
Layar laptop di meja sedang menyala, terpampang tiga orang pemuda sedang memeriksa semua ruangan di sebuah rumah. Tergelak seseorang yang memandang layar laptopnya tertawa.
“hahahaha, DASAR BODOH”
Bianca sedang memeriksa cctv di rumah yang pertama kali ia menyekap Sheena. Seringaian kejam menghiasi raut wajahnya, sesekali ia mencibir ketiga laki-laki yang ada dalam layar laptopnya.
Bianca “sudah aku duga mereka akan mencari mu kesana, untungnya aku sudah antisipasi membawa mu kesini” ucapnya.
Mengumpulkan tenaganya kembali Sheena perlahan melepaskan ikatan tangannya, perlahan namun pasti ikatan itu sedikit demi sedikit kian melonggar. Berpura-pura untuk terlihat lemas dan tak berdaya ia tunjukan kala Bianca melihatnya.
Kembali Bianca mencengkram dagunya dengan kasar.
Bianca “tuan putri, pangeran mu tidak akan semudah itu menemukan mu, haha” di iringi tertawa jahat.
Diam, ya ia lebih baik diam menanggapi perkataan Bianca yang semakin membuatnya muak dan kasihan melihat sahabatnya yang kini sudah berubah. Sheena mencoba menggapai pisau yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya. Sedikit lagi saja pisau itu hampir ia jangkau, namun Bianca dengan sigap mengambil pisaunya dan menyadari bahwa ikatan Shena sudah terlepas.
Bianca “lo pikir, lo bisa ngelawan gue hah.” ancamnya seraya menodongkan pisau ke arah Sheena.
Sheena “coba aja lo bunuh gue kalo berani. Kevin akan semakin benci sama lo. Hahahaha” balik mengancam.
Bianca “gue gak takut” melesatkan pisaunya.
Saat menghindari serangan Bianca lengan kanannya tak dapat terhindari terkena sabetan pisau yang cukup dalam darah keluar tak tertahankan.
“aaaaaaarrrgggghhhh” erangnya kesakitan darah segar keluar dari luka sabetan itu.
Membuat ketiga lelaki yang tengah berada di sana mendengar erangannya. Dengan gerak cepat mereka mendekati sumber suara yang terdengar dari belakang rumah. Di belakang rumah terdapat sebuah pondok yang dikelilingi tumbuhan merambat tepat dibelakangnya ada sungai yang sedang mengalir deras. Tak banyak berpikir ketiganya langsung menuju pondok sumber suara yang mereka dengar.
Tidak seperti yang sudah mereka lakukan sebelumnya masuk dengan mendobrak pintu, kali ini mereka masuk dengan pelan-pelan tanpa mengeluarkan suara dan lebih hati-hati.
Pintu terbuka benar saja Sheena sedang terluka berada dalam sanderaan Bianca dengan pisau di leher Sheena. Bianca sudah tahu ketiga lelaki itu masuk ke dalam pondok di layar cctvnya.
__ADS_1
Bianca “jangan mendekat atau dia akan mati”
Sheena “Al” lirihnya lemas dengan darah yang masih keluar dari lengannya.
Kevin “BI, aku mohon hentikan semua ini. Aku minta maaf sudah menyakiti mu. Lepaskan dia, kita mulai dari awal, aku akan mencoba untuk menerima mu”
Bianca “kau memohon hanya untuk keselamatannya, kau sungguh sangat keterlaluan. Aku menunggu mu bertahun tahun kau akan membalas cinta ku. Tapi tidak, kau tidak pernah mengerti perasaan ku” teriaknya menangis.
Polisi datang “jangan bergerak, anda sudah kami kepung”
Deon dan Rianti datang di belakang polisi yang sudah menodongkan pistolnya ke arah Bianca.
Rianti “Bi, jangan lakukan ini, gue sayang sama lo, lo ga sendiri masih ada gue. Tolong lepasin Sheena demi persahabatan kita, Bi. Gue mohon” ucapnya sembari menangis.
Bianca “ngga Ri,” bentaknya.
Ucapan Rianti membuatnya teringat masa masa indah persahabatan mereka dari mulai mereka mulai kenal sampai beranjak dewasa. Tapi hanya karena cinta semua persahabatan yang sudah lama terjalin itu rusak.
Entah apa yang ada di pikirannya Bianca mendorong Sheena ke depannya dan melompat ke sungai lalu hanyut bersama air sungai yang deras. Semua orang terkejut melihatnya, Kevin berlari mendekat ke sungai tapi Bianca sudah tak bisa di raih.
Dengan sigap Al menangkap Sheena ke dalam pelukannya, membalut luka di lengannya dengan sapu tangan yang ada di saku celananya. Polisi menyusuri sungai mencari Bianca, sedang Sheena segera di bawa ke rumah sakit karena luka yang sangat serius pada lengannya.
Merasa bersalah dan menyesal itu yang saat ini Kevin rasakan, dan harus melihat Sheena berada dipelukan lelaki lain membuatnya sangat sakit di hatinya. Memang sampai sekarang ia belum bisa mengubur perasaanya, walau ia tau perasaanya kini tak berbalas.
-----------------
DI RUMAH SAKIT
Sheena terbaring dengan selang oksigen di hidung dan jarum infus menancap di lengan kirinya, lengan kanannya sudah dijahit beberapa jahitan dan dibalut perban. Keadaannya saat ini tengah kritis karena kehabisan banyak darah akibat luka sayatan pisau pada lengan kanannya.
Kevin “jaga dia, buat dia bahagia. Kalau kau menyakitinya, aku akan merebutnya kembali” ucapnya pada Al yang tengah sama-sama memandangi Sheena dari luar.
__ADS_1
Al “aku berjanji akan menjaganya dan membahagiakannya” ucap Al dengan sungguh-sungguh.
Kevin beranjak pergi ke kantor polisi untuk memberikan keterangan perihal kejadian hari itu bersama Revan yang sudah menunggunya di mobil.
Kevin "semua ini salah ku, wanita yang mencintai ku pergi begitu juga dengan wanita yang aku cintai sudah bahagia dengan orang yang dicintainya" ucapnya seraya menitikkan air mata.
Revan "jangan terus menyalahkan diri sendiri. ini sudah takdir yang harus kau jalani. ikhlaskan dan berusahalah membuka hati. jangan sampai ada korban ke egoisan mu lagi" ucapnya sembari menepuk pundak abangnya.
--------------
Polisi masih menyisir sungai untuk mencari Bianca, sepertinya ia telah hanyut jauh dari tempatnya melompat. Berhari-hari Bianca belum juga di temukan, sampai di hari ketiga jasadnya baru ditemukan oleh warga sekitar sungai.
Keluarganya sangat terpukul dengan kepergian anaknya, mereka menyesal karna tidak pernah perhatian terhadap anaknya. Kevin berada dalam acara pemakan Bianca, saat itu ia menenangkan David yang sdih karena kepergian adiknya.
Kesedihan juga dirasakan Rianti, ia kehilangan satu sahabatnya yang sudah lama bersama. Ia tidak menyangka kalau Bianca yang selalu ceria dan terbuka padanya menyembunyikan sesuatu darinya. Rianti baru mengetahui bahwa Bianca menyukai Kevin sejak lama.
Deon “jangan terus berlarut, Bianca sudah memilih jalannya. Kamu harus ikhlas dan doakan dia” ucapnya menenangkan kekasihnya.
Rianti “aku merasa sudah gagal menjadi temannya, aku tidak tahu kalau dia juga menyukai Kevin”
Deon “tidak ada yang harus di sesali, semua orang mempunyai pilhan dan takdirnya sendiri.” Mendekap Rianti dalam pelukannya yang masih berlinangan air mata.
Rianti “tenanglah disana, Bi. Aku akan selalu mendoakan mu dari sini” gumamnya dalam hati.
-----------------------------
Suara alat pendeteksi jantung terdengar di sebuah ruangan.
Tuuuuuuuuuuuuuuuttttttttt........
Dokter dan suster segera masuk memeriksa ke dalam ruangan pasien. Al berlari sangat panik masuk ke ruangan itu.
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
#jangan lupa like, comment, n vote yah... oh ya follow aku ya,,, caranya klik di photo ku lalu klik follow,,, terimakasih semua,,, semoga para readers selalu tersenyum bahagia ☺️🤗🖤🖤🖤#