
Mentari pagi menyinari setiap embun yang menempel di bumi. Hingga butiran embun itu meleleh lumer. Udara yang hangat menyelimutu alam pinggiran dengan suasana laut yang selalu indah.
Pagi memang baru mulai menyingsing tapi Mbah Miyah, Mbah Sarti dan Mbah Yayem sudah akan berangkat bekerja. Mereka adalah pegawai tetap di sebuah pabrik ikan kalengan di dekat pelabuhan.
"Miyah kamu pake baju baru?" Mbah Yayem berkata dengan nada kaget.
Pasalnya Mbah Miyah yang terkenal kikir dan pelit itu tak mungkin membeli baju baru dan dia pakai untuk bekerja.
"Baru dari mana, ini baju lama tapi tak pernah kupakai saja!" ujar Mbah Miyah.
"Yaaaa masa baju baru buat kerja, tau sendiri Miyah. Lebaran aja pake baju biasa!" ejek Mbah Sarti yang paling gaul di antara mereka bertiga.
Tapi segaul-gaulnya nenek-nenek yaaaa gitu dechhhh
"Buka mulutmu lagi Sar, biar kulempar batu jalan ini ke dalam mulutmu!" ancam Mbah Miyah.
"Ceilehhhh...Gitu aja tersinggung Miyaaaaahhhh," sepertinya Mbah Sarti memang suka ngajak ribut angota gengnya itu.
"Wait, wait, wait!" kata Mbah Sarti lagi, dengan nada medoknya dia menirukan kata-kata cucunya si Susi.
"Wait, haid, pait?" Mbah Yayem bingung.
"Wait....Tunggu begooo!" jawab Mbah Sarti dengan gaya anak muda masa kini.
"Tunggu matamu apa?!" bentak Mbah Miyah yang sudah menenteng sendal jepit kesayangannya di tangan kananya.
Sendal itu sudah hampir melayang ke arah Mbah Sarti.
"Ittuuuu... Kan. Bu Dokter, apa dia lari sambil telanjang?" kata Mbah Sarti.
Semua menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Mbah Sarti.
"Astagfirulohhhhhaladzimmmm!" ucap Mbah Yayem.
"Met amet jabang bayikkkkk!" gerutu Mbah Miyah.
"Mataku yang kabur, atau memang itu tadi Bu Dokter?" Mbah Sarti masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya di pagi yang indah ini.
"Benar dunia mau kiamat!" desah Mbah Miyah.
"Kau benar, orang kota kok nyeleneh yaaaa. Lari pagi-pagi hanya dengan pakaian dalam!" kata Mbah Yayem.
Nesa yang telinganya di sumpal dengan earphone tak mendengar gunjingan geng beautipul itu. Dokter muda itu hanya terus berlari ke depan tanpa peduli sekitarnya.
__ADS_1
.
.
"Pergiiiiiii dari rumahhhhh ku sekarang jugaaa!" teriak Ibu Tari.
Tangannya sudah memegang gagang sapu, tubuh gempalnya sudah berhambur menuju kamarnya.
Dengan tanpa perasaan gagang sapu itu melayang menghantam tubuh suaminya yang kurus kering yang masih berbaring nyaman di kasurnya.
"Ada apa Mahhhhh!" suami Ibu Tari segera bangun dari tidurnya.
"Lipstik siapa yang menempel di kemeja kerjamu!" teriak Ibu Kades itu.
Karena suaminya yang kurus kering dan tampak seperti orang sekarat yang berada di dalam kamar adalah Pak Kades di Desa pesisir itu.
"Catttt Maaaa, itu catttt. Ruangan kantor papa-kan baru di cat!" Pak Kades mencoba mencari alasan.
"Keluar, sekarang juga. Jika kau tak ingin mati konyol di sini!" usir Bu Kades.
Mau tak mau Pak Kades segera keluar dari rumahnya, di iringi lemparan koper dan baju-baju milik Pak Kades.
"Maaaaa, tega bener mama sama papa!" rengek Pak Kades.
.
.
Dokter cantik itu mendekati Zidane yang berada di ujung gang dengan gelagat seperti orang yang mau maling.
"Yaaaa Allahhhhh kaget aku!" teriak Zidane.
"Kamu ngintip orang lagi perang?" tanya Nesa dengan nada mengejek.
"Aku ada perlu sama Bu Tari, tapi kalau situasi lagi kayak gini yaaaa. Besok saja!" ujar Zidane.
Mata indah yang tajam milik Zidane segera membidik tubuh Nesa yang berdiri tepat di depannya.
"Jangan bilang kamu berkeliaran dengan pakaian itu di desa yang indah ini?!" kata Zidane dia masih tertegun.
"Aku baru saja lari pagi!" jawab Nesa.
Zidane menurunkan tas ranselnya dan membuka kemejanya. Dengan sangat terpaksa dia memberikan kemeja itu ke arah Nesa.
__ADS_1
"Buat apa?" tanya Nesa bingung.
"Jangan buat berita yang bisa membunuhmu, kamu mau di cap sebagai Dokter mesum?" kata Zidane.
Dan perkataan tanpa basa-basi Zidane langsung menusuk jantung, hati, paru-paru, dan tengorokan Nesa.
"Dokter mesum?!" bentak Nesa pada Zidane.
"Lihat pakaianmu itu!" kata Zidane.
"Ini pakaian olahraga, kenapa!" Nesa sudah berkecak pinggang.
Hari ini dia siap gelut dengan Zidane, dia tak takut lagi pada pria sinting itu.
"Terserah-lah, ngomongin kamu itu ibarat nasehatin batang kayu yang sudah di tebang" ucap Zidane.
Lelaki itu segera pergi meninggalkan Nesa yang sudah emosi tingkat Hokage.
.
.
Apa maksutnya mengataiku begitu, tapi aku memandang lagi seluruh tubuhku.
Apa pakaianku kurang sopan, tapi semua orang memakai pakaian ini untuk olahraga. Bahkan pakaian ini tak dijual di mol, ini di buat di luar negri oleh seorang ahli olahraga terkenal.
Dia orang kampung tau apa tentang mode dan tren.
Tapi kemeja lusuh itu sudah berada digenggamanku. Aku mencium baunya, cukup wangi. Aku kaget dan mencium bau kemeja itu beberapa kali.
"Ini wangi apa, kenapa enak sekali?" tanyaku pada angin.
Aku tak pernah mencium wangi yang lembut tapi unik ini.
Belum juga aku pergi dari ujung gang itu, aku melihat dua pasang mata melirik ke arahku dengan ekspresi wajah penuh n.a.f.s.u.
"Apa yang kalian lihat?" bentakku.
Karena dua pria itu hanya pelajar SMU mereka pasti langsung takut dengan bentakanku.
Kaus ketat tanpa lengan dan celana leging ini benar-benar mencetak sempurna tubuh indahku. Tapi saat lelaki memandangku dengan penuh n.a.f.s.u aku juga merasa terganggu
Akhirnya kupakai kemeja lusuh Zidane, aku tak mau ada pria yang memandangku dengan ekspresi penuh n.a.f.s.u seperti tadi.
__ADS_1
_________BERSAMBUNG________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤