
"Tadi Nesa bilang khawatir sama aku?!" ujar Zidane.
Langkah kakinya baru saja menapaki pelataran rumahnya. Karena masih merasa kegerahan, Zidane duduk dulu di dipan bawah pohon mangganya.
Wajahnya yang tampan itu tersenyum sendiri, karena memikirkan tingkah aneh Nesa. Selama dia bertemu dengan Dokter Kandungan itu, Zidane hanya melihat betapa anehnya Nesa.
Kadang gadis itu baik sekali, kadang juga jahat. Nesa juga kadang sangat tertutup tapi juga bisa terbuka. Wanita itu tak bisa ditebak oleh Zidane.
"Seperti apa sikap asli Nesa?
"Kupikir dia gadis yang jahat, tapi dia baik juga.
"Dia juga terlihat tegar, tapi tadi dia terlihat sangat rapuh," Zidane mulai bicara sendiri.
Zidane masih membayangkan bagaimaan Nesa langsung memeluknya dengan erat. Lalu bibirnya tersenyum tersipu, karena mengingat ekspresi Nesa yang amat ketakutan.
"Kenapa aku ini, apa aku udah gila?!
"Kenapa senyum-senyum sendiri, di tengah malam pula!!!" desah Zidane.
Tapi bibir seksinya masih saja tersenyum dengan manisnya.
.
.
.
.
"Jadi kemarin saya lewat rumah Bu Dokter, tau apa yang saya lihat Bu Nia???" tanya Bu Winda si tukang gosip.
"Uyyyy chinnnn lagi apose?" si banci Lallana baru saja sampai di pelataran toko kelontong milik Bu Nia.
"Kemarin malam saya lihat, Mas Wakil sama Dokter Nesa pelukan!!!
"Mana rapet banget kayak di lem!" ujar Ibu Winda dengan nada yang sangat lebay.
"Alemong!!!
"Zidane si unyu lope-lope kyuuuu, pelukan sama betina!" ujar Lallana kaget kebanci-bancian. Dia emang bancong-kan yaaaa.
"Mungkin Ibu Winda salah lihat, mana mungkin Bu Dokter mau sama Mas Wakil.
"Kayaknya selera Bu Dokter itu tinggi, lihat cara dia berpakaian. Bu Dokter itu selalu rapi meski sedang santai.
"Sedangkan Mas Wakil, amburadul begitu...Nggak cocok! Bu Dokter nggak akan mau sama Mas Wakil!!!" ujar Ibu Nia.
Wanita yang belum lama melahirkan itu tak memperhatikan sekitar karena harus menghitung jumlah belanjaan Ibu Winda. Jadi saat Ibu Nia mendongak untuk menyampaikan hasil hitung-hitungannya. Sepasang mata sudah menatapnya dengan wajah garang, bak harimau yang akan menerkam siapa saja.
"Maksut saya tadi, Ibu Dokter yang nggak cocok. Bukankah terlalu rapi itu kayak sakit...apa penyakit-kan!" ujar Ibu Nia.
Wanita pemilik warung kelontong paling besar di desa itu amat ketakutan, karena di depannya sudah berdiri Mbah Miyah. Fans nomor satunya Zidane.
"Aku dengar semua dari awal!
"Semoga mereka tidak pacaran, Zidane pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dari pada Dokter itu!!!" benar saja Mbah Miyah marah.
Dia langsung pergi begitu saja, padahal dia niatnya mau belanja kebutuhan pokok.
"Udah tuwirrr, marah-marah melulu. Cepet metong lhooo Mbah Miyahhh!" tegur si bencong.
"Bisa diem enggak sihhh bencong ini!" Ibu Winda membungkam mulut si bencong Lallana dengan sebongkah rematan kantong plastik.
"Kamu sihhh Win! Mbah Miyah nggak jadi belanja!" ujar Ibu Nia dengan bengisnya.
__ADS_1
"Jangan teriak-teriak nanti bayimu bangun, berapa belanjaanku!" tanya Ibu Winda.
"43 rebu!" ujar Ibu Nia sambil mengatur napasnya.
"Ngutang dulu yaaa!" Ibu Winda langsung ngacir keluar.
"Windaaaaaa!!!" Ibu Nia tak bisa menahan amarahnya lagi.
.
.
.
.
Aku berjalan menuju klinikku, semalam suntuk aku tak bisa tidur karena memikirkan pelukan dengan Zidane. Jadi aku bangun agak siang dan Gisna sudah berada di klinik saat ini. Dia langsung bekerja setelah bersenang-senang dengan pacarnya di kota.
Sementara aku malah mikirin Zidane yang tak jelas itu...
Tolong Nesaa kamu ini bukan jablay kok seneng banget nyentuh Zidane tanpa ijin begitu.
Harusnya aku tetap jaga jarak dari Zidane, atau sesuatu yang buruk bisa saja terjadi.
"Baru berangkat Bu Dokter!" sapa sebuah suara yang amat sangat kuhafal.
"Akhhhh iya!" jawabku, singkat.
"Apa tidurmu nyenyak semalam?" tanya Zidane.
Kami sedang berdiri di pintu gang menuju pasar yang masih agak sepi. Jadi aku berhenti berjalan dan memutuskan akan bicara secara langsung dengan Zidane.
"Siapa kamu? Kenapa menanyakan aku tidur nyenyak atau tidak?!" bentakku.
"Aku Zidane, wakil kepala perkumpulan warga Ngobaran!" kata Zidane.
"Kau sudah makan belum? Kau sudah tidur apa belum?
"Jangan tanyakan hal-hal semacam itu lagi padaku!" ucapku.
"Kenapa?" tanyanya.
Aku bisa melihat perubahan ekspresi di wajah tampannya, tapi aku harus menyelesaikan semua sekarang. Sebelum terlambat.
"Kau pikir kita mungkin dekat, tapi itu tidak bagiku.
"Semua di antara kita hanyalah salah faham, kau mengerti!
"Jadi jangan dekati aku lagi!" ucapku.
Aku ingin segera pergi, karena aku sudah selesai dengan apa yang ingin ku ungkapkan.
"Aku tak pernah berusaha mendekatimu!" kata Zidane.
"Aku tau!!! Tapi sekarang usahakan. Menjauhlah dariku!" pungkasku.
"Kau tau kau sangat mirip dengan landak?" ujar Zidane tiba-tiba.
"Landak?" aku mulai bingung dengan filosofi hidupnya lagi.
"Karena kau selalu mengeluarkan duri-duri yang tajam dari tubuhmu, saat ada orang yang ingin menyentuhmu.
"Santai saja, kau tak perlu setegang itu.
"Aku juga tak berharap apa-apa, meski kau menciumku saat kau mabuk. Aku tau kau tak sengaja.
__ADS_1
"Dan pelukan yang semalam, itu karena kau takut dengan gelap.
"Jadi santai saja, aku buka pria polos yang mudah baper kok!" jelas Zidane.
Aku masih memandang ekspresi Zidane yang kembali sumringah. Dia benar-benar tidak baperan, dia tak salah faham. Dan dia tak masalah dengan kelakuan anehku.
"Baguslah... Aku harus pergi kerja!" kataku.
Ku tinggalkan dia di sana dan aku berjalan secepat yang ku bisa. Agar perasaanku kembali tenang.
.
.
"Tak berharap, aku tak berharap apa pun...
"Jangan berharap Zidane, benar jangan berharap apa pun!!!" bentak Zidane pada dirinya sendiri.
Ternyata pria itu baperan juga, tapi dia pintar menyembunyikannya.
Setelah Zidane pergi dari pertigaan gang itu. Muncullah kepala seseorang dari dalam selokan, di pinggir jalan dekat Zidane dan Nesa mengobrol.
"Astaga, bahkan mereka sudah civokan!!!" Ibu Winda berusah susah payah untuk keluar dari sana.
Dia meletakkan kantong plastik belanjaannya di aspal jalan. Ibu Winda mengeluarkan senjata pamungkasnya, yaitu ponselnya.
"Semua warga Ngobaran harus tau jika, Dokter Nesa dan Zidane sudah berciuman!" ujarnya.
.
.
Baru saja aku masuk ke dalam klinikku Gisna sudah menghadangku di ruang depan. Dia menyodorkan layar ponselnya padaku.
"Apa?" tanyaku, bingung.
"Kau bicara soal ciumanmu dengan Zidane, sama siapa aja?" introgasi Gisna.
Wajahnya yang manis itu berubah bengis seperti wajah preman-preman di jalanan.
"Hanya kamu, siapa lagi?" ujarku.
"Lalu kenapa Ibu Winda upload foto ini di grup!" kata Gisna.
Kurebut ponsel Gisna dan kulihat foto apa yang dikirim oleh Ibu Winda.
Foto yang dia unggah adalah fotoku dengan Zidane barusan. Ku perhatikan arah dari mana ibu-ibu kampret itu membidikan dan aku baru sadar. Ini terlalu rendah.
"Apa dia sembunyi di selokan??? Niat banget tu orang.
"Apa dia salah satu kariawan lambe turah?" gumamku tak percaya dengan apa yang baru saja kulihat.
Mereka baru saja membicarakan ciuman dan pelukan. Apa mereka berpacaran???
Itu isi teks yang menyertai foto itu.
"Apa kau tau, kau ini sedang tinggal di desa. Dan disini mayoritas penduduknya beragama islam.
"Kau akan mati, sebentar lagi!" ujar Gisna.
Aku tau itu pasti amat sangat tabu bagi mayoritas masyarakat di sini. Tapi itu hanya salah faham.
"Enggak tau lah, kita diam saja.
"Jika kami tak saling bertemu lagi. Gosip akan mereda dengan sendirinya!" ujarku.
__ADS_1
__________BERSAMBUNG_________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤