
Beberapa hari sebelum Sheena sadarkan diri.
Al di temani Deon akan menjenguk Sheena di rumah sakit. Deon mendorong kursi roda bosnya terus sampai depan kamar Sheena. Di depan pintu Al menyuruhnya berhenti. Dari luar terdengar seseorang sedang berbicara.
"Temukan dia hidup atau mati, dan pastikan dia tidak akan menyakiti Sheena lagi !" ucap seseorang dari dalam. Ya orang itu adalah Kevin.
Setelah penculikan itu David berhasil melarikan diri dan belum juga ditemukan. Kevin menyewa detektif untuk menyelidikinya.
Al masih diam di depan pintu.
Kevin "Aku tidak akan biarkan ada yang menyakiti mu lagi, Sheen. Tapi ku mohon bangun lah. Jangan buat ku tersiksa melihat mu seperti ini. Aku rindu melihat senyum di wajah mu. Bangun Sheen!" ucapnya lagi.
Al memejamkan matanya, menyesali apa yang sudah ia lakukan dulu. Ia sudah memisahkan Sheena dari Kevin yang sangat mencintainya. Dan bukan hanya itu, Al malah tidak bisa melindungi Sheena sebagai suaminya. Al merasa gagal.
Al "Deon, kita pulang," pintanya.
Deon "Tapi bos,"
Al menatap tajam Deon. Deon tak bisa lagi berkata dan membawa bosnya pulang.
Sesampainya di rumah.
Al "Deon, kau urus surat perceraian ku dengan Sheena secepatnya,,!" perintahnya.
Deon "Bos pikirkan lagi dengan matang, dan lagi nyonya masih belum sadar,"
Al "Tidak harus menunggunya sadar, lakukan cepat," suaranya meninggi membuat assistennya tidak bisa membantah lagi.
Al tertunduk lemas di kursi rodanya. Kilatan bayangan sejak peratama ia bertemu Sheena, saat menolongnya dari jurang sampai ia menikah terus tergambar dalam memorinya.
Kenyataan pahit ketika mereka mengalami kecelakaan yang membuat Sheena kecelakaan dan kelumpuhannya. Al semakin frustasi dan menyalahkan dirinya. Ini keputusan terbaik untuk Sheena.
Suara ponsel menyadarkannya dari lamunan masa lalunya.
Al membuka pesan yang tidak ada nama pengirimnya. Pesan itu berupa poto dan video kebersamaan Sheena dan Kevin. Sontak saja membuatnya bergetar sakit terasa dihantam dunia melihatnya. Membuat Al semakin yakin bahwa Kevin lah yang pantas untuk Sheena sekarang.
Siapapun yang mengirimnya poto-poto dan video itu menyadarkannya tentang apa yang sudah Al putuskan adalah benar.
Bunda Lien melihat sikap anaknya yang terus saja murung lalu ia menghampirinya.
Bunda Lien "Kenapa nak? Cerita sama bunda," ucapnya lembut.
Al "Al sudah putuskan untuk menceraikan Sheena, Bund,"
Bunda Lien "Apa? Kamu nggak bercanda kan?" tanyanya terkejut mendengar penuturan anaknya.
Al "Ini sudah keputusan Al, semoga bunda bisa mengerti, Al sudah tidak bisa lagi menjaga dan melindunginya, Bund," ucapnya sedih dan menyesal.
Bunda Lien "Setelah Sheena sadar dia pasti akan menerima keadaan mu Al, Sheena istri yang baik. Dia pasti akan mengurus mu,"
Al "Tidak, keputusan Al sudah bulat. Al tidak mau menyusahkannya, Sheena harus bahagia. Ini kesalahan Al yang sudah egois ingin memilikinya dulu,"
__ADS_1
Al menggerakan kursi rodanya masuk kamar.
Bunda Lien akhirnya membiarkan anaknya untuk menenangkan dirinya.
Sampai hari itu tiba, dimana Sheena sadar dan bangun dari tidur panjangnya. Deon memberitahukan kalau Sheena sudah sadarkan diri. Dengan hati yang sedih dan tidak rela Al meminta assistennya itu mengantarkan surat cerai pada istrinya.
Al "Semoga kamu bahagia sayang, setelah aku melepas mu," gumamnya melihat kepergian Deon sampai tak terlihat lagi dari pandangannya.
--------------------
Sheena menangis sejadi-jadinya membaca apa yang ada di amplop coklat dari suaminya itu.
Rianti "Sheen, sabar ya. Al pasti punya alasan kenapa dia melakukan ini. Lo harus kuat," ucapnya menenangkan dan ikut menangis.
Sheena "Salah gue apa, Ri? Apa gue bukan istri yang baik? Kenapa Ri?" dalam tangisnya dan tak percaya suami yang sangat disayangi dan menyayanginya menceraikan dirinya saat ia baru saja sadar dari koma.
Karena kelelahan menangis Sheena akhirnya terlelap dengan isak tangisnya. Rianti membetulkan selimut dan rambutnya yang menghalangi wajahnya.
Rianti menemaninya sampai Sheena benar-benar tertidur.
Rianti "Kasian banget lo Sheen, baru aja sadar dari koma dapet kejutan surat cerai dari suami lo. Tapi tenang aja ada gue di sini yang akan selalu ada buat lo." ucapnya menatap Sheena yang sudah terlelap.
Kevin datang seperti biasa dengan membawa bunga untuk menggantikan bunga sebelumnya di vas bunga kamar Sheena. Di lihatnya Rianti sedang terlelap juga di sofa.
Rianti merasa tidurnya terusik bangun, melihat Kevin yang sedang mengganti bunga dengan yang baru.
Rianti "Rajin amat pak bawa bunga tiap hari, istrinya kagak marah bawain bunga buat istri orang juga?" godanya.
Kevin melihat ke arahnya.
Kevin "Nggak," jawabnya singkat.
Rianti "Kok aneh ya? Kalian suami istri bukan sih? Karina nggak ada cemburu-cemburynya gitu Kakak ke sini terus?" makin serius.
Kevin "Nanti semuanya juga akan tahu, sekarang belum saatnya," tukasnya.
Rianti "adooohh maennya rahasia-rahasiaan mulu, bikin pusing,"
Rianti meraba pantatnya yang terasa basah, setelah itu ia melihat tangannya merah karena darah haid di hari pertamanya.
Rianti "aduh mamak, tembus nih," lalu berlari ke kamar mandi dan tidak lama ia keluar lagi.
Rianti "Kak kayaknya aku harus pulang, Kakak jaga Sheena malam ini yah! Karina nggak marah kan?" pintanya.
Kevin "Iya, memang aku mau jagain dia. Sudah kamu pulang aja," jawabnya.
Rianti "hehe, oke deh. Makasih Kak," lalu melangkahkan kakinya keluar.
Kevin duduk di tepian ranjang, ia melihat ada yabg berbeda dari raut wajah Sheena. Matanya bengkak seperti dan seperti sedang menangis. Ia meresa heran apa yang Sheena sedihkan, apa Sheena sedang bermimpi?
Kevin "Kalau kamu udah bangun mungkin aku tanya kamu sedih kenapa? semoga kamu diberikan mimpi indah,"
__ADS_1
Menghapus air mata Sheena yang jatuh di pelipisnya dengan lembut dan mengusap kepalanya.
Kevin duduk di kursi menggenggam tangan Sheena lalu menyenderkan kepalanya di sana.
Kevin "Kamu mimpi apa kenapa sampai menangis? Kamu tahu, aku jadi ikut sedih lihat kamu menangis," ucapnya.
Sheena "aku tahu," jawabnya.
Kevin "Saking kangennya aku barusan denger suara kamu, atau aku lagi mimpi ya? suara kamu begitu nyata," katanya lagi.
Sheena "Nggak mimpi,"
Kevin "Sheen aku denger suara kamu lagi dalam mimpi aku. Sheen bangun aku kangen banget sama kamu, hiks,"
Sheena menggerakan tangannya yang di genggam Kevin. Sontak saja Kevin terkejut merasakan tangan Sheena bergerak-gerak dalam genggamannya.
Kevin membalikan pandangan ke arah wajah Sheena ternyata ada yang sedang memperhatikannya.Kevin melepaskan genggaman tangannya.
Kevin "ASTAGA SHEENA, ka kau sudah sadar,?" dengan nafas yang terengah-engah karena terkejut.
Sheena "kalau udah sadar kenapa? kamu mau apa, hah?"
Kevin "biar aku panggilkan dokter dulu," sembari melangkah namun tertahan.
Sheena "Nggak usah, aku udah di periksa dokter seharian ini," cegahnya.
Antara perasaan senang Sheena sudah sadar, dan bingung sekarang ia harus berbuat apa setelah Sheena sadar. Kevin tahu bahwa Sheena bukanlah miliknya, ia istri pria lain yang menjadi suaminya.
Kevin merasa canggung sekarang, Sheena pasti sudah mendengar apa yang tadi ia katakan.
Kevin "Kapan kamu sadar? kenapa nggak bilang sama aku," memberanikan diri membuka obrolan.
Sheena tidak menjawab pertanyaannya.
Kevin "Lalu kenapa kamu menangis?" tanyanya lagi.
Sheena "Pergilah, aku lagi pengen sendiri," menunduk sedih.
Kevin "Tapi, Sheen. Aku ,,,,"
Sheena "Tinggalkan aku sendiri, Vin. Kamu denger nggak sih?" suaranya meninggi.
Kevin "Sheen, aku cuma ,,,,,"
Sheena "AKU BILANG PERGI,"
Kevin "Baiklah,"
Kevin keluar dengan perasaan cemas dan penasaran apa yang terjadi dengan wanita yang masih dicintainya itu.
š·š·š·š·š·š·
__ADS_1
jangan lupa like comment n vote readers...
terimakasih š¤š¤š¤