
Seperti biasa Sheena sedang mengajari anak asuhnya di paviliun depan rumahnya. Anak anak itu sangat serius belajar materi yang diajarkan Sheena. Mereka asik dengan alat tulis mereka. Sesekali Sheena berkeliling melihat tugas yang mereka kerjakan.
Angin berhembus sangat kencang siang itu, awan mendung menyelimuti langit yang mulai menitikan air. Rintik air pun bertambah deras, tapi mereka masih bertahan dan fokus belajar. Satu persatu mereka mengumpulkan tugas yang diberikan kakak gurunya.
Sheena memeriksa dengan seksama buku buku yang sudah ada dimejanya. Dari kejauhan ada seseorang yang memperhatikannya.
Selesai memeriksa ia membagikan kembali buku buku itu. Hujan tampak belum reda terpaksa anak anak itu menunggu, ada yang bermain bersama temannya yang lain, ada yang membaca buku yang ada disana untuk mengusir kejenuhan.
Dering ponsel Sheena berbunyi ada panggilan masuk dari ayahnya.
Sheena : halo yah..
Ayah : nak, ayah tidak jadi pulang hari ini, mungkin dua atau tiga hari lagi baru pulang. Masih belum selesai urusan di sini.
Sheena : iya yah gapapa. Ayah baik baik di sana ya. Jangan telat makan.
Ayah : iya nak.
Sheena menutup teleponnya dan meletakannya lagi ke dalam tasnya. Dari jauh Sheena melihat ada yang sedang memperhatikannya. Karena hujan tak jelas siapa yang sedang berada di sana. Sheena mencoba berjalan ke depan tapi kemudian orang itu pergi.
Ria “kak, ayo main bersama” ajak Ria.
Sheena “ayok, mau bermain apa?”
Ria “kita main congklak aja kak”
Sheena “ayo siapa yang aka mulai duluan?”
Ria “aku duluuu”
Sheena asik bermain bersama anak asuhnya itu sampai akhirnya hujan pun reda. Satu persatu anak anak itu pun pulang ke rumahnya masing masing.
--------------------------
Al baru saja selesai memeriksa salah satu pasiennya. Ia kembali ke ruangannya. Ketika masuk ruangannya sudah ada Bunda Lien duduk di sana.
Al “bunda, kenapa tidak bilang kalau mau datang biar Al jemput ke bandara”
Bunda Lien “apa harus minta ijin dulu kalo bunda mau ketemu anak bunda?”
Al “ya nggak dong bunda”
Bunda Lien “bagaimana rumah sakit ini dan perusahaan farmasi mu?”
Al “semuanya berjalan lancar bund. Apalagi ada Deon yang membantu Al”
Bunda Lien “lalu bagaimana dengan Marsha?”
Al “masih belum bertemu dengannya, tapi kemarin Al ketemu Ayah Darwin katanya Marsha baik baik saja”
Bunda Lien “sepertinya bunda harus bertemu Darwin”
__ADS_1
Al “tidak perlu bund, Al ngerti kok kalo Marsha butuh waktu untuk ketemu sama Al lagi. Al tidak mau memaksa Marsha” jelasnya.
Bunda Lien “bunda mau mengajukan kerja sama bukan mau bahas kalian”
Al “oh gitu, kirain”
Bunda Lien “Mel, tolong hubungi Darwin dan jadwalkan pertemuan dengannya.” Perintah Bunda Lien pada assistennya Meli.
Meli “baik bu”
Al “mau kerja sama apa bund? Serius amat kayaknya.”
Bunda Lien “itu urusan bunda”
Al “kasi tahu dong bunda” Al merajuk pada Bunda nya.
Bunda Lien “kamu ini umur udah berapa tetep aja suka merajuk seperti itu”
Al “aku kan masih pangeran kecilnya bunda” sambil memeluk bundanya.
Bunda Lien “sudah sudah merajuknya, sekarang cepat bawakan tuan putri mu ke hadapan bunda, kalau tidak bunda tidak akan mengampuni mu”
Al “ini juga kan lagi usaha Bund”
Bunda Lien “jangan lama lama nanti keburu ditikung orang”
Al “siap laksanakan komandan” menirukan suara pasukan tentara.
Bunda tertawa melihat tingkah anaknya itu.
Bunda Lien “oke Mel. Atur semuanya” perintahnya.
Meli mengangguk kemudian melanjutkan tugasnya.
Bunda Lien bertemu dengan Ayah Darwin di sebuah restoran. Mereka begitu serius membicarakan sesuatu yang entah apa itu. Sesudah semuanya beres Bunda Lien berjabat tangan dengan Ayah Darwin dan keduanya meninggalkan Restoran itu.
-----------------------
Akhir akhir ini Sheena merasakan ada yang selalu mengawasinya dan mengikutinya. Sheena pulang dari kantor pemerintah setempat untuk meminta ijin pembangunan sekolah di dekat rumahnya. Karena jaraknya cukup jauh ia harus menaiki angkutan umum dan harus menaiki andong untuk sampai ke rumahnya.
Entah kenapa hari ini perasaanya sangat tidak tenang. Ia merasa waswas karena sejak tadi seperti ada yang mengikutinya. Tapi setiap ia melihat kebelakang atau ke arah yang sedang memperhatikannya selalu saja tidak ada apa apa.
Dengan perasaan waswas dan ketakutan ia berjalan cepat masuk ke rumahnya. Bi Imah yang melihatnya bertanya tanya kenapa dengan majikannya. Karena ia merasa khawatir Bi Imah membawakan minum ke kamar Sheena.
Bi Imah “non ini minum dulu”
Sheena “makasi bik”
Bi Imah “non, ada apa kok kayak yang ketakutan gitu?”
Sheena “tidak ada apa apa bik, tadi cuman ketemu orang gila di jalan” memberi alasan supaya Bi Imah tidak khawatir.
__ADS_1
Bi Imah “ketemu orang gila dimana. Padahal tadi minta bibi anterin”
Sheena “tadi dijalan bik, sudah tidak apa apa kok bik, tadi Sheena shock aja”
Bi Imah “bener udah gapapa non?”
Sheena “iya bik”
Bi Imah “ya sudah bibik kembali ke belakang ya. Kalo ada apa apa panggil bibi aja ya non.”
Sheena “iya bik, makasii ya bik”
Bi Imah “iya non” kemudian ia berlalu meninggalkan Sheena di kamarnya.
“ya tuhan, lindungilah aku dari niat jahat orang lain, aku sangat takut” gumamnya dalam hati.
“ayah cepatlah pulang” gumamnya lagi.
Sheena tersadar karena dering ponselnya berbunyi ada panggilan masuk dari nomor yang tidak di kenal. Sheena merasa ragu ragu untuk mengangkatnya tapi ia memberanikan diri untuk menerima telepon itu.
“Halo sayang ini bunda” suara itu tidak asing di telinga Sheena itu suara Bunda Lien.
Sheena : bundaaaa
Bunda Lien : iya sayang. Bagaimana kabar mu?
Sheena : baik bunda. Gimana dengan bunda ?
Bunda Lien : bunda juga baik, sudah lama bunda tidak bertemu dengan mu. Kapan mau menemui bunda mu ini hah? Apa kamu nggak kangen sama bunda?
Sheena : kangen banget bunda. Aku kangen masak bareng bunda.
Bunda Lien : bunda juga kangen banget sama kamu. Kapan mau ngunjungin bunda?
Sheena : iya bunda nanti kalau urusan Sheena udah beres, pasti langsung nemuin bunda.
Bunda Lien : jangan kelamaan ya sayang bunda udah gak kuat nih nahan kangen sama kamu.
Sheena : hehe. Iya bund.
Bunda Lien : ya sudah bunda tutup dulu ya nanti bunda telepon lagi. Sering sering kirim pesan ke bunda ya.
Sheena : iya bun, daaaahhh.
Sheena menutup teleponnya.
Terdengar bunyi ketukan di kaca jendelanya. Sheena terkejut dan takut karena tak biasa ada yang mengetuk jendelanya apalagi kamarnya ada di lantai dua rumahnya mana mungkin ada yang bisa mengetuknya dari luar.
Dengan sangat hati hati ia melangkah mendekati jendela perlahan namun pasti. Ia buka gorden tak nampak apa apa di sana. Tapi ada yang terselip di celah jendelanya.
Secarik kertas yang entah siapa pengirimnya. Perlahan ia membuka kertas itu dan membaca isinya tapi tidak tertulis siapa yang mengirimnya di sana. Tubuhnya gemetar mengetahui isi dari surat tanpa pengirim itu.
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
#jangan lupa like n comment nya ya... terimakasih semua 🖤🖤🖤#