MEMILIKI MU

MEMILIKI MU
Part 32


__ADS_3

Sheena berpamitan pada anak anak asuhnya, mereka tampak sedih melepas Sheena yang akan pergi meninggalkan mereka.


Tama “kakak, kesini lagi kan”


Sheena “kakak pasti sering sering kesini untuk menemui kalian”


Tama “janji ya, kak”


Sheena “iya kakak jani, kalian yang tekun belajarnya ya. Nurut sama ibu guru kalian yang baru”


“iya, kak” jawabnya serentak.


Mereka berpelukan dengan kakak gurunya untuk melepas kepergiannya. Sheena mengusap air matanya, lalu tersenyum pada semua anak asuhnya kemudian pergi bersama Al yang sudah menunggu sedari tadi.


---------------------------------


Sampailah ia di pintu masuk rumahnya, Bi Ani membukakan pintu untuknya, dan langsung saja memeluk majikannya yang sudah lama tidak bertemu dengannya.


Bi Ani “selamat datang kembali, non. Bibik kangen banget sama non Sheena”


Sheena “ iya bik, Sheena juga.”


Kemudian mereka masuk, Al membawakan koper Sheena masuk ke dalam.


Bi Ani “biar bibik saja yang bawa den”


Al mengangguk.


Sheena mencari pushi kucing kesayangannya. Pushi sedang berada di belakang di tempat khusus utnuk dia bermain.


Sheena “pushi.. pushiii…”


Mendengar suara yang memanggilnya, pushi langsung berlari ke arah yang memanggilnya.


Meeeaaww meaaawwww meaaawww


Sheena mengelus kepalanya lalu menggendongnya.


Al “pushi juga kangen sama kamu tuh langsung memeluk ibunya”


Sheena “gak bisa di pungkiri kalo aku emang ngangenin”


Al “dan kamu berhasil membuat ku hampir gila karena kangen sama kamu” setengah berbisik di sebelah telinga Sheena.


Sheena mencubit perut Al,


Al “aawww aaww, kok malah di cubit sii, sayang”


Sheena “aku capek, mau ke kamar”


Al “ya sudah. Aku pergi ke rumah sakit ya, nanti malam aku ke sini lagi”


Al mencium kepala Sheena lalu pergi. Sheena menggendong pushi membawanya ke kamar.


-------------------------


Rianti menelepon Bianca ingin memberitahukan bahwa Sheena sudah kembali.


Rianti : halo, ketemu di kafe deket kantor lo.


Bianca : mau ngapain? Gue lagi sibuk nih.


Rianti : bentar aja pas makan siang.


Bianca : oke oke


Rianti menutup teleponnya lalu mengemudikan mobilnya menuju salon. Sesampainya di salon ia berjalan malas, seperti tidak bersemangat untuk melakukan aktivitasnya.

__ADS_1


Rianti “tuh orang kemana si. Ga ada kabar beritanya. Hmmmm, lagian gue siapanya dia juga. Ngapain juga gue harus nungguin kabar dari dia” menggerutu.


“hey bonti” seseorang memanggilnya.


Rianti sangat hafal sekali siapa yang memanggilnya dengan sebutan itu. Frans adalah sepupu Rianti yang seumuran dengannya, sejak kecil mereka sangat dekat sampai ada nama panggilan khusus yang hanya merak berdua yang tahu biasa mereka memakainya untuk menjahili salah satu dari mereka.


Rianti “amplas” panggilannya untuk Frans


Frans “wah wah… kayaknya ada yang lagi gelisah galau dan merana” godanya


Rianti “paan si. Datang datang gak jelas deh”


Frans “ayo ngaku! Tuh muka mau gue setrika”


Rianti “ngapain setrika muka gue, mau gue laporin ke komnas perlindungan perempuan lo”


Frans “lagian kusut gitu, ikut gue yuk”


Rianti “kemana?”


Frans “udah ikut aja”


Rianti “tapi gue ada janji ntar jam makan siang”


Frans “beres. Bentaran aja kok”


Mereka pergi ke sebuah toko perhiasan, Frans ingin melamar pacarnya meminta bantuan Rianti untuk memilihkan cincin untuk pacarnya. Rianti dan Frans memilih beberapa cincin yang ada di toko itu. Karena ada kalung yang ia suka, Rianti membeli sebuah kalung untuk dirinya, Frans membantu memakaikan kalung itu ke leher Rianti. Tanpa mereka sadari ada Deon yang tidak sengaja melihat keduanya di toko perhiasan.


Deon merasa dadanya sesak karena cemburu melihat Rianti bersama seorang pria yang terlihat sangat mesra menurutnya. Deon langsung mendatangi Rianti dan Frans, menarik RIanti keluar dari toko itu, Frans kheranan namun melanjutkan untuk memilih lagi.


Rianti “lepasin, gue. Sakit tahu”


Deon melepaskan genggaman tangannya, dirinya sedang diselimuti rasa cemburu yang amat besar membuat wajahnya terlihat marah.


Rianti “lo kenapa?”


Rianti “tunggu tunggu. Jangan bilang lo mau nyulik gue lagi”


Deon “siapa yang mau nyulik.”


Rianti “terus ini apa maksa maksa gue masuk mobil”


Deon “tadi siapa?” ketus.


Rianti “siapa yang mana” tanyanya bingung.


Deon “lelaki yang bersama mu tadi”


Rianti “itu sepupu gue, minta anter beli cincin buat pacarnya”


Deon “oh” raut mukanya berubah dari yang tadinya marah jadi mengembang senyum di bibirnya.


Rianti “ngapain lo nanya kek gitu, cemburu?” senang dengan sikap Deon yang seperti cemburu padanya.


Deon “kalo iya kenapa?”


Rianti “kita kan bukan ssiii” belum menyelesaikan kata katanya Deon sudah mendaratkan ciuman di bibir Rianti yang membuat matanya terbelalak kaget.


Deon “aku ingin kamu jadi pacar ku”


Sontak saja Rianti menampakan wajah yang merona rona mendengar pengakuan Deon. Rianti tersenyum.


Rianti “aku juga ingin jadi pacar mu”


Jawaban itu membuat Deon semakin senang, Deon menarik wajah Rianti lalu mencium bibir Rianti lagi tanpa penolakan malah semakin lama dan semakin dalam.


Aktivitas mereka terhenti saat ponsel Rianti berdering. Frans meneleponnya.

__ADS_1


Rianti : halo, Frans, gue udah pulang duluan.


Frans : eh kok gak bilang. Ya sudah.


Menutup teleponnya.


Kemudian Bianca mengiriminya pesan


Bianca :


Jadi gak nih. Gue udah di kafe.


Rianti :


Otw


Rianti “ aku harus pergi sekarang”


Deon “mau kemana? Aku anterin”


Rianti mengangguk lalu menyebutkan nama sebuah kafe.


Bianca sudah menunggu di sana duduk di sebuah meja di sudut ruangan. Rianti melambaikan tangannya, yang dibalas lambaian juga oleh Bianca.


Bianca “dari mana dulu si. Lama banget”


RIanti “mmm. Ada perlu dulu tadi”


Tak lama Sheena muncul di belakang Bianca yan memang sudah di beritahu Rianti untuk bertemu di kafe tanpa sepengetahuan Bianca.


Sheena duduk di sebelah Bianca dan langsung memeluknya.


Sheena “lo kemana aja, Bi. Gue kangen sama lo”


Bianca “maafin gue, Sheen”


Sheena melepaskan pelukannya.


Sheena “gue gapapa kok. Gue udah tahu semuanya. Gue gak pernah benci sama lo. Maafi gue juga ya, Bi”


Bianca “makasih lo gak benci sama gue, Sheen”


Sheena “kita temenan udah lama. Masa gara gara hal kek gini gue harus benci sama sahabat gue sendiri”


Rianti “ya udah udahan melownya. Mending kita pesen makan, gue dah laper”


Mereka tertawa, kemudian memesan makanan pada pelayan.


Di tengah tengah keceriaan mereka, Mama Dahlia menghampiri Bianca. Ketika melihat Sheena ia memperlihatkan pandangan yang tidak suka.


Mama Dahlia “kau, wanita tidak tahu diri, kau sudah menghancurkan hidup anak ku. Sekarang kau jangan coba coba mempengaruhi menantu ku untuk menjadi seperti dirimu. Jangan kau ganggu lagi kehidupan Kevin”


Bianca mencoba menahan mertuanya untuk pergi dan tidak membuat keributan disana.


Bianca “ma, udah ma. Ayok kita pergi dari sini”


Mama Dahlia “kau jangan bergaul dengan wanita tidak tahu diri itu”


Bianca “iya iya ma. Ayok kita pergi dari sini”


Mama Dahlia masih dengan kemarahannya pergi dari kafe itu bersama Bianca. Rianti menepuk bahu Sheena menenangkan Sheena yang tampak sedih mendengar perkataan Mama Dahlia.


Sheena “aku gapapa, Ri” tersenyum namun hatinya terluka.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


#jangan lupa like comment n vote nya ya... terimakasih 🖤🖤🖤#

__ADS_1


__ADS_2