
Air mata sudah tak bisa dibendung lagi, dunia seakan menghantamnya dengan sangat keras. Kehilangan orang yang paling berarti dalam hidup memang sangat menyakitkan hati, terlebih Sheena sudah di tinggal ibunya lebih dulu dan sekarang ayahnya juga pergi meninggalkannya untuk selamanya. Derai air mata terus membasahi pipinya, kini ia sudah tak punya lagi orang tua di sisinya.
Susana berkabung menyelimuti kediaman Sheena, sanak keluarga dan para kolega ayah berdatangan mengucapkan belasungkawa. Upacara pemakaman akan segera dilakukan, Sheena masih belum bisa untuk menguasai dirinya. Baginya ini hal yang paling menyedihkan untuknya, Al berada disampingnya terus menemaninya. Begitu pula dengan Rianti sejak mendapat kabar bahwa ayah Sheena meninggal ia segera bergegas ke rumah Sheena.
Ayah dimakamkan tepat disebelah makam ibu, Sheena menatap lekat kedua makam orang tuanya.
Sheena “Ayah, ibu, kenapa begitu cepat kalian meninggalkan Sheena sendiri. Sheena ingin ikut kalian” dengan berlinangan air mata berada di tengah-tengah makam ayah ibunya.
“Sheena gak sanggup harus hidup tanpa ayah dan ibu, bawa Sheena bersama kalian” ucapnya lagi terisak.
Al “sudahlah sayang, kamu harus ikhlas. Ayah dan ibu sudah bahagia di sana. Pasti mereka juga menginginkan kamu bahagia. Masih ada aku disini yang akan menjaga mu” sembari merangkulnya.
Rianti “Sheen, lo harus ikhlas, jangan kayak gini. Mereka pasti sedih liat lo terus meratapi kepergian mereka. Dan mereka pasti senang dan bahagia lihat lo juga bahagia, ikhlas dan doakan mereka” ucapnya.
Bunda Lien memeluk Sheena “sayang, bunda sudah menganggap Sheena anak bunda sendiri. Jadi jangan sedih karena Sheena masih punya bunda. Anggap bunda sebagai orang tua mu mulai dari sekarang. Kamu tidak sendiri sayang”
__ADS_1
Al “ayah, ibu, Al berjanji akan menjaga Sheena. tenanglah disana kami akan terus mendoakan ayah dan ibu” janjinya di depan makam orang tua Sheena.
Setelah beberapa lama mereka memutuskan untuk beranjak pulang. Para kerabat masih berdatangan untuk melayat, dan menemui Sheena sampai malam. Rianti bertahan di rumah Sheena untuk menemaninya, begitupun dengan Al dan Bunda Lien.
Karena lelah dan belum tidur sama sekali dari kemarin Sheena terlelap di sofa ruang tengah, Al memangkunya ke kamar di ikuti Rianti.
Rianti “biar aku yang menemaninya” yang dijawab anggukan oleh Al.
Mendengar kabar bahwa ayah Sheena meninggal, Kevin ingin sekali melayat ke rumah Sheena tapi niatnya itu ia urungkan karena ia sudah berjanji tidak akan mengganggu Sheena dan mencoba mengikhlaskannya.
------------------------
Sudah genap satu minggu dari meninggalnya ayah, Sheena masih meratappi kepergian ayahnya. Namun ia mencoba untuk tidak terus bersedih karena melihat orang – orang disekitarnya merasa khawatir dengannya.
Assisten ayah menyerahkan dokumen – dokumen perusahaan yang harus ditangani oleh Sheena. Karena sekarang Sheena menjadi pengganti ayahnya memimpin perusahaan.
__ADS_1
Pagi itu Sheena memimpin rapat di kantor untuk pertama kalinya. Para karyawan tercengang mengetahui Sheena adalah anak dari Pak Darwin pemilik perusahaan. Sebelumnya mereka mengetahui Sheena adalah karyawan biasa di deprtemen keuangan.
Putri yang dulu sempat menjadi partner kerja Sheena sangat terkejut tidak percaya mengetahui Sheena adalah anak dari pemilik perusahaan itu.
Sheena tersenyum pada Putri saat mereka berpapasan “hai, apakabar, Put?”
Putri “ba ba baik, buk” jawabnya terbata.
Sheena “enggak usah canggung gitu, biasa aja kali, Put”
Putri mengangguk.
Sheena “yuk makan siang” ajaknya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
jangan lupa like n commentnya readers... terimakasih.... 🖤🖤🖤🖤