Mas Wakil Idamanku

Mas Wakil Idamanku
Siswa SMU


__ADS_3

"Bu Dokter...Apa benar anda pacaran sama Mas Wakil!" tanya Ibu Jelita.


Padahal dia datang ke sini untuk memeriksakan janinnya, tapi dia malah menanyakan gosip gila itu. Pengaruh bibir monyong Ibu Winda benar-benar sudah membakar hati dan jiwaku.


"Itu tidak benar, Mas Wakil itu kan memang baik sama semua orang!" ujarku, aku tak mungkin menghina Zidane. Sang pahlawan tampan Desa Ngobaran ini.


"Sudah kuduga sih, Buk Dokter! Ibu-kan orang kota, jadi ciuman dan pelukan itu udah biasa kan yaaa!" ujar Ibu Jelita.


Ingin rasanya kusumpal dengan kaus kaki, mulut pasienku itu. Kenapa dia bicara hal pribadi di ruangan Dokter, apa selama ini aku terlalu baik pada mereka. Jadi mereka tak menghormati prifesiku lagi.


"Maaf ya Ibu Jelita, ini ruangan saya untuk memeriksa pasien saya. Dan saya tak suka bergosip!" ujarku telak.


"Begitu yaaaa...," akhirnya dia segera pergi.


Karena pemeriksaan janin dan kondisi sang ibu sudah selesai.


Apaaa tadi, orang kota biasa dengan ciuman dan pelukan. Itu tidak benar...


Setidaknya aku tak begitu.


Zidane adalah satu-satunya pria asing yang pernah kupeluk dan kucium.


Tak semua orang yang tinggal di kota besar itu liar!


Kenapa aku sangat emosi...


Tapi aku pantas marah...


Ibu Jelita mencoba menyingungku, dan mengataiku wanita ****** yang murahan.


.


.


"Saya tak habis pikir, kenapa Mas Wakil malah milih Bu Dokter dari pada saya???" tanya Pia Palen sambil menghidangkan makanan yang kami pesan dari lestorannya.


Rasanya aku harus membeli senjata api, untuk menembak kepala warga di sini. Biar otaknya pada encer, dan nggak bebal.


Siapa yang pacaran???


Apa setiap orang yang pernah berciuman harus pacaran???


"Bukankah saya lebih semok lihat bokong saya berisi, ** saya juga gede! Mas Wakil hanya tak tau sensasinya meremas hal sebesar ini!" Pia Palen masih saja mengoceh tak jelas.


Padahal mataku dari tadi sudah membidiknya dengan amarah dan kebencian yang berkobar.


"Pergiiiii kau Pia Palen!" teriakku.


"Kenapa Bu Dokter marah, saya memang lebih seksi dari anda-kan. Jangan iri!!!" ujar Pia Palen.


Dan ujaran itu membuat emosiku memuncak.


"Yaaaa bener..., Pia Palen adalah wanita paling seksi di muka bumi ini. Sekarang pergi dari sini!" usirku.


"Bu Dokter cemburu sama saya?" tanya Pia Palen dengan wajah bingung.


Ondel-ondel itu belum faham juga dengan kata-kata, pergi dari sini.


"Cemburu, saya nggak cemburu. Pergi!!!" aku pun segera berdiri dan mendorong tubuh semok biduan ancur itu ke arah pintu keluar.


"Bu Dokter tenang saja. Meski aku cantik tapi saya nggak ada cita-cita jadi pelakor kok, Buk!

__ADS_1


"Saya enggak akan ngerebut Mas Wakil dari Bu Dokter kok!" Pia Palen malah tambah berisik.


"Pergi, saya mohon pergilah dari sini!" kataku, dengan air mata yang mulai berlinangan.


"Ok, saya pergi. Tapi...!"


"Pergiiii!!!"


.


.


"Jadi kapan Ibu Dokter pacaran dengan Mas Wakil?" tanya Susi dengan gaya bak reporter berita, yang mencari kabar terhangat.


"Kamu sedang apa bocil?" tanya Gisna, di pasti bisa merasakan betapa fustasinya diriku ini.


Aku menyewa klinik bersalin untuk mencari uang, tapi sekarang jadi sarang penyamun.


"Aku sedang nyari berita untuk mading hari senin!" ujar Susi dengan santainya.


"Daebakkk, gosip tentang percintaan Dokter dan Mas Wakil masuk mading SMP!!!" ledek Gisna.


Kupikir sahabat satu-satunya yang kupunya itu tau penderitaanku, tapi dia seperti biasa. Bertenger di atas penderitaanku dan hanya menyaksikan keruwetan hidupku.


"Tentang ciuman dan pelukan itu, apakah benar! Anda akan menyangkal, atau membenarkan tindakan tak senonoh tersebut?" tanya Susi dengan nada wawancara Najwa Sihab.


"Bukankah kamu masih SMP, kenapa membahas ciuman dan pelukan!" bentakku.


"Bu Dokter anda kuno sekali, ini tahun 2021! Apa ini pertama kalinya anda pacaran?


"Parah!!!" Susi juga mengejekku.


"Aku malas pulang, karena ayahku akan menyuruhku mengantar pesannan terus!" Susi segera membuatku iba.


Ibuku meninggal saat aku masih kecil dan ayahku sibuk bekerja, aku tak punya teman dan saudara lain untuk bersandar. Saat melihat Susi aku jadi ingat diriku dulu, jadi aku tak bisa kasar pada gadis muda yang manis itu.


"Kau harus membantu ayahmu!" kataku.


"Nggak mau, kenapa dia tidak menikah saja kalau butuh bantuan seseorang. Kenapa harus aku!" kata Susi dengan wajah imut yang mengemaskan.


"Kau tak marah, jika ayahmu menikah lagi?" tanyaku kaget.


"Tidak, aku malah senang. Ibuku meninggal saat melahirkan aku, aku juga ingin punya ibu!" kata Susi masih dengan senyuman yang manis.


"Kau dewasa sekali. Ibuku dulu juga meninggal waktu aku masih kecil. Tapi saat ayahku punya pacar, aku marah dan kabur dari rumah!" kataku, jujur.


"Bu Dokter kabur ke mana?" tanya Susi.


Aku melihat ke luar jendela ruangan tunggu ini. Mataku melihat betapa birunya air laut siang ini, aku jadi ingat hari itu. Hari di saat aku kabur.


"Ke sini!" kataku.


"Jauh sekali, apa ayah anda tak mencari anda?" tanya Susi ingin tau.


"Dia mencariku, tapi dia tak tau jika aku pergi ke sini!


"Aku membawa semua uang tabunganku, aku ingin berpisah dengan ayahku saat itu.


"Aku ingin hidup mandiri, dan keluar dari rumah. Karena menurutku kala itu, mempunyai ibu tiri adalah hal yang buruk!


"Tapi saat itu aku bertemu dengan siswa SMU juga di sini.

__ADS_1


"Dia mengatakan sesuatu padaku, sehingga aku mau pulang dan tinggal lagi dirumah ayahku," ceritaku.


"Apa yang siswa SMU itu katakan?" tanya Susi.


"Jangan sampai kau menyesal, karena orang tua itu cepat mati!


"Itu yang dia katakan?" ujarku.


Aku masih ingat, lelaki itu juga terlihat sedih dan putus asa. Dia pasti belum lama kehilangan orang tuanya.


"Apa Bu Dokter tau, siapa Siswa itu?" tanya Susi antusias.


"Sejak saat itu, aku datang ke sini setiap tahun dihari yang sama.


"Hari ulang tahun almarhum ibuku, tapi aku tak pernah bertemu lagi dengannya.


"Padahal aku ingin bertrimakasih padanya!


"Berkat dia, aku bisa bertahan sampai sekarang!" kataku.


Ingatanku sama sekali tak pudar, pandangan suram dan wajah dingin lelaki itu masih terukir indah di dalam otak kecilku.


Aku ingin bertemu lagi dengannya, aku ingin bertrimakasih dan mencoba membuatnya tersenyum.


"Kalau begitu saya pamit yaaa, Bu Dokter. Aku akan membantu ayahku, aku akan mencoba menjadi anak yang baik!


"Aku tak bisa membayangkan jika ayahku mati!


"Aku tak akan membiarkannya bekerja keras sendirian!" ujar Susi sambil berlari keluar dari dalam klinikku.


.


.


"Mas Wakil kenapa kamu di sini, masuklah!


"Bu Dokter sedang santai!" kata Susi.


Pria tampan itu tampak terbengong-bengong bego di sebelah pintu kaca itu.


"Kalian beneran pacaran?" tanya Susi.


"Tidak, kenapa bocil ngurusin urusan orang dewasa!" kata Zidane dengan suara yang lirih.


Dia tak mau ketahuan kalau dia baru saja nguping pembicaraan Nesa dengan Susi.


"Kalian pacaran-kan, pasti pacaran!!!


"Buktinya Mas Wakil di sini, siang-siang begini!" ledek Susi.


"Ooooooo, aku ke sini karena Mbah Miyah sakit. Tapi nggak mau di bawa ke klinik.


"Jadi aku mau meminta bantuan Bu Dokter!


"Cepat pulang sana, bapakmu bingung nyari kamu!" ujar Zidane.



____________BERSAMBUNG____________


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2