
Tebakan Gisna sama sekali tak meleset, Zidane bahkan tak membawa baju ganti.
"Kita akan nginep lho!" kataku.
"Aku hanya ijin satu hari pada Sutradara Felix!" kata Zidane.
Aku menghela napas panjang, aku kesal. Padahal aku sudah mengkosongkan tiga hari jadwal pasienku untuk jalan-jalan dengannya, tapi dia malah ijin cuma sehari.
"Kita bisa ke sana lagi, setelah syuting Sutradara Felix selesai!" ujar Zidane.
"Janji?!" bibirku sudah cemberut.
"Aku janji!" katanya, dengan senyuman di wajah manisnya.
Tentu saja aku harus mengalah, senyumannya itu bahkan lebih manis dari seton gula pasir.
Kami berangkat dari Ngobaran sore hari sebelum hari ulang tahun ayahku. Karena Zidane kekeh mau bawa mobil saja, katanya biar hemat dan bisa mengobrol denganku.
Alasannya itu ada benarnya, kami mengobrol banyak hal. Hingga makan dan istirahat di rest area dan bergantian menyetir saat salah satu dari kami lelah.
Kami sampai di Jakarta pagi harinya, aku membeli kue tart terlebih dahulu dan beberapa makanan untuk nanti sarapan bersama di rumah.
"Kenapa kau beli makanan sebanyak itu?" tanya Zidane padaku.
"Aku selalu begini setiap tahun," ujar Nesa.
Zidane pun diam, pacarku itu tampak bingung dengan apa yang kulakukan.
"Bagaimana jika ibumu sudah masak banyak untuk menyambutmu?" tanya Zidane.
"Aku bahkan belum pernah makan, makanan buatan Ibu Tiriku!" kataku.
"Kau kejam sekali!" ujar Zidane.
Jika dipikir-pikir aku memang kejam pada Ibu Tiriku. Meski aku menerimanya, tapi rasa cangung di antara kami tak pernah bisa hilang. Karena aku menutup diriku.
.
.
"Siapa dia?" tanya ayah Nesa pada anak gadisnya itu.
Ini pertama kalinya Nesa mengajak seorang lelaki ke rumah ayahnya.
"Saya pacar Nesa, Pak!" kata Zidane gugup.
Pria itu duduk di sofa dengan sopan dengan wajah yang sangat gugup.
"Dia tampan sekali!" kata Ibu Tiri Nesa.
Wanita paruh baya itu membisikkan kata-kata itu di dekat telinga suaminya.
"Kau orang mana?!" tanya ayah Nesa.
"Saya orang Jogja...,"
"Ayah ingat saat aku bercerita tentang Mas Wakil, yang selalu membantuku di Ngobaran?" tanya Nesa dengan bersemangat.
"Kenapa dia?" Ayah Nesa tampak galak.
"Dia...Mas Wakil itu!" kataku.
Ayah Nesa mengarahkan manik matanya yang ditutupi oleh lensa cembung tebal itu ke arah Zidane. Ayah Nesa tampak memandangi Zidane dari atas sampai bawah dengan teliti sekali.
"Apa pekerjaanmu?" tanya Ayah Nesa dengan nada menintimindasi.
"Ayahhhh...apa ayah harus menanyakan hal itu?" tanya Nesa kesal.
Tapi Zidane menyentuh tangan Nesa yang berada dipangkuan gadis itu.
__ADS_1
Sentuhan lembut Zidane itu seakan mengatakan pada Nesa 'Nggak papa, aku baik-baik saja'.
"Aku mengerjakan semua yang kubisa, Pak!" kata Zidane.
"Maksutmu?" tentu saja jawaban Zidane membuat Ayah Nesa bingung.
"Sudahlah, kita sarapan saja!" Ibu Tiri Nesa ikut meredakan kekepoan suaminya.
"Kalau pekerjaan tetap saya tidak punya, Pak. Tapi saya bekerja setiap hari kok!" kata Zidane.
"Kamu...Pekerja serabutan?" tanya Ayah Nesa.
"Itu karena dia bisa semuanya!" Nesa mencoba membela Zidane di depan ayahnya.
"Begitulah, saya suka melakukan hal itu!" kata Zidane.
Ayah Nesa tampak masih bingung dan kesal.
"Tapi dia lulusan universitas UI, Yahhh! Iyakan sayang!" kata Nesa.
Zidane sedikit kaget dengan panggilan barunya.
"Iya, tapi saya...!"
"Dia lulusan terbaik di jurusan Teknik!" Nesa menyela perkataan Zidane.
"Tapi tetap saja Nesaaa, dia pekerja serabutan!" Ayah Nesa mencoba menasehati anak gadisnya yang berharga.
"Aku sudah menghasilkan banyak uang, dan yang penting--kan aku cinta dia!" ujar Nesa tanpa rasa malu.
Ayah Nesa tentu saja sudah tak bisa mengatakan apa pun.
"Itu yang paling penting! Kalian harus saling mencintai, jika ingin bersama selamanya!" kata Ibu Tiri Nesa.
"Aku akan siapkan sarapannya!" ujar Ibu Tiri Nesa.
"Saya bantu Buk!" kata Zidane.
"Dia mahir dalam menyiapkan makanan apa pun, Buk!" ujar Nesa.
"Benarkah?" tanya Ibu Tiri Nesa.
"Dia sering memasak untukku!" kata Nesa.
Ayah Nesa tampak memperhatikan anak gadisnya yang selalu tersenyum saat mengatakan apa pun tentang pacarnya itu. Membuat hati ayah Nesa luluh seketika.
Ayah mana yang tak bahagia saat anak gadisnya terus tersenyum begitu.
.
"Apa kau benar-benar mencintainya?" tanya Ayah Nesa.
Nesa hanya mengangguk dan tersenyum manis.
"Ayah tak menyangka ternyata seleramu unik juga!" kata Ayah Nesa.
"Aku memilih dengan sangat teliti!" ujar Nesa.
"Kau memang mirip ayah!" ujar Ayah Nesa.
Mereka memandangi kedua orang terkasih mereka yang sibuk di dapur rumah itu.
"Ibumu, pasti senang melihat kau sudah menemukan pria yang kau sukai!" kata Ayah Nesa.
Nesa pun memandang ayahnya dengan tatapan agak sedih, tapi Nesa segera tersenyum lagi.
"Apa ibu bisa melihat kebahagiaan kita?" tanya Nesa.
"Ayah yakin, ibumu juga bahagia di surga sana!" Ayah Nesa juga tiba-tiba sedih.
__ADS_1
"Pastinya!" ujar Nesa.
Kedua ayah dan putri itu sama-sama mengenang masa lalu mereka saat ibu kandung Nesa masih hidup.
Tapi lamunan mereka berdua tersadarkan oleh teriakan Zidane dan Ibu Tiri Nesa. Mereka berdua sangat kompak padahal baru pertama kali ketemu dan masak bersama.
"Wahhhhh aku seperti mendapat mantu perempuan yang tampan!" ujar Ibu Tiri Nesa.
"Sudah kubilang, Zidane mahir dalam segala hal, apa lagi memasak!" Nesa menyombongkan pacarnya itu.
"Apa kau juga bisa bermain catur?" tanya Ayah Nesa.
"Sedikit!" ujar Zidane.
"Kau harus mengalahkanku, jika ingin mendapatkan putriku!" tantang Ayah Nesa.
"Siap, Yahhh!" ujar Zidane.
Lelaki serba bisa itu mulai kehilangan rasa gugup yang sempat menguasainya tadi.
.
Setelah makan Zidane dan Ayah Nesa bermain catur, sementara Nesa dan Ibu Tirinya di halaman belakang untuk merawat tanaman.
"Anda suka tanaman?" tanya Nesa.
"Ayahmu suka, jadi aku juga harus suka!" kata Ibu Tiri Nesa.
"Kenapa begitu?" tanya Nesa bingung.
Ibu Tiri Nesa berdiri dari jongkoknya dan duduk di kursi taman di halaman belakang yang cukup luas itu.
Tapi Nesa masih berdiri di dekat bunga angrek yang sedang berbunga berwarna ungu yang amat sangat indah.
"Begitulah kehidupan menikah, apa yang tak pernah kau sukai jadi kau sukai. Saat orang yang kau cintai menyukainya!" kata Ibu Tiri Nesa.
"Anda benar!" kata Nesa.
Nesa tampak cangung, karena dia jarang sekali berinteraksi langsung dengan Ibu Tirinya itu.
Tapi gadis itu duduk di dekat Ibu Tirinya yang selalu asing baginya itu.
"Anda pasti sangat tak nyaman, denganku!" kata Nesa.
"Tentu saja, tapi kau adalah putri dari pria yang kucintai. Jadi aku maklum!" kata Ibu Tiri Nesa.
"Aku baru sadar, ternyata aku sangat kasar terhadap anda!" kata Nesa.
"Enggak sama sekali, wajar kau bersikap begitu dan menjaga jarak padaku!
"Bagaimana pun aku bukan wanita yang melahirkanmu, aku tak berhak menjadikanmu sebagai putriku" kata Ibu Tiri Nesa.
"Maafkan aku!" kata Nesa.
"Tapi ayahmu tetap ayahmu, jangan benci dia karena jatuh cinta padaku!" kata Ibu Tiri Nesa.
Nesa hanya bisa tersenyum nanar, dia tau dia salah selama ini. Dia baru tau perasaan cinta yang dimiliki manusia ternyata bisa sebesar dan sekuat ini.
"Dia selalu mengkhawatirkanmu. Dia sampai menonton acara berita di TV Jogja setiap hari.
"Dia melihat ramalan cuaca, tapi yang dia lihat ramalan cuaca sekitar daerah Jogja!
"Dia tau cuaca yang terjadi di Ngobaran, tapi dia nggak peduli cuaca di sini!" kata Ibu Tiri Nesa.
"Dia begitu peduli padamu, dia selalu menyombongkan putrinya yang seorang Dokter kepada para teman-temannya.
"Dimatanya hanya ada kamu, dia sangat bangga pada putrinya, yang cantik dan sukses!" lanjut Ibu Tiri Nesa.
Wanita paruh baya itu mungkin sudah 10 tahun lebih menjadi Ibu Tiri Nesa, tapi baru kali ini Ibu Tiri Nesa dapat berbicara santai dengan putri suaminya itu.
__ADS_1
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤