
Dua minggu sudah Sheena pulang dari rumah sakit. Kini waktunya ia menjalani aktifitasnya kembali.
Sheena pergi ke kantor mengendarai mobilnya. Sesampainya di kantor seluruh karyawannya menyambutnya dengan suka cita.
Setelah ditinggalkan beberapa bulan oleh direkturnya pendapatan perusahaan menurun drastis. Sehingga mereka sangat senang saat melihat ibu direkturnya telah sembuh dan dapat bekerja kembali. Setidaknya bisa mengembalikan keadaan perusahaan seperti semula.
Hari ini Sheena disibukan dengan berbagai urusan kantornya. Hari sudah mulai malam Sheena masih sibuk dengan berkas-berkas dan laptop di depannya.
Putri seringkali melihat jam tangannya, berharap pekerjaannya cepat selesai dan bosnya segera pulang.
Sheena "Pulang lah, sepertinya kamu sangat cemas. Aku mengerti kamu harus mengurus suami mu juga," ucapnya sembari tersenyum ke arah assistennya.
Putri "Boleh aku pulang duluan?" tanyanya meyakinkan.
Sheena "Tentu saja, sebentar lagi juga aku pulang. Jangan biarkan suami mu menunggu terlalu lama," mengerlingkan sebelah matanya ke Putri.
Putri tersenyum malu "Kalo gitu, aku pamit pulang. Jangan terlalu keras bekerja jaga kondisi kesehatan mu juga. Dah," pamitnya.
Sheena "Okey, daahh,,"
Malam sudah larut Sheena masih berkutat dengan pekerjaannya. Setidaknya dengan kesibukannya Sheena bisa sedikit melupakan kesedihan perceraiannya.
Namun saat sepi menerpanya semua kesedihannya kembali. Mengingat masa-masa indanya bersama Al, dan semua tentang Al masih terpatri dalam ingatannya.
Tanpa permisi air mata keluar dari pelupuk matanya membasahi pipi. Isak tangis menemaninya kini, rasa sayatan dalam hatinya begitu terasa. Sheena menangis sesenggukan tak kuat lagi ia menahan sakit hatinya.
Entah sejak kapan Kevin berada di sana, ia merasa dadanya sakit melihat wanita yang msih dicintainya menangis.
Kevin berjalan menghampiri wanita yang sedang menangis di hadapannya. Sheena segera menghapus air matanya melihat kedatangan pria yang tidak tahu sejak kapan melihatnya menangis.
Sheena "Ada apa?" tanyanya ketika Kevin sudah duduk di hadapannya.
Kevin "Aku hanya mampir," jawabnya asal.
Sheena "Sudah malam masih keluyuran, nanti istri mu nyariin,"
Kevin tergelak.
Sheena "Eh malah ketawa dia, pulang sana!"
Kevin "Aku anterin kamu pulang baru aku pulang, gimana?"
Sheena "Maaf ya, aku bawa mobil sendiri," tolaknya.
Kevin "Tapi tadi aku udah nyuruh supir kamu pulang bawa mobil,"
Sheena "Bisa naik taxi,"
Kevin " Cewek naik taxi malam-malam, bahaya,"
__ADS_1
Sheena "Lebih bahaya pulang bareng kamu. Pulang bareng suami orang, apa kata orang nanti,"
Sheena benar-benar tidak tahu bahwa Kevin tidak menikahi Karina.
Kevin "Lebih aman pulang bareng aku,"
Sheena "KEVIN" teriaknya kesal.
Kevin "SHEENA" balas teriak.
Sheena "Gila nih orang, udah ah aku mau pulang," meraih tasnya lalu berjalan keluar, Kevin mengikutinya.
Sampai di depan kantor Sheena tak kunjung mendapatkan taxi, Kevin tersenyum girang lalu melajukan mobilnya ke depan Sheena.
Kevin "Ayok masuk, nggak akan ada taxi jam segini." Ajaknya lagi pantang menyerah.
Sheena "Ck, berisik,"
Kevin "Biar nggak berisik cepetan masuk ke mobil, nona,"
Sheena "Nggak mau," tolaknya lagi.
Kevin keluar dari mobilnya menggendong Sheena sampai masuk ke dalam mobil.
Sheena "KEVIN LEPASIN LEPASIN LEPASIN" teriaknya sambil memukul-mukul punggung Kevin.
Setelah Sheena masuk dan diam Kevin melajukan mobilnya memecah jalanan. Sheena masih kesal karena Kevin memaksanya untuk mengantarkannya pulang.
Tidak ada yang berbicara, sepanjang perjalanan hening dan sunyi tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut keduanya. Hanya deru mesin dan kendaraan yang berlalu-lalang menemani.
Mobil berhenti di sebuah restoran cepat saji di tengah kota. Sheena sempat terkejut mereka bukanlah berhenti di depan rumahnya.
Kevin membukakan pintu untuk Sheena.
Sheena " Mau ngapain kesini?" tanyanya heran.
Kevin "Mau lari. Ya mau makan lah," jawabnya dengan tenangnya.
Sheena "Nggak mau,"
Kevin "Mau aku gendong lagi kayak tadi?"
Sheena "Nggak mau,"
Kevin "Ya ayok keluar, kita makan,"
Sheena "Sekali ini aja ya. Hobi banget ngancam nih anak. Kalo ada orang lihat kan nanti aku disebut pelakor. Ribet nanti urusannya,"
Kevin "Yang bikin ribet itu kamu, lama banget mau makan juga," menarik tangan Sheena mengajaknya keluar dari mobil.
__ADS_1
Sheena menuruti kemauan Kevin, lagi pula dari siang dirinya belum memakan apapun. Cacing di perutnya sudah demo minta di isi makanan.
Mereka dipersilakan duduk oleh pelayan dan memesan makanan.
Kevin memesan dua porsi spagheti dan jus mangga. Tentu saja itu makanan kesukaan Sheena.
Dari mulai mereka duduk keadaan biasa saja, namun ketika pelayan menghidangkan pesanannya Sheena mengangis sesenggukan. Sheena teringat Al yang pernah membuatkannya makanan dan minuman yang ada di hadapannya saat ini.
Huaa,,, huaaa,, huaa,, š¦
Kevin "Kenapa?" khawatir.
Sheena "Al suka buatin aku spagheti dan jus mangga," sembari menangis.
Kevin "Ya sudah kita pesan lagi menu yang lain ya," merasa bersalah.
Sheena "Nggak usah, nanti kalo pesen lagi lama lagi. Aku pengen cepet pulang," menghentikan tangisannya.
Lalu Sheena melahap habis makanan kesukaannya, bahkan yang punya Kevin pun di habiskannya. Kevin merasa senang melihat Sheena melahap semua makanan yang ada di meja. Ia tersenyum penuh kemenangan, pasalnya sudah lama sekali Kevin tidak merasakan makan malam lagi bersama Sheena. Dan kali ini ia merasakannya kembali.
Di tengah-tengah asiknya meminum jus mangganya, Sheena terkejut melihat Karina mendekat ke arahnya. Ia menghentikan aktivitasnya menyeruput jus yang ada di genggamannya.
Sheena "Karina, a aku cuma ,,,,," gugup dan takut Karina marah karena ia sedang bersama Kevin.
Karina "Tenang lah, lagi pula aku kesini mau menjelaskan tentang hubungan aku sama Kevin," tuturnya.
Sheena "Aku nggak ada apa-apa sama Kevin. Ini hanya makan malam biasa, beneran. Plis jangan marah," ucapnya meyakinkan.
Karina "Sheena, ini makan malam biasa buat kamu tapi sangat luar biasa buat Kevin,"
Senyum mengembang di wajah Kevin, ia tak bisa menutupi suasana hatinya yang sedang bahagia bisa makan malam lagi dengan Sheena.
Kemudian Karina dan Kevin menjelaskan tentang pernikahan mereka yang hanya sandiwara dan tidak pernah terjadi.
Sheena merasa bingung. Untuk apa mereka menjelaskan tentang hubungan mereka padanya, sedangkan ia bukan lagi siapa-siapanya Kevin.
Setelah menjelaskan semuanya Karina pamit dan meninggalkan mereka berdua.
Sheena "Kenapa kalian menjelaskan hubungan kalian sama aku, emang apa urusanya sama aku?" tanyanya bingung.
Kevin "Pengumuman aja, udah yuk pulang," jawabnya asal bicara. Padah dalam hatinya ingin berkata Karena aku ingin kamu tahu Sheena.
Sepanjang perjalanan pulang pun mereka tidak banyak bicara. Sheena melihat keluar jendela kacanya dan Kevin sibuk dengan kemudinya.
š·š·š·š·š·š·š·š·
Jangan lupa like comment n vote
makasih š¤š¤š¤
__ADS_1