
Hati yang dipenuhi kebahagian, seolah tak akan ada badai yang dapat menerpa dan mengoyahkan hati. Tapi badai akan selalu datang, entah itu bisa diatasi atau tidak.
Karena ketika badai datang itu--lah, kekuatan cinta akan menanpakkan dirinya.
.
.
.
.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Gisna.
Sahabatku itu baru saja masuk ke dalam rumah, dia pasti kaget karena melihat aku sedang duduk berdua dengan pacarku.
"Kayaknya aku harus cari rumah sendiri!" ujar Gisna kesal.
Dia pasti sangat kesal, karena posisi kami. Aku bersandar di salah satu bahu Zidane, kami sedang membicarakan banyak hal romantis.
Untung sahabatku itu pengertian karena sudah pengalaman. Jadi dia langsung pergi lagi, aku yakin dia pasti amat sangat kesal dengan kemesraan kami.
Tapi apa daya, biarkan kami menikmati masa-masa indah kami Gisna.
"Apa nggak papa, jika Gisna pergi?" tanya Zidane.
Tentu saja dia khawatir pada sahabatku, meski tak muda lagi. Gisna juga wanita yang lemah dan butuh perlindungan.
"Dia pasti akan kembali ke klinik, karena ada beberapa pasien yang menginap di sana!" kataku.
"Kenapa kau jadi mengabaikan semua orang karena aku?" tanya Zidane.
"Jangan GR!" kataku.
Tapi apa yang dikatakan Zidane benar, aku jadi tak peduli apa pun lagi. Aku hanya peduli pada dia, aku hanya peduli dengan kehangatan yang dia berikan padaku.
"Karena kita sudah pacaran, aku ingin melakukan banyak hal denganmu!" kataku.
Aku memang sudah memikirkan banyak hal yang indah-indah. Hal-hal yang akan lebih indah jika kulakukan dengan Zidane.
"Apa saja?" tanya Zidane.
Dia mengangkat kepalanya dan melihatku yang meringkuk di dadanya.
"Pokoknya banyak!" kataku.
"Kau yakin mau melakukan semuanya denganku? Kita--kan belum lama pacaran?!" tanyanya.
"Apa ada batasan yang akan kau buat, karena kita hanya pacaran?" tanyaku sedikit marah.
Aku menegakkan tubuhku, masih dengan posisi duduk di samping Zidane. Tapi kini aku memandangnya dengan tatapan yang tajam.
"Tentu saja, kita tak bisa melakukan semuanya. Harus ada batasan!" kata Zidane.
"Kamu enggak asik!" keluhku.
Aku pun berbalik ke sisi lain, aku kesal. Kenapa Zidane masih saja kuno, bukankah dia tinggal di Jakarta cukup lama. Dia harusnya tak sekolot itu.
"Kalau begitu kita harus berhati-hati!" kata Zidane.
"Hati-hati?" tanyaku bingung.
Kenapa kita harus hati-hati segala, semua orang sudah tau kalau kami pacaran. Lalu kenapa harus hati-hati lagi.
"Memang kau sudah siap punya anak?" tanya Zidane.
__ADS_1
"Eitsssss, apa yang kau pikirkan?" tanyaku dengan senyuman.
Aku tak menyangka jika Zidane ternyata cukup mesum juga.
"Emangnya apa yang kamu maksut?" tanyanya, dia bengong dan bingung.
"Mau kugampar, kutendang, kuseruduk lalu ke untir-untir?!
"Kayaknya apa yang kulakukan kemarin-marin itu belum membuatmu jera!" ujarku.
Rasanya aku ingin tertawa, tapi aku harus marah. Kami masih di tahap pacaran, kenapa dia berani membicarakan hal seperti membuat anak.
"Emangnya apa?" tanyanya.
"Banyak, tapi tidak seperti apa yang ada di dalam otakmu!" kataku.
"Jangan yang aneh-aneh yang penting!" katanya.
Aku melihat raut kecewa di wajah tampannya, apa iya dia kecewa karena belum bisa membuat anak. Dia kekanakan sekali.
"Apa kau kecewa, karena aku menolak membuat anak?" tanyaku.
"Enggak, siapa yang kecewa. Itu bisa kita lakukan nanti setelah menikah!" kata Zidane.
"Apa kau berencana menikahiku?" tanyaku.
"Jika kau mau, tapi jika tidak...Aku tak akan memaksamu!" katanya.
"Aku mau tapi tidak secepat ini, bagaimana kalau dua atau tiga tahun lagi?" tanyaku.
"Terserah kamu saja, aku akan hanya bisa menurut padamu!" katanya dengan nada yang agak aneh.
"Aku bukan tak ingin menikah, aku hanya belum siap saja!" ujarku.
"Ada banyak hal yang harus kuraih, ada banyak hal yang ingin kulakukan sebelum aku menikah.
"Tapi aku ingin melakukan itu bersamamu!" kataku.
Matanya kini menatapku dengan tajam.
"Apa kau mau?" tanyaku.
Dia tersenyum dengan tulus dan penuh haru.
"Maaf karena aku membuatmu tak nyaman barusan," dia duduk dengan tegak dan kini dia memelukku meski posisi kami sama-sama duduk.
"Mari kita lakukan semuanya bersama-sama, aku janji aku akan selalu ada untukmu!" katanya.
Aku pun bisa tersenyum tenang di pelukannya yang hangat.
.
.
.
.
Gisna berjalan dengan rasa dongkol dihatinya, dia benar iri pada Nesa.
Sahabatnya itu pintar sekali memilih lelaki, padahal Nesa tak pernah punya pengalaman pacaran. Sedangkan dia yang gonta-ganti pacar, selalu saja gagal.
"Mbak Gisna? Mau kemana?" sebuah suara lelaki muncul di tikungan depan rumah Nesa, dia jadi kaget dan hampir terjatuh.
Tapi manik mata kesal Gisna segera berbinar bahagia, karena yang menyapa dia adalah pria idamannya.
__ADS_1
"Mas Irwan? Kok ada di sini?" tanya Gisna dengan sopan.
"Jalan-jalan saja!" kilah pria yang lebih muda 4 tahun dari Gisna itu.
Padahal pria muda itu ingin mengajak Gisna makan malam, jadi dia datang ke rumah Nesa. Karena Pak Polisi itu sudah ke klinik dan tak bisa menemukan pujaan hatinya itu.
"Ohhh begitu yaaa, kalau begitu saya duluan yaaa Mas!" ujar Gisna.
"Anda mau kemana?!" bentak Irwan, Gisna yang mau jalan lagi pun jadi kaget dan tersentak.
"Aku harus pergi dari rumah, dirumah ada dua kecoak," ujar Gisna.
"Kecoak, biar saya mengusir mereka!" Irwan ternyata pria yang cukup siaga dan bisa diandalkan.
"Nggak...!"
"Kita harus mengusirnya secepatnya, karena mereka akan berkembang biak dengan cepat jika dibiarkan!" Irwan mengatakan itu dengan nada tegas, yang membuat Gisna tak bisa tak tertawa.
"Kecoaknya, Nesa dan Mas Wakil!" kata Gisna.
Tentu saja hanya wajah polos, dan tanpa rasa bersalah yang ditunjukkan oleh Irwan.
"Begitu ya?!
"Apa anda sudah makan, kalau belum mari makan bersama saya!" kata Irwan dengan tegas dan gugup.
Lelaki itu hampir tak mengatakannya karena merasa sangat gugup.
"Boleh!" Gisna mengatakan dengan sangat hati-hati.
Dia sebenarnya agak ragu, tapi perasaanya menuntunnya untuk menerima ajakan tulus Irwan itu.
Tapi Gisna mencoba tak salah faham dulu pada Irwan, dia takut ini hanya kebaikan biasa.
Namun hatinya juga tak bisa memungkiri jika dia juga berharap, Gisna berharap dia berhasil dengan Irwan. Meski Irwan bukan lelaki yang sempurna, tapi Gisna merasa dia sangat tenang saat bersama lelaki itu.
Mereka makan bersama di sebuah restoran yang cukup mewah. Gisna cukup senang, ternyata Irwan bukan orang yang pelit.
"Bagaimana Mas Irwan bisa tau restoran sebagus ini?" tanya Gisna.
"Saya mencari di internet, restoran ini langsung muncul pertama kali!" kata Irwan.
Gisna tampak terharu, dia tak percaya Irwan mempersiapkan ini untuknya. Apa akan ada acara tembak-menembak, Gisna jadi berharap banyak pada Irwan.
Tapi harapan Gisna pupus, tak ada acara tembak-menembak. Tapi dia tau Irwan menyiapkan ini untuknya, apa Irwan tak tau cara menyatakan cinta. Tapi apa Irwan cinta padanya???
Gisna bingung.
Akhirnya Gisna meminta diantarkan ke klinik, Gisna harus tidur di sana.
"Trimakasih makan malamnya Mas Irwan, itu enak sekali!" kata Gisna.
"Sama-sama, Mbak!" jawab Mas Irwan.
"Apa ada yang ingin anda katakan pada saya?" tanya Gisna lagi, dia takut Irwan lupa jika mau nembak dia.
"Tidak, selamat malam!" kata Irwan.
"Selamat malam juga!" ujar Gisna dengan senyuman kecut.
Wanita itu segera keluar dari mobil Irwan. Tanpa menoleh lagi Gisna segera masuk ke dalam klinik.
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
__ADS_1