
Habislah sudah tenaganya untuk berontak, kini Sheena hanya bisa pasrah ada yang segera menolongnya. Selain mulutnya di sumpal, matanya di tutup, kaki dan tangannya pun di ikat sungguh sangat sulit sekali baginya untuk kabur saat itu.
Seeorang memebawanya ke suatu tempat mendudukannya di sebuah kursi. Namun setelah mendudukannya di kursi ikatan kakinya dilepaskan, sumpalan mulutnya juga.
Sheena “siapa kau, apa mau mu, hah?” teriaknya.
Seseorang membuka ikatan tangannya. Sheena sangat hafal sekali bau parfum orang yang membuka ikatannya. Kemudian ia membuka penutup mata, perlahan Sheena membuka matanya melihat orang yang berada dihadapannya ternyata adalah Al.
Al “mau ku adalah kamu” ucapnya lembut setengah berbisik.
Lampu menyala Sheena sekarang tengah berada di paviliun yang sudah di sulap menjadi sangat indah sangat menakjubkan, lampu kelap kelip menyala bergantian. Dan ternyata ada banyak orang di sana, Rianti yang tadi memanggilnya tersenyum manis ke arahnya, Ayah, Bunda Lien dan anak asuhnya pun berada di sana.
Sheena “ini gak lucu Al, ini keterlaluan” seraya menangis memeluk Al “aku takut banget. Aku pikir aku beneran di culik” katanya lagi sambil menangis.
Al “jangan nangis,” sembari mengusap pipi Sheena menghapus air matanya.
Sheena “kau jahat” memukul dada Al pelan dengan kedua tangannya.
Setelah Sheena sudah mulai sadar dengan dirinya dan menguasai dirinya, Al membungkukan badannya dihadapan Sheena dan mengenggam tangannya.
Al “setelah sekian banyak yang sudah kita lewati, aku sudah tidak sanggup lagi berjauhan dengan mu, berpisah dengan mu, menjalani hari tanpa mu. Aku tidak mau kehilangan mu lagi. Malam ini di depan ayah, bunda, dan semua orang yang ada di sini. Aku mau kamu jadi milik ku seutuhnya. Mau kah kamu menjadi teman hidup ku, menua bersama ku, menjalani hari hari mu bersama ku. Mau kah kamu menjadi istri ku, Sheena” mengacungkan sebuah kotak yang berisikan cincin permata yang sangat indah nan berkilauan.
“terima…. Terimaa… terima… “ suara serempak semua orang yang ada di sana.
Sheena “iya” jawabnya pelan tapi masih bisa terdengar oleh Al.
Al “yesss” menggerakan tangannya pertanda usahanya berhasil.
Al berdiri ingin memeluk Sheena tapi Bunda Lien menariknya dari belakang yang Kemudian Bunda Lien memeluk Sheena. Ayah memeluk Al yang tampak bahagia, semuanya yang berada di sana juga terlihat bahagia lalu memberikan selamat pada Al dan Sheena. Al mempersilahkan semua orang untuk menikmati makanan yang sudah dipersiapkan. Sheena masih tak percaya dengan apa yang terjadi padanya malam ini.
Namun di sisi lain ada yang tidak senang melihat kebahagiaan semua orang di paviliun itu.
“nikmatilah akhir dari kebahagiaan mu” tersenyum sinis lalu pergi.
Rianti yang melihat seseorang itu berjalan mendekatinya, tapi belum ia sampai ke tempat orang itu Deon memanggilnya.
Deon “nona, mau kemana? Ayo sini temani aku makan.”
Rianti “Kan banyak orang di sini ngapain juga minta ditemenin aku?”
Deon “maunya sama kamu” menarik tangan Rianti menuju meja makan yang sepertinya sudah ia persiapkan khusus untuknya dan Rianti.
Rianti “kenapa kita memisahkan diri?” heran.
__ADS_1
Deon “gapapa aku ingin berdua saja di sini”
Rianti bergumam dalam hatinya “ah, pasti dia mau nembak gue sekarang. Gue harus gimana? Gue pura pura jual mahal aja ato gimana yah”
Deon “ayok makan, ato mau aku suapin?”
Rianti “aku bisa makan sendiri”
Rianti melahap habis makanannya dengan cepat, Deon juga sudah selesai dengan makannya.
Rianti dalam hati “pasti habis ini dia bilang cinta. Cepetan dong. Gue udah siap denger lo bilang kalo lo cinta sama gue” bibirnya tersenyum, matanya menatap Deon yang juga menatapnya.
Deon mencium punggung tangannya, mengelus pipinya. Rianti tersenyum merekah, membalas mengelus pipi Deon, dalam lamunannya. Seketika lamunannya buyar.
Deon “nona, nona kau baik baik saja” memastikan keadaan gadis yang ada di depannya.
Rianti tersadar dari lamunannya, tangannya masih memegang sendok dan garpunya. Deon memperhatikan raut wajahnya yang berubah seketika.
Hari semakin larut semua orang satu persatu berpamitan untuk pulang. Ayah kembali ke kamarnya, Bunda Lien juga diantarkan Ke kamar tamu oleh Bi Imah. Tinggalah dua pasang muda mudi yang masih menikmati keindahan malam yang beratbur bintang.
Al dan Sheena masih di paviliun, sedangkan RIanti dan Deon duduk di kursi taman.
Al memeluk Sheena dari belakang.
Sheena “makasih juga pangeran ku”
Al “seneng gak?”
Sheena “seneng banget. Tapi….”
Al “tapi apa?”
Sheena “tapi kamu jahat banget. Aku ketakutan setengah mati tadi” kesal.
Al “maaf”
Sheena “jangan ulangi lagi”
Al “iya, iya sayang”
Al membalikan tubuh Sheena dan mendaratkan ciumannya di bibir Sheena.
DI KURSI TAMAN
__ADS_1
Suasana hening, Rianti masih menunggu Deon menyatakan cintanya, sedangkan Deon sibuk dengan pikirannya sendiri.
Deon dalam hatinya “aku suka sama kamu, aish terlalu biasa. Mau gak jadi pacar aku? Ah biasa juga. Aarrghhh mau ngomong aja susahnya minta ampun.
“aku” Rianti dan Deon berbarengan.
Deon “ladies first”
Rianti “kamu duluan”
Deon “kamu aja”
Rianti “aku ngantuk, aku mau kembali ke kamar”
Deon “biar aku antar sampai depan kamar”
Rianti “tadi kamu mau bilang apa?”
Deon “euh. Aku juga sudah lelah mau istirahat”
Rianti mengangguk anggukan kepalanya berdiri lalu berjalan, Deon mengikutinya di belakang.
Rianti sangat kesal ternyata Deon tidak menyatakan perasaannya. Sampai depan kamar ia langsung masuk ke kamarnya tidak mempedulikan Deon yang mengikutinya.
Sheena masuk ke kamarnya, dilihatnya Rianti sudah pulas dalam tidurnya. Sheena mencuci muka lalu menyusul Rianti yang sudah lebih dulu terlelap.
Esok paginya Bunda Lien berpamitan untuk pulang, Ayah juga sudah bersiap karena banyak urusan yang belum ia selesaikan. Kedua orang tua itu pergi dari rumah meninggalkan rumah.
Tak lama ada beberapa orang yang datang ke rumah. Sheena sempat heran sebelum mereka diperkenalkan oleh Deon. Mereka adalah orang orang yang sudah di pilih Al dan Deon untuk mengajar anak anak di sana dan ada beberapa juga untuk membangun sekolahan dan klinik untuk warga sekitar.
Hari itu juga mereka mulai bekerja membangun sekolah di tempat yang tidak jauh dari rumah Sheena dibantu oleh warga sekitar yang sangat antusias akan dibangunkan tempat kesehatan dan pendidikan untuk anak anak mereka.
Sheena “makasih , Al”
Al “apapun itu akan aku lakukan untuk mu”
Sheena tersenyum penuh kebahagiaan, beruntung ia bersama Al yang sangat peduli dan menyayanginya.
Deon sibuk dengan urusannya, Rianti tambah kesal dibuatnya yang tidak kunjung menyatakan cintanya.
Rianti “apa harus gue yang bilang cinta duluan?”
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
#terimakasih sudah mengikuti cerita ku sampai part ini... jangan lupa like, comment , vote nya ya,,,,,, 🖤🖤🖤#