
Dua tahu kemudian...
Sheena sedang mengajari beberapa orang anak untuk membaca dan menulis di sebuah paviliun. Anak anak itu sangat serius sekali belajar.
Sheena “yang sudah boleh pulang ya”
Anak anak itu mengerjakan tugas yang di berikan Sheena pada mereka.
Ria “aku sudah kak”
Sheena “ya, ria kamu sudah boleh pulang”
Tama “aku juga sudah “
Di susul dengan anak anak yang lain yang sudah menyelesaikan tugasnya. Sampai semua anak anak itu sudah pulang semua.
Setelah kejadian itu sheena memutuskan untuk pindah ke luar pulau bersama ayahnya. Terlebih karena ayahnya butuh therapy khusus untuk masa penyembuhannya pasca kecelakaan yang menimpanya. Hanya kedua sahabatnya yang mengetahui kepindahan Sheena bahkan Al pun tidak diberitahunya.
Awalnya Sheena hanya ingin menenangkan dirinya. Karena setelah itu keluarga Kevin berbalik tidak menyukainya dan keluarganya bahkan saham yang ditanam di perusahaan ayahnya pun ditarik semua oleh Papa Alex.
Tapi itu tak berarti apa apa karena saham ayah lebih besar di perusahaannya.
Kini Sheena tinggal di sebuah pulau yang terpencil. Ayah membeli sebuah rumah disana untuk bernostalgia dengan bunda ketika bunda masih ada. Tempat ini memang begitu menenangkan dengan keindahan alam yang masih alami, dan juga ada anak anak asuhnya yang sekarang ia ajari membaca dan menulis.
Karena pulaunya sangat terpencil dan akses pendidikan sangat jauh, harus berjalan beberapa kilometer baru ada sekolahan disana. Membuat orang tua mereka tidak menyekelohkan anak anaknya. Semenjak ada Sheena mereka sangat senang karena ada yang mengajari anak anaknya baca dan tulis.
Sheena menatap langit yang mendung sesekali ada kilatan cahaya di atas sana. Mulai turun hujan yang memebasahi rumput hijau dan bunga bunga yang ada di depan paviliun itu. Kini tinggal Sheena yang berada di sana.
Setelah hujan mulai reda Sheena kembali ke rumah yang letaknya ada di depan paviliun tempatnya mengajari anak asuhnya.
Ayah “anak anak sudahb pada pulang, nak?”
Sheena “sudah, yah, tadi sebelum hujan mereka sudah pulang”
Ayah “syukurlah, kasihan kalo mereka harus hujan hujanan”
Sheena “iya, Sheena mandi dulu ya, yah”
Kemudian ia naik ke kamarnya dan membersihkan diri. Lalu kembali ke dapur untuk membantu Bi Imah untuk menyiapkan makan malam. Bi Imah ikut serta pindah ke pulau itu sedangkan Bi Ani mengurus rumahnya yang dulu.
Makan malam sudah tersaji di meja makan. Sheena memanggil ayah untuk makan malam bersamanya.
Ayah “sepertinya kamu menikmati keseharian kamu bersama anak anak itu”
Sheena “iya, yah, seru banget main dan belajar sama mereka”
Ayah “sepertinya ayah harus kembali ke kota. Kemarin assisten ayah bilang ada beberapa masalah yang harus ayah tangani sendiri di kantor. Apa kau mau ikut?”
Sheena menunduk dan berpikir sejenak.
__ADS_1
Sheena “sheena masih ingin di sini yah”
Ayah “baiklah, masih ada Bi Imah yang menemani kamu “
Sheena terbayang kedua sahabatnya yang ia sangat rindukan. Dan juga Al. Pasti Al mencarinya karena ia pergi tanpa pamit padanya. Sudah dua tahun ia tak memberinya kabar, apa Al masih mencintainya atau tidak itu yang ada dibenaknya.
Sheena mengeluarkan ponselnya ia akan menelepon Rianti untuk sekedar menanyakan kabarnya. Entah mengapa akhir akhir ini Bianca sangat susah di hubungi jadi sheena hanya bisa menelepon Rianti.
Sheena : hallo Ri, apakabar lo?
Rianti : gue baik, lo gimana Sheen?
Sheena : baik juga. Bianca kemana sii susah banget di hubungin sekarang?
Rianti : dia lagi sibuk kali Sheen.
Sheena : iya kali ya. Dia kan wanita karir. Haha
Rianti : Sheen, kemaren Al nemuin gue, dia terus aja nanyain lo, lo pulang napa, gak kasian tuh anak orang lo kerjain bertahun tahun.
“Al, masih nyariin aku?” gumamnya dalam hati.
Rianti : sheen, hellloooo, masih di sanakan?
Sheena : eheheh, iyaa iyaa
Sheena : iya gue bakalan pulang kok. Tapi gak sekarang juga. Nanti kalau gue udah siap.
Rianti : ah ntar ntar mulu mah kapan siapnya. Gak kangen apa lo sama gue.
Sheena : kangen banget lah. Gue kangen lo sama Bianca juga.
Rianti : Sheen udah dulu ya, gue mau tutup salon dulu nih.
Sheena : oke oke , see ya.
Perkataan Rianti yang tadi membuatnya terus berpikir dan bertanya tanya. Apa benar Al masih mencintainya setelah ia pergi tanpa pamit dan kabar selama dua tahun ini. Dan keman Bianca yang susah di hubungi itu seolah menghilang. Rianti yang ditanyai pun seperti menghindar dan mengalihkan pembicaraan saat ia menanyakan Bianca.
Sheena merebahkan tubuhnya di tempat tidur mencoba memejamkan matanya dan terlelap.
Paginya Sheena ikut mengantar Bi Imah ke pasar membeli sayuran dan beberapa keperluan rumah.
Sheena “bi beli es kelapa dulu yuk, Sheena haus”
Bi Imah “ya sudah, non. Tunggu aja di tukang es kelapa ya, nanti bibik nyusul, ada bahan makanan yang belum dibeli”
Sheena “iya bik, biar ini Sheena yang bawa”
Sheena berjalan menuju tukang jualan es kelapa muda sedang Bi Imah pergi ke jongko bahan bahan masakan.
__ADS_1
Sheena “mang dua di sini dan sepuluh dibungkus ya”
Tukang es itu mengangguk dan langsung membuatkan pesenan Sheena. tak lama Bi Imah datang dan es nya pun disodorkan di depan Sheena dan Bi Imah.
Bi Imah “seger ya,”
Sheena “iya bik, udah selesai bik belanjanya?”
Bi Imah “sudah non”
Sheena “ayok pulang. Kasihan anak anak sepertinya mereka sudah nungguin aku”
Sheena membayar es nya dan mengambil bungkusan es yang dibungkus untuk dibagikan ke anak anak asuhnya.
Benar saja anak asuhnya sudah menunggu di paviliun biasa tempat mereka belajar.
Sheena “anak anak ini ada es kelapa, bagi bagi yah, jangan berebut semua kebagian kok”
Anak anak itu tampak senang diberi es oleh Sheena.
Tama “makasih kak”
Tama adalah anak yang paling tua diantara anak anak itu. Karena faktor ekonomi ia tidak disekolahkan oleh orang tuanya. Sehari hari ia bekerja membantu orang tuanya di ladang. Begitu pun dengan beberapa anak yang lain juga bernasib sama seperti Tama.
Kemudian mereka mulai belajar, Sheena menuliskan angka angka dan huruf di papan tulis. Lalu mereka menulisnya di buku masing masing.
Sheena “sekarang kakak mau tanya tentang pelajaran yang sudah kakak ajarkan. Kalian siap? Yang tahu jawabannya angkat tangan”
Mereka terlihat bingung, ada juga yang terlihat antusias dan penasaran apa yang akan ditanyakan kakak gurunya itu.
Sheena “apa nama ibukota negara kita”
Mereka berebut ingin menjawab pertanyaanya.
Sheena “Ria”
Ria “jakarta”
Sheena “betul sekali anak pintar”
Sheena “pertanyaan kedua, apa nama ibukota negara thailand?”
Dani “Bangkok”
Sheena “yap betul anak pintar.”
Sheena sangat menyayangi anak anak itu begitupun sebaliknya, mereka sangat sayang pada kakak guru mereka.
# jangan lupa like n comment nya ya.... terimakasih 🖤🖤🖤 #
__ADS_1