
Rianti dan Deon sampai di rumah Sheena, tapi hanya ada Bi Imah di sana.
Bi Imah “silahkan masuk, non, den”
Rianti “iya bik, Sheena nya kemana bik?”
Bi Imah “ tadi keluar sama Den Al, non”
Rianti masuk Deon ikut serta di belakangnya. Bi Imah membawakan air dan beberapa kue dan meletakannya di meja.
Bi Imah “silahkan diminum”
Rianti “makasih bik”
Deon sibuk dengan ponselnya. Mencoba menghubungi Al tapi tidak ada jawaban. Setelah menghabiskan minumnya Rianti ke dapur mencari Bi Imah.
Rianti “bik, kamarnya Sheena dimana ya?”
Bi Imah “mari saya antar non”
Rianti mengangguk.
Deon “aku akan menunggu di luar”
Rianti “ya” jawabnya pendek.
Rianti diantar Bi Imah berjalan ke lantai dua menuju kamar Sheena. karena merasa lelah dari perjalanan jauh, ia merebahkan dirinya di tempat tidur menggunakan selimut kerena udaranya terasa dingin. Cukup lama ia tertidur, sampai terdengar suara teriakan dari yang empunya kamar. Sontak saja ia terkejut mendengar suara teriakan itu dan terperanjat.
Sheena “elo, Ri. Gue kira siapa, bikin gue takut aja lo” kesal.
Rianti “lhaa.. elo yang bikin kaget gue. Aaahhhhhh gue kangen sama lo”
Mereka berpelukan senang bisa bertemu setelah sekian lama.
Al dan Deon datang ke kamar karena mendengar suara teriakan Sheena .
Al “ada apa”
Sheena “nih, ada mak lampir di kasur”
Rianti “mak lampir tapi dipeluk”
Sheena “sama siapa lo kesini? Bianca mana?”
Riantin “saamaa heheeeh” sudut matanya melihat ke sebelahnya ada Deon disana.
Sheena “hmmmm” mengangguk tanda mengerti.
Al “karena tidak ada papa kita keluar ya nona nona” ucap Al dan menarik Deon keluar kamar.
Mereka berjalan keluar sampai di sebuah kursi taman, Al duduk seraya menatap assitennya itu.
Al “jangan bilang kau beneran menyukai gadis itu?” bertanya penuh penasaran.
Deon “tadinya aku mau menjalankan rencana kita bos. Tapi aku jadi suka beneran. Lagian kan bos udah bertemu Sheena juga”
Al “huh. Kau, mengambil kesempatan dalam kesempitan”
Deon terkekeh.
__ADS_1
Al “jaga dia, jangan sampai buat dia kecewa seperti yang sudah sudah”
Deon “siap bos”
DI KAMAR
Rianti “lo sakit apa, Sheen? Gue lihat lo sehat sehat aja”
Sheena “jadi lo nyesel datang kesini lihat gue sehat?”
Rianti “nyesel darimana. Gue seneng banget bisa kesini” senyam simpul menghiasi wajahnya.
Sheena “cielah…. Lo seneng karena bisa deket deket sama Deon kan”
Rianti “ah lo kaya gak pernah jatuh cinta aja”
Sheena “jatuh cinta berdebar rasanya” menirukan sebuah lagu.
Rianti “lo kenpa? Ko bisa pa dokter lo itu sampe nyusulin lo ke sini? Dan ini apa,? Gue nemuin itu dibawah kasur?”
Rianti menunjukan secarik kertas yang di temukan Sheena sewaktu sebelum Sheena sakit. Sheena mengambilnya dari tangan Rianti.
Sheena “Ri, jangan beritahukan ini pada siapapun” ucapnya sembari ketakutan menyelimuti wajahnya.
Rianti “kenapa Sheen? Cerita sama gue?”
Melihat Sheena ketakutan Rianti memeluknya.
Sheena “gue takut Ri, beberapa hari ini kayak ada yang merhatiin gue dari jauh, kayak ada yang ngikutin gue”
Rianti “siapa yang ngikutin lo?”
Rianti “ini gak bisa dibiarin Sheen. Lo harus ngomong sama Al ato ayah”
Sheena “gue gak mau buat mereka khawatir sama gue”
Rianti “tapi lo sampe ketakutan kayak gini. Ini bukan masalah sepele.”
Sheena “nggak Ri, selama dia ngga berbuat sesuatu sama gue, jangan bilang siapa siapa. Lagian sekarang ada Al yang selalu ada jagain gue, ada lo juga di sini”
Rianti “tapi lo harus cerita sama gue kalo ada papa ya”
Sheena “iya, Ri”
Sheena menyembunyikan kertas itu ke dalam laci lemarinya.
Sheena “Ri, Bianca kemana? Kok gue ngerasa dia ngehindar gitu dari gue. Setiap gue telepon gak pernah di angkat, sms juga gak di bales. Dia kemana sis?”
Rianti menunjukan sikap tidak nyaman dengan pertanyaan Sheena barusan.
Sheena “heyy. Kalo ditanya tuh jawab”
Rianti “dia baik baik aja Sheen. Walaupun kadang dia nggak baik”
Sheena “maksudnya? Dia sakit?”
Rianti “nggak.”
Sheena “terus kenapa”
__ADS_1
Rianti “maa maa maksud gue kadang dia nggak baik masalah kerjaanya dikantornya” gugup
Sheena “masalah kerjaankan biasa kenapa mesti gugup gitu jawabnya”
Rianti “gimana gak gugup nanya nya kayak wartawan kek gitu terus terusan tanpa titik dan koma” menyangkal.
Sheena “isssh.., lebay banget si lo”
Rianti “lo gak nawarin gue makan gitu, gue laper ini,, udah perjalanan jauh”
Sheena “lo bisa laper juga ternyata”
Rianti”gue juga kan manusia”
Sheena “ya udah ayok kita ke bawah. Gue juga laper”
------------------
Kevin menghisap rokok yang ada diantara kedua jarinya, wajahnya tampak seperti kacau, rambutnya kusut bulu bulu halus menghiasi wajah tampannya.
Mama Dhalia menghampirinya.
Mama Dahlia “vin, kemana istri mu?” menanyakan menantunya yang tida berada di rumah.
Kevin “dia sedang pergi”
Mama Dahlia “pergi kemana? Kenapa kau tak mengantarnya?”
Kevin “Kevin gak tahu mah, dia gak bilang”
Mama Dahlia “lho. Kok gitu? Kamu kan suaminya harusnya tahu kemana istri mu pergi”
Kevin tak menjawab pertanyaan mama nya, ia mematikan rokoknya lalu masuk ke dalam di ikuti mama nya.
Mama Dahlia “ini sudah lama. Tak bisa kah kau melupakan perempuan itu? Dia sudah menghancurkan hidup mu. Sekarang terimalah istri mu, istri mu adalah masa depan mu, nak”
Kevin “gak usah bahas itu di depan Kevin, ma. Kevin tahu apa yang harus Kevin lakukan.”
Kevin pergi meninggalkan mama nya yang masih terkejut dengan jawabannya. Kevin tidak pernah sekasar itu pada mama nya.
Mama Dahlia “awas kau Sheena. kau sudah menghancurkan hidup putra ku. Tak ku ijinkan kau hidup bahagia di dunia ini” ucapnya penuh kemarahan.
Kevin mengendarai mobilnya melaju menuju sebuah klub, untuk menghilangkan penatnya.
Ia memesan minuman, seorang gadis berpakaian sexy mendekatinya. Kevin merangkulnya dan mencium pipinya juga memesankan minuman untuknya.
Kevin bersenang senang dengan gadis itu, minum minum dan menari ke lantai dansa. Ya, itulah kehidupan Kevin sekarang, ia melarikan diri dari kesedihan dan kekecewaannya dengan dunia malam.
Kevin minum sampai ia mabuk berat, kevin sudah tidak bisa berdiri dan terus saja meracakan nama Sheena.
Kevin “Sheena sheenaa dimana kau. Aku merindukan mu” racauannya
Gadis yang bersamanya menghubungi Revan untuk menjemput Kevin. Karena Revan sudah membayarnya untuk menemani Kevin dan menghubunginya kalau Kevin sampai mabuk berat. Karena Kevin sering mabuk berat sampai tak sadarkan diri di klub itu.
Revan datang, langsung membawa Kevin ke dalam mobilnya. Sepanjang jalan Kevin terus saja meracau. Sampai di rumahnya Revan membawa Kevin ke kamarnya. Revan merasa terpukul melihat abangnya begitu terpuruk seperti itu.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
#jangan lupa like n comment yaa... terimakasihh... 🖤🖤🖤#
__ADS_1