
Ros, Ega dan Weni menyanggupi permintaan Jesi. Ini semua mereka lakukan demi sahabat mereka itu. Mereka selalu saling mendukung satu sama lain. Mereka benar benar sahabat sejati.
Ega dan Weni bergegas pergi ke perusahaan Velix. Jesi sudah memberitahu alamatnya. Sementara Ros tetap tinggal untuk menenangkan Jesi dirumahnya.
Ega masuk dan menanyakan Velix pada salah satu karyawan Velix di perusahaan itu. Ternyata Velix sedang meeting dengan klien. Ega dan Weni di minta untuk menunggu sebentar di ruang tunggu.
Velix datang menemui Ega dan Weni.
"Hai, apa kalian mau menemui ku? " Sapa Velix kepada Ega dan Weni.
Begitulah Velix. ia selalu apa adanya. ia tak pernah bersikap seperti bos di perusahaannya itu. Velix orang yang sangat rendah hati. ia selalu hangat dengan siapa saja.
Mendengar sambutan hangat dari pimpinan tampan perusahaan itu, Ega dan Wenipun sedikit merasa lega.
Kini Velix telah duduk tepat di depan mereka berdua. Dengan penampilan semi formal. Kemeja, Jas, Celana Jeans, dan sepatu sport saja sudah membuat Velix terlihat sangat tampan saat bicara.
"Aku Velix, bicaralah. Ada keperluan apa denganku. " Ucap Velix bersahabat.
__ADS_1
"Apa kau kenal Jesi,, emm... Maksudku Desi? " Tanya Ega memulai pembicaraan.
"Desi? Apa yang kau maksud Desi sahabatku? " Tanya Velix masih kebingungan.
"Desi yang selalu bicara dengan mu di telepon. Desi yang belum pernah bertemu dengan mu tapi kamu sudah sangat mencintainya. Kamu ingat? " Jawab Ega langsung pada permasalahannya.
Velix kaget tak menyangka kedua wanita di depannya ini sudah tahu perasaannya pada Desi.
"Ada apa dengan Desi? " Tanya Velix paham.
"*Aku Ega, ini Weni. Kami sahabat Desi di kampus. "
"Ahh tidak tidak. Bukan kami yang menghubungi mu dari ponsel Desi. Tapi Sisil. Hubunganmu dengan Desi hanya sandiwara. Desi berteman dengan mu hanya karena ingin mencari tahu sejauh mana hubungan Jefri dengan pacar yang ternyata sudah dinikahi itu. Dan Desi melakukan ini atas permintaan Sisil. Tolong maafkan teman kami. " Jelas Ega.
"Apa itu sebabnya Desi tidak mau menemui ku? Tidak tidak, Desi bukan orang yang seperti itu. Desi tidak mungkin hanya memanfaatkan ku. " Jawab Velix yang masih belum percaya.
"Desi sudah menemui mu. Desi adalah Jesi. kamu ingat kan teman Sisil yang sering di ajak main main ke perusahaan mu ini? Dia memang tidak memanfaatkan mu. Dia hanya tak bisa menolak untuk membantu Sisil sahabatnya. Ini semua bukan salah Desi, emm maksudku Jesi. " Jelas Ega lagi.
__ADS_1
"Jelas jelas ini salahnya. " Teriak Velix yang kemudian berdiri dan meninggalkan Ega dab Weni.
"Velix, Velix,, dengarkan kami dulu. Kami mohon. Ini bukan kesalahan Jesi sepenuhnya. Velix... "
Ega dan Weni memohon tapi Velix tidak mendengar kata kata mereka dan pergi begitu saja.
Ega dan Weni kembali duduk di tempat semula. Mereka sangat lemas ketika melihat respon Velix yang begitu marah terhadap apa yang sudah mereka ceritakan. Bagaimana mereka harus menjelaskan keadaan ini pada Jesi nanti.
"Ohh... tidak, Jesi pasti akan tambah stres jika mendengar ini " Ujar Weni memegang kepalanya.
Sementara di ruangannya Velix frustasi. Ia tidak percaya Desi setega itu membohonginya. ia menjatuhkan semua yang ada di atas mejanya. ia menghantam jendela kaca diruangannya hingga tangannya berdarah.
ia mencoba menghubungi Desi, tapi Ega yang mengangkatnya. Membuat Velix tambah kesal dan membanting ponsel ke lantai.
Ega memang sengaja membawa ponsel Jesi sebagai bukti jika nanti Velix tidak percaya. Tapi tidak sempat mereka tunjukkan itu, Velix sudah beranjak dari hadapan mereka.
"Aku tidak mungkin salah dengan penilaianku terhadap Desi. Desiiiii kau di mana? Mengapa bukan kau yang datang menemuiku. Mengapa kau malah mengirimkan sahabat mu itu? " Gerutu Velix dalam hati.
__ADS_1
Tiba tiba saja Velix bangkit dari duduknya. ia segera berdiri dab keluar dari ruangannya. Berharap kedua sahabat Desi itu masih ada di ruang tunggunya.