
Kronologi sebenarnya.
"Nesa kenapa Mas Wakil?" tanya Gisna.
"Mabuk!" jawab Zidane.
"Bisa tolong bawa Nesa ke kamarnya sekalian, dia tak akan bangun lagi jika sudah tertidur!" kata Gisna.
"Ok!" Zidane tanpa ragu masuk dan dibantu oleh Gisna dengan membuka pintu kamar Nesa.
Zidane merebahkan tubuh Nesa ke atas kasur di kamar itu. Lelaki itu juga tampak menyelimuti tubuh Nesa dan menaruh tas Nesa ke atas meja rias Nesa.
Gisna tak ada di kamar itu, Zidane yang juga dalam kondisi sedikit mabuk pun duduk berjongkok di depan wajah Nesa.
"Apa yang harus kulakukan?" tanya Zidnae dengan nada yang lemah.
Gisna yang hendak masuk ke kamar Nesa pun mengurungkan niatnya.
Tapi entah apa yang dipikirkan oleh lelaki tampan yang bisa melakukan segala hal itu. Dengan tanpa ragu atau tertekan.
Zidane langsung mencium bibir Nesa, suara decitan karena gerakan kecupannya sampai berbunyi cukup keras.
Suara itu didengar oleh Gisna yang berdiri tak jauh dari sana, karena pintu kamar Nesa juga tak tertutup. Maka suara itu jelas-jelas bisa didengar oleh telinga Gisna.
Ciuman yang dilakukan Zidane itu mendapatkan perlawanan juga dari Nesa. Alhasil, permainan kecupan itu bertahan cukup lama.
Tapi Zidane segera sadar, apa yang ia lakukan ini salah. Dia bisa saja dibunuh oleh Nesa karena melakukan hal tak senonoh macam ini padanya.
Zidane pun melepaskan bibirnya dari bibir Nesa dia bergerak mundur sampai terjungkal kebelakang.
Di sana Zidane bisa melihat Gisna yang memandangnya dari celah pintu kamar Nesa yang masih terbuka.
"Mas Wakil, apa kau suka pada Nesa?" tanya Gisna di luar pintu rumah.
Zidane tak bisa menjawab pertanyaan Gisna. Tapi Gisna yang amat pintar soal asmara itu, segera tanggap.
"Aku akan menyembunyikannya!
"Apa yang Mas Wakil lakukan pada Nesa tadi. Dia biasanya tak akan ingat apa pun jika mabuk!" jelas Gisna.
"Trimakasih!" kata Zidane.
Zidane pun pamit pulang dan meninggalkan rumah Nesa. Lelaki pintar dan tampan itu tak langsung pulang, dia berdiri di pantai.
Dia termenung dengan wajah penuh penyesalan, terlihat jelas banyak sekali beban yang dia tahan didalam hatinya. Dia tampak begitu tak berdaya dengan apa yang dia rasakan.
Akhirnya Zidane menangis sampai dia terduduk bersimpuh di atas pasir pantai malam itu. Apa yang lelaki itu sembunyikan dari semua orang.
.
.
.
.
Seperti pagi yang lain, aku segera memasuki Cafe Davey. Setiap pagi Zidane biasa akan bekerja disana. Kecuali hari senin dan kamis dia akan pergi berlayar membantu Paman Halim.
__ADS_1
Aku mengedarkan pandanganku ke sepanjang ruangan cafe itu. Aku berharap bisa menemui Zidnae, aku ingin melihat wajahnya pagi ini. Aku ingin melihat ekspresinya saat melihat wajahku.
Aku sangat berharap bisa menilai ciuman semalam itu nyata atau halusinasiku saja. Apa karena aku terlalu lama menjoblo jadi aku berhalusinasi seekstrim itu.
"Zidnae, aku mau beli!" teriakku.
Tapi belum ada satu orang pun yang muncul di ruangan cafe itu.
"Ini tak seperti biasanya, biasanya dia akan berdiri di sana dengan senyum secerah mentari pagi.
"Kemana perginya cunguk itu!" desahku kesal sendiri.
"Dokter, sudah lama menunggu?!" sapaan suara itu tak sesuai harapanku.
Saat aku menoleh tentu saja itu bukan Zidane, aku bisa membedakan dia Zidnae atau bukan dengan suaranya tadi.
"Seperti biasa, aku pesan seperti biasa!" kataku.
Ini adalah rutinitasku pagiku, aku selalu membeli kopi di sini. Untukku dan untuk para stafku di klinik.
"Zidane kemana?" tanyaku.
"Mas Wakil, dia di lokasi syuting. Bu Dokter tak tau?
"Ada syuting di Desa ini, katanya sih reality show gitu!" ujar pemilik cafe itu.
"Begitu yaaa!"
Pupus sudah harapanku melihat wajah somplak Zidane. Itu hanya mimpi--kan, pasti hanya mimpi. Tapi kenapa aku berharap itu nyata.
Heisttttt otakku perlu dijemur biar normal.
.
.
Restoran sederhana dengan menu-menu sederhana tapi mengenyangkan ini, menjadi lokasi pengintaianku berikutnya.
Pelayan yang melayani kami bahkan, bukan Zidnae. Rasa kecewaku makin memuncak, kenapa tiba-tiba mahluk bernama Zidane itu susah untuk ditemui. Tak seperti biasnya dia nongol di semua tempat yang kukunjungi.
Mungkin doa-doa yang kupanjatkan pada Sang Maha Kuasa didengar. Karena aku muak, jadi aku sering berdoa agar tak bertemu lagi dengan Zidane.
Tapi nggak gini juga kali, aku lagi butuh dia. Aku sedang ingin memastikan sesuatu, sesuatu yang riskan dan sensitif. Tapi aku bahkan tak bisa menghubunginya untuk bertanya.
"Kenapa kamu?" tanya Gisna padaku.
"Enggak ada apa-apa!" kataku.
"Aku yang ditolak, kenapa kamu yang murung begitu.
"Jika ada yang lihat kamu semurung ini, semua orang pasti mengira kita sedang berebut pria yang sama!" ujar Gisna.
Kupandang wajahnya yang masih setengah pucat tak berenergi.
"Maaf!" kataku.
Kami pun lanjut makan, tapi aku bahkan tak bisa merasakan pedasnya sambal bawang andalan restoran ini. Rasa gurih yang legit ayam goreng terenak di Ngobaran ini juga tak berasa apa pun di lidahku.
__ADS_1
Segalau inikah hatiku, padahal aku yakin ciuman itu hanya halusinasiku saja.
.
.
.
.
Hari menjelang sore, dan lagi-lagi aku melakukan hal aneh. Aku menarik, lengan Gisna untuk melihat proses syuting Kak Felix.
Benar itu hanya alasan, aku ke tempat itu untuk bertemu dengan Zidane.
Aku ingin menanyakannya lanhsung, tapi aku terlalu malu. Jadi aku hanya akan melihatnya dari jauh dan melihat reaksinya saat melihatku.
Saat sampai di lokasi syuting ternyata sudah banyak orang yang berkumpul di sana.
"Rame banget!" ujar Gisna.
Aku tak menjawab dan terus melihat ke dalam halaman rumah Mbah Miyah itu.
Entah apa yang dilakukan oleh Kak Felix untuk bisa menyewa rumah Mbah Miyah untuk syuting.
Mungkin karena Mbah Miyah sedang menjalani oprasi di kota, wanita tua itu mau menyewakan rumahnya untuk syuting.
"Kau di sini?!" tanpa kusadari Kak Felix sudah berdiri di depanku.
"Akhhhhh, iya.
"Aku ingin melihat proses syuting pertama Kakak. Menggangu ya?" tanyaku pada Kak Felix.
"Sedikit, lagi pula ini sedang istirahat. Mau masuk ke dalam?" tanya Kak Felix.
"Enggak perlu, nanti malah ngeganggu Kak!" ucapku tak enak.
"Ayolah!" paksa Kak Felix.
"Ayo Nes, aku ingin foto dengan Karis!" kata Gisna semangat, wajahnya yang tadinya pucat jadi merona kembali.
"Baiklah, tapi jika kami ngeganggu gimana?" aku masih ragu.
Aku tak pernah berada di lokasi syuting, jadi aku agak gugup.
"Nggak, lagian para staf sudah kenal kalian berdua. Mereka tak akan keberatan dikunjungi kalian!" ujar Kak Felix.
Saat aku masuk ke halaman rumah Mbah Miyah aku langsung melihat para kru sedang bicara satu sama lain. Mereka terlihat sibuk dan aku merasa menjadi pengganggu di sini.
Tapi nyawaku segera goyah saat melihat sosok Zidane, pria yang sangat ingin kulihat dari pagi. Pria itu tampak berbicara serius dengan salah satu staf Kak Felix.
"Ayo masuk, kalian boleh bicara dengan Karis sesuka hati kalian!" kata Kak Felix.
Koki tampan itu sudah berdiri di depan kami.
"Wahhhh kita kedatangan tamu sepesial!" kata Karis.
Pria tampan itu amat supel dan ramah. Tak seperti artis lain yang pada sombong, padahal firal hanya karena sensasi doang.
__ADS_1
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤