
Lagi dan lagi setiap pagi di meja Kevin Bianca menyimpan sarapan untuk suaminya dengan notes tanpa pengirim di atasnya. Pagi itu Kevin sudah berada di kantornya membuka kotak sarapannya dan membaca notes yang ada di atasnya.
“jangan lupa tersenyum”
Begitu isi notesnya. Kevin mengembangkan senyumnya, Bianca melihat Kevin dari jauh setelah memastikan Kevin memakan sarapannya lalu ia pergi. Tetapi di parkiran ia ditahan oleh Revan.
Revan “kakak ipar, sebenarnya apa yang akan kamu lakukan?”
Bianca “maksud kamu apa?”
Revan “jangan berlaga bodoh. Aku sudah tahu semuanya”
Bianca “aku gak ngerti maksud kamu” lalu masuk ke mobilnya kemudian pergi meninggalkan Revan yang terus memperhatikannya.
Revan masuk ke ruangan Kevin, dilihatnya Kevin sedang melahap sarapannya dengan wajah yang berbinar binar.
Revan “sarapan apa, bang?”
Kevin cepat cepat menghabiskan makanannya takut Revan mengambilnya lagi.
Revan “tenang bang aku gak akan ngambil makanan mu”
Kevin “ada apa kamu kemari?”
Revan “apa kau tahu siapa yang selalu mengirimi mu sarapan ini?’
Kevin “tentu saja aku tahu”
Revan “sekali sekali kau periksa cctv kantor mu, untuk memastikan siapa saja yang keluar masuk ke kantor mu ini”
Revan lalu pergi meninggalkan Kevin yang penasaran dengan ucapannya sembari tersenyum seolah mengetahui sesuatu yang Kevin tidak ketahui.
Mendengar ucapan Revan membuatnya penasaran, Kevin memanggil pegawainya untuk mengecek cctv belakangan ini. Tak lama pegawainya menyerahkan kaset video pada Kevin lalu ia langsung memutarnya. Kevin terkejut bahwa yang selama ini menyimpan kotak makan di mejanya adalah Bianca. Kevin mendengus kesal dan tak percaya bahwa istrinya lah yang melakukan semua itu.
----------------
Sheena sedang menggendong pushi di taman belakang, seseorang memperhatikannya dari luar pagar rumahnya. Sheena asik bermain dengan kucing kesayangannya itu sehingga tidak sadar ada yang memperhatikannya. Bi Ani menyusulnya ke taman belakang sambil membawa sebuah kotak.
Bi Ani “ini ada paket untuk,non”
Sheena “dari siapa bik?”
Bi Ani “kurang tahu non, gak ada pengirimnya”
Sheena menerima kotak itu “makasih ya, Bik”
Bi Ani “iya, non”
__ADS_1
Sheena membuka kotak itu, di dalam kotak itu terdapat secarik kertas yang sama seperti waktu ia mendapatkannya pertama kali di jendela kamar rumahnya yang di pulau. Sheena menjatuhkan kotak yang sedang di pegangnya, tangannya gemetaran ia langsung pergi ke kamarnya.
Sheena menelepon Rianti.
Sheena : Ri, orang itu neror gue lagi, gue takut (suaranya menangis ketakutan)
Rianti : lo tenang dulu. Tunggu gue kesana sekarang. Oke.
Tak lama Rianti datang dan langsung masuk ke kamar Sheena, Rianti menghampiri Sheena yang sedang ketakutan di kamarnya.
Rianti “tenangin diri lo, Sheen. Nih minum dulu” sembari menyodorkan segelas air pada Sheena.
Sheena meminumnya, Rianti mengelus punggung Sheena menenangkan temannya yang terlihat sangat ketakutan.
Rianti “kayaknya lo harus ceritain ini sama Ayah atau Al. ini udah bukan masalah sepele lagi. Ini udah kasus teror namanya. Lo terancam bahaya”
Sheena “nggak, Ri. Gue gak mau buat mereka khawatir”
Rianti “tapi gue lebih khawatir kalo lo lagi sendirian gini Sheen, pokok nya mereka harus tahu”
Sheena “Gue gak mau nambah beban buat mereka. Selama gue bisa atasin sendiri, mereka jangan sampai tahu”
Rianti “terserah lo deh, yang pasti ini udah gak bisa dibiarin lagi”
------------------
Kevin memasuki rumahnya, ia langsung mencari istrinya dengan wajah yang marah. Bianca sedang berada di kamarnya duduk di depan cermin riasnya. Kevin membuka pintu kamar dengan kasar.
Bianca hanya bisa menangis, entah apalagi yang harus ia lakukan untuk membuat Kevin luluh padanya.
Di awal pernikahannya Kevin bersikap baik padanya karena saat itu pula Bianca mengandung anak Kevin. Namun sesuatu terjadi, Bianca terjatuh saat ia menuruni tangga dan bayinya tidak bisa diselamatkan. Sejak saat itu Kevin mulai berubah kasar padanya dan tak pernah menyentuhnya lagi.
Selama ini ia bertahan karena rasa cinta yang begitu besar pada Kevin. Mencari cara agar Kevin bisa menerima cintanya dan melupakan bayang bayang Sheena dalam hidupnya.
Seperti biasa Kevin pergi ke klub dan pulang dalam keadaan mabuk. Revan mengantarkannya ke rumah, ia tersenyum sinis ke arah Bianca lalu pergi.
Bianca melepaskan satu persatu sepatu suaminya, menggantikan pakaian suaminya yang berbau alkohol. Setelah selesai mengurus suaminya ia kembali ke kamarnya.
Bianca “kapan kau akan merasakan ketulusan ku dan membalas cinta ku” gumamnya kemudian terlelap.
Esoknya, Bianca menyiapkan sarapan untuk Kevin walaupun sering diabaikan tapi ia mencoba menjadi istri yang baik untuk Kevin.
Kevin keluar dari kamarnya melewati meja makan, Bianca tersenyum ke arahnya tapi Kevin tidak melihatnya ia terus berjalan.
Bianca “sarapan dulu kak” menahan tangan Kevin namun dihempaskan.
Kevin “tidak perlu” jawabnya tanpa melihat Bianca kemudian terus melanjutkan langkahnya menuju depan rumah lalu masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Bianca menarik nafasnya, berusaha untuk menahan linangan air mata yang sudah ada di pelupuk matanya.
----------------------------
Sorenya Sheena, Bianca dan Rianti bertemu di sebuah mall, sudah lama mereka tidak pergi bersama untuk bersenang senang.
Ketika sedang asik memilih baju Sheena bertemu dengan Revan.
Revan “wah senang sekali bisa bertemu dengan mu disini” ucapnya ramah.
Sheena “Revan, pakabar?”
Bianca dan Rianti menghampiri Sheena dan Revan.
Revan “oh ada kakak ipar juga ternyata” menatap sinis Bianca.
Bianca nampak kesal mengetahui ada Revan disana.
Revan “boleh kah aku bicara dengan Sheena hanya berdua saja? Ada yang ingin aku bicarakan dengannya”
Rianti “nggak, kita juga harus ikut”
Sheena “gapapa, Ri, lagian dia baik sama gue”
Rianti khawatir karena setahunya keluarga Kevin tidak menyukai Sheena setelah mereka berpisah.
Revan dan Sheena beranjak dari sana meningglakan Bianca dan Rianti yang masih mematung. Bianca kesal, ia mengepalkan tangannya geram. Rianti keheranan melihat tingkah Bianca.
Rianti “kenapa lo?”
Bianca “gapapa. Yuk kita lanjut belanja lagi” sambil terus memandangi Revan dan Sheena sampai tidak terlihat dari pandangannya.
Revan dan Sheena menuju ke sebuah restoran yang di dalam mall itu, mereka memesan minuman.
Revan “aku peringatkan jangan sembarang percaya sama semua orang terutama orang terdekat mu”
Sheena “kenapa tiba tiba kamu berbicara seperti itu?’ tanyanya heran dengan pembicaraan Revan.
Revan tersenyum penuh arti namun penuh tanya dalam benak Sheena.
Seseorang duduk di kursi sebelah Sheena.
“Kevin”
“Sheena”
Al melihat mereka dari luar Restoran.
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
# jangan lupa like comment n vote nya ya... oh ya saya sangat senang jika di beri bintang lima.... terimakasih semua 🖤🖤🖤#