
Malam itu kami mampir sebentar ke kantor Kak Felix, tapi dia malah mengajak kami ke rumah kakak sepupunya. Perempuan yang dulunya pernah menganggap Zidane sebagai keluarganya.
"Kau datang juga!" wanita paruh baya itu tampak senang dengan ke datangan kami ke rumahnya.
"Dia istrimu?" tanya wanita itu pada Zidane.
"Kami masih pacaran!" jawab Zidane.
Pacarku itu tak bisa menyembunyikan rasa harunya, bagaimana tidak. Dia yang merasa kesalahannya tak bisa dimaafkan, kini malah disambut dengan hangat.
"Paman Felix!!!" teriak gadis kecil yang sedang berlari ke arah kami yang masih berdiri, di ruangan depan pintu masuk rumah mewah ini.
"Juju!!!" Kak Felix segera jongkok dan menerima hujan pelukan dari keponakannya itu.
"Juju, peluk juga paman yang ini!" pinta ibu gadis kecil itu.
Mbak Melinda kakak sepupu Felix menunjuk Zidane yang matanya sudah berkaca-kaca.
"Siapa paman ini, Ma?" tanya Juju dengan nada yang sangat lucu.
"Dia paman Zidane, dia sering mengendong dan bermain denganmu saat kau masih bayi.
"Apa kau tak ingat?!" tanya Mbak Melinda pada putrinya.
Kak Felix pun melepas pelukannya pada Juju, dia harus ikhlas. Mulai saat ini Juju tak hanya punya dia sebagai paman, tapi Zidane juga akan menjadi paman baru Juju.
"Halo paman Zidane aku Juju!" wajah imut yang cantik itu menyapa Zidane.
Air mata tak bisa ditahan lagi oleh Zidane. Pacarku itu jongkok dan menerima pelukan dari Juju dengan penuh ke haruan.
"Kenapa paman menangis, paman lapar?" tanya Juju.
"Nggak, kamu mirip sekali dengan ayahmu.
"Ayahmu dulu selalu bertanya seperti itu, saat paman sedang sedih!" kata Zidane.
"Paman kenal ayah Danuku atau ayah Rezaku?" tanya Juju.
Kak Felix tadi sudah bicara pada kami bahwa setahun yang lalu Mbak Melinda sudah menikah lagi.
"Ayah Danumu!" kata Zidane.
Juju kembali memeluk Zidane yang masih jongkok di depan gadis kecil itu.
"Trimakasih, masih memginggat ayahku!" kata Juju.
"Paman akan selalu mengingat ayah Danumu!" kata Zidane.
.
.
Kami makan malam bersama, saat ini Reza suami Mbak Melinda sedang ke Singapura untuk perjalanna bisnis.
Setelah makan malam kami pamit dan pulang ke rumah orang tuaku.
Ini pertama kali dalam hidupku tidur di dekat ibu tiriku. Ibu tiriku divonis tak bisa punya anak, dia wanita mandul. Mungkin awalnya dia berharap bisa menjadi ibuku seutuhnya, tapi aku tak bisa menerimanya mengantikan ibuku. Karena bagiku sosok ibuku, tak bisa digantikan.
"Ibu, apa ibu sudah tidur?" tanyaku.
Ibu tiriku langsung berguling ke arahku.
"Kenapa?" tanyanya, dia pasti kaget karena panggilannku.
"Dingin...
__ADS_1
"Aku mau dipeluk!" kataku.
"Kau kedinginan?" tanya Ibu titiku, nada bicaranya tampak terharu.
"Sini mendekatlah pada ibu, Nak!" pinta ibu tiriku.
Aku pun segera meringkuk di pelukan ibu titiku. Rasanya hangat dan tak kalah nyaman dari dekapan ibu kandungku.
.
.
.
.
Zidane duduk termenung di halaman belakang rumah orang tua Nesa, dia belum bisa tidur. Lelaki gagah itu sedang memandang ke arah langit yang dihiasi milyaran bintang.
Tapi pikirannya tentu tak di situ, dia pasti memikirkan hal lain. Entah tentang masa lalunya dengan Danu atau permintaan Nesa, yang menyuruhnya memindahkan kapal dari pantai ke puncak gunung.
"Kau tak tidur, Dan?" tanya Ayah Nesa.
"Ayah! Kenapa malah keluar?!" tanya Zidane.
Zidane tampak tak enak hati dengan calon mertuanya itu, dia tadi keluar setelah memastikan bahwa calon mertuanya sudah tidur. Tapi pria tua yang masih segar bugar itu malah terbangun dan mengikutinya ke halaman belakang.
"Apa aku membangunkan, Ayah?" tanya Zidane.
"Iya, aku terbangun karena mencari putraku!" kata Ayah Nesa.
Zidane hanya bisa tertawa bahagia, dia tak menyangka akan mendapatkan calon mertua yang menyukainya.
"Apa Nesa merundungmu?" tanya Ayah Nesa.
"Lalu apa yang kau pikirkan?" tanya Ayah Nesa pada calon mantunya itu.
Ayah Nesa malah ikut duduk di sebelah Zidane. Di pinggiran teras yang dingin, sehingga Zidane makin tak enak hati.
"Kita duduk dikursi saja, Yah!" aja Zidane.
"Langit malam ini cerah!" kata Ayah Nesa, pria tua itu malah mengalihkan topik pembicaraan.
"Apa kau memikirkan masa lalumu?" tebak Ayah Nesa.
"Tebakan ayah kok bisa benar?!" tanya Zidane tak percaya.
"Apa lagi, seorang pria melamun di tengah malam. Kalau bukan tentang masa lalu ya masa depan.
"Tapi Ayah yakin kau tak merasa risau dengan masa depanmu.
"Jadi pasti masa lalu yang sedang kau pikirkan kini!" jelas Ayah Nesa dengan detail.
Zidane hanya menunduk lemah, dia tau masa lalunya tak patut dibanggakan sama sekali.
"Semua orang pasti punya masa lalu, entah itu buruk atau baik.
"Tapi kau tak boleh meratapi, masa lalumu selamanya!" ujar Ayah Nesa.
Pria tua itu menepuk pelan salah satu bahu Zidane, untuk menenangkan calon mantunya itu.
"Setelah Ibu Kandung Nesa meninggal, ayah menjadi pecandu alkohol yang parah.
"Ayah tak mengurus Nesa dengan baik, ayah bahkan tak pernah menyiapkan tas sekolahnya atau bekal untuknya selama ayah hidup.
"Dia melakukan semua sendirian sejak saat itu, padahal saat itu Nesa masih berusia tujuh tahun.
__ADS_1
"Ayah sangat menyesali perbuatan ayah waktu itu!" curhat Ayah Nesa.
Lelaki tua itu tampaknya, benar-benar merasa bersalah pada putri semata wayangnya.
"Ayah menyesali, tapi ayah mencoba memperbaiki. Tapi ayah gagal!
"Kupikir dengan membawa ibu lain ke rumah ini, dia akan kembali ceria.
"Tapi dia malah makin menderita, tapi sebagai seorang pria ayah juga tak bisa hidup sendirian. Karena putriku memilih tinggal jauh dari kami setelah kuliah!" lanjut Ayah Nesa.
Mata lelaki tua itu tampak berkaca-kaca, tapi dia berusaha keras menahan tetes air matanya.
"Nesa juga tak pernah merengek minta uang jajan lebih, dia bahkan membayar uang kuliahnya sendiri.
"Selama ini Nesa putriku tak pernah merasakan kebahagian!
"Tapi setelah melihat kau datang bersamanya, betapa dia selalu tersenyum saat melihat ke arahmu.
"Ayah jadi berharap banyak padamu Zidane!
"Bahagiakan putriku, aku mohon!" mohon Pria tua itu
"Ayah, kenapa ayah memohon begitu?!
"Aku akan membahagiakan Nesa, karena dia adalah satu-satunya orang yang kicintai!
"Aku akan berusaha membuatnya tersenyum sepanjang sisa hidupnya!" janji Zidane.
"Kalau begitu, lupakan masa lalumu! Fokuslah pada masa depanmu dengan Nesa!" pinta Ayah Nesa.
"Siap, perintah saya laksanakan Komandan!" Zidane malah mengunakan aksen Irwan yang biasa digunakan oleh Pak Polisi itu.
.
.
.
.
Pagi itu Klinik tutup karena hari minggu, jadi Gisna yang berada di rumah sendiri menerima ajakan Irwan untuk pergi ke rumah keluarganya.
Tapi rumah keluarga Irwan ternyata adalah kediaman Ibu Tari.
"Jangan bilang kamu anaknya Bu Tari?!" Gisna curiga.
Mereka masih di depan rumah yang terletak tak jauh di pinggir jalan besar itu.
"Enggak Sweety, Bu Tari adalah adik mendiang ibuku!" kata Irwan.
"Kedua orang tuamu...?" Gisna mulai menangkap sebuah prasangka lagi.
"Ibu dan bapakku meninggal saat aku masih kecil, jadi aku dirawat oleh Ibu Tari.
"Tapi aku punya rumah sendiri, aku tak numpang di rumah tanteku kok!" ujar Irwan
Lelaki itu mengatakan pembelaannya tanpa tersenyum sedikit pun.
"Kenapa kalian nggak masuk?" tanya Bu Tari yang baru pulang. Mungkin dia baru selesai belanja untuk keperluan restorannya.
Irwan dan Gisna pun masuk, di rumah yang terlihat biasa itu.
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
__ADS_1