
Nadia heran saat melihat adanya mobil Nicol di depan rumah, entah kenapa jantungnya berdebar hebat.
" Sayang " Ucap Kevin menghampiri namun kemudian matanya menatap mobil yang sedikit dia kenali.
" Om Nicol,, Ada apa datang ke sini " Ucap Nadia.
Kevin mengandeng tangan Wanitanya yang sudah terasa dingin,,
" Kita masuk " Ajaknya dan Nadia mengangguk.
Mereka berjalan masuk dan benar saja Nawang bersama Nicol duduk di ruang tamu, mereka menunggu Nadia pulang sekolah.
" Nah itu Nadia " Ucap Nawang dan Nicol menoleh.
Nicol berdiri dan tersenyum melihat gadis yang sudah seperti keponakannya sendiri.
" Sayang,, Pak Nicol sudah menunggu kamu " Lanjut Nawang.
Nadia tersenyum dan menghampiri nya Seraya mencium punggung tangan Nicol juga Nawang bergantian di ikuti Kevin.
" Bagaimana kabar kamu Nadia " Ucap Nicol.
" Baik Om,, Om Nicol sendiri bagaimana "
Nicol tersenyum,,
" Om juga baik baik saja "
" Em,, seperti nya Kalian mau bicara Mama Tinggal ya Sayang,, Kamu Ngobrol sama Pak Nicol dulu " Ucap Nawang .
" Iya Ma "
Nawang berjalan masuk dan membiarkan menantunya bicara dengan Pengacara sekaligus orang kepercayaan mendiang besannya.
" Silahkan duduk Om " Ucap Nadia.
Kevin duduk di sana bersama Nadia, dia berada di samping istrinya.
Wajah Nicol tidak seperti biasanya, terlihat sedikit berbeda seperti memikirkan sesuatu.
" Nadia, Kevin,, Om minta Maaf karena tidak dulu memberitahu jika Om akan ke Jakarta, Sebenarnya Kedatangan Om ke Jakarta karena ingin membicarakan masalah Perusahaan Milik Orang tua Nadia "
Deg ..!!
Nadia terdiam, dia sangat takut jika terjadi sesuatu dengan Peninggalan orang tuanya walau sebenarnya dia sendiri belum bisa melakukan apapun namun semua itu Harta yang di dapatkan orang tuanya dari nol.
" Apa yang terjadi dengan Perusahaan Pa " Ucap Kevin dan Nicol lagi lagi tersenyum.
" Kalian tidak perlu Khawatir, tidak terjadi hal serius dengan perusahaan hanya saja beberapa Pemegang Saham lain ingin bertemu dengan Nadia sebagai ahli waris , Mereka ingin lebih mengenal Putri mendiang Tuan Rekso."
" Nadia Om,, " Kaget Nadia.
" Selama ini mereka hanya tau Om saja sebagai wakil kamu Nadia, jadi Minggu depan mereka ingin bertemu Kamu, Apa kamu bisa Nadia."
Kevin menatap Nadia yang tampak diam dan menunduk,,
" Om tau semua ini terlalu cepat, Tapi mau tidak mau kamu juga nantinya akan terjun di Perusahaan dan mengurus semuanya."
" Apa Nadia juga harus belajar sesuatu untuk bertemu mereka Pa "
" Hanya menghafal sebagian Laporan bulanan saja, Nanti Om akan mengirimkan Apa yang perlu Nadia pelajari."
__ADS_1
Kevin kembali menatap Nadia yang masih terdiam,,
" Apa tidak bisa di gantikan,, Em Maksud Nadia Dengan Papa Abdi atau Kak Kevin. " Ucap Nadia namun Nicol tersenyum dan menggeleng.
" Maaf Nadia,, Karena ini Perusahaan Orang tua kamu jadi hanya kamu sebagai ahli waris yang harus menemui mereka."
" Aku yakin kamu pasti bisa Sayang,, " Ucap Kevin menggenggam tangan Nadia.
" Bagaimana Nadia "
Nadia menghela napasnya dan mengangguk,,
" Baiklah,, Om akan mengirimkan semua berkas ke email kamu dan kamu bisa mulai pelajari."
Nadia mengangguk,,
walau sebenarnya dia masih sangat ragu,,,
_____
Setelah kepulangan Nicol Kembali ke Bogor, Nadia duduk di depan meja riasnya dengan menyisir rambut panjangnya.
Dia masih memikirkan semua yang di bicarakan Nicol siang tadi.
Kevin yang baru saja selesai mandi menatapnya,,
Dia pun berjalan menghampiri dengan mengambil sisir di tangan Nadia .
Nadia menoleh dan tersenyum,,
" Masih kepikiran ucapan Om Nicol?" Ucap Kevin.
Selama hidupnya Rekso memang tidak pernah membiarkan atau membebani istri dan anaknya dalam urusan bisnis, semua dia lakukan sendiri baginya dengan bekerja keras maka bisa mencukupi kehidupan istri dan anaknya.
Rekso tidak pernah membiarkan keluarganya kekurangan apapun, apalagi Nadia Almera putri semata wayangnya yang begitu dia sayang , apa pun yang di inginkan nya akan selalu di turuti walau Nadia sendiri jarang sekali meminta sesuatu yang memberatkan orang tuanya.
Kevin memegang bahu Nadia untuk menghadapnya.
Dia pun berlutut dengan menggenggam kedua tangan Nadia.
" Aku tau kamu pasti bisa melakukan semua itu Sayang, Kamu pandai dan aku yakin kamu bisa mempelajari semua berkas yang Om Nicol kirimkan, Dan aku janji akan selalu berada di samping kamu , Aku bakal suport kamu.
Percaya Oke , "
Nadia terdiam matanya menatap wajah tampan laki laki yang sudah menjadi suami seutuhnya, laki laki yang selalu saja membuatnya tenang jika dalam keadaan seperti ini, laki laki yang selalu sabar menghadapi dirinya, Laki laki yang sempurna baginya bukan hanya wajah tampannya namun juga hati yang selalu tulus.
" Asal Kakak selalu di samping aku, aku akan Berusaha ."
Kevin tersenyum,,
" Pasti Sayang,, Aku akan berada di samping kamu sampai kapan pun "
Nadia tersenyum,,
Kevin mengecup tangan Nadia yang masih di genggamnya.
Apa pun itu Sayang,,
walau nyawa aku taruhannya aku bakal memberikannya asal bisa membuat kamu tersenyum.
__ADS_1
" Sekarang jangan sedih lagi,, Sini aku bantu sisir rambut Kamu "
Nadia mengangguk dan membiarkan suaminya menyisir rambut panjangnya.
Dengan kembali menatap pantulan wajah Kevin dari pantulan Cermin di hadapannya dia merasa bersyukur bisa memiliki Suami seperti Kevin.
*S**eberapa berat masalah yang ada, kamu selalu membuatku merasa tenang dan damai. Kamu berjalan beriringan bersamaku melewati semua masalah. Aku sungguh bersyukur atas hadirmu di dalam hidupku*.
Ting ,,
ponsel Kevin bunyi, ,,
" Sebentar Sayang " Ucapan mengusap pucuk rambut Nadia.
Nadia merapikan rambutnya,
matanya masih menatap Suaminya yang berjalan mengambil ponsel di atas meja.
" Halo Ko "
" Lo dimana Vin, Gue sudah sampai di tempat."
Kevin menatap jam,
Jam 4 Sore dimana dia janji untuk bertemu dengan penagih hutang Gresia.
" Oke Sebentar lagi gue ke sana, Lo tunggu di sana dan ingat jangan sampai mereka melihat Lo lebih dulu."
" Oke ,, gue parkir jauh "
Kevin memutuskan telponnya ,,
" Kenapa Kak,, " Ucap Nadia membuat Kevin menoleh.
" Riko Sayang, dia sudah sampai di tempat kita bertemu mereka."
" Kalian cuma berdua,, Kak aku gak mau kakak kenapa kenapa , kenapa sih gak lapor polisi aja."
Kevin tersenyum dan menangkup wajah Nadia yang tampak cemas.
" Kamu tenang saja ,, Riko juga mengajak beberapa temannya dan aku akan baik baik saja karena aku sudah janji bukan untuk menemani kamu."
Nadia mengangguk,,
Cup,,
Kevin mengecup dalam kening Nadia,,
" Aku jalan dulu, Kamu jangan lupa makan dan istirahat dulu jika aku pulang lama. "
" Janji Bakal segera pulang " Ucap Nadia
" Iya Sayang aku Janji "
Kevin mengusap pipi Nadia,
dia berjalan mengambil kunci mobilnya dan menyambar Jaket yang sudah dia siapkan.
Nadia menatap kepergian suaminya,
Ada rasa berbeda saat kepergian Kevin rasanya khawatir
__ADS_1