
Semenjak pembicaraan terakhirnya dengan Velix, Jesi seperti tak pernah berhenti memikirkan Velix. Hatinya tak tenang memikirkan pernikahan Velix yang entah kapan akan digelar. Tapi ia memilih untuk tak menghubungi Velix untuk menanyakannya.
Sering Jesi tak sadar air matanya menetes saat mengingat Velix akan menikah dengan Mey.
"Ada apa ini, kenapa aku malah sedih mendengar pernikahan itu. Harusnya aku senang, Velix sudah bisa kembali lagi bersama Mey ". Ucap jesi dalam hati.
"Aku tak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. aku seperti tak ikhlas menerima kenyataan ini sama sekali. " Curhat Jesi pada temannya Ega.
"Tidak salah lagi Jes, kamu sudah mencintainya" Jawab Ega.
"Mana mungkin aku mencintai nya, aku bahkan merasa dia akan balas dendam pada ku, karena itu dia meminta ku untuk menjadi kekasih nya. Jadi tidak mungkin aku akan mencintainya Egaa... ".
"Itu hanya ketakutan mu saja Jes, karena kamu merasa Velix masih belum bisa melupakan Desi. Seandainya perkenalan mu dengan Velix terjadi tanpa masalah yang ditimbulkan oleh Sisil, aku yakin kamu pasti mau menerima nya sebagai kekasih mu. " Jelas Ega.
"Tidak tidak, itu tidak mungkin.. " Jawab Jesi.
__ADS_1
"Ha. ha. ha... Tangisan dan tatapan mata mu itu sudah sangat jelas terbaca Jes. Kamu saja yang masih belum sadar. " Ucap Ega sambil bercanda.
4 Tahun Berlalu...
Tak terasa kini Jesi sudah lulus kuliah dan baru saja diterima bekerja sebagai staf di salah satu perusahaan jasa periklanan ternama di kotanya.
Kesedihan Jesi tak serta merta membuat dia patah semangat untuk mejalankan hidupnya. Begitulah Jesi, ia selalu terlihat seperti tak ada masalah dalam hatinya.
Meskipun Jesi adalah sarjana lulusan terbaik fakultas ekonomi dari kampus nya, tapi pengalamannya masih sangat minim. Karena itulah perusahaan hanya bisa memberikannya pekerjaan sebagai staf pada bagian penjualan untuk membuktikan keahliannya.
"Iyaa bu, ini kan hari pertama Jesi kerja. Kan gak lucu kalau hari pertama kerja udah telat. Lokasi perusahaannya juga agak jauh dari sini, jadi Jesi harus berangkat lebih awal. " Jelas Jesi.
"Ibu senang melihat mu bersemangat seperti ini. Ibu doakan Semoga pekerjaan mu hari ini lancar dan tak ada masalah satupun. Biar atasan mu juga puas dengan hasilnya. " Jawab ibu Robiyah mendoakan Jesi.
"Aamiin.... Terima kasih ibuku sayang. " Jawab Jesi sambil memeluk dan mencium pipi ibunya itu.
__ADS_1
kemudian Jesi buru buru pamit dengan meneguk gelas susu coklatnya dan membawa selembar roti di tangannya.
Jesi mengendarai motor maticnya itu dengan sangat cepat, berharap ia sampai lebih awal dari staf staf yang lainnya.
"Hai, apa kamu staf baru yang bernama Jesi? " Tanya seorang pria yang ternyata juga adalah rekan stafnya Jesi di bagian penjualan.
"Iyaa kak, saya Jesi. "Jawab Jesi.
"Ha. ha. ha. ha.... tidak usah panggil aku kakak. Ibu mu tak pernah melahirkan ku, ha. ha. ha. ha... " Jawab pria itu.
"Maafkan aku,, " Jawab Jesi tersenyum.
"Maaf, maaf aku hanya bercanda. Panggil aku Jemmy saja yaa. Aku juga staf di sini sama seperti mu." Jawab Jemmy.
"Oh yaa, Pak Wandy manager penjualan di sini meminta ku untuk menyuruh mu keruangannya. Sepertinya dia ingin memberitahu tugas tugas mu di sini. Pergilah ke ruangannya sekarang, atau dia akan sangat marah" Ucap Jemmy.
__ADS_1
Mendengar perkataan Jemmy, Jesi seperti ketakutan untuk bertemu managernya itu. Tapi apa lagi yang harus dilakukannya selain menuruti perintah bos nya itu.