
Al “kau bahagia disini?”
Sheena “hmm. Mereka yang membuat ku senang berada di sini”
Anak anak asuhnya itu bermain dengan riang di depan paviliun, berlarian, tertawa, begitu bahagia tanpa beban.
Sheena “aku ingin membangunkan sekolah untuk mereka”
Al “aku akan selalu mendukung mu, sayang. Palagi untuk tujuan yang mulia seperti itu”
Sheena “terimakasih”
Salah seorang anak terjatuh dan berdarah di lututnya, Al mengobati lukanya dengan merah kemudian menempelkan plester di lutut anak itu. Karena hari sudah sore mereka pamit untuk pulang ke rumahnya masing masing.
Lagi lagi Sheena melihat ada yang sedang memperhatikannya dari kejauhan. Ia mencoba memastikan penglihatannya tapi orang itu sudah tak terlihat lagi.
Sheena “Al, kamu lihat ada orang di sana?”
Sheena menunjuk ke sebuah tempat.
Al “tidak. Ada siapa disana?” balik tanya.
Sheena “ah tidak, mungkin aku salah lihat”
Al “ ayo kita masuk ke dalam, udaranya semakin dingin”
Al dan Sheena berjalan masuk ke dalam rumah. Setidaknya Sheena merasa aman ada Al bersamanya sekarang.
---------------------
Rianti duduk di sebuah kursi di salonnya, termenung memikirkan dua sahabatnya. Ia sangat merindukan keduanya, sudah sangat lama sekali mereka tidak kumpul bersama.
Rianti “Sheena , Bianca, kenapa kalian begitu egois. Aku kangen kalian” air matanya perlahan menetes membasahi pipinya.
Seorang pria menyeka air matanya dengan tisu yag ada di sebelahnya.
Rianti “Deon, kapan datang?”
Deon “dari sebelum ada yang nangis disini. Kenapa?”
Rianti “gapapa”
Deon “ya udah kalo gak mau cerita. Tapi temenin aku makan siang”
Rianti “aku sudah makan”
Deon menarik tangan Rianti masuk ke mobilnya dan lansung melajukan mobilnya menuju sebuah tempat makan. Di perjalanan perut Rianti mengeluarkan suaranya pertanda ingin segera diberi makan.
Rianti dalam hatinya “aduh ni perut gak bisa di ajak kerja sama”
Deon hanya tersenyum melihat tingkah gadis yang ada di sampingnya.
Mereka memesan pesanannya pada pelayan.
Deon “Sheena sepertinya sedang tidak baik”
Rianti “tahu dari mana lo?”
Rianti merasa heran karena selama ini tidak ada yang tahu dimana keberadaan Sheena selain dirinya dan Bianca.
__ADS_1
Deon “kemarin Pak Darwin dan Bos Al pergi karena Sheena sakit”
Rianti dalam hati “mungkin karena itu Sheena ngga ada kabar beberapa hari ini”
Rianti “Al dan ayah menyusulnya kesana? Apa dia sakitnya parah sampai Al dan ayah kesana?”
Deon “aku tidak tahu pasti. Tapi Pak Darwin terlihat panic saat itu.”
Rianti “gue mau kesana. Anterin gue kesana.
Plisss. Gue mau tau keadaan Sheena sekarang”
Rianti merajuk memegangi tangan Deon yang membuat Deon merasa tidak karuan.
Deon “akan aku usahakan.” Melihat Rianti yang begitu mengkhawatirkan sahabatnya.
Rianti “terimakasih, lo baik banget”
Pesanan mereka datang, pelayan menyajikannya di meja. Rianti melahap makanannya penuh semangat tadi pagi ia belum sempat sarapan karena harus mengantar mamanya ke bank.
Deon “hey, pelan pelan, aku tidak akan meminta makanan mu, atau ada yang mengambil makanan mu”
Tapi Rianti tidak bergeming ia menghabiskan makanannya dalam sekeja.
Rianti “heee. Abis gue laper banget”
Deon “mau pesan lagi?”
Rianti “ngga ah udah kenyang, tar gue gendut kebanyakan makan”
Deon geleng geleng kepala mendengarnya, sembari menghabiskan makannya.
Deon “aku masih ada kerjaan yang harus sgera dibereskan. Mungkin besok bisa”
Rianti “besok, hmmmm okay”
Saat menoleh ke sampingnya ia melihat Deon sedang memandanginya. Membuatnya jadi salah tingkah tentu saja pipinya merah dibuatnya.
Rianti “bisa gak lihat aku nya jangan kaya gitu”
Deon tersenyum
Deon “aku? Gak biasanya” heran.
Rianti “kalo udah makannya ayo kita pulang. Masih banyak yang harus aku kerjain di salon”
Deon “iya nona cantik.” Sambil mengerlingkan matanya.
Rianti “ish genit amat” memalingkan mukanya.
Karena drama penculikan waktu itu mereka jadi sering bertemu. Rianti sadari ia menyukai assisten Al itu. Tapi mereka masih belum menjalin hubungan yang lebih serius. Rianti masih menunggu Deon mengucapkannya lebih dulu padanya.
Di depan salon Rianti membuka pintu mobil untuk keluar tapi Deon menahannya. Deon mendekatkan wajahnya, Rianti memejamkan matanya. Deon menyibakan rambut poni yang menghalangi kening Rianti.
Deon “udah sembuh ternyata.”
Rianti membuka mata dan menghela nafas.
Rianti “aku masuk dulu”
__ADS_1
Deon “tunggu tunggu”
Rianti “ada apa” suaranya sedikit kesal.
Deon “ada yang beda dengan cara bicara mu nona”
Rianti “ah so’ tahu. Aku masuk ya, hati hati, bye”
Rianti masuk ke salonnya. Perasaan bahagia dan bersemangat ia rasakan setelah bertemu Deon. Walau ia masih bimbang tentang perasaan Deon kepadanya karena hingga kini pria itu belum mengajaknya untuk menjalin hubungan yang serius atau pacaran.
---------------------
Sheena dan Al sedang berjalan di area pesawahan yang luas membentang. Udara pagi masih sejuk, air embun yang masih membasahi rumput. Menemani mereka yang sedang menikmati pemandangan alam di sana.
Para petani yang mulai berdatangan menggarap lahan mereka. Anak anak yang berlarian bermain di tengah tengah rumput yang hijau. Membuat suasananya semakin menarik di mata keduanya. Masyarakat pribumi yang sangat ramah tak satu pun yang tidak menyapa keduanya itu.
Seseorang berlari menghampiri Al dan Sheena.
Sheena “ ada apa pak Aswan” penasaran.
Aswan “tolong non, anak saya sakit, dari tadi muntah muntah terus”
Sheena “Al, ayo kita cek anaknya Pak Aswan”
Al mengangguk. Mereka bergegas menuju rumah Pak Aswan untuk memeriksa anaknya.
Al memeriksanya dengan seksama.
Al “sepertinya anak bapak keracunan makanan, ia harus segera dibawa ke rumah sakit sekarang juga”
Pak Aswan dan istrinya tertunduk lesu, untuk sehari hari saja ia hanya mengandalkan hasil taninya yang tidak seberapa. Bagaimana ia harus membawa anaknya ke rumah sakit dan biayanya pasti mahal.
Sheena “pak, masalah biaya tidak perlu khawatir, kami akan membantu sepenuhnya biaya rumah sakit untuk anak bapak. Yang penting anak bapak sekarang harus segera di bawa ke rumah sakit, takut terjadi apa apa kalau tidak segera ditangani.” Sheena mengerti apa yang ada di pikiran Pak Aswan dan istrinya saat ini.
Pak Aswan “terimakasih non, terimaksih”
Sheena “iya sama sama pak, ayo kita bawa ke rumah sakit sekarang,”
Mereka bergegas pergi ke rumah sakit.
Di rumah sakit Sheena dan Al mengurus administrasi untuk perawatan anaknya Pak Aswan sampai anaknya Pak Aswan masuk ke ruangan perawatan. Lalu mereka pamit untuk pulang.
Tak henti hentnya Pak Aswan dan istrnya mengucapkan terimakasihnya pada Sheena dan Al yang telah membantunya.
Pak Aswan “terimakasih banyak non, den, sudah membantu saya. Entah harus bagaimana saya harus membalas budi baik Non Sheena dan Den Al” ucapnya
Al “tidak perlu begitu pak, kami ikhlas membantu bapak, sebagai sesama manusia kita harus saling membantu.” Jawab Al dengan ramah.
Sheena “ iya pak, selagi kami bisa bantu, kami akan membantu yang membutuhkan.”
Al “kalau begitu kami pamit pak, semoga anak bapak lekas sembuh.”
-----------------
Setibanya di rumah ia langsung menuju kamarnya. Namun saat dikamar ia melihat sesuatu di tempat tidurnya seperti seseorang di balik selimutnya. Seketika Sheena berteriak ketakutan.
"aaaaaaaaaarrrrrrrrggghhhhh"
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
#jangan lupa like, comment, n vote ya... terimakasih semua 🖤🖤🖤#