
Sheena berjalan mengikuti cahaya putih yang menuntunnya di ujung jalan ayah dan ibunya sedang menantinya.
Sheena "ayah, ibu, Sheena kangen kalian, biarkan Sheena ikut bersama kalian"
Ayah dan ibunya hanya memajang senyum di wajah mereka. Lalu mereka berbalik ke arah cahaya putih dan terus berjalan ke arahnya.
Sheena "ayah, ibu, jangan tinggalkan Sheena" teriaknya.
Sheena berjalan mendekat, namun ketika ia semakin dekat dengan ayah ibunya seseorang menarik lengannya dan memeluknya. Membawanya ke dalam pekukan hangat yang membuat Sheena merasa damai dan menikmati pelukan itu.
Sangat lama Sheena berada dalam pelukan seseorang yang ia sendiri belum melihat wajah siapa yang memeluknya.
Sheena "pelukan yang hangat dan nyaman" bergumam sembari terus menikmatinya.
--------------
Ketika terlepas dari ikatan tangan dan kakinya Kevin melompat mendekap Sheena ke dalam pelukannya.
Kevin "bertahanlah!!" lirihnya.
David yang tak ingin Kevin terbebas begitu saja memberikan kode dengan lirikan matanya pada Benny dan dua orang suruhannya.
Mereka sangat tahu sekali apa yang dimaksud bosnya. Benny menarik dan menyergap Kevin, sedangkan dua orang lainnya mendudukan Kevin dan mengikatnya kembali.
Kevin terus meronta berusaha untuk melepaskan diri namun sekarang ikatannya begitu kuat hingga akhirnya ia lemas kehabisan tenaga.
David "Benny, bereskan dia" perintahnya menyuruh Benny untuk mengurus Sheena kemudian David pergi.
Benny memasangkan lagi alat bantu pernapasan Sheena dan membenarkan lagi selang infus di lengan Sheena yg sedikit mengeluarkan darah. Kemudian membenarkan posisi Sheena berbaring lalu ia pun pergi.
Di tempat lain Revan sedang melacak keberadaan Kevin di laptopnya yang mengarah ke gudang tua.
Mobil Kevin dilengkapi kamera pengawas di bagian depan dan alat pelacak untuk berjaga-jaga. Revan berencana untuk menyusul Kevin.
Sebelumnya Kevin berpesan untuk pada Revan untuk menyusulnya jika ia tak kunjung kembali.
Putri "aku ikut," rengeknya.
Revan "Mi, ini berbahaya di sini saja ya tunggu sama yang lainnya," bujuknya.
Karina "kalian siapa maksud mu? aku akan ikut menyelamatkan mereka."
Al, Deon, dan juga Rianti yang sama sedang berada di sana pun akan ikut bersama Revan.
Deon "yang, kamu di sini aja ya, aku tidak mau kamu kenapa-napa,"
Rianti "nggak, Sheena sahabat ku, pokoknya aku mau ikut ke sana," ucapnya sungguh-sungguh.
Deon "iya, iya, nona kau boleh ikut" mengalah
Putri "tuh Rianti juga ikut sahabatnya, apalagi aku assistennya Sheena, aku juga harus ikut" rengeknya lagi pada suaminya.
Revan "iya deh, tapi Mimi nanti harus tetap bersama Pipi ya," dijawab anggukan oleh istrinya.
__ADS_1
Al "kalian ini malah drama, istri ku dan kakak mu sedang dalam bahaya jangan banyak drama ayo cepat kita pergi sekarang," tegasnya.
Karina "iya nih dasar pasangan lebay," tambahnya menimpali.
Al "Begini saja, sebagian menyusul kesana dan sebagian lagi melapor polisi," usulnya.
Revan "ya, aku duluan menyusul kesana,"
Deon "bos, bagaimana kalau bos yang melapor ke polisi dan aku yang pergi menyusul lebih dulu, aku sudah menghubungi supir untuk mengantar mu,"
Al sadar dengan keadaannya yang tidak bisa berbuat banyak, akhirnya ia mengangguk tanda setuju.
Deon "Yang, kau bersama bos ya ke kantor polisi, nanti kita bertemu di lokasi saja,"
Sesaat Rianti berpikir lalu ia pun menyetujui usul kekasihnya.
Rianti "okey, kamu hati-hati Yang," Deon menjawabnya dengan anggukan.
Setelah selesai berunding mereka segera beranjak untuk pergi namun Putri menahannya lagi.
Putri "eehhh tunggu dulu,"
Karina "apalagi?"
Putri "kita berdoa dulu sebelum pergi, kita minta sama tuhan supaya di beri kemudahan buat selamatin Sheena dan Bang Kevin nanti, Pi, pimpin doanya!"
Revan "sebelum kita memulai misi kita menyelamatkan Kevin dan Sheena mari kita berdoa menurut kepercayaan masing-masing, semoga kita di beri kemudahan dan keselamatan selama kita berusaha untuk menyelamatkan mereka di sana, berdo mulai"
Semuanya menunduk dan berdoa dalam hati masing-masing dan tak berapa lama selesai dengan doanya.
Misi penyelamatan Kevin dan Sheena di mulai. Revan, Putri, Deon dan Karina pergi ke gudang tua sedangkan Al dan Rianti ke kantor polisi.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh tim Revan sampai di gudang tua sesuai data pelacak di mobil Kevin. Mobil Kevin terparkir di bagian samping gudang.
Mereka dengan hati-hati berjalan memasuki area gudang tua. Dari luar terlihat sangat sepi dan tidak tampak tanda-tanda keberadaan yang mereka cari.
Deon "bagaimana kalau kita berpencar, Karina masuk dari pintu sebelah kiri, aku dari pintu sebelah kanan, Revan dan Putri dari pintu utama," ucapnya setengah berbisik.
Semuanya mengangguk tanda setuju.
Revan "kita kumpul lagi di sini kalau tidak mendapatkan apa-apa dari dalam,"
Deon "jangan lupa selalu berhati-hati,"
Mereka menjawab dengan anggukan lalu berpencar sesuai instruksi.
Deon menyisir setiap lorong antara tumpukan barang-barang yang menjulang tinggi hampir menyentuh atap gudang itu. Dengan hati-hati ia terus berjalan dari lorong ke lorong tapi tidak menemukan apapun.
Di ujung lorong terakhir Deon menemukan anak tangga menuju lantai dua gudang. Ia menaikinya perlahan namun pasti, tidak ada suara apapun selain suara langkahnya yang ia buat pelan menemaninya.
Deon masuk ke sebuah ruangan, di sana ia menemukan beberapa puntung rokok yang sepertinya masih baru dan beberapa gelas kopi yang masih tersisa. Ada beberapa kemungkinan bisa saja mereka masih berada di sana atau mereka baru saja pergi karena tidak ada tanda-tanda ada orang di sana.
Revan dan Putri yang masuk dari pintu utama gudang masih terus mencari dan menyisir area depan pintu utama. Di sana Revan tidak menemukan apa-apa. Selain begitu banyak berkas-berkas gudang yang sudah usang dan terbengkalai.
__ADS_1
Dirasa tidak menemukan apapun Revan dan Putri memutuskan untuk beralih ke lantai dua dengan karena ada tangga yang mengarah ke lantai dua.
Di lantai dua mereka bertemu dengan Deon yang sudah berada di sana dan menemukan sebuah petunjuk.
Deon mengajak Revan dan Putri kesebuah ruangan dimana ada petunjuk untuk mereka. Di ruangan itu terdapat ranjang dan juga ada perban dan tali berserakan. Kursi yang sudah terkoyak dan hancur.
Yang paling membuat mereka terkejut adalah Deon menemukan jam tangan Kevin yang tertinggal di sana. Itu berarti Kevin memang pernah berada di ruangan itu.
Revan "ini jam tangan Bang Kevin, berarti benar dia pernah berada di sini, tapi kemana dia sekarang?" ucapnya semakin penasaran dimana abangnya berada.
Deon "kita cari ke tempat lain lagi, siapa tahu kita dapat menemukan mereka,"
Putri berjalan keluar ruangan untuk mencari petunjuk lainnya tanpa Revan sadari istrinya sudah tidak berada di sampingnya.
Baru saja keluar dan berjalan tidak jauh dari ruangan dimana ada Revan dan Deon, dari belakang ada yang membekap mulutny dengan obat bius. Putri meronta tapi tidak lama ia tak sadarkan diri.
Revan yang menyadari istrinya sudah tidak disampinya mencari keluar ruangan itu namun tidak menemukannya.
Revan "kemana istri ku?"
Deon "bukannya tadi bersama mu?"
Revan "ahhh s***t aku tak sadar dia keluar tadi,"
Revan "Mi, kau dimana?" panggilnya namun tidak ada sahutan.
Deon "dimana dia? seharusnya dia tidak berada jauh dari sini" ucapnya.
Revan "apa mungkin dia kembali ke bawah ya, biar aku cari kau terus lanjutkan mencari di sini"
Deon "ok, hati-hati"
Revan "ok"
Setelah mereka berpisah satu persatu dari mereka di bekap memakai obat bius dan membuat mereka tidak sadarkan diri.
Di sisi sebelah kiri Karina terus mencari dari setiap lorong antara rak-rak gudang yang terbengkalai. Banyak sarang laba-laba dan debu yang membuat ia sesekali bersin-bersin.
"hatciiimmm,,,,, hatchiiimmm,,,"
Benny mendengar suara Karina dengan sigap mengawasinya dari belakang dan akan membiusnya juga.
Namun saat berada dekat di belakangnya Karina berbalik dan membulatkan matanya terkejut.
Benny juga sama terkejutnya melihat Karina.
"Karin?"
"Beben, sedang apa kau disini?"
š·š·š·š·š·š·š·š·
jangan lupa like comment n vote nya
__ADS_1
terimakasih š¤š¤š¤