Mas Wakil Idamanku

Mas Wakil Idamanku
Demi Gebetan


__ADS_3

Gisna duduk di jok belakang mobil polisi yang dikemudikan oleh Irwan. Seperti polisi yang baru saja menangkap seorang kriminal. Begitulah gambarannya.


Gisna tampak memandangi jok mobil polisi yang dia duduki.


"Ternyata jok belakang mobil polisi sangat berbeda dengan jok mobil biasa yaaa!" ujar Gisna.


Ini pertama kalinya bagi gadis sunda itu naik mobil polisi.


"Ohhh iya, jok belakang mobil polisi harus di lapisi dengan plastik pelindung.


"Karena yang kami angkut biasanya adalah penjahat, yang kadang sudah banyak luka karena dikroyok masa.


"Ada juga yang mengompol karena ketakutan.


"Begitulah para penjahat!" jelas Irwan dengan nada kakunya.


Tapi Gisna masih mencoba tertawa, meski dia jijik mendengar kata mengompol.


Jadi dia berusaha untuk tak menempelkan bokongnya ke kursi jok berlapis plastik itu.


"Tapi saya sudah membersihkannya tadi pagi.


"Saya selalu mencuci mobil ini di pagi hari!" Irwan masih saja berkata tegar.


"Begitu yaaaa, anda rajin sekali Mas Irwan!" kata Gisna hampir muntah karena masih terbayang kata ngompol.


Tapi usahanya sia-sia saja, bokongnya harus menempel ke jok berlapis plastik itu karena Irwan menginjak rem mobilnya secara sepontan.


"Maaf Mbak Gisna, saya harus menilang pengendara itu!" kata Irwan.


Alasan Irwan menginjak rem mobilnya secara sepontan karena baru saja dia di salip oleh pengemudi ugal-ugalan.


Irwan pun memacu mobilnya dengan lebih cepat, dia harus mengejar mobil yang melaju ugal-ugalan itu.


Terpaksa, demi gebetan Gisna mencoba duduk santai di kursi jok pesakitan itu.


Urusan tilang menilang berjalan dengan lancar, Irawan kembali naik ke dalam mobilnya.


"Maaf Mbak Gisna membuat anda menunggu!" kata Irawan.


"Tidak papa!" kata Gisna, dia mencoba tersenyum semanis mungkin.


"Pengendara ugal-ugalan harus ditilang untuk memberinya pelajaran.


"Jika tidak akan mereka akan membahayakan pengendara lain!" ujar Irwan.


"Kalau begitu kamu juga harus ditilang Mas Irwan!" kata Gisna dengan senyum yang indah tanpa mengada-ada.


"Kenapa?"


"Karena kamu sudah mencuri sesuatu dariku!" lanjut Gisna.


Kita sudah faham gombalan apa yang akan diluncurkan oleh Gisna.


"Saya mencuri sesuatu dari Mbak Gisna?"


"Iya, Mas Irwan sudah mencuri hatiku!" kata Gisna.


"Hati Mbak Gisna?" Irwan masih berpikir dan dia bingung.


"Bagaimana kalau kita pacaran?" tembak Gisna.


Tak langsung menjawab Irwan malah menggaruk-garuk kepalanya. Entah karena banyak kutu atau karena bingung.


"Kitakan belum saling kenal Mbak.


"Mbak Gisna belom kenal saya, dan saya juga belum kenal Mbak Gisna.


"Pacaran...!"

__ADS_1


"Ohhhhh aku lupa!" Gisna tiba-tiba berteriak.


"Lu..Lupa apa Mbak?" tanya Irwan bingung.


"Tolong berhenti di sini, berhenti!" Gisna tau dia sedang ditolak.


Rekor dalam sejarah, gadis sunda itu tak pernah ditolak oleh cowok mana pun. Dia harus kabur, sebelum mendengar wejangan dari pria kuno seperti Irwan.


Sebelum dia lebih sakit hati dan tersulut emosi, dia harus melarikan diri dan menyelamatkan harga dirinya yang sudah amblas itu.


"Iyyaaaa..yaaa saya berhenti!" kata Irwan, dia menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Aku lupa, aku ada janji. Aku tak bisa membantumu dengan sembako-sembako ini.


"Maaf yaaa Mas Irwan, saya harus pergi.


"Kenapa pintunya tak bisa dibuka?" tanya Gisna panik, siapa pun pasti panik di kondisi ini.


"Biar saya bukakan!" kata Irwan.


Lelaki itu keluar dan membukakan pintu mobil polisi itu untuk Gisna.


"Pintu belakang mobil polisi memang tak bisa dibuka dari dalam, agar mencegah penjahat kabur!" kata-kata Irwan sudah tak didengar oleh Gisna lagi.


Wanita itu langsung kabur begitu bisa keluar dari dalam mobil polisi itu.


Irwan hanya bisa melihat Gisna berlari. Dia ingin mengantar gadis itu kembali ke Ngobaran, tapi hari sudah semakin sore. Dia harus mengantar sembako pada lansia.


.


.


.


.


Pagi itu aku Vanesa Intan terbangun di dalam kamarku, aku masih mengenakan bajuku semalam dan aku tak mencuci mukaku.


Setelah memeriksa cukup lama, dan yakin wajahku baik-baik saja. Aku segera keluar dari kamarku. Aku harus mandi dan bersiap untuk bekerja.


Tapi saat aku keluar kamar aku hampir melompat jatuh, karena melihat penampakan wajah Gisna yang bengkak dengan lingkar hitam di sekitar matanya.


"Kamu kenapa?" tanyaku dengan nada iba.


Aku segera memeluk sahabatku itu, aku tau dia pasti menangis semalam suntuk. Entah dia punya masalah apa, hingga dia menangis sampai seperti itu.


"Kau mabuk lagi semalam, Mas Wakil sampai mengendongmu kesini!" kata Gisna.


Sekarang perannya, dia jadi emakku. Aku harus sabar mendengar omelannya.


"Kau tau aku bukan alkoholik, tapi jika ada alkohol aku tak bisa menahan diriku!" jelasku.


"Sudahlah, lepaskan aku!" katanya dengan nada lemah.


"Ada masalah apa?" tanyaku, kulepas pelukanku padanya.


"Aku ditolak," kata Gisna santai.


"Kau punya gebetan?" tanyaku.


"Irawan," katanya.


"Dia menolakmu?" aku sama sekali tak percaya.


Lelaki bodoh mana yang berani menolak Gisna. Dia cantik, punya pekerjaan dan dia wanita yang asik dan mau berkorban untuk orang yang dia cintai.


"Iya, tapi kelihatannya kau sedang bahagia sekarang. Karena ada dua lelaki tampan dan hebat yang sedang mengejarmu!" kata Gisna.


Aku langsung bisa menebak dia dapat berita mistis itu dari mana. Pasti dari Grup WA yang didirikan oleh atmin lambe turah Ibu Winda.

__ADS_1


"Zidane dan Kak Felix?" tanyaku.


"Iya, siapa lagi!


"Setelah merasa bosan dengan Mas Wakil yang kampungan, Dokter Nesa berusaha mendekati Sutradara Felix yang sukses dan tampan!


"Ini keterlaluan, Nes!" kata Gisna.


Tapi aku malah tertawa, karena memdengar kata-kata 'Mas Wakil yang kampungan'. Ternyata bukan aku saja yang merasa lelaki aneh itu kampungan.


"Kamu udah sinting yaaa?!" bentak Gisna.


"Kau tau--kan, siapa pun tak akan luput dari lambe turah Ibu Winda.


"Udah deh nggak usah mikirin itu, buang-buang energi tau!" kataku.


"Serah kamu--lah," Gisna segera masuk ke kamar mandi.


Sementara aku kembali ke kamar karena ponselku berdering.


Ternyata hanya sebuah pesan teks yang masuk kedalam ponselku.


Pesan itu dari Kak Felix.


Aku meninggalkan sarapan di depan pintu rumahmu, maaf tidak bisa mengantarmu semalam.


Langkahku menapaki ruang tengah rumahku dan kubuka pintu depan rumahku. Benar sekali, ada sebuah keranjang dan penutupnya.


Aku segera membawanya masuk, dan kuhubungi nomor Kak Felix.


"Hallo Kak Felix!" sapaku.


"Apa aku membangunkanmu?" tanyanya.


"Enggak, kenapa kau repot-repot membawakanku sarapan?" tanyaku.


"Maaf karena tak bisa mengantarmu semalam!" kata Kak Felix.


"Tidak papa kak, Zi...!" perkataanku belum selesai, tapi entah kenapa aku mengingat sesuatu yang aneh.


Ingatan apa ini, ini ingatanku atau mimpi. Mungkinkah sebuah khayalan, tidak mungkin--kan Zidane menciumku.


Menciumku sampai seperti itu, ciuman itu. Aku segera menoleh ke arah kamarku.


Aku yakin itu pasti hanya sebuah mimpi. Tidak mungkin...tidak mungkin.


"Nesss, Nesa!" panggil Kak Felix.


"Iya Kak, maaf tiba-tiba aku ingat sesuatu tadi.


"Aku pulang dengan selamat kok semalam!" kataku.


"Baguslah kalau begitu, kau pasti harus bersiap untuk kerja--kan!" tanyanya.


"Iya!" jawabku.


"Karena mulai hari ini aku sibuk, jadi tak bisa terlalu sering menemuimu!" kata Kak Felix.


"Tidak papa, Kak. Aku faham kok!" kataku.


Setelah menutup telfon dari Kak Felix aku mengedor pintu kamar mandi, dan Gisna langsung keluar dari sana.


"Semalam apa Zidnae masuk ke kamarku?" tanyaku pada Gisna.


"Tidak, Mas Wakil mengantarmu sampai didepan pintu saja!" kata Gisna. Dia terlihat tidak bohong.


Lalu ciuman itu, adalah halusinasiku.


___________BERSAMBUNG_____________

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2