Mas Wakil Idamanku

Mas Wakil Idamanku
Pekerjaan Sampingan


__ADS_3

"Skak mat!" ujar Zidane.


Ayah Nesa hanya terdiam, dia berpikir dan menganalisa setiap bidak catur miliknya.


"Aku males main lagi!" kata Ayah Nesa dengan nada merajuk.


"Ayah takut kalah?" tanya Zidane.


"Bukan begitu, bukankah harusnya kau yang mengalah padaku?!" Ayah Nesa masih saja merajuk.


"Tampaknya watak keras kepala Nesa berasal dari ayahnya!" guman Zidane.


"Apa kau sudah mengerutu, di depan calon mertuamu?" tanya Ayah Nesa.


"Lihattt sama persis. Nesa benar-benar putri anda!" ujar Zidane.


"Tentu saja!" kata Ayah Nesa, dengan wajah seriusnya.


"Ok, jadi saya akan mengembalikan ratu Ayah. Apa ayah senang?" tanya Zidane pada Ayah Nesa.


"Aku senang!" akhirnya lelaki tua itu tersenyum senang.


Betapa tidak, lelaki tua itu akan dapat mantu sebaik Zidane. Pria yang serba bisa, lembut dan juga sangat pengertian.


Tapi meski pun Zidane sempat mengalah pada calon mertuanya itu. Zidane tetap unggul di ronde pertama permainan catur mereka.


"Apa kau benar-benar sangat mencintai putriku?" tanya Ayah Nesa pada Zidane yang sibuk membereskan papan catur mertuanya itu.


"Iya!" kata Zidane dengan senyuman yang mengembang.


"Kau harus serius dengan Nesa!" kata Ayah Nesa.


"Saya sangat serius dengan Nesa. Tapi entah Nesa, apa dia serius pada saya atau tidak?!


"Dia adalah tipe gadis yang mandiri dan punya ambisi yang kuat!


"Tapi saya tak mau menjadi penghalang baginya!" kata Zidane.


"Apa kau akan melepaskannya jika dia ingin pergi darimu?" tanya Ayah Nesa.


Zidane tampak bimbang, dia menghela napasnya panjang. Lalu memandang ke arah mata tajam calon mertuanya itu.


"Semua manusia tak ada yang sempurna, begitu pun saya!


"Jika ketidak sempurnaan saya, nantinya akan menghalangi langkah putri anda.


"Saya akan melepaskannya!" kata Zidane.


"Ya Tuhan, kenapa ada pria sepertimu di dunia ini?! Dan putriku berhasil menemukan manusia langka sepertimu?" Ayah Nesa mengeluh, tapi lelaki tua itu malah tertawa receh.


"Jangan tinggalkan Nesa!


"Jangan lepaskan putriku, jagalah dia!!!


"Aku sebagai ayahnya tau kau bisa membahagiakannya!" ujar Ayah Nesa.


Zidane yang mendengar itu pun pasti kaget.


"Apa Ayah serius?" tanya Zidane.


"Ayah serius, jadilah putraku satu-satunya!" ujar Ayah Nesa.


"Baik Ayah!" Zidane tersenyum senang.


Bagaimana tidak, Mas Wakil itu akhirnya mempunyai sosok ayah yang tak pernah ia miliki. Ayahnya meninggal ketika dia masih kecil.


Zidane bahkan tak pernah ingat wajah ayah dan ibunya, selain dari foto lama mereka. Tapi kini Zidane mempunyai ayah dan ibu serta wanita yang mencintainya. Kebahagian yang membuat Zidane lupa akan hari-hari terburuk yang pernah menimpa hidupnya.


.


.

__ADS_1


"Padahal aku masih ingin jalan-jalan!" kata Nesa.


Gadis itu sudah naik mobilnya, malam itu juga. Dia harus pulang ke Ngobaran.


"Kita bisa ke Jakarta lain kali lagi!" ujar Zidane


"Kau bahkan lebih sibuk dari WaliKota, aku nggak yakin kamu punya waktu?!" ujar Nesa kesal.


"Aku akan meluangkan waktuku nanti!" Janji Zidane.


"Awas jika kau mengingkari janji manismu itu!" ancam Nesa.


"Emang kenapa?" tanya Zidane.


Lelaki tampan itu masih fokus pada kemudinya. Meski berkali-kali dia menoleh ke arah Nesa yang cemberut di sampingnya.


"Kau belum merasakan tinjuku--kan?" tanya Nesa.


Gadis itu menunjukan kepalan kedua tangannya pada pacarnya yang sibuk menyetir.


"Apa aku pacaran dengan gengster, kenapa ancamanmu selalu dengan kekerasan?" tanya Zidane dia masih saja bisa tersenyum meski diancam oleh Nesa.


"Biarin, kamu sihhhh. Nggak mau tinggal satu hari lagi!" ujar Nesa kesal.


"Aku mau jika kita menginap di rumah ayahmu!" kata Zidane.


"Di hotel juga sama aja!" kata Nesa masih dengan nada kesal.


"Percuma ke hotel," ujar Zidane.


"Kita bisa berenang, spa, dan menikmati banyak hal mewah di hotel itu!" Nesa masih ngotot.


"Tapi aku lelaki yang normal, amat normal!


"Gimana kalau kau malah menghajarku di kamar hotel itu?! Jika aku tak bisa menahan n.afsuku!" Zidane menolak bukan karena tak mau ternyata.


"Kenapa di otakmu hanya ada hal mesum?" tanya Nesa.


"Apa kau tak pernah memikirkan hal semacam itu?" tanya Zidane.


"Ndengerin musik enak nihhhh!" ujar Nesa.


Wanita itu langsung sibuk dengan perangkat sound di dalam mobilnya.


Zidane tau Nesa juga pernah memikirkan hal mesum, tapi Nesa juga bisa menahan dirinya. Karena cinta bagi mereka berdua bukan melulu tentang kepuasan birahi.


Tapi cinta adalah sebuah ikatan yang sakral dan suci, tak pantas dinodai dengan hal-hal seperti sentuhan n.afsu yang membara.


.


.


.


.


Irwan dan Gisna berkencan di cafe Davey, mereka minum kopi bersama sambil ngobrol.


Tapi di samping Gisna sudah terdapat sebuah barang yang dibelikan oleh Irwan.


"Kupikir, kau tak perlu sering memberiku hadiah!


"Bahkan sekarang bukan hari yang sepesial!" kata Gisna.


"Bagiku, setiap hati sepesial. Karena ada kamu di sampingku!" kata Irwan.


"Apa kau juga mencari kalimat itu dari internet?" tanya Gisna curiga.


Irwan adalah pia yang amat kaku, mana mungkin Pak Polisi itu bisa menemukan kata-kata rayuan tanpa melihal Internet.


"Tidak, aku benar-benar merasa kehadiranmu dalam hidupku adalah kebahagian, Mbak Gisna!" kata Irwan.

__ADS_1


Tersipu, memerah dan serasa udara jadi panas. Itu yang dirasakan Gisna, dia tak pernah menyangka akan mendengar kata-kata semanis itu dari mulut Irwan.


"Jangan panggil aku Mbak lagi, kita kan sudah pacaran!" kata Gisna.


"Saya harus panggil Mbak apa?" tanya Irwan bingung.


"Cantik, sayang, sweety. Kamu pilih yang mana?" tanya Gisna.


"Sweety!, karena Mbak Gisna manis!" kata Irwan.


Meski nada bicara Irwan kaku, Gisna masih bisa tersipu malu. Lagi-lagi dia dikagetkan dengan tingkah pacarnya itu.


"Mas Irwan!"


"Iya Mbak Sweety!" jawab Irwan.


"Nggak usah pake Mbak!" Gisna mulai kehilangan kesabarannya.


"Iyaaaa Sweety!" ujar Irwan.


"Kalau begitu--kan, kita sudah mirip dengan orang pacaran pada umumnya!" kata Gisna.


Di tengah obrolan mereka ponsel Irwan berdering dan lelaki itu, tampak gugup saat melihat ke dalam layar ponselnya.


"Sebentar ya, aku harus mengangkat panggilan ini!" ujar Irwan.


Gisna menoleh ke arah paper bag di sebelahnya, dia mengambil isinya. Isinya adalah seperangkat perhiasan berlian asli.


"Dia dapet duit dari mana?" tanya Gisna bingung.


Gisna memang sangat bingung dengan hadiah yang selalu dia dapat dari Irwan. Lelaki itu selalu memberinya hadiah yang mahal dan tak masuk akal.


Dia nggak nerima uang suap--kan...


Dia nggak jualan narkoba--kan???


Kenapa Gisna jadi berpikiran aneh begini, tapi apa yang dilakukan Irwan memang aneh.


Barang-barang yang diberikan Irwan untuk Gisna tak ada yang berharga murah. Sedangkan lelaki pujaan Gisna itu hanya perwira Polisi biasa.


Gisna jadi curiga pada Irwan, karena pria itu keluar dari cafe, padahal hanya untuk menerima panggilan telepon.


Apa Irwan menyembunyikan sesuatu dari Gisna.


"Aku harus menyelidiki, pacarku--kan.


"Dia nggak boleh melakukan tindak kirminal, dia--kan Polisi!" tekat Gisna.


Gisna yang saat itu merasa curiga segera membuntuti Irwan dan menguping pembicaraan pacarnya itu.


Dengan hati-hati Gisna menguping dengan cara mendekati jendela. Dari dalam Cafe Gisna bisa mendengar pembicaraan Irwan dengan penelponnya.


"Hallo!" kata Irwan pada layar ponselnya.


"..."


"Iyaaaa, bagaimana proses transaksinya nanti?" ujar Irwan.


"..."


"Aman, kalo bapak ngambilnya sama saya. Pasti aman!" kata Irwan lagi.


"..."


"Jadi hari Jumat?" tanya Irwan pada seseorang dibalik panggilan ponselnya.


"..."


"Di samping pasar? Ok!" kata Irwan.


Gisna segera pergi, dia berlari ke tempat duduknya kembali. Padahal dia masih merasa curiga pada Irwan, tapi Gisna juga tak mungkin bertanya langsung pada Irwan secara terang-terangan.

__ADS_1


___________BERSAMBUNG_____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2