MEMILIKI MU

MEMILIKI MU
Part 26


__ADS_3

Ayah dan seisi rumah berdatangan ke kamar Sheena mendengar teriakan Sheena.


Ayah “ehemmm” melihat keduanya sedang berpelukan.


Al melepaskan pelukannya setelah sadar banyak orang yang melihatnya.


Ayah “ada apa?” tanya ayah penasaran.


Sheena masih menunjuk ke arah jendela. Al memeriksanya tidak ada apa apa di sana, tapi Sheena terlihat begitu ketakutan.


Al “tidak ada apa apa, sayang. Tenanglah”


Ayah “apa yang kau takutkan nak?” tanya ayah


Sheena “tadi ada yang mengetuk jendela beberapa kali, kemarin juga begitu yah” jelasnya masih ketakutan.


Melihat ayahnya yang begitu terlihat khawatir dengan keadaanya. Sheena mencoba menenangkan dirinya sendiri, sekarang ada Al disisinya ia akan aman.


Sheena “Sheena udah gapapa kok yah. Tadi Sheena Cuma kaget aja” memegang tangan mencoba meyakinkan ayahnya bahwa ia baik baik saja.


Ayah “kau benar tidak apa apa?”


Sheena “iya. Yah” tersenyum ke arah ayahnya.


Ayah “ya sudah. Makan sarapan mu”


Sheena mengangguk. Kemudian Ayah keluar dari kamar di ikuti Bi Imah dari belakang meninggalkan Al dan Sheena.


Al “sarapan dulu yuk. Aku udah buatin bubur special buat kamu”


Sheena “kenapa gak buatin aku spaghetti?”


Al “sekarang bubur dulu spaghetinya nanti nyusul” jawabnya.


Al menarik dua kursi ke dekat jendela, kemudian menggendong Sheena mendudukannya di kursi itu.


Sheena “nggak Al, aku takut” memejamkan matanya tidak mau melihat ke luar jendela”


Al “tenang lah, sayang. Aku disini bersama mu menjaga mu. Ayo buka mata mu”


Perlahan Sheena membuka matanya melihat keluar jendela ada pemandangan yang sangat luar biasa di sana. Kupu kupu beterbangan di antara bunga bunga yang warna warni , rumput hijau mengelilinginya, sinar matahari menerpa pepohonan dan bunga disana menambah indahnya pagi itu.


Sheena “wahhh bagus banget”


Al “lihat lah, tidak ada yang menakutkan bukan?”


Sheena mengangguk, kemudian Al menyuapinya sampai ia menghabiskan buburnya.


--------------------

__ADS_1


Kevin sedang duduk dimeja kerjanya, menatap langit langit ruangannya. Sejauh ini apa yang menimpanya belum bisa ia terima, terlebih harus kehilangan cintanya lagi.


Rasa kecewanya yang mendalam menimbulkan kebencian pada Sheena. Namun dalam hatinya msih belum bisa melupakan gadis yang dulu pernah menjadi tunangannya itu.


Kini Kevin berubah seratus delapan puluh derajat dari dirinya yang dulu. Menjadi sering marah dan sangat sensitive dan juga dingin.


Ia sudah menikahi seorang wanita yang tidak dicintainya. Kalau bukan karena ketidak sadarannya waktu itu ia tidak akan menikahi wanita itu.


Dering ponselnya berbunyi memecahkan lamunannya.


Kevin : ya da apa? Urus saja sesukamu.


Dengan suara datar, dingin dan sedikit kesal, lalu meletakan ponselnya kembali.


Kevin berdiri dari duduknya, kemudian melangkah keluar dari ruangannya. Kevin sudah tak seramah dulu, jangankan untuk menjawab sapaan karyawannya, untuk tersenyum saja sudah tidak pernah.


Karena perubahan dari Kevin itu lah keluarga Kevin jadi sangat membenci Sheena. Mereka berpikir Sheena sudah mengkhiantinya.


Kevin mengemudikan mobilnya memecah jalanan yang ramai, lalu berhenti di sebuah rumah besar. Ia masuk ke dalam.


Seorang pelayan membukakan pintu rumahnya.


Pelayan “nyonya belum pulang tuan, ada yang anda butuhkan?”


Kevin “hmm. Tidak.”


Karena sikap dingin Kevin, istrinya jadi jarang ada di rumah untuk menemaninya. Mereka sibuk dengan urusan mereka masing masing.


Kevin masuk ke dalam kamar, membaringkan tubuhnya di ranjangnya. Masih teringat jelas saat saat Sheena berpelukan dengan Al dan ketika Sheena menolaknya.


Kevin “kau tidak bisa lari lagi, KAU HARUS MEMBALASNYA” teriaknya.


Pintu kamar terbuka. Revan muncul di balik pintu.


Revan “daripada marah marah. Ngomong sendiri gak jelas mending ikut aku.”


Kevin tidak menjawab ajakan adiknya.


Revan “istri abang juga kayaknya lagi gak ada. Ayolah”


Revan menarik abangnya sampai ke mobilnya. Kevin tak menunjukan perlawanan di tarik adiknya itu.


Revan melajukan mobilnya keluar dari gerbang rumah Kevin. Hingga sampailah disebuah padang golf.


Revan “lupakan semua kemarahan mu”


Revan membuka bagasi mobilnya dan mengambil 2 tas peralatan golf yang sudah ia persiapkan. Revan menarik abangnya lagi masuk ke sebuah ruangan.


Revan “ganti baju dulu.”

__ADS_1


Kevin meuruti perintah adiknya itu tanpa bantahan.


Setelah mereka selesai mengganti baju mereka, mereka berjalan ke padang rumput yang luas tempat bermain golf.


Kevin sangat mahir memainkan olaharaga ini. Sewaktu ia kuliah di luar negri ia sering sekali bermain golf bersama teman temannya di sana.


Revan berharap dengan mengajak abangnya bermain golf bisa sedikit mengembalikan abangnya yang dulu.


Kevin mengayunkan stik golfnya memukul bolanya sampai jauh tak terlihat. Ia asik dengan olahraga favoritnya. Tidak salah Revan mengajaknya kesini.


Revan mengangkat teleponnya lalu berbicara dengan seseorang dibalik telepon itu.


Revan : tetap awasi gerak geriknya. Kalau ada yang mencurigakan cepat lapor pada ku.


Kemudian menutup panggilannya dan meletakan kembali ponselnya ke dalam tas.


Revan menghampiri Kevin yang sedang asik dengan stik dan bola golfnya.


----------------------


Sheena mengajak Al ke pavilion tempat ia mengajari anak asuhnya. Walaupun dirinya sedang kurang sehat tapi Sheena meamksakan diri untuk menajar mereka.


Satu persatu anak anak itu berdatangan, mereka merasa heran ada seorang pria di dekat kakak gurunya.


Sheena “anak anak kalian pasti penasaran siapa pria yang sedang berdiri di hadapan kalian ini. Ini namanya kak Alfredo, dia seorang dokter, sekaran ia akan memabntu kakak untuk mengajari kalian” ucap Sheena memperkenalkan Al pada anak asuhnya.


Al “halo anak anak, panggil saja aku kak Al. senang bertemu dengan kalian, mari kta belajar bersama”


Ria “halo kak Al, aku Ria. Senang bertmeu kakak juga.”


Al “halo Ria, terus yang disebelah RIa siapa namanya?”


Satu persatu anak anak itu memperkenalkan diri mereka. Lalu mereka belajar bersama dengan sangat bersemangat dan di penuhi canda tawa. Sesekali Al melontarkan candaan lucu pada mereka yang membuat mereka semua tertawa.


Karena Sheena sedang kurang sehat, ia hanya duduk di meja yang ada di depan mereka, sedang Al yang berkeliling mengecek apa saja yang anak anak itu kerjakan.


Ayah melihat mereka dari kejauhan tersenyum melihat keduanya bersama anak anak itu. Lalu menghampiri mereka, ayah pun ikut berbaur dengan mereka.


Sudah waktunya untuk mereka pulang. Satu persatu mereka menyalami ketiga orang dewasa yang ada di paviliun.


Ayah "cepat resmikan hubungan kalian. ayah sudah tidak sabar ingin punya cucu..."


Al dan Sheena saling bertatapan mendengarnya.


Al "seceptnya, yah. kalo bisa bulan ini Al menikahi Sheena" saut Al sambil memandang Sheena yang tidak percaya Al akn berkata seperti itu.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


#jangan lupa like n comment nya ya... terimakasih 🖤🖤🖤#

__ADS_1


__ADS_2