
Dilla sudah siap di meja kerjanya, dengan gayanya yang anggun dan elegant ia yakin bisa menarik perhatian Kevin kembali.
Dilla “Kevin pasti bisa aku dapatkan lagi” gumamnya sembari memandangi cermin di meja kerjanya.
Lama menunggu yang ditunggu akhirnya datang juga, dengan sigap Dilla membenahi penampilannya. Kevin berjalan menuju ruangannya tapi ia tak menoleh sedikit pun kea rah sekretaris yang juga mantannya itu.
Dilla “Pagi, Pak” sapanya.
Kevin “pagi” sembari terus berjalan menuju ruangannya tanpa melihat yang menyapanya barusan.
Dilla “sialan, aku udah pasang senyum semanis mungkin, dia gak lihat sama sekali” gerutunya kesal.
Karena Kevin mengabaikannya, Dilla masuk ke ruangan Kevin dengan membawa beberapa berkas untuk ia serahkan. Kevin sibuk dengan berkas-berkas yang ada di atas mejanya, sembari membubuhkan tandatangan di atasnya.
Dilla “ini ada beberapa dokumen yang harus di tanda tangani dan diperiksa, Pak”
Kevin “hmmm, simpan saja nanti aku periksa” jawabnya masih dengan tidak melihat ke arah Dilla.
Kesal karena Kevin tak juga melihatnya, Dilla berpura-pura terjatuh di depan meja Kevin.
Dilla “awww aduh” pekiknya.
Namun sayang sekali usahanya lagi-lagi tidak berhasil membuat Kevin melihatnya, Kevin mengabaikan apa yang terjadi di depannya dan memilih sibuk dengan berkas-berkasnya. Dilla keluar ruangan dengan hati yang sangat kesal. Kevin yang mengetahui tingkah laku Dilla tersenyum sinis.
Revan yang akan menemui Kevin terkejut melihat Dilla sedang duduk di meja sekretaris, ia berjalan mendekat untuk memastikan apa yang dilihatnya.
Revan “sedang apa kau disini?” tanyanya.
Dilla “saya sedang bekerja Pak, kebetulan sekarang saya adalah sekretaris dari Pak Kevin,” jelasnya.
Revan “aku tidak yakin kau hanya ingin menjadi sekretarisnya” ucap Revan dengan pandangan sinis ke arah Dilla kemudian berjalan masuk ke ruangan kakaknya.
Masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat di luar Revan langsung menanyakannya.
Revan “Bang, yang benar saja Dilla kau terima jadi sekretaris mu?” tanyanya.
Kevin “dia butuh pekerjaan,” jawabnya sembari memeriksa berkas yang ada di mejanya.
Revan “kau percaya, dia hanya butuh pekerjaan?” tanyanya lagi.
Kevin “kita lihat saja nanti, lagipula aku sedang membutuhkan seseorang untuk membantu ku mengurus pekerjaan ku” jawabnya.
Revan “kau harus hati-hati dengan keputusan mu” ucapnya.
Kevin “hmmmm, ada apa kau ke sini?”
Revan “dalam beberapa hari ini aku tidak ke kantor, aku mau memeriksa proyek kita yang di luar kota, sepertinya sedang ada masalah dengan manajemen di sana”
Kevin “oke, berapa hari kau di sana?”
Revan “mungkin satu minggu atu lebih”
Kevin “hati-hati selama kau di sana, kabari aku kalau kau butuh bantuan”
Revan “siap, Bang, aku pergi dulu” pamitnya.
__ADS_1
------------------
Beberapa koper sudah penuh dengan barang-barang yang akan mereka bawa, Sheena dan Al tengah sibuk mempersiapkan bulan madu mereka ke luar negeri. Setelah sudah siap mereka berangkat menuju bandara diantar oleh Bunda Lien, Rianti dan Deon.
Al “bund, kita pergi dulu ya, bunda jangan kangenin kita ya” pamitnya.
Bunda Lien “bunda enggak akan kangen sama kalian, tapi bunda kangen sama calon cucu bunda nanti, pulang lah dengan membawa kabar baik ya”
Al “calon cucu gimana bikinnya aja belum” celetuknya yang membuat Sheena mencubit perut Al sampai meringis.
Sheena “Sheena pamit ya bunda” pamitnya sembari mencium punggung tangan Bunda Lien.
Mereka juga berpamitan pada Rianti dan Deon yang akan ikut mengantarnya.
Rianti memeluk Sheena “buatin gue ponakan yang lucu disana ya, Sheen” ucapnya.
Sheena “emangnya kue, lo ada ada aja” jawabnya.
Rianti “hehe, pokoknya pulang kesini lo harus bawa ponakan gue di perut lo” ucapnya lagi.
Sheena “apaan si lo” sembari melepas pelukan sahabatnya.
Deon “hati-hati bos, hajar terus, semangat” ucapnya.
Al “aku udah semangat empat lima” jawabnya.
Kemudian mereka meninggalkan Bunda Lien, Rianti, dan Deon yang masih memandangi punggung mereka yang akan berbulan madu.
Setelah terbang selama berjam-jam akhirnya mereka pun sampai, Al membangunkan Sheena yang tertidur selama perjalanan.
Al “sayang, kita sudah sampai” ucapnya lembut sembari mengusap kepala istrinya.
Di bandara mereka sudah di tunggu oleh supir khusus untuk mengantar mereka ke resort milik Bunda Lien di negara itu. Perjalanan dari bandara ke resort membutuhkan waktu tiga jam perjalanan untuk sampai di sana.
Mobil berhenti di sebuah resort di tepi pantai, Al dan Sheena keluar dari mobil. Seseorang menyambut mereka dengan ramah, Pak Johan penjaga resort sudah menunggu mereka.
Pak Johan “bagaimana perjalanan tuan dan nyonya?”
Al “cukup melelahkan, oh ya Pak Johan ini Sheena istri ku” ucapnya memperkenalkan Sheena.
Pak Johan “senang bertemu dengan mu nyonya,” mengangguk hormat.
Sheena membalasnya dengan senyum ramah.
Pak Johan “mari saya antarkan ke kamar yang sudah kami persiapkan untuk tuan dan nyonya” ucapnya lagi.
Al dan Sheena mengikuti Pak Johan menuju kamar mereka, barang-barang mereka di bawa oleh beberapa pelayan ke kamar.
Pak Johan “selamat beristirahat, pelayan kami akan melayani anda jika di perlukan, kami ada di rumah belakang tuan, jika anda memerlukan kami silahkan telepon dengan nomor yang sudah tertera di atas telepon”
Al “baik, terimakasih Pak Johan”
Kemudian Pak Johan keluar dari kamar meninggalkan sepasang pengantin baru yang akan berbulan madu itu.
Sheena “sayang, aku mandi dulu badan ku rasanya gerah sekali” ucapnya pada suaminya yang sedang membongkar barang – barangnya.
__ADS_1
Al “mau mandi bareng gak, sayang?” sautnya.
Sheena “aku masih datang bulan” sembari melemparkan handuknya ke arah Al.
Al berjalan mendekati Sheena mendekatkan wajahnya ke wajah Sheena.
Al “sayang, kalau mau mandi handuknya di bawa jangan dilempar kecuali mau aku mandikan” bisiknya yang sukses membuat Sheena merona.
Cup,,, Al mengecup bibir Sheena yang langsung berlari masuk ke kamar mandi.
Selesai membersihkan dirinya Sheena mengeringkan rambutnya di depan cermin, Al memeluknya dari belakang.
Sheena “hey, mandi dulu gih”
Al “aku ingin memeluk istri ku”
Sheena “sayangnya aladin yang ini gak suka mandi badannya bau asem”
Al “sayangnya aku ingin terus memeluk Jinny ku takut dia menghilang lagi”
Sheena “dasar kau” mencubit pipi Al.
Al “hehe, ya sudah aku mandi dulu, jangan menghilang ya Jinny nanti aku bisa gila”
Sheena “kamu memang sudah gila”
Al “iya gila karena cinta mu”
Sheena tertawa, Al mengecup keningnya lalu beranjak ke kamar mandi.
Ponsel Al berdering tertera Deon yang menghubunginya, Sheena mengabaikannya namun terus – menerus Deon menelepon. Karena takut ada hal penting akhirnya Sheena mengangkat telepon dari Deon.
Sheena : halo
Deon : halo nyonya bos, perusahaan farmasi kita yag di Kota B kebakaran dan sebagian karyawan yang menjadi korban. Tolong sampaikan ini pada bos, mohon maaf secepatnya bos harus segera kembali.
Sheena : ya baiklah aku akan sampaikan segera.
Deon : terimakasih nyonya
Kemudian menutup teleponnya.
Al baru saja keluar dari kamar mandi, sheena langsung saja memberitahukan yang di katakan deon di telepon tadi padanya.
Al “ sayang, gapapa kan kalau kita kembali sekarang? Kita ke sini lagi setelah masalah ini selesai” ucapnya
Sheena “iya sayang gapapa mereka lebih membutuhkan mu sekarang”
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
jangan lupa like comment n vote yaa....
baca juga karya terbaru ku judul nya
DENDAM DAN CINTA
__ADS_1
tinggal di klik aja photo ku terus klik karya nanti ada ceritanya...
terimakasih semua 🖤🖤🖤