Mas Wakil Idamanku

Mas Wakil Idamanku
Ibu


__ADS_3

Zidane dan Nesa sudah duduk berdua di pinggir pantai, ditemani oleh ribuan milyar bintang di langit dan bulan yang sedang purnama.


"Ini tentang Mbah Miyah!


"Apa kau bisa bohong untukku?" tanya Zidane.


"Bohong?" tanyaku, dia bahkan berani memerintahku untuk berbohong.


"Tolong bilang ke Mbah Miyah jika biyaya oprasi pengangkatan tumornya lebih murah!


"Aku yang akan bayar sisanya!


"Kau bisa-kan?!" perkataan pria tampan ini mengandung rayuan, aku hampir terbujuk.


"Kenapa kau tak bilang saja langsung ke Mbah Miyah?" tanyaku.


"Dia tak akan menerima uangku!" kata Zidane bingung.


"Tidak bisa, aku ini Dokter!


"Aku tak bisa bohong pada pasienku!" kataku, tak enak ati.


Karena aku malas menghadapi resikonya di kemudian hari.


"Sekali ini saja!" mohon Zidane dengan wajah yang amat putus asa.


"Aku tak bisa!


"Bagaimana jika Mbah Miyah bilang ke banyak orang, lalu ada orang yang kena tumor seperti dia. Apa aku harus memurahkan harga oprasi???


"Harga oprasi itu tak bisa dimanipulasi, dirumah sakit mana pun sama saja. Jadi aku tak mau mengambil resiko!" ujarku kesal.


"Apa aku harus membiarkan dia mati seperti itu?!


"Dia hidup susah sejak lahir, untuk putranya. Dia bahkan pelit pada dirinya sendiri.


"Tapi setiap putranya kesulitan dia akan menawarkan uangnya!


"Aku harus bagaimana!" keluh Zidane, dia menghela nafas panjang.


"Mbah Miyah yang salah!


"Bagi seorang anak, uang yang berlimpah itu tidak penting.


"Melihat orang tuanya hidup lama dan sehat itu lebih penting, menurutku.


"Jika dia tak ingin di oprasi jangan paksa dia, bairkan saja!" ujarku.


"Apa kau tak punya hati nurani???" kata Zidane.


"Dia mau mati seperti itu, aku tak bisa apa-apa. Mungkin dia ingin melihat putranya menagis 40 hari 40 malam di makamnya karena menyesal!" kataku.


Aku tau Mbah Miyah punya putra yang kaya di kota, tapi uang segitu untuk oprasi saja apa orang yang menjabat sebagai salah satu jajaran Direktur perusahan ternama itu tak bisa membiyayainya.


Entahlah aku tak ingin ikut campur dengan urusan mereka!!!


Mau kalian bilang egosi silahkan.


Jika pasien tak mau sembuh Tuhan pun juga tak bisa menolong!!!


Apa lagi aku cuma manusia biasa yang penuh dengan dosa.


.


.


.


.

__ADS_1


Mbah Miyah duduk termenung di depan teras rumahnya, pandangan mata tuanya kosong dan dia tampak tak bersemangat.


Diaknosa tumor itu sudah ia ketahui tiga tahun lalu, tapi Mbah Miyah tak menceritakan hal itu pada siapa pun termasuk anaknya. Hartono putra semata wayangnya.


Meski Hartono putra Mbah Miyah menjabat sebagai salah satu direktur di sebuah perusahaan terkenal. Tapi tampaknya putra semata wayang Mbah Miyah itu sangat sibuk dan jarang datang ke kampung halamannya.


Wanita tua itu mulai memikirkan hari kematiannya, dia tampak ingin mati dengan damai dan bahagia. Mbah Miyah pun bangun dan mengambil ponsel merek Nokiem nya untuk menelfon cucunya.


"Hallo Laras!" sapa Mbah Miyah.


"Ada apa Nek?" tanya Laras dari balik panggilan itu.


"Apa cucu nenek sedang sibuk?" tanya Mbah Miyah.


"Ini aku sedang diperjalanan ke tempat les!" kata Laras.


Laras anak ke dua dari Hartono, anak pertama Hartono bekerja di Singapura dan kedua Laras masih sekolah kelas tiga SMU dan Dahye masih SD. Hanya Laras-lah  yang dekat dengan Mbah Miyah.


"Bukankah sebentar lagi liburan sekolah!" tanya Mbah Miyah.


"Iya Nek, ada apa?"


"Kamu ke sini yaaaa, liburan di sini!" pinta Mbah Miyah dengan semangat yang mengebu.


"Tapi kami akan liburan ke Bali Nek. Ayah sudah beli tiketnya.


"Liburan kali ini barengan dengan pertunangan Mas  El di Bali!" ujar Laras.


"Akhhhhh begitu yaaaa.


"Kalau begitu hati-hati di jalan yaaa, kapan-kapan Nenek telpon lagi yaaa!" ujar Mbah Miyah.


Wajah penuh keriput itu menjadi makin sedih. Padahal liburan tak sampai sebulan lagi, tapi Mbah Miyah belum diberi tau tentang acara pertunangan itu.


"Apa Harto lupa ngasih tau aku?" tanya Mbah Miyah.


Mbah Miyah kembali fokus ke ponselnya, dia mencari nomor ponsel putranya dan menghubungi nomor berkode wilayah kota Jakarta itu.


"Aku baik Bu, ibu gimana baik?" tanya Harto.


"Baik, ibu baik-baik saja, sehat!" kata Mbah Miyah dengan semangat yang tinggi.


"Semalam Zidane menghubungiku, katanya ibu harus oprasi!" tanya Harto.


"Akhhhh ibu tak papa, Dokter Nesa hanya membesar-besarkan masalah!" ibu memang selalu menengkan hati anaknya.


"Ibu minta ke Dokter itu rawat jalan dulu yaaa, tahun depan baru oprasi!


"El mau tunagan, dan biyaya pestanya sangat mahal!


"Maafkan aku Buk, bisakan!" kata Harto.


"Aku tak apa-apa, rasanya tak sakit!" kata Mbah Miyah. Tapi terlihat raut kecewa mulai menjalar di wajah tua itu.


.


.


.


.


Kenapa aku jadi kepikiran sama Mbah Miyah begini, dia pasti sangat menderita.


Di usia tuanya dia harus jauh dari keluarganya dan menahan rasa sakit itu.


Tapi bagaimana aku tak mungkin membiyayai operasinya.


Apa aku cari tau tentang bantuan pemerintah untuk pasien miskin ke rumah sakit milik Negara.

__ADS_1


Aku sudah ada di depan rumah Mbah Miyah, tapi aku bingung harus masuk atau tidak. Tapi apa yang akan aku sampaikan ini pasti membuatnya sedikit tenang.


Temanku rela dibayar separuh biyaya oprasi biasanya jika menangani pasien yang miskin. Dia pasti senang mendengar berita yang kubawa ini.


"Anda tidak masuk Bu Dokter!" tegur Mbah Miyah.


Wanita tua berpakaian kebaya itu mengkagetkanku, aku hampir terjungkal karena wajah tuanya yang pucat dan pakaian kunonya itu.


"Ini mau masuk kok!" kataku.


Kumasuki pelataran rumah Mbah Miyah yang tampak asri dan bersih.


"Mari masuk Bu Dokter, Bu Dokter udah makan?" tanya Mbah Miyah.


"Nggak usah repot-repot Mbah, saya hanya mampir sebentar!" kataku.


"Tunggu sebentaryaaa, kita makan bersama!" kata Mbah Miyah.


Wanita tua itu langsung pergi ke dapur dan menyiapkan makanan untuk kami.


Aku dan Mbah Miyah makan berdua tanpa bicara. Orang tua jawa percaya jika makan sambil bicara akan cepat mati, jadi kita diam saja selama makan.


Setelah selesai makan aku mulai bicara pada Mbah Miyah tentang berita yang kubawa.


"Apa Mbah Masih sering merasa sakit?" tanyaku.


"Tidak juga, hanya sedikit!" kata Mbah Miyah.


"Karena lukanya tak terlihat, jadi orang lain menganggap itu tak sakit.


"Mbah, saya ke sini mau...!"


"Saya akan oprasi Bu Dokter!" kata Mbah Miyah.


Aku benar-benar kaget dengan reaksi Mbah Miyah.


"Benarkah?!" tanyaku senang. Dan entah kenapa aku sangat senang Mbah Miyah mau oprasi.


"Berapapun biayanya akan kubayar, tapi aku mau kamar yang banyak orangnya.


"Aku orang yang tak bisa kesepian!" kata Mbah Miyah dengan nada yang sumringah.


"Zidane pasti senang mendengar berita ini!" kataku.


"Anak nakal itu!


"Esttttt aku tak akan mati sebelum dia menikah!" gurau Mbah Miyah.


"Dia sangat cemas sekali karena anda tak ingin dioprasi.


"Dia bahkan memohon padaku untuk menipu anda, dia mau membayar oprasi anda tapi aku disuruh bohong jika aku memberikan diskon.


"Tentu saja aku tak mau!" jelasku.


"Bu Dokter tolong carikan saya Dokter yang bagus, aku tak mau oprasiku gagal.


"Karena aku mau hidup sampai usia 100 tahun!" kata Mbah Miyah.


"Siap bos!" kataku, kenapa aku jadi mirip Zidane.


.


.


Ternyata Zidane berada di balik pagar rumah Mbah Miyah, dia tersenyum bahagia di dalam persembunyiannya.


Dia bahagia karena Mbah Miyah mau dioprasi dan juga Nesa yang ternyata masih punya sifat baik hati.


__________BERSAMBUNG___________

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤


__ADS_2