
Pagi harinya Sheena bersiap untuk memulai aktivitasnya, ia tutupi matanya yang bengkak akibat dari menangis semalam dengan make up walau masih saja terlihat. Ketika ia membuka kamarnya ada bunga yang tergeletak di depan pintu kamar. Bunga yang tidak asing baginya, ia mengambil bunga itu lalu turun ke bawah untuk sarapan.
Sheena “ ini bunga dari siapa bik?”
Bi Ani “malam Den Al kemari membawa bunga itu tapi Non udah tidur”
Sheena “bahkan dia membelikan bunga yang sama untuk ku” gumamnya dalam hati masih kecewa dan marah pada Al, bunganya ia buang ke tempat sampah.
Setelah selesai dengan sarapannya Sheena berangkat ke kantor dengan supir pribadinya. Di perjalanan ia menyalakan ponselnya yang dari semalam ia matikan, Al beberapa kali mengirimkan pesan dan menghubunginya.
Al :
MISS YOU MORE, SAYANG
Sheena “sempat-sempatnya sedang bersama wanita lain kirim pesan seperti ini” ucapnya dalam hati masih kesal.
Pesannya pun langsung di hapusnya, kemudian menaruh kembali ponselnya ke dalam tas.
Mobil Sheena berhenti di depan pintu utama kantornya Putri sudah ada di depan pintu menyambut Sheena dengan beberapa orang staff kantornya. Sheena keluar dari mobil dan bergegas masuk ke dalam, semua karyawan menyapanya dengan ramah.
Putri “sekarang ada meeting bersama departemen pengembangan produk, ibu sudah di tunggu di ruang meeting”
Sheena “semua dokumennya sudah siap? Kalau sudah ayo kita keruang meeting”
Meeting berlangsung sampai jam makan siang, kejadian semalam memang belum sepenuhnya ia lupakan. Tapi karena kesibukannya sejenak ia bisa melupakan kekecewaanya.
Sheena “Put, kita makan siang di luar yuks” ajaknya.
Putri “mau makan siang dimana?”
Sheena “makan seafood gimana?”
Putri “lets go”
Sheena dan Putri keluar kantor untuk makan siang di sebuah restoran seafood. Sheena sengaja meninggalkan ponsel di ruangannya karena masih marah dengan Al.
Mereka memesan makanan pada pelayan, tak berselang lama pesanannya pun datang lalu mereka menyantap makan siangnya.
Sheena “aku ke toilet bentar ya”
Putri “oke”
Sepeninggal Sheena ke toilet ada dua orang pria yang menghampiri Putri yang tengah asik dengan udang dan kepiting yang ada di hadapannya. Kedua orang itu adalah Kevin dan Revan yang kebetulan akan makan siang di restoran yang sama.
Revan “Putri” panggilnya.
Putri “Revan, sedang apa di sini?”
Revan “ya mau makan dong, sama siapa ke sini?” tanyanya karena dilihatnya di meja ada satu piring lagi yang masih utuh”
__ADS_1
Putri “aku sama bos aku, sini gabung”
Revan “gapapa nih kalo kita gabung? Bos kamu gak akan marah?”
Putri “nggak ko bos aku mah baik banget orangnya”
Revan dan Kevin pun akhirnya bergabung dengan Putri, Revan duduk di sebelah Putri sedangkan Kevin duduk di depannya dan yang sebenarnya di sampingnya adalah kursi Sheena. kemudian mereka memanggil pelayan untuk memesan makanannya.
Sheena kembali ke meja, dilihatnya ada dua orang pria yang ia kenal.
Sheena “Kevin, Revan, kalian makan disini juga?” sembari duduk di kursi sebelah Kevin.
Kevin “Sheena”
Putri “oh ya ini bos aku” ucapnya.
Revan “jadi kamu assistennya Sheena?” yang diajawab anggukan oleh Putri kemudian Revan ber oh ria dalam hatinya.
Degup jantungnya berdetak cepat, Kevin tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya duduk berdampingan dengan Sheena ini sangat jarang terjadi. Sedangkan Sheena nampak biasa saja karena ia sudah tidak menaruh perasaan pada Kevin, baginya Kevin adalah hanya seorang teman untuknya.
Kevin “pakabar, Sheen?” tanyanya sembari tersenyum pada Sheena.
Sheena “kabar baik, minggu ini aku akan menikah, kamu datang ya”
Suasana hati Kevin seketika berubah mendengar Sheena akan menikah dan itu langsung dari Sheena sendiri yang mengatakannya. Tapi ia mencoba ikhlas untuk kebahagiaan Sheena, biarlah ia yang menyimpan perasaanya dan mengubur dalam-dalam harapannya untuk kembali bersama.
Kevin “tidak begitu baik, selamat ya, semoga kamu selalu bahagia. Nanti pasti aku akan datang” jawabnya.
Revan “kamu mau nikah, Sheen? Wah aku patah hati dong” ujarnya menggoda Kevin.
Sheena “ah kamu ini, bisa aja”
Pesanan Kevin dan Revan pun datang, pelayan menghidangkannya di atas meja. Sambil menyantap makan siangnya Kevin memperhatikan wajah Sheena, matanya masih terlihat sedikit bengkak.
Kevin “apa dia habis menangis? Dia sedih kenapa ya?” dalam hatinya sembari masih terus memperhatikan Sheena.
Seteleha selesai dengan makan siang mereka , mereka masih bertahan di restoran untuk berbincang.
Revan “Sheen, aku mau minta ijin”
Sheena “minta ijin apa?” heran.
Revan “minta ijin mau bicara empat mata sama Putri”
Sheena “boleh, tapi jangan terlalu lama kita harus balik ke kantor”
Revan “bentar aja kok”
Putri “mau ngomong apa sih? Disini gak bisa?”
__ADS_1
Revan “gak bisa ngomongnya harus berdua” sembari bediri dan mengajak Putri menjauh dari meja mereka.
Karena melihat kesedihan di wajah Sheena, Kevin mencoba untuk menghiburnya supaya menghilangkan sedikit kesedihan di hatinya. Walupun itu tidak akan merubah apapun dengan hubungan mereka. Setidaknya Kevin ingin menjadi teman yang baik untuk Sheena.
Sheena “Vin, Vin, Vin” serunya menyadarkan Kevin dari lamunanya yang sedari tadi memandanginya.
Kevin “eh i i iya” jawabnya terkejut.
Sheena “eh malah bengong dia, gue emang cantik dari dulu udah gak usah diliatin terus gak akan berubah jadi jelek muka gue” ucapnya.
Kevin “itu, Sheen di gigi kamu ada cabe”celetuknya sembari menahan senyum.
Sheena “aahhh tidak” langsung mengeluarkan cerminnya di dalam tas tapi ternyata tidak ada adapun apalagi cabe sambil terus saja mengamati giginya.
Kevin “udah gak usah diliatin terus giginya, cabenya udah dijual di pasar” ucapnya.
Sheena “ihhh, Kevin gak lucu tau” sembari mengerucutkan bibirnya dan mencubit paha Kevin yang langsung meringis kesakitan.
Kevin “aawww aaawww sakit ampun” ringisnya.
Sheena “makanya jangan usil” ucapnya kesal.
Kevin senang melihat reaksi Sheena , sudah lama sekali ia tidak melihat Sheena seperti itu. Sekarang Sheena yang balik menatap Kevin.
Kevin “ada apa ngelihatinnya sampai kek gitu, aku ganteng yah?”
Sheena “bukan, itu dimata kamu ada beleknya” ucapnya sembari menggelakan tawanya.
Kevin mengusap ujung matanya dengan jari tapi tida menemukan apa yang dikatakan oleh Sheena, lalu ia pun ikut tertawa.
Disisi lain Al yang sudah mengetahui Sheena sedang berada di restoran seafood dari putri langsung menyusulnya bersama Deon. Namun sesampainya di restoran ia melihat pemandangan yang tak biasa. Melihat Sheena sedang tertawa bahagia, sudah sangat lama Sheena tidak tertawa seperti itu. Tapi semua itu membuatnya dibakar cemburu karena Sheen tertawa bersama pria lain. Bukan hanya itu tapi juga karena Sheena tidak membalas pesannya dan tidak mengangkat panggilannya berulang-ulang.
Deon mencoba menahan Al untuk tidak membuat keributan di restoran itu.
Deon “tahan dulu bos, jangan buat keributan di sini”
Al tidak mendengarkan Deon, ia terus berjalan menuju meja Sheena kemudian menarik lengan Sheena dengan paksa. Sheena dan Kevin yang terkejut melihat tiba-tiba ada Al di sana langsung menghentikan tawa mereka.
Sheena “ini tidak seperti yang kau lihat” jelasnya sambil menahan sakit dilengannya yang di genggam erat Al.
Al terus berjalan menarik Sheena sampai ke mobil, Kevin berusaha mencegahnya karena melihat Sheena kesakitan. Al tampak sangat marah saat itu.
Kevin “percayalah padanya” ucapnya pada Al.
Namun Al terus menarik Sheena masuk ke dalam mobil, Deon dengan cepat masuk dan duduk di belakang kemudi lalu melajukan mobilnya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
#jangan lupa like comment n vote nya terimakasih semua... oh ya follow aku jg yaa.,.. 🖤🖤🖤#
__ADS_1