Memilikimu Dalam Hati

Memilikimu Dalam Hati
Demi Desi


__ADS_3

"Drrttt... ddrrrttt..... "


Ponsel Jesi Berdering. Velix menghubunginya.


"Velix, dimana kamu sekarang? Aku ingin menjelaskan semua ini. Ini sama sekali bukan salah ku" Sahut Sisil yang langsung berbicara panjang lebar sesaat setelah mengangkat telepon Velix.


Sisil memang sangat egois. Melihat panggilan Velix di ponsel Jesi, ia langsung merampas ponsel itu dan segera berbicara dengan Velix.


"Siapa ini? " Tanya Velix seolah tidak mempedulikan perkataan Sesil. ia bertanya karena tak mendapati suara Jesi dari balik telepon itu.


"Aku Sesil. " Jawab Sesil.


"Berikan ponsel ini pada Jesi. " Pinta Velix.


Dengan berat hati Sisil memberikan ponsel itu pada Jesi. Sisil sangat kesal karena Velix tak mau mendengarkan perkataannya.


"Iyaa velix.. " Sahut Jesi dengan suara serak karena tak berhenti menangis.


"Masuk sekarang ke mobilku, dan jangan coba coba membawa pengawalmu itu bersamamu. " Ancam Velix.


Bersamaan dengan perintah Velix, merekapun melihat mobil Velix berhenti di depan rumah Jesi.


"Aku pergi dulu. " Pamit Jesi pada semua temannya itu.


Temannya sangat kaget dengan tingkah Jesi. Mereka khawatir akan terjadi apa apa kepada sahabat mereka itu jika Jesi pergi bersama Velix.


"Tapi Jes, kau mau kemana. Kami akan menemanimu" Cegah Ros khawatir.

__ADS_1


"Ini sudah resiko yang harus aku terima. Kalian doakan saja tidak akan terjadi apa apa denganku." Jawab Jesi.


"Piiiipppp..... ppiiiippppp..... "


Bunyi klakson Velix sangat keras, mengisyaratkan Jesi untuk segera naik ke mobilnya.


Mendengar klakson itupun Jesi segera menuju menaiki mobil Velix. Velix segera melajukan mobilnya.


Jesi yang duduk di samping Velix sangat takut apabila nanti terjadi sesuatu dengan mobil itu. Velix mengendarai mobilnya tidak beraturan dan ugal ugalan.


Tapi apalah yang bisa dilakukan Jesi di situasi seperti itu. Jesi hanya bisa diam dan sesekali menutup matanya jika melihat mobil itu hampir menabrak sesuatu, meskipun akhirnya tidak terjadi apa apa.


Jesi hanya berharap Velix akan segera sampai di tempat tujuannya dan memberhentikan mobil ini.


Sampailah mereka pada suatu tempat. Terlihat seperti sebuah parkiran di salah satu kantor.


"Ikut aku.. " Ajak Velix menarik kasar tangan Jesi.


Jesi tak bisa berbuat apa apa selain menurutinya saja. Jesi kini pasrah dengan apa saja yang akan di lakukan Velix. Matipun ia sudah siap. Asal Velix jangan mengambil kehormatannya.


Tiba tiba Velix berhenti dan menunjuk ke sebuah ruangan. Diruangan itu ada beberapa karyawan yang sedang sibuk bekerja. Ada beberapa wanita, dan ada beberapa pria. Kelihatannya mereka adalah staf di kantor ini. Tapi Jesi sama sekali tak mengenal mereka.


"Kau lihat wanita yang menggunakan baju putih itu? " Tanya Velix pada Jesi.


Jesi hanya mengangguk pertanda ia melihat wanita yang di maksud Velix.


"Dia Mey, dua hari yang lalu dia adalah kekasih ku tapi sekarang tidak lagi. " Jelas Velix.

__ADS_1


Jesi memandangi wajah Velix. Perlahan amarah di wajah Velix itu berganti menjadi kesedihan.


"Tapi karena Desi bohongan itu, aku memutuskan hubungan ku dengannya. " Sambung Velix lagi.


"Apaa..?? " Jawab Jesi terkejut.


Jesi tak menyangka kebohongan itu bisa berpengaruh pada hubungan Velix dan kekasihnya. Jesi semakin merasa bersalah.


"Velix, mengapa kau begitu sangat ceroboh? Kau belum kenal siapa Desi, tapi kamu secepat itu membuat keputusan" Tanya Jesi menyesal.


"Justru karena aku merasa sudah sangat mengenal Desi, aku yakin Desi tidak akan berbuat kejam seperti ini padaku. Tapi..."


Belum sempat Velix melanjutkan kata katanya, Jesi sudah berlari menjauhinya. Jesi kembali ke parkiran tempat Velix menghentikan mobilnya.


Jesi menangis menyesali semua yang sudah diperbuat kepada Velix. ia tak menyangka Velix akan sampai mengorbankan Mey kekasihnya demi mendapatkan hati Desi.


"Apa yang membuatmu menangis?" Dengan sekejap Velix sudah berada di belakang Jesi.


"Minta maaflah pada Mey. Dan kembalilah dengannya. Dengan begitu akan mengurangi rasa bersalahku pada mu. " Pinta Jesi.


"Ha.ha.ha.ha. Kau pikir semudah itu Mey akan menerima maafku? Aku yakin Mey tidak akan mau melihat wajahku lagi. Mey sudah sangat membenciku, kau tahu itu... ." Terlihat wajah Velix yang menahan rasa sakit dihatinya. Namun berusaha untuk tidak menangis di depan Jesi.


"Naiklah, ku antar kamu pulang ." Ajak Velix.


Jesipun bergegas menaiki mobil Velix. Kemadian mobil itu melaju menuju rumah Jesi.


Setelah Jesi turun dari mobilnya, Velixpun segera pergi. Entah kemana tujuannya. Velix tak memberitahu Jesi.

__ADS_1


__ADS_2