dikenakan oleh Irwan.
"Berdirilah!" bisik Gisna. Wanita itu pasti malu setengah mati, tapi juga bahagia di waktu yang bersamaan.
"Anda nggak mau jadi pacar saya?" kata Irwan.
Dia masih kekeh mau berjongkok begitu di depan Gisna.
"Berdiri dulu, malu dilihat orang!" bisik Gisna lagi.
"Aku akan terus...,"
"Aku mau!" kata Gisna.
Akhirnya Pak Polisi muda itu tersenyum lalu dia berdiri, pria itu segera duduk di dekat Gisna. Dengan senyuman yang mengembang dan hati yang berdebar-debar.
"Aku belum membawa cincinnya, tapi sudah kusiapkan. Ada di rumahku!" kata Irwan.
"Kamu beli cincin untuk nebak aku?" tanya Gisna terharu.
"Iya, rencananya besok saya akan mengajak anda pacarannya. Tapi saya sudah tidak bisa menahan keinginan saya itu!
"Maaf, mengajak anda pacaran dengan cara seperti ini!" ujar Irwan yang masih mengunakan bahasa baku yang tegas.
"Tidak papa, begini pun aku sudah bahagia!" ujar Gisna dengan senyuman yang juga tak pernah surut dari wajah ayunya.
Gisna hanya bisa tertawa melihat tingkah pacar barunya itu. Bagi Gisna Irwan sangat mengemaskan, lelaki polos yang gigih. Ini adalah pengalaman pacaran yang sangat baru bagi Gisna.
"Boleh!" kata Gisna.
"Saya akan mengajak pacaran, dengan cara yang ada di internet!" kata Irwan.
Gisna semakin tertawa, karena dia tak menyangka jika panduan Irwan berpacaran adalah internet.
.
.
.
.
Ternyata Irwan menyiapkan tenda indah di pinggir pantai. Lampu-lampu yang gemerlap dan hiasan yang tampak romantis sudah tertata rapi saat Gisna sampai di sana.
"Kau juga menghias ini dari panduan di internet?" tanya Gisna.
"Iya!" kata Irwan.
Bahkan Pak Polisi muda itu mengenakan setelan jas yang membuatnya tampak semakin tampan.
Yaaa ampun dia sampai pakai jas segala, ujar Gisna di dalam hatinya.
Berbunga-bunga, jelas sekali kondisi hati Gisna pastilah sangat bahagia malam ini.
Dari semua cowok yang pernah nembak dia, baru kali ini dia mendapat pengakuan cinta yang amat aneh tapi menyenangkan.
"Apa anda suka?" tanya Irwan.
__ADS_1
"Suka, saya suka sekali!" Gisna tersenyum ke arah Irwan.
Pria itu juga tampak tersenyum malu-malu, tapi dia segera merogoh kantung jasnya. Pria muda yang masih naif tentang cinta itu, duduk jongkok lagi di depan Gisna.
"Mbak Gisna maukah kau jadi pacarku?!" tanya Irwan sekali lagi.
Tapi kini ada sebuah cincin dalam kotak yang lelaki muda itu sodorkan ke arah Gisna.
"Aku mau!" jawab Gisna.
Irwan pun berdiri, dan meraih tangan Gisna. Lelaki muda itu segera memakaikan cincin logam mulia itu ke jari manis Gisna
Keduanya saling tersenyum, Gisna hanya terus merasa cangung. Tapu dia bahagia, tanpa dia sangka jika pacaran dengan lelaki yang lebih muda akan secangung ini.
Malam itu mereka hanya duduk di dalam tenda dan membicarakan kegiatan sehari-hari mereka. Irwan masih saja kaku dan tegas sementara Gisna banyak tertawa karena Irwan yang bersikap seperti itu, padahal mereka sudah pacaran.
.
.
.
.
Sebuah buket bunga berdiri di depan Gisna yang masih mengenakan seragam bidannya.
"Bunga ini mirip denganmu, indah dan cantik. Jadi aku membelinya untukmu!" kata Irwan pada Gisna.
Hari itu Irwan datang ke klinik dengan seragam Polisinya yang rapi.
.
.
Hari ke dua, Irwan membawa kalung emas untuk Gisna.
"Aku akan bertrimakasih jika kau mau menerima ini, dan memakainya setiap hari!" kata Irwan.
Gisna masih tersenyum manis, tapi dia agak tak begitu yakin untuk menerima hadiah itu.
.
.
Hari ketiga, Irwan membawa sebuah paper bag dengan logo merek Eropa yang terkenal mahal.
"Aku memesannya, karena cantik jika kau memakainya!" kata Irwan.
Gisna kini tersenyum prihatin saat menerima hadiah itu.
"Kenapa pacarmu, memberimu hadiah setiap hari?!" tanya Nesa yang baru saja keluar dari ruangannya.
"Entahlah, aku tau gajinya kecil. Tapi kenapa dia membelikanku barang-barang mewah begini?!
"Jangan-jangan dia dengerin apa kata internet!" ujar Gisna kesal.
Tapi dia memeluk tas brended yang baru saja dia keluarkan dari paper bag pemberian Irwan.
"Kamu akan cuti berapa hari?" tanya Gisna pada Nesa
"Aku akan jalan-jalan sama Zidane setelah dari rumah ayahku!" kata Nesa.
"Tiga, atau empat harian--lah!" kata Nesa.
"Aku yakin Mas Wakil cuma ijin cuti satu hari!" ujar Gisna.
__ADS_1
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤