
Zidane hanya bisa terdiam, tapi dia berusaha fokus pada kemudinya. Padahal dia syok dengan kata-kata Nesa barusan. Wanita yang dia cintai mungkin akan pergi darinya.
Wanita yang bagi Zidane sangat berarti dan sempurna itu, sedang berada di persimpangan yang sulit.
"Itu kesempatan yang bagus!" kata Zidane.
"Kau benar!, itu memang kesempatan yang sangat bagus!" kata Nesa, wajah gadis itu sedikit sedih.
Mungkin dia memikirkan akan jauh dari Zidane untuk waktu yang cukup lama.
"Pergilah, aku tak papa!" ujar Zidane.
.
.
.
.
LIMA BULAN KEMUDIAN
Mbah Miyah, Mbah Sarti, dan Mbah Yayem sedang menonton sinetron di rumah Mbah Miyah. Sahabat karib sejak mereka masih muda itu saling menatap tajam ke arah layar kaca.
"Mbak Andin mirip banget pas aku masih muda, iya kan Ti?" tanya Mbah Yayem pada wanita yang lima tahun lebih tua darinya itu.
"Bener banget Yem, pas masih muda mukamu emang mirip dengkulnya Mbak Andin!" Mbah Sarti tampak tertawa terkekeh.
Berhasil juga dia mengejek Yayem yang paling muda di antara mereka.
"Dulu yaaa pas masih muda, semuanya indah.
"Apa lagi pas kita ngumpet-ngumpet pacaran! Dunia serasa milikku sendiri," ujar Mbah Yayem dengan tertawa geli sendiri, karena mengingat masa mudanya yang indah.
"Emang kamu pernah punya pacar? Bukannya kamu nikahnya dijodohin?!" ejek Mbah Sarti.
Dua nenek-nenek itu selalu saja gelud kalau udah bersama, tapi akan saling merindukan ketika jauh.
"Ya pernah lah Ti! Emang kamu enggak pernah?" tanya Mbah Yayem pada kedua sahabatnya itu.
"Masa muda memang menyenangkan! Tapi aku merasa kesal sekarang.
"Bagaimana bisa tubuhku setua ini, padahal jiwaku masih muda?" Mbah Yayem tampak kesal sendiri.
Dia memang punya sifat periang sejak kecil. Banyak tingkah dan selalu berisik, itulah Mbah Yayem.
"Kau benar, aku jadi mudah lupa dan sering bingung.
"Padahal banyak yang ingin kulakukan!" ujar Mbah Sarti.
"Kalo kamu gimana Miyah, apa kamu nggak merasa kesal karena menjadi tua?" tanya Mbah Sarti.
"Bagaimana aku bisa kesal?" tanya Mbah Miyah.
Mata senjanya masih fokus pada layar kaca, adegan mesra-mesraan antara Mbak Andin dan Mas Al menjadi pelipur lara mereka malam ini.
__ADS_1
"Tanpa kita sadari, kita telah dikelilingi banyak hal yang berharga.
"Kita tak bisa merasakan hal itu saat masih muda, tapi setelah tua kita akan tau betapa berharganya semua hal yang kita telah lewati.
"Makan makanan yang enak, selimut yang hangat, dan sinetron yang amat panjang!" ujar Mbah Miyah.
Tanpa mengalihkan pandangannya dari layar kaca, Mbah Miyah terus mengungkapkan kekagumannya pada dunianya.
"Setelah aku oprasi, aku tak pernah merasa sakit lagi.
"Kalian tau? Rasanya hidupku di lima bulan terakhir ini adalah yang paling indah.
"Aku hanya menghabiskan waktuku dengan bersantai, ditemani kalian. Makan makanan enak, ngobrol tanpa lelah.
"Aku tak bisa kesal menjadi tua, tapi aku senang karena bisa hidup sampai tua!" ujar Mbah Miyah.
"Kau memang benar Miyah, meski kita tua. Tapi kita masih bugar begini!" ujar Mbah Sarti sambil bergaya bak petinju profesional.
"Bagaimana kalau minggu ini kita piknik?!" tanya Mbah Yayem.
"Piknik?" tanya dua mbah-embah lainnya.
"Setelah kuingat-ingat, kita belum pernah piknik bersama," kata Mbah Yayem.
"Memang betul, kita piknik dimana?" tanya Mbah Sarti.
"Di atas bukit gimana?" tanya Mbah Yayem.
"Yang agak jauh lah!" ujar Mbah Sarti.
Terkadang usia akan membantu kita lebih nalar akan dunia di sekitar kita. Tapi usia juga terkadang membuat kita memandang sesuatu dengan berbeda.
Kebenarannya semakin kita tua, maka semakin kita tau bahwa cinta bukan hanya tentang kebersamaan. Karena perpisahan juga bentuk dari cinta, saat kita rela seseorang bahagia tanpa kita, itulah cinta sejati.
Waktu pasti akan memisahkan manusia, setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Dan sebuah perpisahan tak melulu menyakitkan.
Karena perpisahan kadang adalah sebuah akhir menuju kebahagiaan.
.
.
Adzan Subuh berkumandang lantang memenuhi langit, memanggil para hamba untuk bertemu dan Sang Peciptanya.
Suara merdu itu membangunkan Mbah Sarti yang tertidur di apit oleh dua sahabatnya. Mbah Yayem tampak sudah bergeser jauh dari kasur lantai yang mereka jadikan alas tidur.
Mbah Miyah tampak sangat lelap dalam tidirnya, tapi Mbah Sarti harus membangunkan sahabatnya itu untuk menunaikan sholat.
"Miyah, bangun udah subuh!" kata Mbah Sarti lirih.
Netra yang masih kantuk itu memandang ke arah Mbah Miyah yang masih saja diam. Mbah Sarti pun bangun dan duduk di samping tubuh Mbah Miyah.
Keanehan dirasakan oleh Mbah Sarti, tubuh sahabatnya itu dingin dan tampak tak bergerak sama sekali. Mbah Sarti pun mendekatkan wajahnya ke arah hidung Mbah Miyah.
"Inalilahi wainalilahi rojiun...Kenapa kau buru-buru sekali?" tanya Mbah Sarti.
__ADS_1
Air matanya seketika tumpah.
"Kenapa kau berangkat piknik tanpa kami, baik-baik di sana yaaa.
"Tunggu kami di sana sambil bersantai, jangan khawatir kami di sini akan baik-baik saja tanpamu!" kata Mbah Sarti.
.
.
Nesa dengan gaun serba hitam berjalan cepat ke arah rumah Duka Mbah Miyah, wanita itu tampak tergesa-gesa sekali.
"Kau datang?" tanya Zidane.
Lelaki itu memakai baju koko hitam dan kopyah hitam, dia berada di dekat jenasah mendiang Mbah Miyah yang sudah dibalut dengan kain kafan tapi belum dipocong.
Nesa hanya mengangguk, ingin rasanya dia memeluk Zidane. Gadis itu tau jika pacarnya itu pasti sedang sangat berduka dengan kematian Mbah Miyah.
"Berdoalah, dulu!" suruh Zidane.
Nesa segera bersimpuh di dekat jenasah Mbah Miyah yang pucat pasi. Nesa berdoa dengan keyakikan yang dia miliki. Air matanya tak dapat ia tahan, bagaimana pun dia punya banyak kenangan juga dengan Mbah Miyah. Rasanya perpisahan pasti menyedihkan, apa pun caranya perpisahan tetap sesuatu yang amat berat.
Setelah selesai Nesa segera bersalaman dengan menantu dan cucu Mbah Miyah yang sudah tiba di sana siang itu. Nesa lalu keluar dia ingin membantu para ibu-ibu di dapur untuk menyiapkan makanan untuk saur tanah, tapi Zidane mengehentikan langkah Nesa.
"Kamu pasti capek, pulanglah saja istirahatlah! Nanti malam baru kemari lagi!" kata Zidane.
"Aku hanya akan menyapa ibu-ibu di dapur, sudah lama aku tak melihat mereka!" kata Nesa.
"Setelah itu pulang yaaa!" nasehat Zidane.
"Aku akan ikut kekuburan!" ujar Nesa.
"Kamu masih saja keras kepala!" ujar Zidane.
Mereka berdebat dengan raut wajah yang sedih, keduanya sama-sama kehilangan sosok ibu dan nenek hari ini.
"Sutradara Felix!" ujar Zidane.
Ternyata Felix dan Alexza mendengar kabar dan segera terbang ke Jogja dan menuju Desa Ngobaran. Bagaimana pun Mbah Miyah adalah sosok yang penting bagi Felix, tanpa orang tua itu. Mungkin acara TVnya tak bisa berjalan sesukses itu.
"Kami ikut berduka cita, Dan!" kata Kak Felix.
"Silahkan masuk!" ujar Zidane, dia mengiring kedua orang itu ke dalam ruangan tamu rumah Mbah Miyah.
"Temani saja Sutradara Felix!" ujar Zidane pada Nesa.
"Dokter Kenma?!" Nesa tampak terbelalak saat melihat pria berwajah khas Jepang itu juga memasuki halaman rumah duka itu.
"Aku harus datang, bagaimana pun orang ini kerabat dekat Zidane kan?" tanya Dokter tampan itu dengan wajah berduka.
Tapi wajah kelam yang biasa ia tunjukkan sudah tak dapat dilihat lagi. Lelaki Jepang itu pasti juga sudah menemukan kebahagiaannya.
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
__ADS_1