
Matahari telah menunjukan cahayanya ke seluruh alam semesta, seberkas cahanya masuk menembus jendela kamar. Sepasang mata menyipitkan matanya karena kesilauan, dilihatnya jam dinding sudah menunjukan angka jam delapan pagi. Al meraba-raba kesampingnya tetapi tidak mendapati istrinya di sana, kemudian ia bangun mendudukan badannya.
Sheena keluar dari kamar mandi melihat suaminya yang sudah terduduk di tempat tidur, lalu ia mengambil handuk untuk suaminya.
Sheena “mandi, aku mau buatkan sarapan ke bawah” ucapnya.
Al memeluknya, seakan malas untuk bangun dan ingin meneruskan permainannya semalam, diciuminya pipi istrinya penuh kemesraan.
Al “aku masih ingin memeluk mu,” ucapnya manja.
Sheena “kau harus ke kantor, dari tadi Deon sudah menelepon mu terus” menyerahkan ponsel suaminya untuk mengecek panggilan masuk dan pesan dari assistennya.
Setelah membaca pesan dari assistennya Al beranjak dari tempat tidur, mencium kepala Sheena lalu masuk ke kamar mandi.
Sheena terkekeh lalu mengganti bajunya, kemudian ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya.
Disana sudah ada Bi ani sedang menyiapkan sarapan, sedangkan Bi Imah sedang membersihkan halaman belakang. Bi Ani membuat nasi goreng dan telur mata sapi untuk sarapan mereka.
Sheena “mmm,,, bau nya enak sekali Bik” ujarnya saat memasuki dapur.
Bi Ani “iya ,non, bibi buat nasi goreng untuk sarapan,”
Bi Ani menumpahkan nasi gorengnya ke dalam mangkuk besar, lalu menaruh beberapa telur di piring ceper di sampingnya.
Sheena “biar aku bawa ke meja makan, Bik”
Bi Ani “biar bibik saja , non,”
Sheena “nggak apa Bik, tadinya Sheena mau buatkan sarapan buat Al tapi bibik udah buatin nasi goreng untuk kita, jadi biar aku bantu bawain ke meja makan, hehe”
Bi Ani “ya sudah, biar bibik yang siapin piringnya ya”
Sheena “iya, Bik”
Selesai menata meja makan untuk sarapan, Sheena menunggu Al namun yang ditunggu tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Akhirnya Sheena menyusulnya ke kamar.
Sheena “sayang, kenapa kamu lama sekali?”
Al “iya ini sebentar lagi selesai, kenapa? Istri ku sudah tidak sabar ya melihat ketampanan suami mu ini?” ucapanya seraya menggoda Sheena sambil bercermin memandangi dirinya sendiri dengan rambut yang masih belum di sisir.
Sheena “nggak usah bercermin terus kamu emang udah tampan dilihat dari mana pun juga,” merapikan kerah dan dasi suaminya.
Al “sayang sisir kamu simpan dimana?” membuka laci meja rias mencari sisir yang belum ia temukan.
Sheena “bukan disitu” sentaknya terkejut Al membuka lacinya.
Al “lalu dimana? Cari sisir aja sampai kek gitu” menggerutu.
Sheena melayangkan pandangannya mencari sisir yang tadi bekas ia pakai, nah ketemu, sisir ada di tempat tidurnya sehabis ia pakai tadi. Sheena mengambil sisir itu dan langsung mengadatangi suaminya.
__ADS_1
Sheena “ini sisirnya, ayo duduk biar aku yang menata rambut mu”
Al menurut perintah istrinya, ia sangat senang kalau Sheena menyisir rambutnya dan menata rambutnya karena ia bisa memeluk dan memperhatikan istrinya saat menyisir rambutnya.
Al “kamu cantik sekali, aku beruntung sekali menjadi suami mu” ucapnya.
Sheena “dan aku lebih beruntung menjadi istri mu” sembari merapikan rambut suaminya.
Al mencium bagian perut Sheena yang membuat Sheena kegelian.
Al “nanti disini akan ada calon anak ku, semoga itu akan secepatnya” harapnya sambil mengelus dan menciumi perut Sheena.
Sheena “aku juga sudah tidak sabar ingin merasakan bagaimana menjadi wanita seutuhnya,” mengusap lembut kepala suaminya yang masih menciumi perutnya.
Al menegakan badannya lalu berbisik di telinga istrinya.
Al “kita buat dedek sekarang yuk” bisiknya menggoda.
Sheena “sayaang, kamu harus ke kantor,” mengacak-acak kembali rambut suaminya yang sudah ia sisir rapi.
Al tergelak.
Al “iya, sisir lagi” pintanya.
Sheena “iya, tapi kamu jangan menggoda aku terus, kalau tidak sisir sendiri”
Rambut Al sudah rapi kembali, lalu mereka keluar kamar menuju dapur untuk sarapan. Selesai sarapan mereka berpamitan.
Bi Ani “sering sering main kesini ya, non”
Bi Imah “iya non, kita suka kangen sama non”
Sheena “iya Bik, pasti nanti Sheena sering kesini kok, kita pergi dulu ya, Bik, jaga rumah ini dengan baik ya, Bik”
Bi Imah “iya non pasti kami jaga dengan baik”
Al “kami pamit ya Bik”
Sheena dan Al memasuki mobil dengan membawa pushi bersama mereka.
Al mengantarkan Sheena lebih dulu sebelum ke kantornya.
Al “sayang, biar Pushi aku titipkan di penitipan hewan di dekat kantor ku saja ya, nanti pulang kantor aku bawa pulang”
Sheena “baiklah, aku masuk dulu, hati-hati sayang” mencium pipi suaminya lalu keluar mobil dan langsung masuk ke dalam.
Sheena masuk ke dalam ruang kerjanya kemudian duduk di belakang meja, menyimpan tas di meja sebelah kiri. Putri masuk dengan membawa beberapa map di tangannya.
Putri “ini berkas yang harus di tanda tangani, oh ya jam tiga sore ini ada janji dengan Pak David, dia akan menawarkan kerja sama dengan perusahaan kita”
__ADS_1
Sheena “David?”
Putri “David Wirawan pemilik perusahaan konstruksi terbesar se Asia”
Sheena “David kakaknya Bianca?”
Putri “siapa Bianca?”
Sheena “almarhumah teman ku, David adalah kakaknya”
Putri “pantas saja ia ingin menjalin kerjasama dengan kita, ternyata kalian sudah saling mengenal”
Sheena “iya”
Sesaat Sheena teringat kejadian mengerikan dan naas yang hampir merenggut nyawanya, dan Bianca yang malah kehilangan nyawanya saat kejadian itu. Tidak sadar air matanya menetes mengingat kejadian sat ia harus kehilangan sahabatnya. Sampai saat ini Sheena masih merasa bersalah pada Bianca.
-------------
Di sebuah kafe terlihat Dilla dan seorang pria sedang menikmati kopi yang di sajikan pelayan kafe tersebut. Pria itu tak lain adalah David kakak dari Bianca.
Dilla “semua data penting dan rahasia perusahaan Kevin sudah ada dalam genggaman mu, lalu apa yang akan kau lakukan dengan semua itu?” tanyanya serius.
David “aku akan menghancurkannya secara perlahan” ucapnya takkalah serius.
Dilla “bukan kah Kevin teman mu, kenapa kau tega sekali?” bentaknya kesal.
David “mereka sudah mengahancurkan hidup adik ku satu-satunya, sekarang aku akan membalasnya lebih dari apa yang mereka lakukan pada adik ku” ucapnya penuh kemarahan.
Dilla “terserah lah, mana bayaran ku” pintanya.
David menyodorkan amplop berisi uang kepada Dilla yang langsung membukanya dan melihat isi amplopnya.
Dilla “hey ini kurang dari yang sudah kita sepakati”
David “kau msih harus membantu ku, sisanya setelah kau melakukan tugas mu selanjutnya”
Dilla “apalagi yang harus aku lakukan?’
David “belum waktunya kau melakukan itu, tunggu kabar dari ku”
Dilla “huh, menyebalkan sekali” kemudian pergi berlalu keluar kafe.
David “Kevin, Sheena, kalian harus membayar apa yang sudah kalian perbuat pada Bianca adik ku.” kata-kata penuh dendam yang membara.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
jangan lupa untuk like comment n vote nya ya readers... terimakasih banyak semua sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini... semoga kalian selalu di beri kesehatan dan selalu berada dalam lindungan-Nya.... aaamiinn 🙏🙏🙏
🖤🖤🖤
__ADS_1