MEMILIKI MU

MEMILIKI MU
Part 35


__ADS_3

Sheena “ough, kenapa kepala ku teras berat, badan ku sangat lemas, ada apa dengan ku? Dimana aku?” ucapnya dalam hati seraya melayangkan pandangan ke sekelilingnya tempat yang begitu asing.


Tubuhnya masih lemas, Sheena berusaha untuk mengangkat kepalanya mencoba untuk bangkit. Kepalanya begitu berat dan pusing kemudian Sheena tak sadarkan diri lagi.


Dua jam kemudian, Sheena sudah berada di atas tempat tidur di sebuah kamar dengan tangan yang terikat. Ia membuka matanya merasakan ikatan tangannya yang sangat kencang. Di depannya ia melihat Bianca yang sedang duduk memperhatikannya. Bianca menarik rambutnya dan mencengkram dagunya, begitu sangat berbeda sikap Bianca kali ini.


Bianca “lo udah sadar rupanya” seringaian kejam menghiasi wajahnya.


Sheena “kenapa lo lakukan ini sama gue?” tanyanya dengan suara yang masih sangat lemah.


Bianca “lo harus membayar setiap rasa sakit yang gue terima” jawabnya dengan nada jahat sungguh sangat berbeda dengan Bianca yang selama ini Sheena kenal.


Sheena “gue minta maaf, Bi”


Bianca “terlambat. Gue udah lama suka sama Kevin sebelum lo kenal sama dia. Tapi Kevin malah suka sama lo. Gue masih diem waktu lo tunangan sama dia. Tapi lo malah nyakitin dia sia-sia in pengorbanan gue. Dan sampe sekarang dia masih mencintai lo walaupun gue udah jadi istrinya. Sekarang lo harus bayar semua rasa sakit yang gue rasain selama ini” ucapnya sambil berteriak ke arah Sheena.


Sheena “maafin gue, Bi”


Hanya itu yang bisa Sheena lakukan, karena ia sedang tidak berdaya untuk melawan pun tubuhnya masih lemah.


Bianca “sekarang maaf mu tidak berguna” teriaknya.


Seraya menodongkan pisau ke arah Sheena, dan menekannya di leher.


Bianca “sakit? Lo ngerasa sakit. Ini tidak sebanding dengan rasa sakit gue selama bertahun tahun”


Perangai Bianca yang berubah kejam membuatnya sangat takut, tapi tak ada yang bisa ia lakukan selain diam mendengarkan amarahnya.


-------------------


Sudah dua hari Sheena belum juga di temukan, ayah sangat syok kehilangan lagi anak kesayangannya. Kondisi kesehatan ayah terus menurun karena mengerahkan tenaga dan pikirannya untuk mencari Sheena belum lagi urusan pekerjaannya. Ayah terbaring lemah di rumah sakit di temani assistennya dan Bi Ani untuk mengurusnya.


Kecurigaan Rianti pada Revan membuatnya mendatanginya.


Rianti “dimana Sheena?” bentaknya langsung tanpa permisi masuk ke rumah keluarga Revan.


Mama Dahlia “apa-apaan ini masuk tanpa permisi langsung menanyakan wanita itu, tidak sopan”


Rianti “dimana tante. Tunjukan dimana Sheena, kalau tidak aku laporkan kalian ke polisi atas tuduhan penculikan” tegasnya


Revan “hey, slow down. Disini enggak ada Sheena” jawab Revan santai.

__ADS_1


Rianti “jangan bohong. Terakhir kalian sempat bicara waktu di mall”


Mamah Dahlia “untuk apa juga kita nyulik wanita itu, sangat tidak penting” ucapnya sinis.


Revan “sejak kapan dia menghilang?”


Rianti “jangan berlagak tidak tahu. Semenjak kalian bertemu di mall besoknya Sheena langsung menghilang. Siapa lagi yang tahu Sheena dimana pasti kamu Revan”


Revan “aku tidak tahu Sheena dimana. Tapi ada seseorang yang pasti tahu dia dimana” jawabnya.


Mamah Dahlia “sekarang pergi kau gadis tidak sopan. Sheena tidak ada disini. Keluar kau.” Usirnya.


Rianti “tidak aku tidak akan keluar sebelum kau membebaskan Sheena”


Revan “kami tidak menculik teman mu nona atau pun menyanderanya. Kenapa kau menuduh ku?”


Mama Dahlia menarik menarik Rianti keluar rumahnya, jelas saja Rianti berontak karena perlakuan kasar itu.


Rianti “lepaskan, aku bisa jalan sendiri. Kalau kalian benar benar terlinat ku pastikan kalian akan membusuk di penjara” ancamnya.


Mamah Dahlia “silahkan buktikan. Karena memang kami tidak ada urusannya dengan wanita tidak tahu diri itu”


Braaakkk


Rianti “kemana gue harus nyari lo, Sheen” lirihnya sembari mengemudikan setirnya sembari menitikan air matanya.


Bianca pun jadi susah sekali dihubungi, Rianti pikir karena ia sekarang sudah berkeluarga dan sibuk dengan pekerjaanya.


----------------------------


Dering ponsel Kevin berbunyi tanda panggilan masuk dari adiknya.


Kevin “halo, hah? Oke”


Kevin bergegas berjalan keluar dari ruangannya, ketika ia mau memasuki mobilnya ada Al yang menghadangnya.


Al “aku tidak melawan saat kau memukul ku. Tapi jika ada apa apa dengan Sheena, aku tidak akan segan segan untuk membuat tulang tulang mu patah”


Kevin “aku tidak tahu Sheena diman. Kau pacarnya seharusnya kau lebih tahu dia kemana dan bersama siapa”


Al “jangan berlagak tidak tahu. Aku yakin kau yang membawa Sheena”

__ADS_1


Revan datang lalu memisahkan mereka yang sedang adu mulut dan akan segera adu jotos itu.


Revan “sudah kalian jangan bertengkar di sini. Ini tidak akan mnyelesaikan masalah. Dan Sheena akan semakin lama ditemukan. Aku sduah tahu Sheena dimana”


Al “kau yang menculiknya” mencengkram kerah baju Revan dengan kasar.


Revan “bukan aku. Bianca yang sudah menculik Sheena”


“APA” Al dan Kevin berbarengan.


Al “jangan asal bicara kau” bentaknya.


Revan “aku sudah mengawasi gerak geriknya sudah lama, sejak Sheena masih berada di pulau itu. Kau mungkin tidak tahu kalau Bianca sudah lama meneror Sheena.”


Al melepaskan cengkramannya, merasa itu idak masuk akal tetapi dia ingat kalau Sheena sering merasa ketakutan dan merasa di ikuti seseorang.


Revan “sekarang ikuti aku, kita selamatkan Sheena sebelum Bianca bertindak lebih jauh”


Mereka masuk ke dalam mobilnya masing-masing, Revan menarik Kevin untuk satu mobil dengannya. Al mengikuti mobil Revan tepat dibelakangnya.


Nasi sudah menjadi bubur kini Kevin hanya bisa menyesali perbuatannya. Kalau saja ia tidak bersikap buruk pada Bianca mungkin hal ini tidak akan terjadi. Penyesalan pun sudah tidak ada artinya, Sheena berada dalam bahaya karenanya.


Di mobil lain Al merutuki dirinya karena sudah gagal menjaga Sheena. Perasaan cemas dan takut terjadi hal buruk pada Sheena menyelemutinya sepanjang perjalanan.


Mobil Revan berhenti di sebuah rumah mereka bergegas keluar dari mobil. Revan membuka Gerbang rumah itu dengan hati hati ia berjalan menuju pintu depan rumah Al dan Kevin mengikutinya.


Saat berada di depan rumah itu mereka mengatur siasat untuk membagi tugas menyelamatkan Sheena.


Al masuk dari pintu depan, Kevin memeriksa sebelah kiri rumah dan Revan sebelah kanan, anggukan dari mereka pertanda rencana dimulai.


Pintu depan di dobrak dengan keras dengan mudah pintu terbuka sepertinya memang sengaja tidak di kunci. Al memeriksa sekeliling, ia menemukan jam tangan Sheena yang terakhir di pakai saat di apartementnya.


Revan masuk dari pintu samping kemudian langsung memeriksa keadaaan disana. Begitu juga dengan Kevin yang masuk dari jendela yang memang sudah terbuka.


Setelah memeriksa keadaan mereka bertemu di ruang tengah rumah itu. Satu pun belum menemukan keberadaan Sheena. Tinggal ada satu kamar yang berada di belakang belum mereka periksa.


Braaakkkkkk……


Kevin mendobrak pintu kamar itu.


# jangan lupa like n comment nya yaa... terimaksih semuaa 🖤🖤🖤 #

__ADS_1


__ADS_2