
Kevin “Sheen, kenapa kamu nggak datang ke undangan pesta ulang tahun perusahaan ku?”
Sheena “hah, eummm itu yah, aku aku ,,,,”
“Kevin” seseorang memanggilnya dan melambaikan tangan ke arahnya dan ternyata Karina.
Kevin melambaikan tangannya lalu Karina menghampiri mejanya.
Kevin “ah, kau disini juga?”
Karina “iya, aku ada janji dengan klien disini” jawabnya.
Kevin “kenalkan ini Sheena dan Rianti”
Sheena dan Rianti berjabatan tangan dengan Karina saling memperkenalkan diri.
“Sheena”
“Rianti”
“Karina”
Tiba-tiba ponsel Sheena berdering ada panggilan masuk ke ponselnya.
Sheena “halo, baik saya kesana sekarang” ucapnya menjawab telepon dengan seseorang.
Sheena “maaf, sepertinya aku harus kembali ke kantor, aku duluan ya,” ucapnya sekalian pamit untuk undur diri.
Rianti “makan siang ku juga udah selesai, aku duluan juga ya” pamitnya juga menyusul Sheena.
Kevin “ah baiklah”
Sedangkan Karina menjawab dengan senyuman pada mereka berdua yang berpamitan.
Karina “kau masih lama?”
Kevin “aku sebentar lagi”
Karina “aku masih menunggu klien, mau temani aku sampai klien ku datang?”
Kevin “iya aku temani”
Karina “terimakasih, apa salah satu dari wanita tadi itu kekasih mu?”
Kevin “hmmm” mengangguk-anggukan kepalanya.
Karina “pantas saja, cara kau memandangnya sangat berbeda, dia sangat cantik, tidak salah kalau kau sangat mencintainya”.
Tidak berselang lama Revan dan Putri datang ke meja Kevin dan Karina.
Putri “lho, Sheena dan Rianti mana?”
Kevin “mereka sudah kembali duluan tadi”
Putri “Oh, aku harus kembali ke kantor, Pi” ucapnya pada Revan.
Revan “yuk, aku anterin sampai kantor kamu, mi” jawabnya kembali mesra setelah pertengkarannya kemmarin.
__ADS_1
Revan “Bang, aku anterin Putri dulu ke kantornya, mau bareng aku atau bareng Karina?”
Kevin “bisa kan sekarang kamu anterin dulu Putri terus jemput aku lagi ke sini”
Revan “oke Boss, Karina kita pergi dulu”
Karina “oke”
Revan dan Putri pergi meninggalkan Karina dan Kevin menuju kantor Putri.
Di perjalanan menuju kantornya Putri teringat kejadian di pesta, yang hampir membahayakan calon kakak iparnya.
Putri “Pi, kayaknya kamu harus hati-hati dengan sekretarisnya abang kamu”
Revan “memang kenapa, mi? Dia sudah di berhentikan tadi pagi”
Putri “syukurlah kalau dia sudah tidak bekerja lagi di kantor mu, dia hampir mmencelakai Bang Kevin”
Revan “kau juga tahu dia mau mencelakai Bang Kevin?”
Putri “iya aku tahu, aku kan ke pesta juga waktu itu, ah sudah sampai, makasih ya udah nganterin aku,, hati-hati ya pi”
Revan “iya, mimi sayang, selamat bekerja, nanti pulangnya aku jemput ya”
Putri “dengan senang hati, dah” keluar dari mobil kemudian berjalan memasuki kantornya.
Sekembalinya dari makan siang Kevin membuka file yang ada di komputer kantornya, tetapi semua data-data perusahaannya menghilang, berulang kali ia mengutak-atik komputernya tetap data-data itu tidak di temukan. Lalu ia mencoba membuka komputer sekretarisnya pun sama tidak di temukan data-data yang ia cari. Kevin teringat dengan Dilla yang ia pecat tadi pagi, ia pun yakin bahwa Dilla yang sudah melakukan semua ini.
Kevin menghubungi Revan, memintanya untuk datang keruangannya. Tak lama Revan pun datang.
Revan “gimana, Bang?”
Revan “semoga semuanya bisa dikembalikan dengan utuh”
Kevin mengangguk.
Seharian ini Kevin dan Revan bekerja keras dengan timnya untuk mengembalikan data-data penting perusahaannya yang sudah di hapus Dilla, dan ternyata bukan hanya di hapus tapi juga Dilla sudah memasukan virus di sana membuat semakin sulit untuk mengembalikan semua data yang sudah terhapus.
Di sebuah kamar Dilla sedang meminum kopinya dengan seringaian jahatnya.
Dilla “kau pasti sedang kesusahan sekarang kehilangan data penting perusahaan, hahaha” ucapnya dengan suara yang kejam.
---------
Putri kecewa Revan tidak jadi menjemputnya, namun ia berusaha mengerti kesibukan kekasihnya itu.
Sheena “kau jadi di jemput Revan?”
Putri “nggak jadi, ada yang harus dia bereskan di kantornya,”
Sheena “kamu pulang bawa mobil aku aja, aku di jemput, biar besok kamu nggak usah naik taxi ke kantor”
Putri “oke deh, makasih”
Sheena “ya sudah aku duluan, Al sudah menunggu ku”
Putri “hati-hati”
__ADS_1
Sheena mengangguk lalu bergegas menemui suaminya yang sudah berada di parkiran.
Sheena “sayang, lama gak nunggunya” setelah masuk ke dalam mobil suaminya.
Al “nggak, nunggu lama juga aku nggak apa-apa kok kalau demi istri ku tercinta ini” mencubit dagu Sheena yang sedang tersenyum ke arahnya.
Sheena “kita ke rumah ku dulu ya, aku kangen sama Bi Ani dan Bi Imah, terus aku juga mau bawa pushi ke rumah kita, boleh kan?”
Al “boleh dong, tuan putri, Cuma pushi, mau bawa seisi rumahnya juga boleh”
Sheena “terimakasih, suami ku” lalu mencium pipi Al.
Al “akan ku balas lebih dari itu ya nanti malam”
Sheena “masih siang mikirnya udah kesana aja deh” sembari melayangkan cubitan ke perut suaminya.
Al “aw aw iya sayang,” ringisnya.
Sheena “sakit? Mau lagi?’
Al “nggak, tapi kan tadi kamu yang mulai cium cium aku”
Sheena “itu kan ungkapan terimakasih aku,”
Al “selain itu aku kan mengartikannya lain, sayang, nanti malam yah aku balasnya” masih menggoda Sheena yang sudah merah merona warna pipinya.
Sheena “sudah lihat ke depan, kamu lagi nyetir, jangan godain aku terus” ucapnya jutek.
Al “istri ku galak juga ya”
Sheena menggigit pipi Al dengan keras secara tiba-tiba membuat Al langsung meringis tapi gemas pada istrinya.
Sheena “nah itu baru tahu kan kalau aku galak”
Al “iya tuan putri” sambil mengelus pipinya yang kena gigitan Sheena tadi.
Setibanya di rumah Sheena mereka di sambut oleh Bi Ani dan Bi Imah yang sudah menunggu kedatangan mereka di depan pintu. Sebelumnya Sheena sudah memberitahukan bahwa ia dan Al akan datang membawa pushi. Semua keperluan Pushi sudah di siapkan oleh Bi Ani.
Sheena pergi ke kamarnya sedangkan Al menerima telepon di ruang tengah.
Semua kenangannya di rumah itu terlintas dalam bayangan Sheena, begitu banyak suka dan ada juga duka yang sudah ia lewati di rumahnya. Sheena memandangi setiap pojok kamarnya, disanalah saksi bisu keluh kesahnya, suka dukanya, dan tempat ia istirahat dari setiap hari-harinya.
Sheena membuka laci yang ada di bawah meja riasnya, di sana ada kotak kecil yang berisi cincin. Cincin yang indah nan cantik yang akan Kevin berikan untuk melamarnya malam itu, namun itu tidak pernah terjadi. Cincin itu masih ia simpan, tadinya Sheena ingin memberikannya pada Bianca tapi ternyata sesuatu terjadi diantara mereka.
Sheena mengamati cincin itu, memperhatikannya dengan seksama masih teringat jelas saat Kevin melemparkannya. Sepertinya ia harus mengembalikan cincin itu pada Kevin.
Suara pintu kamar terbuka, Sheena cepat-cepat memasukan kembali kotak cincinnya ke laci dan menutupnya.
Al “sayang, kau sedang apa?” tanyanya yang melihat Sheena kikuk saat ia memasuki kamar.
Sheena “ah, aku cuma kangen suasana kamar ku saja”
Al memeluk Sheena dan mencium kepalanya, “kita menginap saja malam ini”.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
jangan lupa untuk like comment m vote nya...
__ADS_1
follow author juga ya...
makasih semua 🖤🖤🖤