
"Udah Nesss!" Gisna memeluk tubuhku yang sudah terbawa emosi.
"Keluar sekarang, atau tak kuterima istri anda dirawat di sini!" teriakku, aku sama sekali tak bisa mengkontrol emosiku lagi.
"Udahhhhh...Tenangkan dirimu, Nessss!" Gisna mengelus punggungku, hal itu membuatku sedikit lebih tenang.
Untung Irwan dan salah satu angota polisi lain sudah tiba di klinikku. Kedua polisi itu segera membawa si bapak-bapak pergi dari klinik kami.
Tapi aku merasakan tubuhku melemah, kepalaku berkunang-kunang. Sampai aku tak bisa mempertahankan ke seimbangan tubuhku. Hingga aku terduduk di lantai kamar rawat inap ini.
"Nesss, kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Gisna, dia pasti sangat khawatir dengan kondisiku.
"Mungkin aku hanya kelelahan!" kataku.
Aku kurang tidur dan selalu memikirkan Zidane, yang belum menghubungiku sama sekali. Padahal ini sudah tiga hari sejak pesta sukuran itu.
Aku juga tak dapat kabar apa pun dari Kak Felix, dan aku tak mungkin bertanya pada Kak Felix tentang masalah itu.
Aku takut Kak Felix makin teringgung dan tambah menyalahkan Zidane.
Karena aku tak tau apa yang terjadi, aku jadi bingung sendiri dan menyiksa diriku tanpa kusadari.
Gisna segera membantuku berdiri dan menyuruhku berbaring.
"Aku akan memeriksamu!" kata Gisna.
Meski aku Dokter aku butuh orang lain untuk memeriksa kondisinku. Apa lagi saat ini selain rasa lemas aku juga merasa rasa mual dan pusing. Aku pasti sedang sakit dan aku butuh pertolongan.
Di ruamhnya kondisi Zidane tak lebih baik dari kondisi Nesa. Lelaki itu masih termenung di lantai dapurnya, dengan pakaian yang sama. Padahal ini sudah tiga hari semenjak kejadian itu.
Wajah Zidane pucat, matanya bengkak dan sayu, dia pasti banyak menangis.
Diluar Mbah Miyah membawa bakul berisi ubi rebus kesukaan Zidane. Wanita tua itu juga membawa ikan bawal bakar dengan sambal kecap, makanan yang tak akan ditolak oleh Zidane.
Dengan ceria Mbah Miyah berjalan ke arah rumah Zidane. Wanita tua itu tak bisa menemui Zidane karena rumah Zidane terkunci dari dalam.
Mbah Miyah melihat ke arah bakul di atas dipan dekat pintu belakang rumah Zidane. Bakul itu ia letakkan pagi kemarin, dan tak ada tanda-tanda bergeser sedikit pun.
Mau marah tapi Mbah Miyah tak bisa berteriak saat ini. Selain luka oprasinya yang masih belum sembuh betul, dia juga tau kondisi sebenarnya Zidane.
Hanya Mbah Miyah yang tau masalah apa yang menimpa Zidnae lima tahun yang lalu.
Jadi wanita tua itu tak bisa mengatakan apa pun. Mbah Miyah tau betul bagaimana kejadian itu, dia tak bisa menghibur Zidane saat lelaki itu tak mau menemui siapa pun.
Dia juga tak sekuat dulu. Mbah Miyah masih ingat bagaimana dia dulu mencongkel pintu rumah Zidane lima tahun yang lalu, untuk menghibur cucu angkatnya itu.
Jadi Mbah Miyah hanya bisa membawakan makanan baru, dan membawa kembali yang lama. Setiap hari hanya begitu, wanita itu sudah terlalu renta untuk memarahi Zidane supaya sadar. Bahwa hidup lelaki itu masih panjang, dan jangan menyalahkan diri sendiri karena merasa bersalah.
Jadi setelah dari rumah Zidane, Mbah Miyah mampir ke klinik Nesa.
__ADS_1
Mbah Miyah yakin hanya Nesa yang bisa membuat Zidane semangat hidup lagi.
"Nesa sedang dirawat Mbah, dia jatuh sakit siang tadi!" kata Gisna.
Tapi Dokter cantik itu muncul dengan tongkat infusnya.
"Kamu sakit Nessss?" tanya Mbah Miyah.
"Hanya kecapekan aja Mbah!" kata Nesa.
Wajahnya sudah kembali merona dan tenaganya sudah pulih kembali.
"Ada apa Mbah, jauh-jauh datang ke mari?" tanya Nesa pada Mbah Miyah.
"Ini aku bawa ubi rebus untukmu!" kata Mbah Miyah.
"Kenapa anda repot-repot begini!" Nesa segera mengambil bakul yang disodorkan oleh Mbah Miyah.
"Aku habis dari rumah Zidane! Aku juga membawa ubi rebus ke rumahnya.
"Kemarin aku membawa jagung rebus juga, tapi dia tak memakannya.
"Mungkin ubi rebus hari ini, juga nggak bakal ia makan!" curhat Mbah Miyah.
Nesa jadi memikirkan keadaan kekasih hatinya itu.
Nesa sadar, dia harus memulai duluan. Dia tak boleh menunggu Zidane bergerak. Lelaki itu butuh sandaran saat ini, dan dia satu-satunya manusia yang Zidane punya.
Sore itu semua warga Desa Ngobaran sedang berkumpul di warung Bu Nia karena kelelahan bekerja.
"Aku tak menyangka akan terjadi kekacauan seperti ini!" kata Bu Tari.
"Benerkan, kalau Zidane membunuh orang!" ujar suami Ibu Nia.
Lelaki itu seumuran dengan Zidane, dia teman Zidane tapi selalu mencemooh Zidane karena iri dengan ketampannan dan kelebihan Zidane.
"Jangan ngada-ngada kamu! Lihat wajahnya yang polos dan baik itu!
"Aku nggak percaya Mas Wakil membunuh orang!" Pia Palen kekeh dengan pendiriannya.
"Bener, Mas Wakil itu baik banget lho!
"Aku sih nggak percaya!" kata Mas Fahmi si pemilik Cafe Davey.
"Kita harus mendukung Mas Wakil saat ini, jangan buat keributan yang tidak penting!
"Bagaimana pun Mas Wakil adalah warga Desa Ngobaran, kita harus percaya padanya!" usul Bu Tari.
"Bener Bu, kita kerepotan juga kalau Mas Wakil nggak mau kerja lagi!
__ADS_1
"Mas Wakil itu adalah jantungnya Desa Ngobaran, jika dia bermasalah!
"Desa ini jadi lumpuh total!" kata Bu Nia.
"Kalian pulang sana, aku akan memikirkan cara!" kata Bu Tari.
Semua Bos Mas Wakil segera bubar, mereka harus mengurus bisnis mereka lagi.
Aku masuk ke rumah Zidane dengan mengunakan kunci cadangan yang diberikan Zidane untukku. Aku yang minta dengan mengancamnya ndeng, tapi aku senang aku meminta kunci cadangan rumahnya saat itu.
Karena jika tidak, hari ini aku tak mungkin bisa masuk ke dalam rumah kekasihku itu. Tak lupa aku membawa bakul yang berisi ubi rebus dan ikan bakar Mbah Miyah ke dalam rumah.
Saat aku masuk, aku melihat sosok yang kucintai itu. Tengah duduk di salah satu sofa ruang tamunya, dia hanya memandang kosong ke arah jendela yang sudah mulai gelap.
Aku tak tahan melihat kesedihannya, aku sudah ingin menangis melihat betapa hancur keadaannya kini.
Tapi aku tak boleh egois, dan bertanya banyak hal. Aku tak ingin dia lebih sedih dari ini, dia sudah amat sangat kacau.
"Mbah Miyah membawa ubi rebus dan ikan bawal bakar, kenapa nggak kau ambil!" aku mencoba berbicara seceria mungkin.
Aku harus melupakan jika saat ini kami sedang dirundung oleh masalah yang pelik.
"Kenapa kamu kurus sekali, Kamu nggak makan yaaa?" tanyaku.
Aku meletakkan bakul Mbah Miyah di hadapan Zidane duduk. Dia sama sekali tak menjawab pertanyaanku, pandangannya sama sekali tak mengarah padaku.
Dia masih melamun memandang keluar jendela yang sudah hampir gelap.
"Udah hampir Magrib, aku akan tutup jendelanya!" kataku.
Dia sama sekali masih tak menyahut, rasanya aku ingin berteriak padanya. Tapi aku harus menahan diriku, yang paling sakit saat ini adalah Zidane. Aku harus bersabar.
Aku sudah menutup jendela itu, dan aku mencoba tersenyum semanis mungkin setelah berbalik ke arahnya.
"Gimana jika, aku masak untukmu?!
"Kau harus makan sesuatu!" kataku. Aku segera berjalan ke arah dapur.
"Nesa!" panggilnya, aku pun menghentikan langkahku dan menoleh ke arahnya.
Mata sembabnya akhirnya memandang ke arahku.
"Jika aku bicara, apa kau akan mendengarku?" tanya Zidane padaku.
"Tentu saja!" aku lega dia mau cerita padaku.
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
__ADS_1