MEMILIKI MU

MEMILIKI MU
Part 73


__ADS_3

Pekerjaannya sungguh sangat melelahkan di tambah lagi beberapa proyek baru yang sedang di garap Sheena.


Pulang kantor Sheena mampir ke sebuah swalayan untuk membeli beberapa kebutuhannya.


Di sana Sheena bertemu dengan Mama Dahlia, yang memandang sinis padanya. Mama Dahlia masih membencinya, bahkan setelah tahu Kevin tidak menikah dengan Karina ia tambah membenci Sheena.


Dengan tatapan sinis itu Sheena tidak ambil pusing, ia terus saja melanjutkan belanjanya.


Mama Dahlia "Mbak tolong tunggu sebentar, tadi dompet saya ada di tas saya tapi kenapa sekarang tidak ada? Tolong jangan bungkus saja dulu belanjaan saya nanti saya bayar," pintanya memohon pada petugas kasir.


Ternyata Mama Dahlia baru saja menyadari bahwa dirinya telah di copet.


Sheena "Berapa semuanya, Mbak?"


Kasir "Limaratus empatpuluh ribu, Kak,"


Sheena "Ini biar saya yang bayar," menyodorkan kartu debetnya pada kasir.


Mama Dahlia "Tidak usah. Saya tidak sudi di tolong sama kamu. Lagian saya mampu bayar kok," cegahnya dengan sombong.


Sheena "Iya, Sheena tahu mama mampu bayar semua ini. Tapi mama baru saja kecopetan,"


Mama Dahlia "Ck, mama? Kamu nggak pantas panggil saya mama. Saya akan telepon anak saya. Jangan terima uang dari dia mbak," Lalu memcari ponselnya namun tetap tidak ia temukan.


Sheena "Mbak, totalkan saja sekalian sama belanjaan saya," pintanya pada petugas kasir.


Kasir "Baik, bu,"


Mama Dahlia tidak bisa berkutik lagi, ia hanya bisa pasrah menerima bantuan Sheena, walaupun masih saja ia bersikap sinis pada Sheena.


Mama Dahlia "Saya akan bayar semuanya, tenang saja. Saya tidak mau punya hutang budi sama kamu," dengan nada sinis lalu pergi setelah mengambil barang belanjaannya.


Sheena tersenyum dan menggelengkan kepalanya lalu berjalan menuju mobil yang di parkirnya di depan swalayan.


Kevin yang saat itu akan menjemput mamanya, melihat Sheena berjalan menuju mobilnya. Ingin menemuinya namun ditahan mamanya.


Tapi yang lebih membuat Kevin mengurungkan niatnya adalah saat melihat Sheena berhadapan dengan seorang pria.


Sudah setahun berlalu semenjak kepulangannya dari rumah sakit, akhirnya kini Sheena bertemu dengan Al.


Apa yang dirasakan Sheena?


Semua perasaannya campur aduk, senang, sedih, kecewa, dan juga penasaran apa alasan Al sampai menceraikannya dan tidak mau bertemu sama sekali dengannya.


Dan sekarang seseorang yang pernah menjadi bagian hidupnya itu sedang berada dihadapannya.


Al sudah tidak memakai kursi rodanya lagi, selama satu tahun menjalani therapy akhirnya ia bisa berjalan lagi dengan menggunakan kedua kakinya.


Al "Biar aku bantu," seraya membawakan belanjaan Sheena.


Sheena masih terpaku menatap mantan suaminya itu.


Al membuka pintu mobil Sheena dan memasukan semua belanjaan Sheena ke dalamnya. Sedangkan Sheena masih terdiam dan tidak berkata apa-apa melihat apa yang dilakukan mantan suaminya itu.


Al "Aku antar kamu pulang," lalu masuk ke belakang kemudi.


Tanpa penolakan Sheena langsung masuk ke dalam mobilnya.


Al "Apakabar?" tanyanya saat Sheena sudah nyaman dengan duduknya dan mobil sudah melaju meninggalkan swalayan.


Sheena "Baik," jawabnya singkat.

__ADS_1


Al "Kau tidak menanyakan kabar ku?"


Sheena "Aku sudah melihatnya, kamu baik-baik saja,"


Al "Kamu merindukan ku?"


Sheena "hmm?"


Al "Merindukan ku?" mengulang pertanyaannya.


Sheena "Haruskah?"


Al "Tidak harus. Apa kamu marah sama aku?"


Sheena "Menurut mu?"


Al "Sheen, maafkan aku yang tiba-tiba meninggalkan mu," ucapnya tulus.


Sheena "Apa aku harus memafkan mu?"


Al "Aku sangat memohon kamu mau memaafkan aku,"


Sheena "Sebelum aku memaafkan mu, aku mau menanyakan sesuatu sama kamu,"


Al "Apa itu?"


Sheena "Apa aku tidak pantas menjadi istri mu, sampai kamu tidak memberiku kesempatan untuk berbakti dan mengurus mu sebagai suami ku? Bukan kah suami istri itu akan selalu bersama dalam suka dan duka? Lalu selama ini aku kamu anggap apa selama aku menjadi istri mu?"


Al mebantingkan stirnya ke pinggir jalan dan menginjak remnya.


Sheena masih menatap Al penuh rasa kecewa dan marah. Namun semua yang mengganjal dihatinya merasa terhempaskan, setelah keluarnya semua pertanyaan yang selama ini terpendam.


Al "Sheen, maafkan aku yang bodoh ini. Waktu itu aku merasa bersalah sekaligus terpukul. Aku pikir aku tidak bisa lagi menjaga mu. Ku mohon maafkan aku."


Al "Maafkan aku Sheena. Maafkan aku sayang," seraya berusaha memeluk Sheena yang terus berontak.


Sheena "Jangan panggil aku sayang. Karena pada kenyataannya kamu tidak menyayangi ku. Kamu egois, Al. Aku benci sama kamu. Keluar. Biarkan aku sendiri. KELUAR...."


Sheena menangis,p marah dan berteriak sekaligus mendorong Al keluar dari mobilnya.


Al "Aku mohon maafkan aku, Sheen. Aku menemui mu untuk meminta maaf dengan tulus hati. Maafkan aku, Sheen,"


Sheena "KELUARRRR"


Terpaksa Al keluar dari mobil Sheena.


Sheena pindah ke kursi kemudinya lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan Al yang masih mematung di sana.


Di tempat lain Kevin terus memikirkan Sheena. Apa yang di lihatnya tadi membuatnya tidak bisa membuatnya tenang.


Semua kemungkinan ada dalam benaknya saat ini. Membuatnya frustasi.


Mama Dahlia "Kevin, nanti kamu ganti tadi belanjaan mama yang di bayarin wanita itu. Mama nggak mau punya hutang budi atau hutang apapun sama wanita itu."


Kevin "Dia punya nama, Ma," belanya.


Mama Dahlia "Ya terserahlah siapa namanya. Mama udah nggak mau dengar namanya lagi di telinga mama,"


Kevin "Ma,"


Mama Dahlia "Kamu juga nggak usah deket-deket sama dia lagi. Mama nggak mau," tegasnya.

__ADS_1


Kevin "Terserah mama," lalu pergi meninggalkan mamanya.


Perasaan Kevin tidak tenang, terus saja Sheena dalam pikirannya. Ia mendatangi kantor Sheena tapi karena libur kantornya di tutup.


Kemudian Kevin mendatangi rumah Sheena tapi Sheena juga tidak ada di rumahnya dan belum dari tadi sore.


Kevin semakin dibuat cemas. Namun ia pun berpikir kalau Sheena sedang bersama Al.


Walaupun selama ini ia terus saja berada bersama Sheena tapi Kevin belum tahu perasaan Sheena yang sesungguhnya. Dan Kevin pun tidak mau memaksakan Sheena untuk mau menerimanya lagi.


Akhirnya Kevin memutuskan untuk menemui Rianti, berharap Sheena berada di sana.


Rianti "Ada apa datang pake muka kusut begitu?"


Kevin "Bukannya yang datang kesini semuanya pada kusut ya?"


Rianti "Bisa aja ngelesnya ini orang,"


Kevin "Sheena nggak kesini?"


Rianti "Nggak ada, kenapa?"


Kevin "Nanya aja,"


Rianti "Masih belom jadian juga, Pak? Kasian banget si nasib lo, haha,"


Kevin "Uuhh ngeledek aja bisanya,"


Rianti "Wah panjang umur nih sobat gue. Baru aja ditanyain langsung muncul,"


Rianti melihat mobil Sheena berhenti di depan salonnya. Kevin memberikan kode pada Rianti lalu bersembunyi di ruangan Rianti yang ada di dalam.


Sheena masuk ke dalam salon Rianti kemudian langsung memeluknya sambil menangis.


Rianti "Lo kenapa?"


Sheena "Al, Ri"


Rianti "Al? Lo ketemu Al?"


Sheena mengangguk sambil terus memeluk Rianti dan masih menangis dalam pelukan sahabatnya.


Kevin melihat Sheena yang menangis ingin sekali memeluknya dalam dekapannya. Hatinya terasa sakit melihat wanita yang dicintainya menangis sedih.


Rianti menyuruh pegawainya menutup salonnya dan mengajak Sheena masuk ke ruangannya. Kevin yang masih di sana langsung sembunyi di belakang sofa


Rianti "Lo duduk di sini dulu ya, gue ambil minum dulu," lalu pergi mengambilkan minuman.


Kevin yang sudah tidak bisa menahan dirinya menghampiri Sheena dan langsung mendekapnya ke dalam pelukannya.


Kevin "Aku sudah bilang jangan pernah menangis sendiri lagi," mendekap Sheena.


Sheena yang terkejut ada Kevin di sana dan memeluknya, berusaha melepaskan pelukan Kevin namun akhirnya pasrah.


Kevin "Menangislah, tapi setelah ini kamu harus tersenyum,"


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Hay semua,,,


Selamat bermalam minggu,,,,,

__ADS_1


Jangan lupa like comment n vote nya ya.....


makasih šŸ–¤šŸ–¤šŸ–¤


__ADS_2