Memilikimu Dalam Hati

Memilikimu Dalam Hati
Surat Pengunduran Diri


__ADS_3

"Apa kau yakin akan pergi dari sini?" Tanya Wandy meyakinkan Jesi.


"Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk mereka." Jawab Jesi sangat yakin.


"Kau yakin akan meninggalkan Velix dengan keadaan seperti itu? Coba kau pikirkan lagi keputusan mu ini." Jawab Wandy.


"Saat Velix sadar, dia tidak akan mencari ku lagi. Dia sudah berjanji pada ku. Aku sudah memikirkan ini dengan sangat matang. Inilah yang terbaik untuk semuanya." Jawab Jesi meyakinkan Wandy.


"Baiklah jika itu keputusan mu." Jawab Wandy


Akhirnya Jesi kembali hari itu ke kota asalnya.


"Terima kasih sudah mengantar ku. Aku pergi dulu." Ucap Jesi sesaat setelah Wandy mengantarnya pulang ke rumah.


"Tunggu Jes, mengenai pengunduran dirimu..." Tanya Wandy.


"Kau tenang saja, aku akan segera memasukkan surat pengunduran diriku secepatnya." Jawab Jesi.


"Bukan itu maksud ku, tapii... apa kau tidak ingin mempertimbangkannya lagi?" Tanya Wandy masih berharap Jesi akan kembali.


"Jangan mempengaruhi ku lagi. Keputusan ku tidak bisa sudah bulat. Terima kasih yaa... bye bye...!" Jawab Jesi dan segera mengakhiri pembicaraan.


Melihat sikap Jesi membuat Wandy tak bisa menahannya lagi.


Keesokkan harinya....

__ADS_1


"Hai Jes, senang sekali melihat mu di kantor hari ini." Sahut Wandy saat melihat Jesi membuka pintu ruangannya.


"Aku ingin memberikan ini." Jawab Jesi sambil memberikan sebuah amplop pada Wandy.


Wandy menerimanya dan segera membukanya.


"Surat pengunduran diri? Secepat ini?" Jawab Wandy.


"Iya, aku takut akan berubah pikiran" Jawab Jesi.


"Jes, kapanpun kau ingin kembali perusahaan ini akan selalu menerima mu. Selain kinerja mu sangat bagus, aku juga ingin kau selalu dekat dengan ku." Jawab Wandy.


"Aku tidak bisa kembali, apapun alasannya." Jawab Jesi.


"Aku sangat menyayangkan keputusan mu ini." Jawab Wandy.


"Apa keputusan mu adalah untuk menyelamatkan Velix?" Tanya Wandy.


"Bukan hanya dia, tapi rumah tangganya dan semua kehidupannya." Jawab Jesi.


"Tapi kau sudah mengorbankan karir mu." Jawab Wandy.


"Bahkan untuk mengorbankan diriku sendiripun aku akan melakukannya." Jawab Jesi.


"Apa menghindari ku sudah menjadi hobi mu dari dulu?" Ucap Velix yang tiba tiba sudah berada dibelakang Jesi.

__ADS_1


Jesi sangat terkejut dan langsung melihat ke arah suara itu datang. Dia tidak menyangka kini Velix sudah berdiri di depannya.


"Velix, kau harus dirawat dua hari lagi kan?" Ucap Wandy yang juga ikut terkejut melihat keberadaan Velix.


"Bagaimana aku bisa tenang di rumah sakit jika tahu Jesi akan meninggalkan ku lagi." Jawab Velix sambil melirik pada Jesi.


Jesi tak bisa mengatakan apa apa lagi. Mulutnya seakan kaku mendengar kata kata Velix.


"Sudah cukup dengan semua penolakan mu terhadap ku. Kali ini aku tidak akan membiarkan mu pergi lagi dari ku." Sambung Velix.


Velix memegang kedua bahu Jesi dengan kedua tangannya. Sambil menatap Jesi dengan tatapan yang serius.


"Mey sudah menceritakan semuanya. Dia sudah meninggalkan ku. Lalu apa kau akan meninggalkan ku juga?" Tanya Velix.


"Mey tidak bisa meninggalkan mu." Jawab Jesi.


"Dalam kehidupan kita harus berani memutuskan. Keputusan yang tepat belum tentu membahagiakan, tapi bisa jadi menyelamatkan. Mungkin dia ingin menyelamatkan cinta kita yang sudah lama terpisah." Jawab Velix mengulang kata kata Jesi.


"Kau sudah ada di situ dari tadi?" Tanya Jesi.


"Aku mendengar semua perkataan mu, bahkan aku sudah mengikuti mu sejak kau tiba di kantor tadi." Jawab Velix tersenyum.


"Hhhmmmm....." Jesi tersenyum mendengar Velix menggodanya.


"Jangan pernah meninggalkan ku lagi. Berjanjilah pada ku." Ucap Velix sambil memegang kedua tangan Jesi.

__ADS_1


"Tapi ayah mu?" Tanya Jesi.


__ADS_2